
"Me-me- menikah? Tante yang benar saja ini Arvi loh bukan Sandra yang Tante bisa suruh menikah paksa dengan umurku seperti ini" jelas Arvi berprotes pada Tante Asmita yang sudah merawatnya bersama bundanya
"Iya kamu akan Tante jodohkan anak temen Tante" kata wanita yang mengenakan daster merah dia Tante Asmita yang tinggal bersama ayah dan bunda.
"Tapi Tante, Arvi~" kataku terpotong
"Apa sih susahnya turuti kemauan orang tua aja susah dari kecil loh kamu tinggal sama Tante, Om anggap saja ini balas Budi kamu pada kita?" ujar Tante Asmita sembari melihat jam dinding jelas ia takut jika ayah dan bunda pulang
Tiba saja
"Bagus banget Asmita tega sekali menjual putri ku karena pria pilihan kalian lebih kaya gitu?" Adam seketika membuat Tante Asmita terdiam kaku begitu saja "Udah numpang main jual anak orang! Arvi aka. menikah dengan orang pilihanku tapi nanti jika waktunya tepat" Ucap Papa Adam yang marah begitu saja
"Papa" Seketika Arvi memeluk pria yang begitu berarti
"Sayang ikut bunda ayo" Ajak bunda meninggalkan Tante dan papanya yang masih berdebat di meja tamu
Arfi dan bunda Nisa bercerita tentang bagaimana bundanyanya bisa menikah dengan papanya di kala masih sama sama masuk dunia perkuliahan.
"Jangan bilang bunda mau menjodohkan aku dengan orang asing " Arvi dengan nada tinggi
"Beberapa hari lagi bunda dan keluarganya akan mempertemukan kalian setidaknya kalian berteman lebih dahulu anak pengusaha " terang bunda
__ADS_1
"Jadi bunda pulang lebih awal dan memintaku untuk membahas ini? Bunda pikir aku ini apa? Aku bahkan belum lulus kuliah dan Bunda ingin aku di jodohkan? Apa Bunda tidak bisa bicara dengan ku lebih dahulu dan kakek apa kabar jika tahu ini?" Arvi hampir saja menangis, tetapi amarah ini jauh lebih besar dari pada kesedihan yang ia rasakan.
Ya, bagaimana bisa bunda berpikir ingin menjodohkan Arvi dalam waktu dekat ini? Sungguh tidak masuk akal.
"Arvi, kamu tau kan, apapun yang kakekmu sudah putuskan tidak bisa diganggu gugat. Dan bunda yakin kamu juga tidak akan bisa menolaknya. Tapi, pria yang kakekmu pilihkan itu juga bukan orang sembarangan. Dia adalah cucu dari sahabat karib kakekmu yang saat ini sedang berjuang melawan maut. Dia ingin melihat cucunya yang menikah denganmu, sebelum sahabat kakek benar-benar menemui ajalnya. Lagi pula, dia pria yang tampan dan baik. bunda yakin kamu juga akan suka," jelas Bunda sambil membelai rambutku. Bahkan tanpa kusadari, penjelasan dari mama sudah mampu membuat air mata ini mengalir.
Tentu tidak mungkin. Arvi tidak terlalu ingin memikirkan itu. Yang ada dalam pikiranku saat ini adalah skripsinya yang. Bagaimana bisa aku mengatakan kepada temannya jika Arvi akan dijodohkan? Baru saja aku mendapatkan kebahagiaan, dan saat ini? Aku dihadapkan dengan kenyataan yang pahit dan sulit untuk ku tolak.
Ya, seperti yang Bunda katakan jika tidak mungkin aku bisa menolak apa yang sudah kakek putuskan. Tatapan kakek saja sudah membuatku bergidik ngeri. Arvi harus menemui pria yang tak di kenal itu. Akan aku jelaskan padanya bisa saj ini perjodohan agar dia mau menolak perjodohan ini.
"Arvi, kamu mau kan?" bunda kembali membelai rambut panjang ku . Sedangkan Arvi hanya bisa meliriknya dan mengusap air mataku sendiri. Berharap jika mama
akan bisa membela putrinya sendiri.
"Tidak! Putuskan kekasihmu itu. Kalian hanya cinta monyet saja. Tante akan jodohkan kamu dengan pria yang jauh lebih mapan dan baik daripada pria pilihan ayah kamu itu. Tante tidak mau tau, pernikahan kalian dilaksanakan lusa., ajari anak kamu untuk menurut!" Ujar Tante Asmita menatap bunda dan aku secara bergantian.
Deg!
"Lusa? Kakek tau kan jika aku masih harus menempuh pendidikan. . Aku ingin selesaikan kuliah , kek. Tolong jangan membuat keputusan yang-"
"Cukup! Sejak kapan kamu berani membantah kakek? Lalu apa lagi? Bukankah ini waktu yang baik? Lagi pula, pernikahan ini tidak bisa ditunda cukup lama lagi. Dan ya, kamu tidak perlu khawatir tentang kuliah. Kakek sudah jamin kamu tetap bisa kuliah dan suamimu itu yang akan menanggung semuanya. Sama seperti kakek, dia bukan keluarga biasa. Lebih baik, persiapkan dirimu saja untuk pernikahan ini. Dan kamu Nisa, jangan biarkan putrimu kembali keluyuran. Aku tak ingin dia pergi dan kabur!"
__ADS_1
Hati Arvi semakin terasa sakit. Bagaimana bisa kakek begitu tega. Arvi bahkan belum lulus dan kakek ingin Arvi menikah? Kakek bahkan tak memberiku kesempatan untuk mengakhiri kuliah lebih dulu. Entah persahabatan macam apa yang bisa-bisanya menghancurkan masa depan
cucunya sendiri.
"Nisa, ambil ponsel putrimu dan jangan biarkan dia berhubungan dengan siapapun itu. Aku tak ingin putrimu kabur, jaga dia baik-baik." Perintahnya yang langsung di anggukan oleh bunda dan Arvi lari pergi ke kamarnya menangis sejadi jadinya
Anak mana sih yang nggak sedih jika masa depannya di hancurkan oleh orang terdekat kita terlebih kakeknya dan ayahnya jelas membuat mental dan spisikisnya terguncang.
Arvi memang tidak bisa membantah pada orang tuanya apa lagi kakeknya jika sudah bicara A ya Arvi harus patuhi A pula.
Sementara di pempat lain Azam yang sedang duduk di sebuah restoran bersama Alif.
"Mas Azam kalau punya istri kaya gitu tuh mas" Alif menunjuk orang yang sudah memiliki anak
"Ya itu dalam jangka panjang." jawab Azam datar
"Mas, aku kenalin kakaknya temenku Rita namanya sebentar lagi datang mas" kata Alif dan tiba saja seorang wanita datang bersama pria yang usianya setara dengan Alif
"Hallo selamat malam" Sapa wanita itu Rita namanya dengan mengulurkan tangan pada Azam.
Namun Azam hanya melihat sekilas dan menatap lekat Alif. "Beraninya kamu main seperti ini di belakang mas. Main jodoh jodohan seperti ini mas bisa cari sendiri nggak usah kaya gini mas nggak suka Alif" Ucap Azam
__ADS_1
"Apa salahnya kenalan dulu. Abdul ayo kita makan di sana biar mas Azam dan sepupu mu saling kenalan" Ajak Alif
"Ayoo makanan udah aku pesankan kok tadi kesini" terangnya lalu menepuk bahu sepunya berlalu pergi