
"Yang tidak mengerjakan tugas, maju!" Disitulah Altaf ketar-ketir.
"Altaf Baryan!" Karena tidak ada yang maju, akhirnya Pak Wiwin memanggil nama ini, nama yang sudah ia yakini tidak mengerjakan tugas hari ini.
"Iya, Pak!" Altaf berdiri dari bangku paling belakang sambil menyahut tidak bersemangat. Dia maju dan berdiri di hadapan semuanya.
Rasanya dia ingin sekali memukul Resal yang menertawakannya di belakang. Untungnya dihentikan oleh Laya dengan sebuah pukulan.
"Apa masih ada lagi selain Altaf?"
"Tidak, Pak!" jawab semuanya secara kompak.
"Eh, itu tugas lo belum dikerjain," bisik seorang murid pada murid lainnya.
"Udah, biarin aja."
"Sudah berapa kali Bapak bilang, tugas itu dikerjakan. Kalau kamu begini terus, kamu mau jadi apa? Nilai buruk, tugas jarang dikerjakan, nilai berapa yang mau diisi di rapormu?" Mulai. Sekarang telinga semua murid mulai sakit mendengar perkataan Pak guru yang sebanding dengan omongan orang tua di rumah.
"Pergi ke lapangan dan hormat bendera sampai jam pelajaran saya selesai!" Hukuman sebelumnya tidak separah ini. Tetapi jika Pak Wiwin sudah memerintah, itu sudah tidak bisa diganggu gugat.
"Baik, Pak!" Altaf keluar dari kelas. Yara menatap Altaf dengan ekspresi yang tidak dapat dijelaskan. Entah itu kasihan, atau kepuasan. Tetapi jika diteliti lebih baik lagi, Yara tidak menunjukkan ekspresi apa-apa alias datar.
"Mana ketua kelas?" tanya Pak Wiwin.
"Tidak masuk, Pak!" sahut seluruh siswa.
"Lagi?" Pak Wiwin geram. Sebagai wali kelas, dia kesal karena Ketua kelas yang seharusnya bertanggung jawab menjalankan tugasnya malah sering alpa.
"Ada masalah apa sampai dia tidak masuk?" Para siswa saling melihat. Tidak ada yang tahu, jadi semuanya hanya diam. Pak Wiwin menghembuskan napas pasrah.
__ADS_1
"Ada yang rumahnya berdekatan dengan dia?" tanya Pak Wiwin. Seorang siswi mengangkat tangannya dan berdiri. "Rumahnya terkunci, Pak!" ungkap siswi tersebut lalu kembali duduk.
"Rumah kamu berdekatan sama dia?" tanya Pak Wiwin lagi, lalu mendapat gelengan dari sang penjawab. "Saya sering jemput dia di rumahnya, tapi akhir-akhir ini rumahnya kosong dan terkunci."
Wiwin menghela napas, dia frustrasi karena Ketua kelas itu sudah hampir empat hari tidak masuk. Di detik kemudian dia memukul meja. "Baik, kita adakan pemilihan ketua kelas baru."
Di lapangan Altaf merasa malu karena diperhatikan oleh orang-orang, termasuk adik kelasnya. Sudah panas, malu, ditambah dia harus berusaha menyembunyikan wajahnya.
Masalahnya adalah beberapa hari yang lalu dia bergaya menggunakan kacamata bening pada wajah tampannya yang membuat dia terlihat seperti orang pintar yang ambisius. Ditambah lagi dia berjalan layaknya anak orang kaya dengan menggendong tas di bahu kanannya.
Altaf berjalan tanpa menengok kanan dan kiri yang mewujudkan aura dingin pada dirinya sehingga membuat banyak adik-adik kelas perempuan terpukau sambil malu-malu sendiri melihat Altaf. Tetapi mereka tidak tahu, Kakak kelas yang mereka anggap pintar itu adalah seorang siswa dengan nilai paling rendah di kelasnya.
"Seharusnya gue nggak ngelakuin itu," gumam Altaf. Penyesalan baru dia rasakan sekarang. "Tuhan tolong bantu Altaf, Altaf janji akan mengerjakan tugas lain kali."
"Hei Altaf!" panggil seseorang dari belakangan. Altar kenal suaranya. Dia menghadap ke belakangan dan bertatapan dengan Yara di tengah panasnya matahari.
"Turunin tangan lo!" perintahnya dengan nada yang sedikit kasar tetapi Altaf menuruti. "Aku minta maaf!" Meski sedikit ragu, akhirnya dia mengungkapkannya. Mata Altaf sedikit melebar. Yang didengarnya ini … benar? Padahal saat dilapangan dia marah-marah, mungkin dia menyesal.
Altaf mengangguk. "Aku udah cukup mukul kok waktu itu. Tenang aja, aku maafin." Altaf tersenyum, tetapi tidak dengan Yara, ekspresinya biasa saja.
"Ayo! Pak Wiwin nunggu," kata Yara lalu berjalan lebih dahulu. Altaf bingung, lalu berjalan mengikuti Yara dan menyamakan langkahnya. "Nunggu siapa? Gue? Kenapa Pak Wiwin nungguin gue." tanyanya.
"Tanya aja sendiri sama Pak Wiwin."
"Lo kebiasaan, deh!"
***
"Ini orangnya, Pak!" Yara menunjuk ke arah Altaf dengan jempol lalu kembali duduk ke tempat duduknya yang ada di bagian pojok urutan kedua dari depan.
__ADS_1
"Ada apa, Pak?" tanya Altaf menghampiri meja Guru.
"Kali ini kamu lolos dari hukuman, tapi lain kali kalau tidak mengerjakan tugas lagi, kamu Bapak jemur sampai pulang." Mata Altaf membulat mendengar penuturan dari sang Guru. Mengangguk dan mengiakan ucapannya sembari meneguk salivanya. Kejam sekali.
"Duduk!" perintah Pak Wiwin. Altaf pun duduk di tempat duduknya.
"Nah, sekarang kita akan memilih ketua kelas yang baru. Bagi siapa yang ingin mencalonkan diri, silahkan maju ke depan!"
"Kenapa tiba-tiba pemilihan Ketua kelas? Ketua kelas yang lama?" tanya Altaf pada orang yang ada di bangku sebelahnya. "Diganti," jawab Ajun. Dia berdiri dan maju ke depan.
"Eh, lo mau jadi Ketua kelas?" Tidak dijawab. "Kenapa Altaf? Mau jadi Ketua kelas?" tanya Pak Wiwin bercanda.
"Eh!" Altaf menggeleng cepat.
Berdiri tiga orang di depan, dua laki-laki dan satu perempuan. "Silahkan berpidato kepada semua tentang seberapa pantasnya kalian menjadi ketua kelas. Dimulai dari Ajun."
"Halo! Nama saya Ajun Anggara. Saya tidak terlalu pintar, tetapi cukup lancar berbahasa Inggris. Saya cukup cepat dalam menemukan barang yang hilang. Saya bisa memisahkan urusan pribadi dan urusan pendidikan. Saya akan bertanggung jawab atas tugas saya. Terima kasih!"
"Halo! Nama saya Jahan Fatara. Saya satu Tahun lebih tua dari kalian semua dan berpikiran sedikit lebih dewasa dari yang lainnya. Saya pintar, karena saya tidak pernah turun dari peringkat satu semasa Sekolah. Saya bisa mengingat sesuatu dengan cepat, saya bisa mendengar curahan hati setiap orang di kelas ini dan memberikan solusinya, saya bisa mengatur kelas ini dengan baik, saya bisa memastikan kelas bebas sampah, saya bisa …." Terpotong.
"Oke, cukup!" Pak Wiwin sudah cukup mendengar banyak dari anak ini, dan dia tahu anak ini cukup teladan. Dia tidak ingin pidatonya berlangsung selama satu jam.
"Terima Kasih!" pungkas Jahan.
"Halo! Nama saya Yara Hanawa. Saya pintar dan rajin belajar. Saya dapat mengatasi pertengkaran yang ada dengan baik tanpa berpihak kepada siapa-siapa. Saya akan memastikan kelas tidak ribut pada saat jam kosong. Saya akan mengumpulkan semua ponsel saat jam pelajaran mulai. Saya akan memastikan tidak ada yang membawa alat kecantikan di Sekolah. Sekian pidato saya. Apabila ada salah kata dan pengucapan, saya mohon maaf! Terima kasih dan tolong pilih saya."
"Baik, sudah berakhir. Pikirkan baik-baik tentang ini, dan kita mulai pemilihan suara besok." Para calon Ketua kembali ke bangku masing-masing tanpa disuruh.
"Baik, Pak!" sahut para anggota.
__ADS_1
"Kerjakan halaman 27 sekarang! Soalnya sedikit, jadi Bapak beri waktu 20 menit. Ini nilai." Wiwin menekan pada kata 'nilai' seakan menegaskan kepada seseorang bahwa dia harus mengerjakannya dengan baik.
...Bersambung..........