TERJEBAK DRAMA PERNIKAHAN

TERJEBAK DRAMA PERNIKAHAN
Menikahlah Denganku


__ADS_3

"Baiklah, Papa sudah selesai makan pizza. Jadi kapan kalian akan memutuskan menikah?"


Seperti petir di siang bolong, Hansen tertegun tak dapat mengucapkan apapun.


"Apa-apaan ini? Menikah? Kenapa saya harus menikahi wanita yang sama sekali tak kukenal ini? Ya Tuhan, selamatkan hamba dari ketidaktahuan hamba atas semua ini."


"Minggu depan, Pa. Iya kan, sayang?"


Belum selesai Hansen menata hatinya yang masih kacau balau, kini dikejutkan lagi dengan keputusan Sharita. Hansen menatap Sharita tak mengerti, tapi perempuan itu tak peduli apapun arti dari tatapan Hansen.


"Ti ... tidak ..." jawab Hansen terbata. Baru saja ingin melanjutkan ucapannya, Sharita sudah mencubit pinggangnya. Hingga Hansen pun harus bereaksi meringis kesakitan.


"Tidak apa maksudnya? Kamu jangan mau enaknya saja. Sudah membuat anak saya hamil, lantas tidak mau bertanggung jawab. Jangan kira saya akan melepaskanmu begitu saja."


"Ah, tidak Pa. Maksudnya Hansen tadi adalah mengenai pernikahannya Papa dan Mama tidak usah khawatir. Semua akan diurus olehnya dan tentu saja dibantu oleh Sharita." Sharita segera meluruskan kata tidak yang diucapkan Hansen tadi.


Disaat bersamaan, handphone Hansen yang merupakan keluaran lama terus berdering dari balik saku celananya.


"Maaf, saya harus mengangkat telepon terlebih dahulu." Hansen undur diri untuk ke belakang mengangkat telepon.


Sharita ikut di belakangnya, mengekor seperti orang ketakutan Hansen akan pergi tanpa sepengetahuannya.


"Kamu di mana? Kenapa lama sekali? Bos sudah marah sejak tadi!" omel seseorang dari balik telepon, reflek Hansen menjauhkan handphone-nya dari telinga dia.


Baru saja Hansen hendak menjawab pertanyaan temannya, ponsel tersebut sudah direbut Sharita.


"Hansen di rumah saya sekarang, kami sedang membicarakan soal pernikahan. Jadi siapapun Anda di seberang sana, untuk saat ini jangan mengganggu Hansen dulu."


Hansen terpana dengan ucapan Sharita barusan. Fix, dia sudah pasti dipecat oleh atasannya.


"Anda ini seenaknya sekali, kenapa Anda melakukan itu? Saya pasti dipecat dari tempat saya bekerja."

__ADS_1


"Malas bagus. Itu artinya, kamu tidak usah bekerja selagi pernikahan kita sedang disiapkan." Sharita menjawab seenaknya. Membuat Hansen geram namun tidak bisa melakukan apapun pada wanita di depannya itu.


"Pernikahan apa? Saya tidak mengenal Anda dan Anda tidak mengenal saya, bagaimana bisa Anda berbicara tentang pernikahan. Anda sedang bercanda, Kan? Atau jangan-jangan Anda ini sudah gila! Meminta orang lain bertanggungjawab atas perbuatan yang tak pernah di lakukannya. Maaf, saya harus pulang!" jawab Hansen ketus dan ingin berlalu begitu saja namun lengannya ditahan oleh Sharita.


"Kali ini kumohon padamu, aku sudah kehabisan akal. Pacarku kabur saat tahu aku hamil dan jika aku mengaku sekarang pada Papa dan Mama, bisa-bisa aku dihukum oleh mereka dan tidak diperbolehkan lagi menggunakan kartu kredit yang tanpa limit itu. Duh, aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa shopping, jalan-jalan dan semua hal tentang kemewahan yang akan hilang begitu saja. Aku mohon, menikahlah denganku!"


Aneh sekali, biasanya seorang lelaki yang meminta perempuan untuk menikah. Sekarang malah sebaliknya, seorang perempuan mengajak seorang lelaki untuk menikah dengannya. Dunia benar-benar sudah gonjang ganjing.


"Itu masalah Anda Nona, jangan melibatkan saya ke dalam masalah Anda. Cari pria tak bertanggung jawab itu dan minta dia menikahi Anda. Saya tidak bisa memenuhi permintaan Anda, maaf."


"Hei, kumohon! Setelah menikah, aku janji kamu boleh melakukan apapun di belakang aku. Kamu mau pacaran pun terserah, kamu mau menikah lagi juga terserah. Kita menikah hanya di atas kertas, selebihnya jalani hidup masing-masing."


Sharita berwajah memohon di depan Hansen. Memang dasar lelaki ini terlalu polos, dia pun bingung mau jawab apa. Namun, kali ini sepertinya dia tak menemukan jawaban lain selain terpaksa mengikuti ******** perempuan itu.


"Gara-gara Anda, saya sudah kehilangan pekerjaan yang baru beberapa bulan saya dapatkan. Anda tahu kan betapa susahnya mencari pekerjaan saat ini?" Nada bicara Hansen naik satu oktaf seraya menyodorkan ponselnya ke depan mata Sharita.


HANSEN, KAMU SAYA PECAT! JANGAN PERNAH KEMBALI LAGI KE PERUSAHAAN INI. KAMU SUDAH MANGKIR DARI WAKTU PENGANTARAN YANG HARUSNYA SUDAH SELESAI.


"Berarti kamu tidak bekerja sekarang kan? Jadi maukah kamu bekerjasama denganku dengan waktu yang fleksibel? Kamu hanya cukup menikahi aku, itu saja."


"Katakan iya, aku tidak suka ditolak." Sharita melanjutkan ucapannya.


Lalu suara keras dari ruang tamu yang merupakan suara Papanya menggema sampai ke arah dapur.


"Sekarang, kita cepat keluar! Papa bisa saja berubah pikiran jika kita tak segera kembali."


***


"Pa, Hansen mau pamit dulu. Hari ini dia sangat sibuk, dia perlu istirahat." Kali ini Sharita bertindak seakan menolong Hansen, karena dia tahu Hansen sudah ingin sekali mengusaikan pembicaraan mengenai kehamilan Sharita yang dari luar nikah.


"Kalian bisa menyiapkan pesta pernikahan hanya dalam waktu seminggu? Kalian yakin?" ucap Mamanya yang sejak tadi memilih diam dan enggan untuk mengucapkan sepatah kata pun.

__ADS_1


"Mam, semua sudah diurus oleh Hansen. Kalian tenang saja. Besok kami akan melakukan fitting baju dan menghubungi WO untuk pelaksanaan keberlangsungan acara pernikahannya."


"Calon kamu luar biasa, Shari."


"Dia sudah mempersiapkan segalanya untuk pernikahan kami, itu sebabnya dia rela ke sana ke mari dan tak memiliki banyak waktu."


"Baguslah! Sharita, antar Hansen sampai ke depan." Papanya menyambung pembicaraan.


Sampai di depan pintu, Sharita segera menutupnya dan memegang kedua tangan Hansen. Sementara Hansen sudah panas dingin, entah sudah berapa kali wanita itu terus menyentuh dirinya.


"Aku minta nomor ponsel kamu, jangan kira kamu bisa lari dariku Hansen."


"Untuk apa lagi?"


"Agar aku tidak kehilangan kontak untuk menghubungi dirimu."


Dengan terpaksa Hansen menyebutkan nomor ponselnya.


"Sudah, kan? Maaf saya harus segera pulang!"


Hansen pun pergi setelah Sharita memberinya kecupan di pipi kiri. Katanya sebagai ucapa terimakasih karena Tuhan sudah mengirimkan Hansen hingga ke depan pintu rumahnya.


"Sebutkan saja berapa yang kamu inginkan, asalkan kamu mau untuk melanjutkan drama ini sampai pernikahan."


"Apa di otak Anda hanya ada uang?"


"Terserah mau bicara apa, aku hanya menawarkan dan kamu tidak bisa menolak. Sama halnya kamu tidak bisa lari lagi dariku."


"Hhh ... dasar perempuan gila!" ucap Hansen sebelum dia pergi dan meninggalkan Sharita.


Bahkan kisah cinta manapun tidak akan bisa menyamai kisahku barusan. Aku hanya seorang pengantar pizza, masuk ke sebuah rumah megah, diakui pacar, diminta bertanggungjawab, terakhir disuruh menikahi perempuan yang sama sekali tak pernah kutemui sebelumnya. Bahkan perempuan itu sedang hamil. Astaga!

__ADS_1


__ADS_2