
***
"Mas? kamu hari ini pulang jam 2 siang kan?" Tanya Riana pada Bima sembari meraih dasi yang belum terikat di kerah baju Bima.
"Dasar, umur sudah 30 tahun masih tidak bisa mengikat dasi sendiri" oceh Riana sambil membuat simpul di kain panjang pada kerah baju suaminya.
Senyuman terbit di bibir Bima, mendengar omelan Riana memang menjadi kesenangan tersendiri baginya, Istrinya yang super cerewet dan periang itu selalu bisa membuat warna warna indah setiap hari dalam hidupnya.
"Iya.. nanti aku pulang siang, kenapa? minta jemput?" ujar Bima menjawab pertanyaan Riana tadi.
Riana tersenyum melihat dasi suaminya kini sudah membentuk simpul segitiga dan terlihat rapi.
"Iya, mobilku belum selesai di servis. kalau mas nggak keberatan aku pengen minta jemput" jawab Riana manja.
"Aku dapet imbalan apa kalau jemput kamu?" uhar Bima.
"Mas maunya apa??" jawab Riana dengan suara manja di buat buat, karna pada dasarnya Riana bukanlah orang yang manja dan banyak maunya.
"Dasar, kalau ada maunya aja kamu panggil aku mas. Coba tiap hari panggil begitu" protes Bima mengacak rambut istrinya gemas.
"Haish, Gimana bisa jemput apa enggak Bim?" Kesal Riana karna suaminya itu masih belum berhenti menggodanya.
"Iya.. nanti aku kabari kamu kalau aku jadi pulang siang ya, takutnya sidang nya memakan waktu lebih lama nanti, pokoknya nanti aku kabarin kamu oke?" jawab Bima meraih tas kerjanya dan mengajak Istrinya yang juga sudah siap berangkat kerja juga untuk keluar dari kamar dan menikmati sarapan yang sudah Riana siapkan di meja makan.
"Oke.." jawab Riana mengikuti langkah suaminya setelah ia menyampirkan tas nya di pundaknya serta membawa dokumen yang sudah ia siapkan sebelumnya.
"Hari ini masak apa?" tanya Bima sembari berjalan turun di tangga menuju ruang makan.
"Aku masak tumis jamur sama udang balado, dan nggak lupa aku udah bikin tahu goreng kesukaan kamu" jawab Riana.
Bima tersenyum mendengar jawaban istrinya.
"Kamu kenapa tiap hari ribet masak? kita kan mau kerja jadi nggakpapa walaupun sarapan roti aja tiap pagi" Ujar Bima, sudah sering ia memberitahu Riana agar tak usah menyiapkan sarapan setiap pagi untuknya karna keduanya sama sama bekerja.
"Nggakpapa, lagian aku masih bisa bagi waktu kok" jawab Riana langsung dengan sigap mengambil nasi untuk suaminya setelah Bima duduk kursi meja makan.
"Makasih ya Ri.. kamu udah menjadi istri terbaik untukku" ujar Bima seketika membuat pipi Riana merona.
__ADS_1
Haah.. Bima memang terbaik, dia bisa membuat hati wanita ini berbunga bunga dalam ucapannya yang sederhana.
****
Riana, perempuan cantik, pintar, periang dan mudah bergaul membuatnya sangat di kagumi oleh banyak orang di sekitarnya, baik dalam lingkungan rumahnya, ataupun tempatnya bekerja.
Ia bekerja sebagai Jaksa di sebuah kantor pengadilan kelas A di Kota yang ia tempati.
Kecerdasan dan kepintarannya membuatnya dengan mudah mendapatkan jabatan itu tak lama setelah ia lulus kuliah jurusan hukum bersama Bima.
Bima adalah suami Riana, Keduanya sudah bersahabat sejak mereka berada di bangku SMA, karna sama sama memiliki impian berada di bidang hukum mereka memutuskan kuliah bersama.
Karna terlalu sering bersama, keduanya saling bergantung satu sama lain.
Bima si pria introvert itu menjadi sosok yang pecicilan dan banyak bicara setiap bersana Riana,
Mungkin karna Riana adalah sosok yang ceria jadi Bima merasa nyaman dengannya.
Setelah mereka berdua lulus kuliah dan mulai bekerja, Bima melamar Riana dengan begitu tiba tiba.
Riana yang tak menyangka Bima akan melamarnya menanyakan alasan Bima tiba tiba melamarnya.
"Aku memang tidak tau apa itu cinta Ri, tapi jika aku memang harus hidup dengan seorang perempuan maka tak perlu aku berpikir dua kali bahwa kamulah orangnya" jawaban Bima kala itu begitu jujur dan tegas.
Riana memang sudah menaruh hati pada Bima sejak awal ia masuk kuliah, kedekatannya dengan Bima membuatnya dengan mudah jatuh hati pada sosok Bima yang tampan dan pintar.
Riana pun menerima lamaran itu tanpa berpikir lagi, menjadi istri Bima tentu sudah menjadi hayalannya selama ini, ia tak menyangka cinta yang ia simpan diam diam itu berakhir pada dua buku kecil berwarna hijau dan merah sebagai bukti ikatan mereka yang sah.
Sejauh ini pernikahan Bima dan Riana berjalan sangat membahagiakan, Riana merasa menjadi wanita paling beruntung karna mendapatkan suami yang pengertian seperti Bima, terlebih keluarga Bima juga memperlakukannya dengan sangat baik. Keluarga Bima sangat menyayanginya dan tak pernah sekalipun mengeluhkan apapun padanya meskipun sampai saat ini Riana belum juga memberikan mereka cucu, karna Bima dan dirinya memutuskan untuk mencegah kehamilan sampai saat ini.
Tak seperti kebanyakan mertua, yang akan menuntut cucu pada menantunya, orang tua Bima sangat mendukung apapun yang di inginkan oleh Bima dan Riana.
Oleh karna itulah Riana hanya menurut saja pada Bima yang memintanya untuk menunda kehamilan dulu selama beberapa tahun.
****
Berbeda dengan Riana yang menjabat menjadi jaksa di wilayahnya , Bima pun menjabat sebagai Jaksa di tempat yang berbeda bahkan dirinya sudah mendapatkan kesempatan untuk menjadi hakim dalam beberapa bulan lagi.
__ADS_1
Riana dan Bima adalah pasangan legendaris yang terkenal sangat harmonis di kalangan penegak hukum tempat mereka bekerja.
Banyak teman teman Riana yang sangat iri padanya karna mendapatkan suami tampan dan sukses seperti Bima.
Terlebih pasangan ini terlihat jarang sekali bertengkar, bukan hanya di depan orang orang tapi memang benar adanya. Riana dan Bima hampir tak pernah bertengkar karna masalah serius, mereka memang suka berdebat tapi hanya sebatas candaan saja.
Mungkin inilah alasan Bima memutuskan untuk menikah dengan sahabatnya, karna keduanya sudah saling mengerti satu sama lain. Tidak sulit untuk menjalani pernikahan dengan damai bersama Riana.
****
"Jangan lupa nanti jemput aku loh Bim, soalnya aku takut hp ku lowbet, karna aku nanti ada sidang jadi aku gabisa cas, dan kamu tau kan disini jarang ada taksi" Riana kembali mengingatkan Bima agar tak lupa menjemputnya pulang kerja nanti.
"Iya iya bawell, nanti aku jemput, sini salim dulu sama suami" Bima menjulurkan tangannya pada Riana .
Dengan tersenyum Riana meraih tangan Bima dan mencium punggung tangannya dengan lembut.
"Aku kerja dulu ya, kamu hati hati nyetirnya" ujar Riana sembari menerima kecupan mesra di keningnya yang di berikan Bima sebagai tanda kasih sayang pada istrinya, Ia pun segera keluar dari mobil.
"Selamat bekerja, semoga kamu kalah lagi sidangnya, hahaha" ejek Bima setelah Riana hampir menutup pintu mobilnya.
"Dasarr.... suami jahat!!" Umpat Riana sembari membating keras pintu mobil Bima karna kesal.
Sementara Bima langsung melajukan mobilnya dengan terburu buru sebelum ia mendengar makian yang lebih panjang lagi dari istrinya itu.
Bima tertawa penuh kemenangan melihat ekspresi kesal Riana tadi, menggoda istrinya benar benar sangat menyenangkan untuknya.
*****
Kring kring.. kring kring..
Suara ponsel Bima membuat ia sedikit mengalihkan pandangannya dari jalanan pada saku jas nya tempat ia menyimpan ponselnya.
Ia pun mengambil benda yang berdering itu, Senyuman seketika terbit di wajah Bima melihat nama yang terpampang di layar ponselnya.
"Beauty".
***
__ADS_1