
***
Pengakuan Bima membuat aliran darah di dalam tubuh Riana seakan berhenti.
"Jatuh cinta pertama kali?" gumam Riana mengulang kembali apa yang barusaja Bima katakan kepada dirinya.
Riana membalikkan badan dan pergi dari hadapan Bima, Dia membutuhkan sedikit ruang untuk memahami kata kata kramat itu.
Jatuh cinta untuk pertama kalinya? lalu apa artinya dirinya selama ini? tidakkah mereka sudah menikah bertahun tahun? Apakah tidak ada cinta dalam hati Bima untuknya? istrinya sendiri??
Kenyataan ini lebih menyakitkan di banding pengakuan Bima ingin menikah lagi, Hati Riana sudah hancur seketika, begitu saja, tak tersisa sama sekali.
Apakah dirinya yang terlalu naif menganggap bahwa setiap kata-kata manis yang Bima ucapkan, atau setiap sentuhan lembut yang Bima berikan padanya adalah sebuah cinta? Apa Bima menjalani rumah tangga selama ini tanpa adanya cinta?
"Riana tunggu.." suara Bima terdengar sendu memanggil nama istrinya yang sejenak berhenti tanpa berbalik arah.
"Biarkan aku sendiri dulu Bim, setidaknya beri aku waktu untuk menenangkan hatiku" jawab Riana dengan bijaksana.
Benar, saat ini ia membutuhkan waktu untuk menenangkan hatinya, dan memahami segalanya setidaknya dengan hati yang dingin. Berpikir dengan segala emosi dan luka seperti ini Riana tau akan sia-sia, wanita yang selama ini terlihat ceria itu kini berbalik 180 derajat, kesedihan dan sayatan luka seakan menyelimuti wajahnya ayunya.
Bima membiarkan Riana pergi, ia tau istrinya terluka dan membutuhkan waktu menerima semua ini. Tak seperti saat Bima begitu yakin mengatakan bahwa dirinya akan menikah lagi di hadapan seluruh keluarga, kini air mata laki-laki itu pun terjatuh begitu saja. Entah kesedihan seperti apa yang membuat Bima turut menangis sekarang.
******
Beberapa hari berlalu semenjak hari itu, Riana memilih tinggal dirumah orang tuanya sendiri, ia juga mengambil cuti dari pekerjaannya.
Riana benar-benar berusaha menenangkan dirinya dan merenungi waktu demi waktu yang membawanya ketitik dimana ia akan menjadi istri yang membagi suaminya dengan wanita lain dengan sebutan istri kedua.
Hari ini Riana sudah siap untuk bertemu dengan Bima dan kembali membicarakan hal yang memang perlu mereka putuskan. Riana memutuskan untuk menunggu Bima dirumahnya, sementara Bima yang sudah tau bahwa Riana menunggunya pun bergegas pulang dengan sangat antusias, jujur saja hampir satu minggu tidak bertemu dengan Riana membuatnya sangat merindukan ocehan istrinya yang selalu membuatnya tertawa dengan candaan recehnya itu.
"Sudah pulang Bim? mandilah dulu, aku sudah masak kita makan malam bersama. Aku tunggu di meja makan" Sapa Riana setelah membuka pintu rumah menyambut kedatangan suaminya, meski tanpa menatap wajah Bima, Riana tetap meraih tas laptop berkas yang di bawa Bima.
__ADS_1
Sekelumit rasa yang bercampur menjadi kehampaan terjadi begitu saja diantara mereka berdua, Sungguh hal yang langkah Bima datang disambut dengan perhatian dari seorang Riana yang selama ini juga sibuk bekerja menitih karir dan mengejar impiannya. Bukan senang Bima justru merasa bersalah yang teramat dalam melihat sosok istrinya yang berubah sendu tanpa tawa renyah yang selama ini menghiasi rumah tangga mereka.
"Baiklah, aku mandi dulu Ri.." jawab Bima sembari meraih jemari istrinya yang hendak melangkah keruang kerja suaminya untuk menaruh laptop dan berkas yang di bawa Bima dari kantor.
Cup
Kecupan bibir Bima mendarat di kening Riana dengan penuh kasih sayang, meski rasanya hati mereka sudah membeku, namun rasa hangat itu masih menjalar begitu saja menembus dinding hati mereka yang sama-sama keras.
"Terimah kasih sudah datang, Aku sangat merindukanmu Ri" ujarnya lagi.
"Kau berterimah kasih karna dengan kedatanganku kamu akan bisa menikahi wanita lain Bim.." batin Riana yang masih belum sepenuhnya pulih tetap mengoreksi sikap dan kata-kata Bima dengan negatif.
"Kalau begitu tunggulah sebentar, aku mandi dulu" Meski tak ada jawaban dari bibir Riana, Bima tetap berusaha mengulas senyum dan mengelus lembut pipi istrinya sebelum ia berlalu dan melanjutkan niatnya untuk mandi.
******
"Bu, apa Riana sudah pulang?" ujar Ayah Riana pada istrinya yang masih saja bergelung di balik selimut tebalnya.
Semenjak hari itu, Ibu Nia turut merasakan pergolakan batin yang teramat berat dalam hidupnya.Siapa orang tua yang rela anaknya di madu? kalaupun ada tentu orang itu bukan lah Bu Nia, karna dia bahkan sampai jatuh sakit memikirkan nasib putri semata wayangnya itu.
"Apa Riana mengatakan sesuatu lagi? apa dia akan merubah keputusannya?" tanya Johan lagi yang masih belum mengerti dengan keputusan putrinya itu.
"Tidak, kita tau bagaimana Riana, dia bukan orang yang plin plan seperti Bima! tidak berpendirian dan tidak setia! kenapa putri kita harus menikah dengan laki-laki seperti itu mas..!!!" tangis Nia kembali pecah mengingat semua permasalahan yang kini menimpa Riana.
Johan yang sedari tadi berdiri di samping ranjang pun mulai menyesali pertanyaan yang ia lontarkan pada sang istri, seharusnya ia tidak membahas tentang Riana pada istrinya saat ini. Laki-laki yang masih mengenakan seragam kantornya itupun merengkuh tubuh istrinya dan memeluknya dengan erat, mencoba menenangkan ibunya Riana dengan segenap kehangatan dan kasih sayangnya.
"Menikah itu bukanlah hal yang mudah dijalani mas, menikah dengan satu orang saja kadang terasa sulit, bagaimana mereka akan menjalani pernikahan dengan tiga orang di dalamnya?" racau Nia di sela tangisnya.
******
Riana dan Bima menyelesaikan makan malam mereka dengan tenang, tanpa sepatah katapun hanya suara denting sendok dan garpu yang memecah keheningan diantara keduanya.
__ADS_1
Bima merasakan atmosfer berbeda dari istrinya membuatnya pun tak mampu membuka percakapan, karna ia tau permintaannya, ah bukan permintaan lebih tepatnya keputusan yang Bima buat bukanlah hal yang mudah untuk Riana terima.
"Sudah selesai Bim?" ujar Riana.
"Iya Ri, terimah kasih masakan kamu selalu enak dan hari ini sambalnya juga tidak terlalu pedas, aku suka." jawab Bima.
Riana mengangguk dengan seulas senyum, ketar ketir hati Bima menunggu apa lagi yang akan Riana ucapkan setelah senyuman di tengah kepiluan ini?
"Baiklah, lain kali aku akan buat sambalnya seperti hari ini." jawab Riana.
Bima mengangguk setuju.
"Bim.." lirih Riana, Bima memandang wajah istrinya dengn seksama, menanti apa yang akan di ucapkan oleh bibir Riana yang terlihat sedikit pucat tak seperti biasanya itu.
"Ya.. Ri..?" jawaban Bima pun terdengar sangat pelan dan lirih.
"Menikahlah dengan perempuan itu,aku setuju." ujar Riana menatap wajah Bima dengan serius.
Bima memandang tak percaya wajah istrinya, benarkah Riana mengizinkannya menikahi Serin?
"Ri... " jawab Bima tak percaya.
"Tapi aku memiliki beberapa syarat Bim" Riana.
"Katakanlah Ri, apapun itu.. asal jangan meninggalkan aku.." jawab Bima.
Hening sejenak, Riana yang sudah menata hatinya dengan begitu susah payah kembali merasakan sesak yang terasa hampir meledakkan seluruh perasaannnya. Namun dia tetap bersikukuh agar air matanya tak lagi menjadi wajah dari kelemahan hatinya.
"Kamu mencintainya kan?" tanya Riana.
Bima mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Riana itu.
__ADS_1
"Kalau begitu kamu juga harus mencintaiku Bim.!" ujar Riana dengan tegas.
"Itu adalah syarat dariku!" Riana.