
*****
"Saya ingin meminta izin dan restu kalian untuk menikah lagi bulan depan dengan pacar saya" ujar Bima dalam satu kali tarikan nafas.
Bagai gemuruh petir yang menghantam jiwa, Riana amat terkejut dengan penututan Bima itu. Tiba tiba saja hatinya terasa di remas remas bersamaan dengan detak jantungnya yang memburu.
Tubuhnya seketika bergetar mengeluarkan keringat dingin yang membuatnya merasa kacau.
Apa yang sedang suaminya ini katakan? Sungguh Riana tak dapat mengerti sama sekali ., Bukan hanya Riana , Nia dan Johan pun tak kalah terkejut mendengar penuturan dari menantunya itu.
"Bim.. kamu ngomong apa?" ujar Riana dengan lirih.
"Aku meminta izin kalian semua untuk menikah lagi" ujar Bima.
Degg.
Benar, ternyata yang Riana dengar tadi benar adanya, Bima ingin menikah lagi! Bagaimana mungkin? Riana memejamkan matanya dengan sekuat yang ia bisa, mencari sesuatu yang mungkin terlewat dalam pikirannya.
Mungkinkah Bima pernah menyinggung hal ini sebelumnya, atau ada tanda tanda bahwa Bima memiliki perempuan lain di dalam hidupnya? atau seperti kebanyakan kasus perceraian karna perselingkuhan di persidangan, adanya ketidak cocokan, atau sering bertengkar menjadi penyebab retaknya sebuah hubungan? tidak tidak, Riana dan Bima tidak mengalami itu semua.
Keduanya bahkan masih berceloteh dengan gembira pagi tadi, bahkan keduanya masih melakukan hubungan suami istri kemarin malam, Tak ada juga pertengkaran yang terjadi selama ini.
Riana mencari dan terus mencari dimana letak sebab dari permintaan Bima itu.
"Bima apa yang kamu katakan? kenapa? apa kalian bertengkar? Apa Riana melakukan kesalahan?" tanya Ibu Nia yang sangat shock mendengar permintaan menantunya itu.
"Tidak bu, Kami tidak ada masalah sama sekali, hanya saja Bima menemukan seseorang yang membuat Bima jatuh cinta dan kami ingin segera menikah agar kami terhindar dari zina" jawab Bima gamblang.
Riana benar benar tidak paham dengan jalan pikiran Bima saat ini, Alih alih menanggapi permintaan Bima, Riana memilih diam untuk mendengar lebih lanjut apa lagi yang akan di katakan suaminya itu.
"Apa Pak Ronald dan Bu Erin sudah mengetahui hal ini?" Ayah Johan akhirnya membuka suara.
Kini semua mata tertuju pada mama Erin dan Papa Ronald yang duduk berdampingan.
__ADS_1
Mereka diam sejenak sembari saling pandang satu sama lain, sebelum kemudian mama Erin menjawab pertanyaan besan nya itu.
"Iya, kami sudah tau tentang hal itu, dan kami juga sudah melamar gadis itu kerumahnya"
Jderrr!!!!!
Lagi lagi gemuruh petir terasa begitu lantang meremukkan hati Riana berkeping keping.
Mama mertuanya sudah tau?? Apa yang terjadi sebenarnya? Ada apa dengan rumah tangganya ini sebenarnya?
Bu Nia dan Pak Johan pun turut memejamkan matanya menghembuskan nafasnya yang terasa berat, Keluarga besannya ini benar benar luar biasa, bagaimana bisa mereka setega itu? bagaimana bisa mereka menghianati kepercayaan Riana dan keluarganya seperti ini?
"Bima tau mungkin ayah sama ibu akan keberatan dengan keputusan Bima, tapi Bima yakin Riana akan selalu mendukung Bima" Ucapan Bima kali ini benar benar membuat Riana kembali mendelikkan matanya tak percaya, apa yang baru saja laki laki ini katakan??
"Bima yakin Bima bisa adil kepada istri istri Bima nantinya" ujar Bima lagi.
Kepala Riana terasa begitu berat, air matanya mulai berlinang bersama wajahnya yang memerah menahan amarah, Ia memilih beranjak pergi dari pada mendengarkan lagi omong kosong yang suaminya itu katakan.
Riana keluar dari ruang keluarga dengan langkah cepat, seketika semua orang menatap Riana dengan tatapan yang sulit di artikan.
Terdengar suara Bima memanggil nama Riana memintanya agar tidak pergi, namun istrinya itu sudah berlalu dengan cepat menuju jalanan dan mencegat taksi yang kebetulan lewat di depan rumah mertuanya yang memang di samping jalan raya.
"Ri.. tunggu... "
"Riana..." Bima mengejar Riana dan terus memanggil nama istrinya itu, namun Riana sudah berlalu dengan taksi nya itu membelah jalanan yang sedikit ramai karna ini masih pukul tujuh malam, apalagi hari ini adalah malam minggu banyak pemuda pemudi yang menghabiskan malam akhir pekan ini di jalanan atau sekedar nongkrong di taman.
Tak ada yang tau apa yang ada di dalam pikiran Riana saat ini, Berbeda dengan biasanya Riana akan marah atau meluapkan semua keluh kesahnya ketika menghadapi masalah kini wanita itu memilih diam, bahkan sudah tak ada lagi air mata yang tadi sempat berlinang di pelupuk matanya.
Saat Riana sudah sampai di rumah, Ia bergegas ke kamar mandi membersihkan tubuhnya.
Sempat ia menangis saat guyuran air itu membasahi dari ujung rambutnya sampai ujung kakinya, Ia masih tetap berharap bahwa apa yang di katakan Bima tadi tak benar adanya, Mungkin Bima sedang menggodanya, mengerjainya seperti biasanya.
Riana mencoba menenangkan pikirannya denga berbagai spekulasi dan harapan bahwa Bima hanya bercanda dengannya. Saat Riana keluar dari kamar mandi, Bima sudah terlihat duduk di tepi ranjang dan menatap Riana seakan dia memang menanti wanita itu keluar dari sana.
__ADS_1
Sekilas kedua pasang netra mereka bertemu, menyiratkan keraguan dan kemurkaan di saat yang bersamaan, sebelum akhirnya Riana memilih berjalan menuju lemari pakaian dan segera mengganti bajunya.
"Ri... " lirih Bima.
Tak ada jawaban dari Riana, perempuan itu memilih duduk di sofa yang terdapat di dalam kamarnya.
"Kemarilah, ayo kita bicara" ujar Riana tanpa melihat pada Bima yang sedari tadi memperhatikan dirinya.
Dengan langkah ragu, Bima melangkahkan kakinya mendekati Riana dan ia pun duduk di samping Riana.
"Silahkan, katakan yang ingin kamu katakan Bim" ujar Riana dengan tenang. Meskipun di dalam hatinya ia begitu takut mendengar hal gila apa lagi yang akan suaminya ini katakan.
"Jadi kamu ingin menikah lagi?" ujar Riana.
Bima menganggukkan kepalanya mantap sambil menunduk dan sedikit melihat pada Riana yang juga melihat padanya.
"Kenapa Bim?? Apa alasanmu melakukan ini? Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Riana.
Riana sebisa mungkin mencoba menghadapi masalah ini dengan sedewasa mungkin. ia meredam amarahnya yang hampir memuncak itu dengan mencoba mendengarkan alasan Bima.
"Tidak Ri, kamu tidak memiliki kesalahan apapun" jawab Bima.
"Lalu kenapa? kenapa kamu ingin menikah lagi?" tanya Riana lagi.
Bima menundukkan kepalanya tak berani menatap Istrinya yang sekarang sedang menatapnya dengan tajam.
"Katakan Bim.. agar aku bisa mengerti semua ini" paksa Riana lagi.
Bima mengangkat wajahnya dan mentap dalam dalam wajah wanita yang sudah tiga tahun menjadi istrinya itu.
"Aku jatuh cinta Ri,, Aku jatuh cinta untuk pertama kalinya dalam hidupku.." Jawab Bima dengan penuh keyakinan menatap kedua netra hitam istrinya.
****
__ADS_1