
Hansen baru saja pulang ke rumahnya, dia tinggal bersama seorang ibu yang sedang sakit-sakitan. Wajahnya murung dan lemas. Dihempaskannya tas selempang miliknya ke kursi rotan dan menimbulkan suara rusuh untuk sesaat. Membuat sang ibu yang terbaring di kamar mengetahui kepulangan Hansen.
"Hansen, apa itu kamu Nak? Kamu sudah pulang?"
"Iya, Bu." Hansen menjawab lemah dan berdiri dari kursi setelah melepaskan sepatunya. Kemudian berjalan masuk ke kamar Ibunya untuk melihat keadaannya.
"Bagaimana perasaan ibu hari ini? Ada keluhan tidak?"
"Tidak, Nak. Tadi Bunga datang merawat ibu, dia selalu perhatian pada Ibu."
"Baguslah."
"Kamu tidak mempunyai perasaan pada Bunga?"
"Bu, bagaimana bisa Hansen sempat berpikir akan perasaan sementara Ibu terbaring di tempat tidur seperti ini dan sedang membutuhkan perawatan intensif seharusnya. Hansen merasa tidak berguna karena membiarkan ibu kesusahan. Hansen tidak bisa berbuat apa-apa, belum lagi hari ini Hansen dipecat."
Air wajah ibunya mendadak kaku. Dia menyentuh punggung tangan Hansen dan menanyakan kebenaran ucapan anaknya barusan.
"Kamu ... dipecat?"
"Iya, Bu. Hansen anak laki-laki ibu satu-satunya ini benar-benar tidak berguna." Hansen merutuki dirinya sendiri, dia bahkan menangis di depan ibunya.
"Sudahlah, Nak. Ibu tidak apa-apa. Kamu bisa cari kerja yang lain, tidak usah sedih seperti itu."
"Iyah. Maafkan Hansen, Bu."
***
Keesokan harinya, saat Hansen belum lagi terbangun dari tidurnya. Handphone miliknya itu sudah bergetar entah untuk keberapa kali. Sejak tadi handphonenya itu bergetar tak karu-karuan, sampai sudah sangat mengganggu tidur Hansen. Dia pun terbangun dan mencari keberadaan handphone tersebut.
"Halo ..." jawabnya sesaat setelah dia akhirnya menemukan ponselnya.
"Kamu di mana?" jawab seorang wanita bersuara merdu di seberang sana, namun sayangnya karena suara itu diucapkan begitu nyaring kemerduannya pun hilang menjadi sebuah lengkingan yang memekakkan telinga Hansen.
"Di rumah, siapa ini?"
__ADS_1
"Astaga ... kamu tidak menyimpan nomorku ya? Aku ini calon isterimu!" serunya lantang.
Hansen pun terkejut dan bangun dengan posisi duduk, saking tak menyangkanya ada seorang wanita yang pagi-pagi buta menelponnya dan mengaku calon isterinya.
"Maaf, Anda sepertinya salah sambung."
"Issh ... kepala batu. Ini aku Sharita, masih nggak kenal juga kudatangi rumah kamu."
"Maaf salah sambung."
Hansen dengan cepat memutuskan sambungan telepon itu dan membenamkan ponselnya ke bawah bantal miliknya. Sebenarnya dia sudah tahu dan ingat perempuan itu, hanya saja Hansen merasa tidak perlu meladeni perempuan gila itu.
Ponselnya kembali bergetar, getar pertama dia tak mau peduli, kedua tetap tak peduli, namun ponsel tersebut terus bergetar hingga dia pun pasrah dan kembali mengangkat telepon tersebut.
"Mau Anda apa?" pekin Hansen kesal. "Anda sudah membuat hidup saya tidak tenang, karir saya berantakan dan mengganggu tidur saya pagi ini." Hansen terus mengomel dan tidak bisa menahan kekesalannya.
"Dengar baik-baik, jika telepon ini kamu matikan juga. Maka seumur hidup kamu akan terus aku hantui dan ganggu. Aku tunggu kamu di butik langgananku untuk fitting baju dalam waktu satu jam. Kalau kamu tidak datang, HABIS KAMU! Alamatnya kukirim lewat pesan singkat."
Telepon itu diputuskan sepihak sekarang oleh Sharita. Hansen melongo di tempat tidurnya. "Perempuan ini benar-benar bikin aku darah tinggi. Seumur hidup aku belum pernah bertemu perempuan semacam dia. Tahunya hanya bisa memaksakan kehendak dan tidak menerima penolakan. Dasar cewek gila!"
Hansen turun dari tempat tidurnya, membuka pintu kamar dan langsung ke kamar Ibunya. Sampai di sana, dia melihat ibunya sedang terbatuk-batuk parah. Dia segera memapah tubuh Ibunya dan memberinya minum. Kemudian dada ibunya mulai sesak, dia pun panik dan tak tahu harus berbuat apa.
***
Di tempat lain, tepatnya di sebuah butik, Sharita sudah menunggu dengan cemas. Apakah Hansen akan datang atau tidak. Dia pun kembali menghubungi Hansen namun pria itu tak juga menjawab teleponnya. Dia kesal bukan main, hampir saja ponsel itu dilemparnya ke lantai saking kesalnya.
Hansen sedang menemani ibunya di rumah sakit, kini ibunya terbaring di atas sebuah brankar yang bergerak cepat ke ruang IGD untuk mendapatkan perawatan medis.
"Maaf, Anda hanya bisa sampai di sini. Ibu Anda akan kami tangani semaksimal mungkin, berdoalah!"
Hansen pun kecewa karena tidak bisa mendampingi ibunya ke ruang IGD. Dia meraih ponselnya dan begitu banyak panggilan tak terjawab dari Sharita. Dia mengabaikan semua itu, bahkan ketika cewek itu akan membunuhnya sekalipun. Keselamatan ibunya lebih penting dari apapun.
Tiga puluh menit kemudian, seorang dokter dan seorang suster keluar dari ruang IGD dan mengabarkan bahwa ibunya mendapatkan bantuan oksigen karena napasnya di bawah normal.
"Ibu Anda sedang mendapatkan perawatan intensif, dugaan sementara ibu Anda mengalami TBC akut serta penyakit kronis lainnya dan pengotabannya membutuhkan uang yang tidak sedikit. Untuk ke depannya apakah Anda bersedia ibu Anda dirawat di rumah sakit dengan jaminan Anda akan membayar semua biaya pengobatan serta perawatan ibu Anda."
__ADS_1
Hansen terdiam cukup lama. Dia tak tahu harus mendapatkan biaya pengobatan itu dari mana, dia sendiri sudah tak bekerja sekarang.
"Silakan dipikirkan dulu, jika Anda sudah memutuskan maka segera hubungi kami kembali."
Dokter dan suster itu pun meninggalkannya seorang diri dalam keadaan gamang. Hansen diperbolehkan masuk untuk menjenguk ibunya. Dia tidak tega melihat kondisi ibunya yang dibantu pernapasan dan alat-alat lain yang menunjang keberlangsungan hidup ibunya sekarang.
Tanpa pikir panjang, dia segera pergi meninggalkan rumah sakit menuju butik yang dimaksud oleh Sharita.
***
"Kenapa terlambat sekali. Cepat masuk ke dalam! Hampir lumutan orang nunggu kamu," omel Sharita begitu Hansen sampai di butik itu.
"Tunggu!" cegat Hansen yang tak sengaja memegang pergelangan tangan Sharita saat hendak beranjak masuk ke ruang fitting baju pengantin.
"Ada apa lagi?" kesalnya.
"Saya mau mengajukan syarat."
"Itu bisa nanti saja, setelah kita fitting baju. Cepatlah sedikit!"
"Ini penting."
"Okey! Apapun syaratnya akan kusetujui, ayo cepat masuk!"
Akhirnya lagi-lagi Hansen menurut apa kata Sharita. Dia pun segera masuk ke ruang fitting baju di mana di sana sudah menunggu dua orang yang akan membantu mereka melakukan pencocokan baju pengantin.
"Calon kamu lumayan juga, Sharita. Kupikir Ferdi yang akan menikah denganmu. Rupanya orang lain yang di luar ekspektasi aku. Tapi lumayan sih, nggak jelek-jelek amat."
"Sialan kamu! Ferdi sudah ke laut, kusumpahi biar mati saja sekalian. Gara-gara dia aku terlibat dalam masalah pelik seperti ini."
Hansen diam saja mendengar pembicaraan perempuan-perempuan itu, meski dia tahu dirinyalah yang sedang dibicarakan. Hansen melihat wajahnya sebentar di cermin dalam balutan jas putih tulang yang begitu pas di tubuhnya. Bahkan dua orang tadi memujinya.
"Aku belum pernah sebelumnya memakai jas sebagus ini. Aku pangling dengan diriku sendiri, kok bisa seberbeda ini."
Hansen terpana melihat Sharita dengan gaun pengantin yang dipakainya. Lebih cocok disebut seorang princess. Dia cantik sekali, semua terlihat pas di tubuhnya. Bahkan Hansen baru menyadari kalau cewek yang memaksanya menikah dengannya itu cantik sekali.
__ADS_1
"Untuk pertama kalinya, aku melihat cewek secantik ini. Dia benar-benar mengagumkan, semuanya terlihat pas dan senyumnya sangat-sangat manis."
Namun begitu Hansen mengingat lagi kondisi ibunya di rumah sakit yang sedang berjuang melawan maut, dia ingin segera mengusaikan acara fitting baju itu dan membicarakan syarat yang akan dia ajukan pada Sharita.