
Hansen seorang pekerja antar Pizza, hari ini dia memiliki pengantaran ke salah satu rumah di kawasan elit. Nama pemesan tertera atas nama Sharita Artama. Hansen memacu motornya agar bisa segera sampai di alamat yang tertera dalam layar ponselnya sebagai daftar pemesan.
Lalu tibalah Hansen di depan sebuah rumah mewah bergaya Eropa. Dari penampakan luarnya, rumah tersebut berlantai tiga. Hari itu, kebetulan Hansen lupa mengenakan seragam pengantar pizza karena buru-buru. Salah satu temannya mengatakan kalau dia harus sampai di rumah tersebut dalam waktu kurang dari lima belas menit.
Hansen yang tidak mau karirnya berakhir hanya karena satu pengantaran yang telat, dia pun berusaha sekuat tenaga agar bisa sampai di alamat yang tertera. Hansen memencet bel yang terletak di samping pintu gerbang. Seorang satpam membukakan gerbang tersebut dan meminta Hansen untuk mengantarkannya langsung ke dalam.
Padahal, biasanya Pak satpam tersebut tak pernah memberi izin kepada siapapun yang bukan anggota keluarga Artama untuk sampai ke depan pintu rumah mereka. Namun, hal itu terpaksa dilakukan satpam tersebut karena dia takut diomeli. Sejak tadi kondisi rumah tersebut dalam keadaan panas.
Anak satu-satunya dari keluarga Artama ketahuan hamil di luar nikah dan sedang disidang oleh orang tuanya. Hansen yang polos dan tak tahu apa-apa pun menurut saja apa kata satpam tadi.
Dia sudah sampai di depan pintu rumah megah itu. Sebenarnya dia sudah mendengar suara ribut-ribut dari dalam rumah, ada rasa tidak enak untuk mengetik pintu namun jika tidak dilakukannya maka bisa saja dia dianggap sudah mangkir dari ketepatan waktu pengantaran.
Berbekal keteguhan hati dan perasaan sudah memenuhi tugas dengan baik, Hansen pun mengetuk pintu rumah itu.
Tok ... tok ... tok ...
"Mungkin itu pacar Sharita, Pa. Aku akan buka pintunya," ucap seorang perempuan dari dalam rumah yang samar-samar didengar oleh Hansen.
"Cepat masuk!" ucap seorang perempuan yang tak lain adalah Sharita dengan mata mengancam membelalak lebar. Hansen terkejut, dia sama sekali tak tahu menahu apa yang terjadi di rumah itu. Lalu serta merta dia diminta cepat masuk, lengannya diapit dan digandeng berjalan ke arah dua orang tua yang sedang berkacak pinggang.
Selintas ada ketakutan di wajah Hansen. Kotak pizza yang dibawanya masih berada di tangannya.
"Pa, kenalin pacar Sharita."
Deg.
__ADS_1
Jantung Hansen seperti hendak melompat keluar.
"Apa, pacar? Siapa pacar Nona ini? Aku cuma seorang pengantar pizza kenapa diaku pacar? Duh, gawat ini."
Hansen menatap Sharita tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Pacar dari mana coba? Ketemu saja baru kali ini dan aku cuma mengantar pizza. Sepertinya ada yang salah dengan keluarga ini."
"Siapa namamu?" tanya Papa Sharita dengan nada garang.
Hansen gugup bukan main. "Ha ... Ha ... Hansen, Tuan."
"Kerja di mana?" lanjutnya lagi
"Hansen bekerja di perusahaan telekomunikasi, Pa. Jabatannya manager," potong Sharita cepat karena takut Hansen akan mengatakan yang sebenarnya mengenai profesinya.
"Lumayan. Apa yang kau bawa itu?" tanyanya lagi masih dengan nada mengintimidasi.
"Pi ... pizza Tuan."
"Kebetulan sekali, saya dan isteri saya sangat menyukai pizza. Coba letakkan di atas meja."
Hhh ...
Sharita bisa menarik napas lega. Meski dia nyaris ketahuan tadi, untung saja dia cepat menjawab pertanyaan papanya. Jika tidak entah apa yang akan terjadi nanti.
__ADS_1
"Jangan kira, dengan membawakan kami pizza seperti ini lantas masalah kalian bisa selesai begitu saja. Jangan harap. Papa mau habiskan ini dulu, baru kita lanjut bicara lagi."
Momen itu tak disia-siakan oleh Sharita. Dia pun menarik Hansen ke arah dapur untuk memberitahu yang sebenarnya.
"Please, tolongin aku. Aku sudah tidak bisa mencari alasan lagi. Sekarang bisakah kamu berpura-pura jadi pacarku dan akan bertanggung jawab atas kehamilanku saat ini?"
Sontak Hansen melangkah mundur satu langkah. Dia lagi-lagi tak habis pikir kenapa dia harus terjebak dalam situasi pelik seperti itu. Tadi baru saja diperkenalkan sebagai pacar oleh orang yang sama sekali tak dikenalnya. Sekarang apa-apaan malah diminta bertanggungjawab atas perbuatan yang tak pernah dilakukannya.
"Nona, kita tidak saling kenal. Saya bukan pacar Nona, saya juga bukan orang yang menghamili Nona. Saya hanya petugas antar Pizza jadi kumohon lepaskan saja saya."
"Eitt ... tidak bisa. Kamu harus mau jadi pacar bohonganku saat ini. Aku janji akan membayar berapa pun yang kamu minta, asal kamu mau menolongku saat ini. Oke?"
"Maaf, saya bukan lelaki bayaran. Anda bisa mencari orang lain saja untuk menolong Nona."
"Jangan! Kumohon, kamu hanya perlu menjawab ya atau tidak saja, mengangguk atau menggeleng. Please!"
Sharita memohon pada Hansen dan laki-laki itu masih tidak habis pikir dengan kejadian begitu tiba-tiba itu. Dunianya seakan berubah seketika.
"Bagaimana bisa aku berpura-pura? Aku bahkan tidak tahu situasi apa yang terjadi dalam rumah ini. Jika aku tidak segera kembali ke kantor, bisa-bisa aku akan dipecat juga nantinya."
"Sharita ..." panggil Papanya.
Sharita segera berjalan ke ruang tamu dengan cepat seraya menggandeng tangan Hansen dengan mesra. Sungguh, Hansen benar-benar risih, tapi dia tak memiliki pilihan lain selain menuruti kemauan wanita itu.
Segalanya pun bermula dari sini, sesuatu yang tak pernah disangka sebelumnya oleh Hansen. Dan akan mengubah seluruh perjalanan hidupnya ke depan.
__ADS_1