
...*******Chapter 01*********...
Braaaak!!
Kumpulan map di lempar begitu saja di atas meja kerjanya sangat menyebalkan sekali harus bertemu dan berhadapan dengan pak Azam namanya.
"Bisa kerjain skripsi nggak sih? kalian ini terus kamu" kata Pak Azam kembali memukul mukul map yang ada di meja dengan telapak tangannya
"I-iya ma-maaf pak" jawab Arvi takut melihat pria itu nampak sangat marah di hadapannya ini
"Maaf maaf terus tapi nggak ada perubahan masih banyak tugas saya nggak cuma kalian kalian semuanya di sini" kata Azam dengan nada tinggi " Baik lah kalau begitu kalian dapat kembali lagi kesini tiga hari lagi ingat tiga hari lagi pukul 9 pagi sudah di sini mengerti?" lanjutnya dengan nada berapi api dengan memandang para mahasiswanya.
Tidak hanya Arvi saja yang ada di ruangan dosbem selain menjadi dosbem ia juga kepala Kaprodi, kepala himpunan kemahasiswaan.
"Saya tidak mendengar jawaban kamu?" ujarnya dengan menatap Arvi
"Ba-baik pak" Balas Arvi yang kesal
"Siapa nama kamu? udah terlambat paling jelek sendiri karya kamu?" Azam kembali membentak membuat nyalinya menciut
"Ah ya, kamu, dan empat mahasiswa tadi yang masuk memberikan makalah ke tempat saya, apa tidak bisa mengerjakan dengan benar? Hanya kalian berlima yang tugas begini saja mesti di ulang berkali-kali!" tuturnya dengan amarah terselip diantara sela kata-katanya.
Arvi terdiam. Azam menggelengkan kepalanya, ia memberikan kembali makalah itu kepada Arvi.
"Kamu betulkan lagi, tiga hari lagi, sudah harus ada di meja saya, mengerti?!" ucapnya sedikit keras.
"Me—mengerti pak." tutur Arvi dengan pelan.
"Saya tidak mendengar jawabanmu, mengerti? !" ulangnya lagi.
"I—iya Pak, mengerti!" seru Arvi dengan nada lebih keras.
"Baik, kamu bisa keluar dan jangan lupa tiga hari lagi." balas Azam.
Arvi tidak bisa berkutik, tentu saja. Apalagi
Azam adalah kepala Kaprodi yang memimpin jurusannya.
Sambil menghela nafas gusar, Arvi keluar dari ruangan Azam. Tiga temannya yang lain, Hana, Naura dan Yuni datang menyambutnya. Melihat wajah Arvi yang muram, sudah tentu mereka tahu apa yang terjadi pada Arvi di dalam ruang dosen Killer itu.
"Kamu ndak apa-apa Arvi? Kamu baik-baik saja kan?" tanya Hana khas dengan aksen jawanya yang medok.
Arvi menggeleng, "Aku kena marah lagi, ini sudah yang kesekian kalinya aku mengulang makalah yang sama, Ish—Pak Azam tuh maunya apa sih, apa nggak bisa gitu memberikan nilai saja, tanpa meminta revisi." cetus Arvi dengan sebal.
"Tenang saja Arvi, kamu nggak sendiri, Aku ,Naura dan Yunj pun sama harus merevisi lagi."
sambung Hana dengan tenang. "Sudah yuk, ke kantin, Aku lapar." ajak Naura.
Arvi mengangguk, ia menengok ke kiri dan ke kanan tempat ketiga sahabatnya berdiri lalu menggaet tangan mereka dan berjalan bersama menuju kantin.
Karvina Namira Madiah, nama cantik untuk gadis cantik berusia dua puluh tahun, mahasiswa semester 7fakultas Ekonomi Universitas Mercu Suara. Salah satu Universitas elit di ibukota.
Arvi beruntung, meski makalahnya harus di revisi berulang kali, ia punya teman yang bernasib sama. Sama-sama merevisi.
"Bener kan berita tentang pak Azam, dia itu keliatannya doang ganteng, tapi galak! Ih, sialnya kita malah dapat kepala Kaprodi seperti itu."
celetuk Naura ketika mereka tiba di kantin dan tengah memesan makanan.
"Hush! Nggak baik bicarain orang di belakang, pamali!" bantah Arvi, ia menyeruput jus jeruk di depannya.
"Ngapain orang kaya pak Azam di belain, atau jangan-jangan kamu suka ya sama pak Azam, hayo ngaku aja, kamu sengaja kan nggak kerjain makalah dengan benar biar bisa bertemu pak Azam sering-sering," goda Hana sambil menyenggol lengan Arvi.
Semua mahasiswa tahu, Azam masih single, padahal jika di jejerkan dengan artis pria ibukota, wajah Azam tak kalah rupawan dengan mereka.
__ADS_1
"Aku? Suka sama pak Azan? Nggak akan! lebih baik aku melajang daripada harus menikah sama cowok galak kaya gitu!" cetus Arvi dengan santai.
Namun tak ada hujan, tak ada badai tiba-tiba petir menyambar, membuat semua orang di dalam kantin terkejut.
Arvi terhenyak, ia menatap wajah teman-temannya yang juga ikut terdiam.
Gemuruh suara tepuk tangan menggema di lapangan Universitas ternama ibukota, Para Mahasiswa dan Mahasiswi lain berdiri di tepi lapangan menyaksikan jalannya pertandingan basket antar fakultas.
Alif Nur Fatih, sang kapten tim basket Fakultas seni dan sastra adalah pria yang membuat para Mahasiswi itu berteriak histeris, nyaris seperti orang kesurupan. Meneriaki namanya dengan suara yang hampir tercekat.
Alif tahu dirinya tenar, karena itu ia harus bertanding sebaik mungkin dalam pertandingan ini. Pertandingan yang akan mempertahankan harga dirinya sebagai pria dengan fans terbanyak di Universitas. Apalagi, di antara para penonton itu ada
Arvi-Gadis imut hobi warna merah muda dambaanya.
“Alif, oper sini!” teriak salah satu rekan setimnya saat Alif menggiring bola menuju ring. Namun Alif enggan menurut. Ia yakin dirinya bisa melewati lawan satu persatu. Ini adalah babak
Alif tersadar, “Kamu ganggu saja sih Rud!, tadi kau lihatkan Arvi, gadis itu, dia pasti lagi nambah ngefans sama aku karena aku berhasil memenangkan pertandingan.” cetusnya membuat Rudi dan seluruh rekan yang berada di ruangan itu geleng-geleng kepala. Mereka tahu, Akif menyukai Arvi, pria itu terlalu terang-terangan.
“Kau itu sudah di mabuk cinta Akuf!, Arvi saja nggak pernah mandang kamu kok!, sudahlah pilih saja mahasiswi lain yang sudah jelas suka sama kau Alif!” seru Rudi.
“Tidak bisa, hatiku sudah di rebut sepenuhnya oleh Arvi, aku akan segera mengungkapkan perasaanku.” ucapnya dengan penuh percaya diri.
Seluruh rekan-rekannya sudah tidak lagi bisa menghalangi. Namun ketika Alif baru saja keluar dari ruang ganti, dan berlari terburu-buru, ia tak sengaja menabrak seseorang di depan pintu.
Rudi dan kawan-kawan lainnya yang melihat kejadian itu langsung mengalihkan pandangannya. Pasalnya yang di tabrak Azam adalah Azam, si dosen killer.
“Aduh, bapak kalau jalan hati-hati dong!”
celetuk Alif sambil berdiri dan membetulkan pakaiannya.
Azam membetulkan letak kacamatanya yang nyaris terjatuh lantaran tubuhnya terhantam Alif.
Tanpa basa-basi...
PLETAK!
“Aku ini masmu!, yang sopan kalau sama mas!” tukas Azam dengan kesal.
Alif masih memegangi kepalanya yang habis di jitak oleh Azam. Usia mereka terpaut 8 tahun, Alif 20 tahun dan Azam 28 tahun.
“Mas Azam ngapain muncul tiba-tiba, udah kaya tuyul!” umpatnya kesal.
Azan mengangkat sebelah tangannya lagi nyaris memukul kepala Alif, namun dia menahannya, dia malah mengelus kepala Alif dengan kasar.
“Kita selesaikan urusan kita di rumah, oke adik kecilku?” ucapnya sambil menyeringai.
Azam jarang tersenyum, namun sekalinya
tersenyum. Mengerikan, Pria berkacamata itu pergi setelah membuat urusan dengan adik semata wayangnya. Di kampus ini, tak ada yang berani berhadapan langsung
dengan Azam, kecuali Alif. Adiknya sendiri.
"Zam, usiamu itu sudah matang, sudah cukup membangun rumah tangga, pilihlah mana wanita yang kamu suka, mamah sama papah tuh kadang malu kalau di tanya teman teman sudah punya cucu berapa," ucap Jenna—ibunya Azam ketika mereka tengah makan malam bersama di meja makan.
Azam yang tengah menyuap nasi ke mulut dengan tenang tiba-tiba berhenti, ini adalah pertanyaan ke dua puluh yang dia dengar dari mulut ibunya.
Sementara Arsen—ayahnya, hanya melirik
sekilas seakan tidak mendengar apa-apa.
Jenna langsung menyenggol tangan Arsen yang duduk di sebelahnya.
"Emm—i—iya tuh Azan betul apa yang
__ADS_1
dikatakan ibumu, mau sampai kapan kamu betah melajang?" sambungnya.
Azam menghembuskan nafas pelan. Jika ia bisa memilih, ia akan pergi segera dari tempat ini.
Alif duduk di sebelahnya sambil menahan
tawa.
"Mah, pah, udah lupain aja keinginan kalian buat nikahin mas Azan, mas Azam tuh di kampus terkenal galak, apalagi sama mahasiwa perempuan ih, serem udah kaya macan!" candanya.
Sontak Azam langsung menginjak kaki adiknya dengan keras, membuat Alif berteriak kesakitan.
"Aaa! Mas Azam apaan sih nginjak kakiku!"
protes Alif.
"Kamu tuh anak kecil, tahu apa?" protes Azam.
"Yee, aku benar buktinya mas Azam nggak punya pacar kan? Padahal temen-temen mas Azam sudah ada yang punya anak tiga," celetuk Alif lagi membuat Azam berdesis kesal.
"Pacaran itu pilihan, single itu prinsip, mengerti?!" bantah Azam yang sudah begah dengan percakapan ini. Jenna menghela nafasnya,
"Zam, kamu bukan —" Jenna memutus
kata-katanya tak sanggup meneruskan.
Arsen dan Azam memandangnya penasaran, Tiba-tiba Azam tertawa ia paham yang dimaksud Jenna.
"Ya Allah mamah! Tega bener menuduh
anakmu ini homo, penyuka sesama jenis!
Astaghfirullah Azam masih normal mah, seratus persen, Azam cuma belum nemuin yang pas saja." tuturnya. Jenna pun bernafas dengan lega.
"Mah, Azam duluan ya, mau periksa tugas
mahasiswa." ucapnya.
“Alif juga ya mah, masih ada tugas yang
belum di kerjakan.” sambung Alif. Jenna dan Arsen mengangguk.
Dalam sekejap, meja makan itu sepi,
menyisahkan Jena dan Arsen berdua. Keduanya saling pandang,
“Pah, gimana ya caranya agar Azam itu segera menikah, masa seusia dia belum pernah pacaran apalagi membawa perempuan ke rumah, mamah khawatir loh pah.” ucap Jenna. Arsen menggangguk.
“Iya mah, papah mengerti, papah kepikiran sesuatu.”
Kedua mata Jenna menatapnya, “Apa pah?” tanyanya penasaran.
Arsen mendekatkan bibirnya ke telinga Jenna, membisikkan sesuatu. Sesuatu yang membuat kedua mata Jenna langsung berbinar dan bibirnya tersenyum lebar.
Sementara itu, didalam kamar, Azam masih sibuk mengerjakan makalah mahasiswanya yang belum sempat ia kerjakan. Setidaknya masih ada dua puluhan lagi, jika sudah berkutik dengan
pekerjaan maka tak ada kata bercanda bagi Azam.
“Malam ini sepertinya aku harus begadang lagi.” gumamnya sambil membuka lembar demi lembar makalah di tangannya.
Baru beberapa menit Azam duduk, sebuah
pesan singkat masuk ke ponselnya.
__ADS_1
“Assalamualaikum pak Azam, ini aku Arvi, maaf mengganggu waktunya pak, saya cuma mau tanya, ini makalah yang sudah saya kerjakan sepertinya sudah sesuai dengan yang bapak minta, tetapi kok masih di salahkan ya, bisa beri tahu saya salahnya dimana?”
Azam membaca pesan itu dengan jantung berdegup. Makalah yang dikerjakan Arvi sebenarnya sudah benar, Azam hanya ingin melihat wajah Arvi yang cemberut tiap kali ia membentaknya, menggemaskan sekali. Ia hanya membaca pesan itu dan meletakkan kembali ponselnya di atas meja, lalu tersenyum sendiri.