
Dala menatap jam dinding dan melihat waktu sudah menunjukkan pukul dua. Waktunya sudah lewat dari jam pulang Agel, tetapi anak itu entah kenapa belum pulang juga. Biasanya, dia pulang lebih awal dari Kakaknya. Wanita paruh baya itu berusaha berpikir positif, mungkin saja Agel sedang mengerjakan tugas di rumah temannya.
Makanan dengan menu sederhana masakan Dala sudah tersedia di meja makan. Dala hanya tinggal memanggil Altaf, karena memang hanya mereka berdua yang ada di rumah. Ayah Altaf sedang pergi bekerja.
Dala berjalan menuju kamar Altaf. Tidak perlu naik tangga, rumah mereka tidak ada tangganya tetapi cukup besar.
"Buku ini ... bisa bicara?" batin Altaf bingung yang kepalanya masih bersentuhan dengan lantai. Dala membuka pintu dan melihat kelakuan anak laki-lakinya itu. Altaf menoleh dan menyunggingkan senyum seakan tidak terjadi apa-apa. "Ck ck ck, pantesan ada suara barang jatuh." Mendengar itu, Altaf tertawa pelan. "Nggak sengaja jatuh, Mah."
Di meja makan, Ibu dan anak itu mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya. "Agel belum pulang?" tanya Altaf di sela-sela makannya. "Belum, mungkin lagi ngerjain tugas di rumah temennya," jawab Dala menebak.
"Mama udah telepon dia?" tanya Altaf lagi. "Udah, tapi teleponnya nggak diangkat." Altaf hanya mengangguk-angguk saja mendengar jawaban Ibunya. Dengan gerakan cepat, dia memasukkan seluruh makanan ke dalam perutnya agar cepat selesai.
Setelah makan Altaf kembali ke kamarnya. Dia menduduki lagi kursi yang tadinya telah membuat dia terjungkal ke belakang. Buku itu masih terletak di atas meja belajarnya dengan kondisi sudah tertutup, Altaf tidak ingat kapan dia menutupnya. "Buku ajaib," gumamnya terkagum-kagum.
Altaf membuka bukunya, tulisan yang seharusnya terdapat pada halaman ini sudah menghilang. Dengan ragu-ragu, dia mengucapkan apa yang diperintahkan buku ini beberapa menit lalu. "Perbarui buku!" Buku tersebut terbuka seketika di lembaran paling tengah, sama seperti sebelumnya. Lagi-lagi tulisan disertai suara muncul pada salah satu halamannya.
"Buku akan melakukan pembaruan, silahkan tunggu beberapa detik." Setelah berbicara, buku itu langsung tertutup dengan sendirinya. Dan benar saja, setelah beberapa detik kemudian buku itu terbuka lagi. Tulisan sebelumnya hilang, dan muncullah tulisan baru. "Buku telah selesai diperbarui." Bersamaan dengan itu, suaranya juga keluar. Bunyinya terdengar seperti suara seorang wanita.
***
Pukul setengah tiga, Agel baru saja pulang dari warnet menuju rumahnya. Dia tadi menonton beberapa video klip dari idola tersayangnya di tempat itu. Dia memang memiliki ponsel, tetapi menonton di layar yang lebar menurutnya lebih menyenangkan.
"Adek, minta duit dong!" Tiba-tiba saja Agel dihampiri tiga orang pria yang tadinya sedang asik mengobrol. Agel yang merasa risih didekati pun memutuskan untuk tidak menghiraukan mereka. Saat hendak pergi, dia ditahan oleh salah satu dari mereka. "Eits, tunggu dulu, dong!"
"Mau kalian apa, sih?" geram Agel.
"Lah, tadi kan udah dikasih tahu, minta duit!" ucap ketua mereka yang berdiri di paling tengah dengan kedua orang di sampingnya. Dia menekankan pada dua kata terakhir agar lebih jelas didengar.
"Aku nggak punya uang." Setelah mengatakan itu Agel hendak pergi, tetapi langkahnya terhenti ketika salah satu dari mereka menarik tas yang tergantung dengan baik di belakangnya. "Kalian mau ngapain, sih?"
"Masa sih nggak punya uang." Mereka memeriksa seluruh bagian tas dengan Agel yang berusaha merebut kembali apa yang menjadi miliknya.
__ADS_1
"Balikin tasnya!" Tiba-tiba suara muncul dari belakang yang sontak membuat semua orang menoleh ke arahnya. Seorang gadis berambut panjang berdiri sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket berwarna hitam yang dikenakannya.
Ketua mereka tersenyum miring melihat gadis itu. "Wah, rupanya Ibu peri datang buat nolong Cinderella." Jelas-jelas itu tidak ada hubungannya.
"Kalau kita nggak mau gimana?"
Bugh!
Satu pukulan mendarat di pipi mulus sang ketua, dilanjutkan dengan tendangan keras yang mengenai dua orang lainnya. Agel melongo sejak tadi melihat aksi gadis itu. Tatapannya sangat tajam, gayanya sangat keren, dan juga wajahnya sangat cantik.
"Aku ingin menjadi seperti dia," batin Agel sambil memandangi gadis itu dengan terkagum-kagum.
Setelah dipukul, para pria itu melarikan diri dengan meninggalkan tas Agel di tanah, takut dikejar. Gadis cantik itu mengambil tas tersebut dan melemparkannya ke pemiliknya. "Lain kali hati-hati." Setelah mengatakan itu, dia pergi begitu saja tanpa basa-basi.
Agel yang merasa belum berterima kasih pun langsung berteriak ke padanya. "Terima kasih!" Entah didengar atau tidak, yang pasti tidak ada jawaban dari gadis itu. "Dingin banget," gumam Agel. Meski begitu, dia tetap senang karena ada yang membantunya, dia berharap mungkin lain kali mereka bisa bertemu lagi.
***
Buku itu sudah terlihat seperti buku baru. Bekas injakan sepatu pada sampul telah hilang, sobekan pada halaman pun juga sudah tidak ada. Buku itu benar-benar sudah diperbarui secara keseluruhan.
Altaf menghembuskan napas frustrasi. Dia mengambil sebuah pena dan menuliskan sesuatu di buku tersebut. 'Bagaimana cara menjadi pintar?' Setelah itu, jawaban pun keluar di bawah pertanyaan tersebut. Sudah jelas apa jawabannya.
Altaf sedikit terkejut, ternyata buku ini bisa menjawab pertanyaan. "Keren!" gumamnya dengan senyum menyeringai. Dia kembali menuliskan beberapa pertanyaan di halaman selanjutnya. Dan benar saja, buku Itu benar-benar bisa menjawabnya.
"Buku ini berada di tangan yang tepat."
Tok..Tok..Tok!
Pintu Altaf berbunyi. Dengan segera, Altaf memasukkan buku ajaibnya ke dalam tas agar tidak terlihat. "Masuk!" Setelah mendengar itu, Agel pun masuk ke dalam kamar Kakaknya dan langsung menduduki kasur.
"Kelihatannya Kakak keras banget mukulin Aknar," ucap Agel memulai pembicaraan. Altaf memutar kursinya menghadap sang Adik.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu kasihan lihat dia?"
Agel menggeleng lalu kemudian mengangguk. "Kasihan karena mukanya luka-luka."
"Lalu? Kamu nggak kasihan sama diri kamu?"
"Kasihan buat apa?"
"Lah, kamu kan diselingkuhin."
"Aku baik-baik aja."
"Masa? Nggak ada orang yang baik-baik aja kalau pacarnya selingkuh, buktinya kemarin kamu nangis."
"Kemarin sih iya, tapi sekarang aku baik-baik aja."
"Beneran? Kenapa?"
"Tadi aku baru aja nonton video klip dari idola aku."
Altaf mengernyit. "Hanya itu? Cuma gara-gara nontonin mv kamu bisa move on?" Agel mengangguk mengiyakan pertanyaan tersebut.
"Hebat!"
***
Seorang gadis berambut panjang terlihat sedang berkomunikasi dengan seseorang melalui benda yang ada di telinganya. Benda tersebut terlihat seperti earphone dan berwarna putih, tentunya tidak ada apapun yang terhubung pada benda itu. Benda itu ... berfungsi dengan sendirinya.
"Miya kau sudah berada di bumi?" Suara seorang wanita keluar dari sana.
"Iya, sekarang aku ada di bumi."
__ADS_1
...Bersambung.......
Semakin menarik atau bosan?