TERJEBAK DRAMA PERNIKAHAN

TERJEBAK DRAMA PERNIKAHAN
Keputusan Hansen


__ADS_3

Keadaan ibu Hansen membaik. Dokter sudah menyampaikan itu pada Hansen sendiri. Sharita ikut menyimak pembicaraan mereka dengan serius.


"Jadi apakah ibu saya akan terus membaik, Dok?"


"Harapannya begitu, kalau dari hasil pemeriksaan tadi harusnya akan semakin baik."


"Terimakasih, Dok. Apa saya sudah bisa membesuk ibu saya, Dok?"


"Bisa, namun sebelumnya ... silakan urus administrasinya dulu."


Hansen pun terdiam. Dia tahu maksud dari dokter itu adalah biaya pengobatan ibunya yang harus diselesaikan sesegera mungkin. Dokter itu pun pergi meninggalkan mereka, dan Hansen kebingungan apakah lebih baik menjenguk ibunya dulu atau menyelesaikan administrasinya terlebih dahulu.


"Mm ... maaf apakah syarat tadi sudah berlaku?" tanya Hansen sedikit gugup.


Sharita merasa sudah di atas angin, kali ini dia pasti membuat Hansen tak berkutik dan mau mengikuti semua maunya.


"Okey, sebaiknya kita ke depan untuk mengurus semuanya."


Hansen menarik napas lega. Dia pun mengikuti langkah Sharita di depannya yang berjalan dengan rasa percaya diri yang tinggi.


Setelah mereka berdua sudah di bagian administrasi, Hansen lalu menanyakan berapa biaya yang harus dia tanggung untuk perawatan ibunya selama satu hari ini.


Dia juga sempat merasa heran karena urusan administrasi yang biasanya diurus belakangan harus diurus di depan.


"Berapa biaya yang harus saya tanggung untuk pasien bernama Ibu Leila?" tanya Hansen sedikit cemas.


"Untuk biaya sampai hari ini sudah mencapai lima puluh juta tujuh ratus ribu dupiah, Pak. Silakan menyelesaikan administrasinya jika Bapak sudah menyiapkan dananya."


Seketika wajah Hansen memucat, dia menatap Sharita dengan tatapan memohon.


"Biayanya sangat besar, aku tidak memiliki uang sebanyak itu. A ... apa ... kah ... kamu punya?" dengan hati-hati Hansen menanyakan pada Sharita.


"Tidak perlu cemas. Aku akan segera mengurusnya. Kamu temui saja ibumu, aku akan menyusul setelah mengurus biaya administrasi ibu kamu."


Hansen pun menjadi lega. Dia menyunggingkan seulas senyum ke arah Sharita.


"Terimakasih, tapi ... biarkan aku menemani kamu mengurus semuanya dulu di sini."


"Jangan! Ibu kamu lebih membutuhkan kamu. Pergilah."


Hansen pun setuju dan dia meninggalkan Sharita sendirian. Dia pergi ke ruang perawatan ibunya.

__ADS_1


Suara pintu dibuka mengejutkan ibunya yang baru saja sadar dari bius yang diberikan padanya selama menjalani pengobatan.


"Bu ... bagaimana keadaan Ibu?"


"Se ... sedik ... kit lebb ... bih bbaik," jawab ibunya agak terbata.


"Syukurlah. Hansen takut terjadi sesuatu pada Ibu. Sekarang masa kritis ibu sudah lewat, semoga ibu nanti bisa pulang dengan cepat."


"Hans ... dari mana kamu punya uang untuk pengobatan ibu, Nak?"


"Sudah, jangan dipikirkan Bu. Ibu fokus saja sama kesehatan ibu. Hansen sudah mendapatkan uangnya. Ibu tenang saja."


"Maafkan, Ibu. Selalu merepotkan kamu, Nak."


"Jangan bilang begitu, Hansen lah yang selalu merepotkan ibu. Jika Ibu butuh apa-apa, katakan saja pada Hansen."


Ibunya hanya mengangguk lemah. Lalu suara gagang pintu ditekan membuat Hansen dan ibunya harus berpaling ke arah pintu. Seorang perempuan muncul dari balik pintu itu, sedang tersenyum pada Hansen. Dia kemudian masuk meski belum dipersilakan.


"Hai ... semuanya sudah beres. Bagaimana keadaan ibumu?" tanya Sharita begitu dia mendekati Hansen.


"Seperti yang kamu lihat. Begitulah kondisi ibu saya sekarang."


Ibu Hansen sempat terdiam karena melihat kedatangan Sharita. Belum lagi penampilan Sharita yang sangat jauh dari penampilan teman-teman Hansen yang mungkin pernah dikenalnya.


"Siapa dia? Dari mana kamu bertemu bidadari seperti itu?"


Sharita menaikkan alisnya karena melihat ekspresi Hansen yang seakan mau tertawa saat ibunya mengatakan bahwa Sharita bak bidadari di matanya.


"Ibu, kenalin aku Sharita. Tunangan Hansen."


Seketika mata Hansen membelalak. Apa? Tunangan? Mungkin pertanyaan macam itulah yang muncul di benak Hansen saat itu juga.


Tidak begitu juga kali Sharita, masa iya dia dengan gamblangnya memperkenalkan dirinya di depan ibu ku sebagai tunanganku?


Wajah Hansen berubah pias. Wajah ibunya malah sebaliknya. Dia senang mendengar kalau wanita cantik jelita di depannya itu adalah calon mantunya alias calon isteri Hansen, anaknya.


"Kenapa tidak bilang pada ibu, kamu punya tunangan secantik ini?"


Hansen salah tingkah tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan ibunya barusan. Padahal dia saja tidak tahu kenapa wanita itu tiba-tiba menjadi tunangannya. Seperti kejatuhan durian, saat mengenai kakinya begitu sakit tapi ketika dimakan mungkin saja akan berbuah manis. Tapi perjalana hidup Hansen tentu saja mungkin tak semulus itu.


Belum lagi jika mengingat bahwa semua yang dilakukannya saat ini hanyalah drama belaka. Seperti yang diceritakan di awal kalau semuanya serba tak terduga, tak disangka dan tidak dinyana bakal ada kejadian macam itu.

__ADS_1


Hansen tidak pernah menayangkan sebelumnya, jika saja hari itu dia tak mengantar pizza mungkin kejadian dia harus dipaksa jadi pacar pura-pura tak akan terjadi. Juga dia tak akan kehilangan pekerjaannya padahal baru saja dia kerja di sana.


Seluruh hidup Hansen berubah dalam hitungan menit dan menit berikutnya harus dihadapkan pada keadaan ibunya yang tiba-tiba menurun dan harus mendapatkan perawatan intensif. Sehingga keputusan yang tak pernah ada di otaknya sedikitpun itu akhirnya mencuat di permukaan.


"Aku ingin **menikah** denganmu, asal kamu menanggung seluruh pengobatan Ibuku."


Satu kalimat itulah yang akhirnya mengubah hidup Hansen seluruhnya.


"Hansen, kenapa kamu diam?" tanya ibunya lagi.


Hansen lalu tersadar dari lamunannya. Kemudian menatap Sharita dengan wajah dan tatapan yang tak dapat dimengerti wanita itu.


"Kami baru saja memutuskan untuk bertunangan. Kemungkinan besar, Minggu depan kami akan segera melangsungkan pernikahan. Jadi ibu, harus segera sembuh agar bisa menyaksikan hari paling bersejarah dalam hidup kami." Sharita menyambung pembicaraan ibu Hansen karena pria itu sejak tadi hanya diam dan melongo.


"Oh begitu? Mendadak sekali."


Sharita melirik Hansen seraya tersenyum penuh kemenangan. Wajah Hansen yang kecut itu semakin masam saja.


"Iya, Bu. Mendadak. Orang tua Sharita menginginkan agar kami segera menikah."


"Tapi dari mana kamu dapatkan uang untuk menyiapkan pesta, Nak?" tanya ibunya mulai khawatir.


"Ibu tenang saja. Semuanya sudah diurus Sharita dan aku. Ibu hanya perlu untuk sembuh."


Setelah berbincang cukup lama di ruangan rawat ibunya, Hansen pun mengantar Sharita sampai lobi rumah sakit.


"Kamu pandai sekali melakukan drama," ucap Hansen ingin menyindir Sharita.


"Aku tidak drama. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Apa itu salah?"


"Entah aku ketiban apa dan bermimpi apa, sampai harus terjebak dalam situasi serba rumit seperti ini. Namun, aku berterimakasih karena kamu sudah menolong aku untuk menanggulangi seluruh biaya pengobatan Ibuku."


"Aku tidak akan meminta itu kembali, asal kamu sepakati perjanjian kita sebelumnya."


"Tenang saja, aku bukan seorang lelaki pengecut atau pecundang yang lari dari janji dan kesepakatan yang sudah kita setujui."


"Baiklah. Aku pulang dulu. Jangan lupa untuk terus mengabariku."


"Untuk apa?"


"Agar kita terlihat seperti sedang bertunangan beneran. Puas?"

__ADS_1


Hansen yang lugu lagi-lagi tak mengerti joke joke yang dilempar Sharita padanya.


__ADS_2