Terjebak Cinta Dosen Pembimbing

Terjebak Cinta Dosen Pembimbing
Tamparan


__ADS_3

Di kampus taman seorang gadis tengah duduk dengan menatap buku novel dan makalah miliknya bersandar pada sebuah dinding.


"Apa yang harus aku lakukan setelah menikah nanti? Apakah ini adil untukku? Apakah ini jalan pintas untuk ku menyelesaikan sebuah masalah ini? berat banget masalah ini, aku masih ingin bermain dan bekerja mendapat penghasilan sendiri. Apakah dia baik untukku dan bagaimana dengan keluarganya jika tidak menerima aku dengan baik baik saja " batin Arvi tak terasa air matanya jatuh dengan mudahnya mengalir di pipinya.


"Arvi kamu kenapa?" tanya Alif yang tiba saja membuyarkan lamunannya


Segera Arvi Serka air matanya dan menggeleng "Nggak papa kok" jawabnya datar


"Jangan bohong. Oya semalam itu siapa kok kasar banget sih?" tanya Alif penasaran


"Kak Sandra dan orang suruhan kakek"


"Plise ayo cerita kenapa kamu ini? ada apa Arvi?" tanya Alif lagi


"Kepo banget deh aku mau ke ruangannya oak Azam dulu" Pamit Arvi seraya bangkit membersihkan debu yang menempel di roknya.


"Ngapain ke ruangan mas Azam? orangnya di rumah sakit" tanya Alif lagi


"Rumah sakit? kenapa?" Arvi tanya balik


"Sakit Perut sampai muntah muntah tadi di bawa mama dan papa"


"Trus revisinya?"


"Kalau mau nanti jam 10 aku break kita kerumah sakit?"


Setelah mengatakan itu Alif dan Arvi berpisah dengan Alif yang harus menempuh mata kuliah lanjutan sementara Arvi yang bersantai di taman dengan Hana dan Naura.


"Kamu kenapa Arvi dari tadi diem terus?" tanya Hana


"Nggak papa, lagi pengin sendiri saja. Pak Azam sakit bingung harus revisi bagaimana?"


"Berhubung sakit tambah sakit lagi aja bawa makanan yang buatnya tambah sakit" usul Naura


"Huust kasian lah"


"Laah kesempatan kamu balas dendam padanya Arvi jangan lemah kali" ujar Hana


"Ya kalian juga nggak tahu pak Azam kalau marah lantas kalian enak udah di pindah dosbemnya Bu Farida" Balas Arvi


"Ya juga sih bakal kena masalah kamu ini apa lagi pak Azam yang super super galak"


☃️☃️☃️☃️

__ADS_1


Setelah jam 10 pagi dimana Alif telah usai dengan mata kuliahnya berakar dengan naik motor bersama sama ada Hana dan Naura.


Rasa Alif begitu senang berkesempatan memboncengi Arvi hingga di area rumah sakit menyusuri lorong rumah sakit sampai di kamar inap dimana pria itu tengah terbaring lemas dengan meringkuk.


Tiba saja ponsel Arvi bergetar satu panggilan dari Sandra yang segera menggeser panggilan tersebut.


“Hallo Kak ada apa??”


^^^^^^“Kakek masuk rumah sakit”^^^^^^


“**Dimana? aku lagi di rumah sakit juga kak lagi menjenguk dosenku kak”


^^^“Rumah Sakit Roda Sejahtera, di UGD ini tapi papa kamu nggak mau datang”^^^


“Iya aku kesitu sebentar ya Kak**. ”


Setelah Arvi menutup ponselnya "Alif nanti Arvi kesini lagi kakek di UGD" pamitnya


"Butuh temen nggak?" tanya Hana


"Nggak usah ada kak Sandra di bawah kok"


Setelah berjalan mundur hanya membawa ponsel lari ke UGD bagaimana perlakuan kakeknya terhadapnya ini sudah selayaknya menjaganya di saat kakeknya jatuh sakit pasti ada hubungannya dengan dirinya.


"Tante" panggil Arvi lembut.


"Sini kamu !!" bentak Asmita menunjuk Arvi untuk segera berdiri di hadapannya.


Plaaaak!!


"Lihat ulah kamu yang sok menolak perjodohan ini lihat kakek jadi seperti ini masuk rumah sakit , mana itikad baik orang tua kamu?" tanya Tante Asmita yang bernada tinggi


Hanya menunduk dan menangis itu yang bisa di lakukan Arvi sampai dokter keluar dan menyatakan jantung dan darah tinggi kakek kambuh sekarang Arvi yang berjalan di belakang suster jauh dari keluarganya hanya bersama Sandra.


"Makannya jadi orang tuh nurut biar nggak di salah salahin" ujar Sandra


"Iya kak"


"Iya iya saja tanpa pergerakan sama saja bohong kamu" Sandra tiba saja mendorong Arvi kebentur dinding rumah sakit


"Awww"


"Gitu saja nangis" Celetuk Sandra yang badannya lebih besar dari Arvi

__ADS_1


Setelah sampai di ruangan ternyata berselahan dengan Azam hanya bersekat tirai saja. Jelas Alif yang penasaran mengintip begitupun dengan Naura namun tiba saja Tante Asmita mendekatinya


"Jika ada apa apa dengan kakek kamu yang harus mempertanggung jawabkan semuanya Arvi" Ucapnya dengan mencekal wajahnya.


"Kenapa aku yang harus mengalami sendiri? kan kak Sandra juga cucu kakek bahkan kak Sandra lebih tua dari Arvi? kakak udah kerja sedangkan Arvi masih kecil Tante" Arvi dengan membela diri sendiri


"Kecil bukan alasan tapi ~"


"Apa yang mau kamu lakukan mbak?" tanya mama Jenna yang tiba saja masuk melihat perdebatan sengit saat mata indah Arvi yang berkaca kaca


"Jangan ganggu urusanmu!"


Mama Jenna tak peduli kali ini langsung saja membawa Arvi ke tempat Azam.


"Arvi minum dulu inih" Alif memberikan minuman


"Makasih, Alif" Ucapnya namun tiba saja Tante Asmita menarik tangannya


"Lebih senang di sini nggak lihat kakek seperti itu?!" Bentak Asmita


Terasa pecah fikirannya sekarang menghadapi masalah sendirian.


"Aaaaa" Arvi memegang kepalanya dengan berteriak "Silahkan tampar dan pukul aku itu mau Tante kan? aku capek yang terus mengalah aku ini manusia bukan boneka Tante dan kakek. Memang aku ini anak papa yang Tante besarkan tapi aku punya perasaan" ucap Arvi dengan teriakan amarah yang meluap luap lalu pergi ke balkon yang berisi celana celana yang menggantung


"Anak kurang ajar lihat saja nanti pembalasanku " Suara yang masih terdengar di telinganya saat Tante Asmita berbicara seperti itu


Alif, Naura dan Hana yang ingin menghampirinya di balkon tiba saja "Biarin tenang dulu nanti kalau udah tenang pasti dia masuk" ucap Mama Jenna


"Tapi Tante?" tanya Naura


"Udah percayalah akan baik baik saja nak."


Di balkon Arvi yang menangis sesekali berteriak membuat Azam tak bisa tidur dengan nyenyak saat mendengarnya tapi juga kasian jika Arvi di perlakukan seperti itu pada keluarganya yang harusnya mendapatkan kasih sayang namun hal buruk yang terjadi.


"Alif kasihkan botol minum ini sama roti ini keluar" pinta Azam menunjuk pada sebuah nakas


Dengan senang hati Alif mengantarkannya dengan pelan pelan membawakan apa yang Azam minta. Melihatnya dengan memeluk lututnya sendiri dalam tangis sampai sesegukan


"Arvi makan ini dulu" Kata Alif yang masih berdiri


Arvi berdiri di hadap Alif tiba saja pandangannya menjadi gelap dan Arvi yang jatuh pingsan di hadpannya.


"Arvi.... Arvi" panggilnya dengan menggoyang goyangkan tubuhnya namun tak ada pergerakan sama sekali.

__ADS_1


Alif bopong dan letakan di sebuah kursi dengan kepalanya bersandar pada bantal yang di tempati Azam. Membuat hati Azam terasa ibu saat melihat ada mahasiswinya yang mengalami kejahatan sepihak bahkan di sudut bibirnya masih mengeluarkan darah segar yang bercampur air matanya.


__ADS_2