
Fitting baju hari itu akhirnya selesai. Hansen pun segera menagih janji Sharita untuk membicarakan syarat yang akan dia ajukan.
"Bisa bicara sebentar?" Wajah Hansen yang terlihat memohon membuat Sharita pun penasaran.
"Okey, kita bicarakan ini di tempat lain. Ayo ikut denganku ke cafe, kita bicarakan semuanya di sana."
Sharita sudah mau pergi namun Hansen lagi-lagi refleks menarik pergelangan tangan cewek itu untuk menghentikannya.
"Aku tidak punya waktu banyak. Bisakah kita bicarakan di sini saja? Di parkiran atau di mobil Anda asal tidak pergi ke tempat lain lagi. Ini sangat mendesak."
Sharita menarik bibirnya sedikit, memperlihatkan senyumnya yang samar. Sepertinya kali ini dia sudah merasa senang karena Hansen akan menyerahkan dirinya sendiri dalam permainannya.
"Baiklah. Kita bicarakan di mobil. Tapi, bisakah kamu tidak memanggilku dengan sebutan Anda? Apa salahnya memanggil nama atau panggilan mesra lainnya. Kita ini sebentar lagi menikah, aku tidak mau orang-orang di luar sana menilai buruk tentang kita hanya karena panggilan tersebut."
Hansen terlihat berpikir, namun karena dia tak memiliki banyak waktu lagi dia pun memutuskan untuk memanggil Sharita dengan namanya.
"Bisakah kita bicarakan sekarang, Sharita?"
"Not bad ..." komentar Sharita tentang panggilan namanya barusan.
Itu kali pertama Hansen memanggil Sharita dengan nama. Kebiasaannya selama ini untuk menghormati Sharita adalah dengan memanggil "Anda".
Hansen melangkah pelan di belakang Sharita. Mengikuti perempuan itu ke parkiran, tepatnya ke mobil Sharita.
"Masuklah!" pinta Sharita, Hansen menolak untuk masuk. Dia memilih bersandar di pintu mobil Sharita dan mengatakan apa yang sejak tadi sudah ditahan-tahan olehnya.
"Saya ... eee ... aku ... mau mengajukan syarat, jika Anda ... emm tidak maksud aku, jika kamu mau menikah denganku maka aku punya syarat untuk itu."
__ADS_1
"Katakan apa syaratnya?" jawab Sharita pendek, tegas dan jelas.
"Aku mau kamu menanggung seluruh biaya pengobatan Ibuku di rumah sakit. Saat ini, dia mengalami penyakit yang cukup parah dan harus menjalani perawatan yang intensif dan biayanya sangat besar. Jika kamu sepakat dengan syarat itu, maka aku tidak keberatan untuk menikah denganmu."
Tanpa pikir panjang, Sharita lalu menyetujui persyaratan itu. Padahal, di pikiran Hansen cewek ini pasti tak akan setujut.
"Baiklah. Untuk memastikan kamu tidak berbohong padaku, kebetulan hari ini aku masih punya waktu kelayapan di luar jam kerja, aku mau kamu mengantar aku ke rumah sakit tempat ibu kamu dirawat."
"Tapi aku tidak punya kendaraan."
"Polos sekali. Memangnya kau akan memohon seperti ini padaku jika kamu memiliki kendaraan pribadi? Masuklah ke mobil. Katakan saja kita harus ke rumah sakit mana dan aku akan mengantar kamu."
Hansen pun merasa tidak enak hati. Dia sedikit gugup dan hampir saja salah memasuki pintu mobil.
"Eit ... kamu mau ke mana?"
"Masuk ke mobil kamu kan?"
Hansen pun menurut saja. Dia tak ada pilihan lain sekarang. Ibarat kata mereka ini sedang dalam hubungan simbiosis mutualisme. Saling menguntungkan satu sama lain. Sharita ingin dinikahi agar anak yang dikandungnya itu memiliki ayah setelah lahir nanti, sementara Hansen memerlukan uang untuk perawatan ibunya.
Mobil yang mereka kendarai pun terus melaju meninggalkan halaman parkir rumah sakit. Hansen duduk diam di samping Sharita yang sedang menyetir.
Sepanjang jalan, sama sekali tak ada pembicaraan di antara mereka. Hansen sibuk menatap jalan ke depan, mengalihkan perhatiannya sekaligus menghindari terlibat obrolan dengan Sharita.
Sebuah panggilan telepon mengagetkan keduanya. Hansen dengan cepat mengangkat telepon tersebut. Takut mengganggu Sharita menyetir.
"Halo ..."
__ADS_1
Terdengar suara Hansen menjawab telepon dari seseorang di sebrang sana.
"Dengan Pak Hansen?"
"Iya benar, ini dengan siapa?"
"Kami dari pihak rumah sakit ingin mengabarkan kepada Anda bahwa kondisi ibu Anda semakin menurun. Oleh karena itu, kami perlu persetujuan Anda secepatnya untuk melakukan tindakan pertolongan pada ibu Anda. Jika bisa, secepatnya Anda harus ke rumah sakit."
"Baik, baik, suster. Saya segera ke sana sekarang."
Panggilan telepon itu ditutup dan wajah cemas seketika terbayang di wajah Hansen. Sharita melihat dengan jelas perbedaan air wajah Hansen itu.
"Apa yang terjadi?" tanyanya pada Hansen.
"Ibu aku sedang sekarat. Bisakah kamu menyetir lebih cepat ke arah rumah sakit Cinta Rakyat?"
Tanpa diminta dua kali, Sharita segera menginjak pedal gas untuk mempercepat laju roda empat miliknya. Hansen terus diam dan berdoa, seraya berpegangan karena Sharita membawa mobil tersebut di atas kecepatan rata-rata.
Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di rumah sakit. Hansen dengan cepat berlari ke ruang ICU di sana dia sedang ditunggu oleh seorang suster menandatangani berkas penindakan untuk pasien.
"Bagaimana kondisi ibu saya, sust?"
"Sedang ditangani, Pak. Silakan tanda tangan dan kami akan bekerja dengan cepat."
Tanpa pikir panjang, Hansen segera menandatangani berkas tersebut. Sebelumnya sang suster sempat mengingatkan masalah biaya yang mungkin saja akan timbul setelah dilakukan perawatan intensif terhadap ibunya. Namun Hansen tidak mau mengambil resiko lagi, dia yakin Sharita pasti mau membantunya.
Hansen berdiri dengan cemas, mondar mandir tak tenang menunggu kabar selanjutnya dari dokter yang menangani ibunya.
__ADS_1
"Bisakah kamu duduk saja? Jika kamu terus panik, cemas dan mondar-mandir seperti itu, hanya semakin membuat keadaan kamu menjadi lebih buruk."
Hansen pun duduk di samping Sharita. Dua tangannya menopang dagunya, sambil sesekali meremas kepalanya yang sedang pusing setengah mati.