Terjawab

Terjawab
Bab 3


__ADS_3

Beberapa orang maju mengumpulkan pekerjaan masing-masing ke atas meja Guru karena sudah waktunya. Beberapa yang lainnya telah mengumpulkan bahkan sebelum saatnya. Tentu saja itu dilakukan oleh anak-anak pintar.


Altaf masih saja sibuk menulis jawaban di bukunya. Entah benar atau salah, dia terlihat menulis dengan gerakan yang lumayan cepat akibat terburu-buru karena waktu sudah berlalu.


"Kalau lo nggak bawa sekarang, nanti Pak Guru nggak mau nerima lagi." Suara itu berasal dari samping, siapa lagi kalau bukan Ajun yang memperingati.


Altaf tampak kesusahan sejak awal mengerjakan, otaknya kosong dan hanya berisi permainan. Pikirannya selalu bepergian ke mana-mana sampai tidak fokus saat Guru menjelaskan. Beginilah jadinya.


Selesai, dia membawa pekerjaannya ke Guru untuk diperiksa. "Telat dua menit," kata Pak Wiwin datar. "Maaf, Pak!" Altaf menunduk, menunjukkan rasa bersalahnya.


Pak Wiwin menghembuskan napas kasar melihat pekerjaan anak satu ini. Dengan kesalnya dia menggambar sebuah lingkaran besar pada pekerjaan Altaf. Dia menunjukkan nilai itu kepada sang pemilik, lalu mengangkatnya. "Ini adalah nilai paling tinggi di kelas ini," serunya keras.


Seisi kelas dipenuhi keributan akibat suara tawa yang keras. Tentunya para calon Ketua kelas tidak ikut-ikutan dalam hal ini, begitupula Laya yang menyuruh Resal untuk berhenti menertawakan nilai itu.


Altaf masih menunduk. Dia mungkin malu karena ditertawakan sebagian orang di kelas. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, dia pasti kesal karena dipermalukan seperti ini. Itu yang Yara pikirkan saat hanya melihat punggung dari pria itu. "Kasihan," gumamnya.


Jahan berdiri dari tempat duduknya. "Semuanya, tolong tenang! Jangan menertawai orang seperti itu. Bayangkan kalau kalian ada di posisinya, kalian pasti akan merasa malu, dia juga begitu. Jadi, mari kita …."


"Ya Tuhan tolong bantu aku!" batin Altaf di tengah-tengah pidato calon Ketua kelas. Kedua tangannya meremas celana Sekolah berwarna biru abu-abu yang dia pakai. Dia sudah tidak tahan lagi.


Ting! Ting! Ting!


Altaf berlari keluar dari kelas dengan cepat setelah bel berbunyi. Semuanya menatap heran punggung Altaf yang tengah berlari, sebenarnya dia mau ke mana?


Altaf menuruni tangga terburu-buru lalu berlari dengan cepat ke kamar mandi sembari menahan BAB. Rupanya sedari tadi dia ingin ke toilet.

__ADS_1


***


Bel pulang sudah berbunyi. Altaf pergi ke kelas Adiknya untuk mengajak pulang bersama. Saat di kelas, dia tidak melihat Adiknya berada di sana. Tetapi dia melihat teman-teman perempuan Adiknya yang terus-terusan memandangnya dengan tatapan yang tidak biasa. Altaf berpikir, mereka mungkin menyukainya.


"Eh, lo tahu nggak Adek gue pulang sama siapa?" tanya Altaf pada teman dekat Adiknya.


"Nggak tahu, Kak. Tadi aku ajak dia pulang bareng tapi dia nggak mau. Katanya pengen pulang sendiri aja." Setelah mengatakan itu, dia pergi.


"Yaudah, kalau memang itu mau dia." Altaf pun pulang sendirian. Memang biasanya seperti itu, tetapi kadang-kadang juga pulang bersama Adik.


"Altaf!" Di tengah jalan, tiba-tiba ada orang yang memanggilnya dari belakang. Itu Yara. Altaf menoleh dan mendapati Yara telah berada di belakangnya. Dia sedikit terkejut. "Eh, lo hantu atau manusia?"


Yara tidak memedulikan perkataannya. "Nih!" Dia menyodorkan sebuah permen pada anak tampan itu. "Lo pikir gue anak-anak?" Altaf mengambilnya meski tidak berminat karena melihat wajah Yara yang menatap datar ke arahnya.


"Gue kasihan lihat lo dipermalukan tadi di depan kelas, itu buat lo," kata Yara, lalu berjalan meninggalkan Altaf. Altaf memasukkan permen tersebut ke dalam mulutnya setelah dibuka.


Altaf menghembuskan napas pasrah, mengambil kembali bungkusan permennya dan membuangnya ke tempat sampah lain. Di sana dia melihat dua orang anak kecil dengan pakaian compang-camping di samping tempat sampah tengah menulis sesuatu menggunakan pena rusak yang mungkin mereka dapat di jalanan.


Hanya coretan, itu yang ditulis dua anak laki-laki tersebut pada buku tebal bersampul merah. Altaf memasukkan bungkusan permennya ke tempat sampah. Dia membuka tasnya dan mengambil dua pena dan buku kosong di dalamnya.


"Ini untuk kalian." Altaf menyerahkannya pada dua anak itu, anak-anak tersebut akhirnya mengambilnya meski sedikit ragu di awal. Mereka berdiri dan mengucapkan terima kasih padanya, lalu berlari pergi entah kemana.


Altaf senang bisa membantu orang lain. Dia juga bahagia karena meskipun terlahir di keluarga yang biasa saja, dia bisa mendapatkan pendidikan yang layak seperti orang lain.


Srak!

__ADS_1


Bunyi apa itu? Berasal dari buku yang anak-anak itu coret. Altaf mengernyit. "Ketiup angin?" Dia mendekati buku itu, berjongkok dan menyentuhnya sekilas dengan jari telunjuk. Dia merasa tadi tidak ada angin kencang yang lewat.


Altaf membuka buku tersebut, di halaman pertama tertulis sesuatu. "Terjawab?" Dia membuka lembaran selanjutnya, kosong. Dibukanya lagi lembaran demi lembaran, dan tidak ada apa-apa di sana. Dia mengambil buku itu, lalu memeriksa semua halaman yang ada. Buku itu kosong, tanpa ada coretan sedikit pun.


Buku itu kotor, ada bekas injakan sepatu di bagian sampulnya. Juga terdapat beberapa halaman yang sobek. Tidak mungkin anak-anak itu yang melakukannya, kan? Mereka tadi terlihat bahagia saat bisa menulis di buku ini meski hanya sekedar coret-coret.


"Bukunya aneh!"


Tidak ada garis-garis horizontal seperti buku tulis pada biasanya, juga tidak berisi tulisan apa-apa selain 'terjawab.' Warna kertasnya pun bukan berwarna putih, tetapi agak kekuningan.


"Bukan buku tulis, bukan buku cerita, apa ini buku harian?" Altaf menghela napas. "Tapi kenapa ada tulisan 'terjawab' di halaman pertama?" Altaf tampak frustrasi memikirkan tentang buku ini. Siapa yang menciptakan buku aneh seperti ini?


"Ada yang nyari nggak, ya?" Altaf melihat sekelilingnya, semua orang yang ada disana sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Jadi, pasti buku ini sudah tidak ada pemiliknya lagi karena telah dibuang ke tempat sampah.


"Buku ini sekarang punya gue. Gue nggak tahu apa gunanya, tapi gue penasaran," gumamnya sambil memasukkan buku tersebut ke dalam tasnya. Dia bangkit dari duduknya, lalu berjalan dengan gaya yang sedikit menyebalkan tetapi keren. "Gue bakal buang ini kalau rasa penasaran gue udah terobati," ucapnya enteng.


Omong-omong, sejak kapan rasa penasaran Altaf mulai tumbuh? Biasanya anak-anak kelas XII-1 jarang ada yang penasaran kecuali itu hal penting. Kalau saja Yara yang berada di posisinya, pasti buku itu sudah ditinggalkan sejak tadi.


Altaf menaruh tasnya sembarangan di lantai dan langsung merebahkan diri pada ranjang kamarnya sembari menghembuskan napas kelelahan karena telah berjalan sedari tadi. Setelah beristirahat beberapa menit, dia bangun untuk kembali melihat buku itu.


Altaf mengambil bukunya dari dalam tas dan meletakkannya di atas meja belajarnya sembari duduk. Dia menatap ke arah buku itu dengan serius dan perlahan membukanya.


"Anda adalah pemilik buku ini sekarang. Ucapkan 'perbarui buku' agar buku bisa melakukan pembaruan." Hal ini membuat Altaf hampir pingsan karena terkejut. Bahkan, kursi yang didudukinya pun terjungkal ke belakang. Dia merintis kesakitan karena kepalanya yang terbentur lantai.


"Buku ini ... bisa bicara?"

__ADS_1


...Bersambung.......


Bagaimana dengan bab 3 kali ini? makin seru? bosan?


__ADS_2