
...******chapter 04**********...
"Lepasin kak Sandra lepasin !!" Arvi memberontak
"Menghadap ke kakek dulu. Kakek ini Arvi" Teriak Sandra
Hingga Arvi yang di jatuhkan di hadapan kakeknya berada di ruang tv-nya.
Plaaaak
"Kakek" Arvi menyentuh pipinya telah mendapat tamparan dari sang kakek
"Ayah " Pekik Nisa sontak kaget saat melihat buah hatinya di tampar meskipun itu orang tuanya sendiri
"Nggak usah bela dia Nisa, anakmu ini sekarang jadi anak pembangkang sudah selayaknya ayah seperti ini cucu sendiri" ucap kakek penuh amarah.
Dengan cepat Nisa dan Bian bersimpuh untuk membela putri kandungnya. "Jangan pukul Arvi ayah!! Nisa mohon jangan pukul Arvi dia sudah sakit" terang Nisa dalam pembelaan
"Didik lah anakmu bawa keatas pokoknya satu Minggu lagi dia harus menikah dengan cucu Salim" kata kekek
Arvi yang hanya menunduk dengan tangis begitu saja berlari jelas ada saja yang berkomentar.
"Lihat tuh mas anak mu bisa bisanya begitu didikan siapa itu?" Cibir Asmita
"Nggak usah menyindirnya ya udah sekarang Asmita ini adalah rumah ku kamu dan Sandra jika nggak mau hanya di katakan numpang bayar sinih tagihan listrik dan air" Balas Bian dengan cibiran pedasnya
"Mas kau ini~"
"Nggak pake alasan apa pun sekarang atau nanti aku akan usir kalian berdua dari sini" Bentaknya
"Kalian ini kakak beradik harusnya kamu mengalah" kata Kakek
Bian menepis tangannya ayah mertuanya. " Bela saja anak ayah dan menantu kesayangan aku hanya upil di rumah ini yang berjuang siapa yang berfoya foya siapa. Bunda ayo lah masuk kamar mulai besok kita beri batas untuk Asmita tinggal di sini lihat saja " Ungkap Bian lalu menggiring sang istri
☃️☃️☃️☃️
Sementara di rumah Azam pria itu begitu kesakitan perutnya yang membuatnya tak dapat tidur dengan nyenyak semalaman hingga pagi menjelang pria itu masih terbaring di kamarnya padahal ia harus mengajar kelas pagi ini.
Namun berbeda dengan Alif dengan penasaran apa yang terjadi dengan Arvi setelah pertemuannya kemarin malamnya dengan duduk di meja makan.
"Alif" Panggil Mama Jenna dengan lembut entah berapa kali sampai wanita itu dengan mengusap kepalanya
"Eh mama" Alif dengan cengengesan malu
"Mikirin apa kamu?" tanya Mama
"Nggak papa kok Ma, nggak mikir apa papa kok mas mana?" Alif berbera di hati beda di mulut
__ADS_1
"Panggil Azam sinih makan papa mau bicara sekarang" Pinta papa Arsen
"Iya Pa, sebentar"
Alif segera bangkit menuju kamar Azam tak biasanya sang kakak turun terlambat bahkan biasanya jika terlambat sedikit udah mengomel omel tapi pagi ini tak ada suaranya sama sekali.
"Mas Azam di panggil papa mas" ucap Alif seraya mengetuk pintu kamarnya namun tak ada jawaban dari dalam
Toook
Toook
"Mas Azam ... mas" panggilnya lagi pun sama tak ada jawaban
Seketika teringat semalam mengingatnya jika Azam sakit perut, untung saja pintu kamarnya tidak terkunci biasanya pun di kunci. Suara muntah muntah terdengar dari dalam kamar mandi dengan jelas di telinga Alif
Took
Took
"Mas, mas Azam baik baik saja di dalam ?" tanya Alif
Huueek
Huueek
"Mas jangan buat aku panik mas jawab mas" ujar Alif dengan panik
Dengan lemas Azam keluar yang merambat dinding.
"Astaghfirullah mas Azam, aku bantu duduk ayo mas"
Alif merangkul sang kakak untuk bersandar di tempat tidurnya dan memberinya minum air putihnya.
"Kenapa mas muntah muntah gitu? pucet juga mas ini lemes gitu kenapa?" tanya Alif nampak sekali kekhawatirannya
"Perut mas sakit banget kayaknya mas nggak ke kampus deh kamu kasih tahu ke kelas ekonomi yang mau revisi untuk kerumah saja. Tadi kamu bilang apa Lif?" titah Azam
"Iya papa minta mas buat turun kita sarapan mas kuat buat turun?" tanya Alif
"Bissmillah, ayo"
Azam dengan meremas perutnya dan Alif menuntunnya menuruni anak tangga.Wajahnya yang pucat dan lemas di atas meja membuat pertanyaan sang mama.
"Kenapa ini mas Azam kok lemes dan pucet gini? mas sakit?" tanya mama Jenna
"Pulang perut Azam sakit Ma, pusing banget" jawab Azam dengan berbaring di atas meja makan
__ADS_1
"Makan dulu ini nasi sama telur bibik nggak berangkat ada kepentingan" ujar mama Jena memberikan sarapan untuk putranya
"Azam, temen kakekmu nanti mau main kesini kamu ~"
"Pa, plise jangan bahas itu dulu perutku sakit banget fikiran ku nggak konsen jika mau itu "potong Azam yang tiba saja perutnya bagaikan di tusuk
"aaaww astaghfirullah... astaghfirullah hal adzim... Astaghfirullah hal adzim ... ya Allah"
"Panas juga Pa, bawa ke rumah sakit aja Pa. Alif kamu berangkat sendiri biar mas mu ini ke rumah sakit" Terang mama
Hoek
Mama Jenna dengan pelan mengangkat tubuh Azam yang panas dan tiba saja anak pertamanya memuntahkan cairan bening
"Mas Azam " pekik Alif
"Alif kamu berangkat biar mas mu papa yang urus jangan khawatir " kata titah papa Arsen
Setelah kepergian Alif, Azam yang lemas di bawa ke rumah sakit bersama mama dan papanya namun dalam perjalanan ke rumah sakit ,Azam yang mengalami pingsan hanya membuat mama Jenna sangat khawatir.
"Kuatlah kamu nak, di kasih makan apa sama Rita semalam?" tanya Mama pada diri sendiri seraya mengusap kepala Azam
☃️☃️☃️
Hari terburuk oleh Arvi pagi ini masih pagi sudah mendapatkan tamparan berat bahkan kakeknya dengan tega mengatakan anak sial dan lebih parahnya Tante Asmita dan Sandra mengatakan jika ia adalah hanya menyusahkan keluarganya rasanya buat dirinya sakit hati tak berani untuk membuka masker hitam yang di kenakannya.
"Arva dari tadi diem terus kenapa kamu?" tanya Hana
"Nggak papa kok"jawabnya dengan lesu
"Nggak semangat banget kayak punya utang berapa milyar sih Vi? kita itu udah temenan dari semester satu loh masa masih main sembunyi sembunyi begini punya masalah cerita dong" ujar Naura merangkul Arvi " Apa belum lihat pak Azam nih dosbem favoritmu?" tebalnya
"Nggak kok"
"Arvi bisa kamu ikut aku?" kata Alif begitu saja
"Kemana? sebentar lagi kelasnya pak Azam " tanya Arvi beralasan
"Udah tenang aja mas Azam nggak akan marahi karena mas Azam masuk rumah sakit nanti yang mau bimbingan bisa ke rumah sakit " terangnya
"Kamu bawa Arvi bearti kamu bawa kita Alif. Jangan mentang mentang adik dari pak Azam sok begitu kamu" Kata Hana bernada tinggi
Alif rasanya nggak bisa bicara dengan Arvi di kampus harus menemuinya secara diam diam . "Ya udah lain waktu saja aku memang Junio kalian tapi kita seumuran kan?" kata Alif berlalu pergi
"Alif, tunggu" panggil Arvi jelas Alif senang mendapat panggilan tersebut apa lagi Arvi yang lembut
"Kenapa?"
__ADS_1
"Pak Azam kenapa? dirawat dimana?" tanya Arvi
"Nanti aku chat kalau udah dapet kabar dari mama tadi pagi papa bawa mas , mas sakit perut lah pokoknya gitu. Ya udah aku mau ke kelas dulu lain kali kita bahas ini"