
...*********chapter 03*******...
Kehidupan berkeluarga tidaklah mudah, terlebih dia menikah dengan seorang pria yang hanya berkepentingan politik saja.
Tentu ia menyetujui kesepakatan itu dengan uang. Uang yang sebelumnya begitu sulit ia dapatkan, kini hanya perlu duduk santai dan berakting didepan banyak orang layaknya tak ada apa-apa.
"Setiap harinya, kau akan mendapatkan uang dariku. Jadi kau tidak perlu khawatir akan kekurangan. Kau hanya perlu mengikuti semua perkataanku saja," cakap seorang wanita yang tak lain adalah teman sepupunya Alif
Pria bertubuh kekar itu memandang dingin Rita yang berdiri tegak di hadapannya. Rita berdalih menatap ke arah cermin meja rias. Perlahan kepalanya tertunduk ke bawah karena merasa canggung.
"Babaik, aku akan mengikuti permainan licikmu," balas Azam dengan wajah memerah bak riasan.
Setelah cukup lama berbicara empat mata di sebuah ruangan asing, keduanya pun keluar dari tempat itu. Mereka berjalan beriringan menuju tempat dimana banyak orang tengah makan.
Beberapa pelayan memberikan beberapa hidangan dan minuman yang di pesan oleh Abdul. Ada gulai kambing, sate kambing, ayam geprek, cumi saos tiram, dan masih banyak lagi
"Ayo dong di coba makannya mas, kita makan" Ajak Rita memberikan ayam geprek dan nasi yang masih panas.
"Makan apa ini pedas semua gila ini orang pesan makanan sebanyak ini" batin Azam
"Oh ini enak loh tenang lah kita nikmati makan bersama baru kita cerita oke?"
Karena merasa lapar juga Azam mengikuti wanita asing di depannya makan, makanan yang bernuansa pedas terlebih ia punya darah Padang jelas semua makanan jika tak pedas katanya tidak makan
Suara detak jarum jam yang berputar di dinding Cafe terdengar sampai ketelinga Azam saat suasana di sektiarnya benar-benar sunyi. Sudah lima belas menit ia duduk di Cafe berhadapan langsung dengan seorang wanita berambut panjang, berbibir merah dan bermata cokelat pilihan kedua orang tuanya. Azam benar-benar tak habis fikir, kedua orang tuanya tega memaksanya berkencan dengan wanita ini.
Sebuah pesan masuk ke ponselnya, Azam mengambil dan membukanya, senyumnya terbit saat Azam mengirimkannya pesan, “Mas Azam selamat dengan kencan butanya'
Azam terkekeh membacanya, ia pun segera membalas, “Kau tahu Alif, pilihan mama dan papa sama sekali tidak berkelas'
Alif yang menerima pesan itu pun langsung membalas dengan emotikon tertawa, “Nikmatilah kencan butamu mas Azam, semangat!”
Lagi-lagi Azam tertawa kecil, ia sedikit kesal. Baru ia mengetik pesan, tiba-tiba wanita di depannya berkata,
“Apa hanya aku yang merasa tengah di acuhkan olehmu? Kau sungguh tidak menghargai keberadaanku!” seru wanita itu.
Azam tahu namanya Rita, ia hanya melirik sekilas Nara sebelum fokus kembali dengan ponselnya.
__ADS_1
“Hei! Apa kau tidak mendengar ucapanku!” tegasnya lagi.
Azam menghela nafas, meletakkan ponsel miliknya ke atas meja, lalu menatap Nara dengan sedikit tersenyum.
“Ah biar ku tebak, kau pasti di bayar oleh kedua orang tuaku untuk datang ke tempat ini bukan? Atau orang tuamu memaksamu menikah denganku?” tutur Azam, ia memiringkan kepalanya sedikit, memerhatikan wajah Nara dengan seksama, “Biar ku hitung, bedak, lipstik, alis anting, tas semua yang kau kenakan adalah barang-barang branded bukan ?” lanjutnya.
Wanita di hadapan Azam sudah nampak kesal, kedua tangannya menyilang di depan dada,
“Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?” ucap Rita kesal.
“Ah, begitu rupanya, benarkan dugaanku, kau pasti mendekatiku karena menginginkan uangku bukan?” balas Azam dengan nada merendahkan.
“Jaga bicaramu!” umpatnya kesal.
Azam tersenyum tipis, menyilangkan kedua kakinya dan duduk bersandar pada kursi,
“Dengan pakaian dan riasanmu yang seperti itu sudah pasti karena kau mengincar uangku.”
PRAKI!
Rita tiba-tiba berdiri tangan kanannya tepat menampar Azam.
"Siapa suruh bertemu aku lagian kamu mau maunya saja di suruh suruh dasar matrek" umpatnya lalu berpaling menatap Alif
"Dasar sombong selangit kau ini rasakan ini" umpatnya dengan asal ambil gelas yang pelayan bawa dan Azam di paksa minum
Setelah berhasil minum berapa teguk "Dasar wanita ******" umpatnya
Azam dan pergi meninggalkannya begitu saja. Azam tersenyum lebar, meski pipinya sakit, ia lega satu wanita telah berhasil ia lenyapkan. Dengan bersiul -siul Azam meninggalkan Cafe usai wanita itu pergi.
Azam melintasi di tempat Alif duduk bersama Abdul. "Mau pulang apa nggak?" tanya Azam datar sambil jalan karena kesal juga pada sang adik
"Tunggu mas!! tunggu"
Alif langsung berlari mengejar Azam yang buru buru hingga di mobil pun Azam mengendarai mobilnya dengan marah , kesal jadi satu.
"Pelan pelan dong mas" Alif dengan perasaan takutnya saat duduk di sebelah Azam
__ADS_1
"Bodo amat"
"Ya Allah selamatkan Alif, Alif belum mau mati sekarang merasakan jatuh cinta aja belum apa lagi mas Azam" celoteh Alif, Azam langsung menetralkan laju mobilnya
"Gimana mas kencan butanya tadi? mba rita cantik kan mas?" tanya Alif
"Gila kamu kasih mas mu model kaya lemper kebanyakan isi gitu?" umpat Azam
"Kan cantik mas?"
"Cantikan tuh kambing opa"
"Haha ya kan memang oppa kasih nama cantik ya mau sebau apapun ya tetep cantik"
Dalam perjalan lebih banyak berdebat tiba saja Alif melihat Arvi yang sedang berjalan di jalanan.
"Mas, berhenti itu Arvi kasian jalan kaki mas" ujar Alif jelas Azam langsung memberhentikan mobilnya
"Arvi. . . Arvi" Panggil Alif sedikit berlari
"Kenapa?" tanya Alif namun tiba saja.
"Gua cariin Vi, kakek lagi marah marah tuh di rumah gua yang jadi korban" ujar Sandra balik memarahi Arvi yang jelas sedang menenangkan diri
"Kak, aku bisa pulang sendiri. Plise aku butuh waktu untuk ini, nanti juga aku pulang nggak kabur kok" balas Arvi yang berkaca kaca
"Nggak ayo pulang!!" Sandra menarik tangan Arvi paksa dimana Arvi memegang es cream
"Alif. . . Alif" Arvi mengulurkan tangannya yang ada es krimnya namun tenaganya kalah dengan dua pria yang tiba saja keluar dari dalam mobil putih dan mendorong Alif.
"Alif tolong Arvi" teriak Arvi dari dalam mobil yang terdengar lirih di telinga Alif.
Alif langsung masuk kedalam mobil. "Mas itu Arvi kayaknya di culik" ucap Alif, namun Azam tak menghiraukannya namun tiba saja
Duuuuutttttt
"Iiih mas bau tau kentut nggak bilang bilang" protes Alif memukul Azam
__ADS_1
"Aaaww perut mas sakit ini, pulang aja dia bisa jaga diri kalau di culik dia juga bisa bela diri kan? Kalau penculik pakenya penutup ini nggak paling itu bodyguard keluarganya udah ya" Kata Azam yang tertatih tatih kesakitan pada perutnya
Alif melihat wajah Azam yang meringis kesakitan "Mas beneran sakit perutnya?" tanya Alif yang hanya di jawab dengan anggukan