Terjebak Poligami

Terjebak Poligami
Rasa yang tak biasa.


__ADS_3

Jangan lupa like dan komen yaaa🥰🥰


*******


"Kamu mencintainya kan?" tanya Riana.


Bima mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Riana itu.


"Kalau begitu kamu juga harus mencintaiku Bim, itu adalah syarat dariku." ujar Riana dengan tenang.


Pias wajah Bima mendadak tampak bingung, ia menautkan kedua alisnya mendengar persyaratan dari istrinya ini.


"Kamu bilang bisa adil kan? Kamu tidak akan pernah bisa adil pada kami berdua kalau kamu hanya mencintainya saja Bim!" Riana sejenak menjeda kalimatnya.


"Cintai aku juga, maka aku akan percaya bahwa kamu bisa bersikap adil." jelas Riana lagi.


Setelah beberapa saat terdiam, rupama Bima mulai mencerna dengan baik apa yang Riana katakan.


"Baiklah Ri, aku akan memenuhinya terimah kasih" jawab Bima dan langsung memeluk erat tubuh Riana.


"Terimah kasih, aku sangat merindukanmu Ri, aku berjanji tidak akan membuatmu kecewa kedepannya" lirih Bima sembari menghirup dalam-dalam aroma tubuh Riana yang selalu membuatnya candu.


"Maafkan aku Ri, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada disisimu" batin Bima.


****


Satu bulan berlalu, Pernikahan Bima dan Serin telah usai dilaksanakan pagi tadi, Riana tidak bisa hadir karna harus menghadiri persidangan diluar kota, yang mungkin akan menghabiskan waktu kurang lebih dua atau tiga hari. Entah memang benar demikian atau memang Riana memilih untuk tidak hadir meski Bima telah memintanya untuk hadir dan menyambut Serin sebagai keluarga barunya.


Bodoh, bagi Riana Bima benar-benar terlihat bodoh dengan segala permintaannya yang tidak masuk akal baginya.


Sekalipun kesal, namun selama satu bulan ini Riana sudah memutuskan untuk menerima keputusan Bima, berusaha tetap berada disamping Bima menjadi istri Bima seutuhnya dan menutup rapat-rapat luka yang mungkin tak akan pernah sembuh di dalam hatinya.

__ADS_1


Riana memandang wajahnya sendiri di pantulan kaca mobil yang membawanya membelah jalanan di tengah kota Surabaya tempat ia akan bertugas selama tiga hari kedepan. Bayangan suaminya yang tak pernah menghilang sedetikpun dari angannya membuat ia merasakan sesak yang berlarut-larut. Teringat wajah sayup Bima saat menghabiskan malam yang indah bersamanya semalam membuat Riana semakin gusar.


"Maafkan aku Ri.." Suara Bima terdengar begitu sendu meski hembusan nafasnya terasa memburu usai keduanya selesai memuaskan satu sama lain.


Pelukan erat yang tak pernah berubah, serta kecupan penuh kasih yang bagi Riana tak pernah pudar meski pada kenyataannya Bima juga menorehkan luka membuat Riana semakin merasakan sesak yang kian meremas hatinya.


Terlepas dari semua itu Riana pun sadar, sekarang dirinya bukanlah satu-satunya orang yang akan merasakan kehangatan pelukan itu, kecupan itu, cumbuan itu.!


Kini ia harus membaginya dengan wanita lain, wanita yang telah membuat suaminya jatuh cinta. Ya, jatuh cinta untuk pertama kalinya , Riana masih tak lupa dengan pengakuan Bima.


"Bim, apa kamu bahagia sekarang?" lirih Riana memandangi gelapnya malam di tengah perjalanannya usai menghadiri persidangan menuju hotel tempat ia akan beristirahat selama tiga hari ini.


Lelehan air mata yang tak mampu lagi ia bendung mulai menganak sungai melewati pipinya. Hatinya terasa sakit, kepalan tangannya mulai menepuk keras dadanya yang terasa semakin sesak. Pertahanan Riana runtuh, sekeras apapun usahanya untuk tetap berdiri tegak seharian ini tak membuatnya semakin kuat. Ia hancur, hancur sehancur-hancurnya!.


***


"Mas Bima sebaiknya mas mandi dulu, aku masih harus membersihkan riasanku." Kedua tangan lentik itu memeluk Bima dari belakang dengan mesra.


"Baiklah, Aku ke kamar mandi dulu" jawab Bima sembari menyunggingkan senyum yang seketika membuat raut wajah Serin memberengut kesal.


"Jangan bilang kalau sekarang mas juga masih memikirkan mbak Riana! tolong jangan merusak malam pertama kita dengan membagi pikiran mas dengan istri pertama mas itu!" ujar Sherin dengan wajahnya yang sudah kesal.


Pasalnya sejak dirinya mendapatkan restu dari Riana sebulan yang lalu, Bima bukan malah bahagia namun sikapnya semakin terasa aneh bagi Serin. Ada guratan keraguan dan kesedihan di wajah laki-laki yang kini siap membagi hatinya dalam satu rumah tangga itu.


"Sebaiknya kamu juga jangan marah-marah di malam pengantin kita Sher, aku mandi dulu" ujar Bima lalu berlalu setelah memberikan kecupan di kening istri keduanya itu.


meninggalkan Sherin yang masih cemberut karna merasa Bima sedikit berubah, namun dia bisa apa. Sherin jatuh hati pada Bima dan siap menjadi istri keduanya, apalagi pernikahan sudah terjadi yang artinya sekarang Bima adalah miliknya. itu sudah cukup bagi Sherin sekarang.


"Sekarang aku juga istrinya, aku akan buktikan bahwa hanya aku yang bisa membuatnya jatuh cinta." ujar Sherin lirih sebelum tangannya mulai menyapu pipinya dengan kapas yang sudah di berikan cleanser untuk membersihkan make up di wajahnya.


*****

__ADS_1


Guyuran air membasahi tubuh Bima, pandangan laki-laki itu menengadah sembari memejamkan matanya, pikirannya terasa sangat penuh. Entah apa yang kini Bima rasakan.


Bahagia? menyesal? Sedih? atau dirinya hanya merasa kasihan pada Riana?


Terlepas dari itu semua Bima sadar, apapun yang kini ia rasakan Sherin sudah menjadi istrinya, dan Ia harus bertanggung jawab dengan apapun yang sudah dirinya putuskan.


****


Ting.


"Ri, kamu sudah makan?"


Pesan yang Bima kirimkan pada Riana membuat perempuan itu semakin menangis pilu, sudah 15 menit yang lalu supir mengatakan bahwa mereka sudah sampai di hotel tujuan, namun Riana masih tak bisa berhenti menangis dan membuat sang supir hanya diam sembari menunggu tanpa mau berkata apapun lagi.


Kabar suami Riana menikah lagi bukan hal yang sembunyi-sembunyi, seluruh anggota kejaksaan tau bahwa Riana dan Bima membelah rumah tangganya menjadi bercabang dua. Baik Bima maupun Riana memilih bersikap seperti biasanya tanpa harus mengumbar rasa sakit, kecewa dan luka yang pasti akan bertahan dalam waktu yang cukup lama.


Mungkin ini adalah pertama kalinya Riana merasakan patah hati yang sedemikian menyakitkan, saat rasa cinta masih mendarah daging dalam tubuhnya, ia juga merasakan sakit yang seakan membunuhnya. Riana terjebak dalam rasa cinta juga sakit yang membuatnya hanya bisa mengitari labirin berduri yang ia tak tau kapan akan menemukan jalan yang terang.


Riana kembali menutup ponselnya tanpa berniat membalas pesan dari suaminya itu.


****


"Ri, mungkin aku bisa menghianatimu tapi apa aku bisa bercinta dengan wanita lain selain kamu Ri?" batin Bima.


"Sayang..." suara manja Sherin kembali membuyarkan lamunan Bima, apalagi dua gundukan yang terasa hangat di punggung nya seakan memberikan sengatan listrik yang membuat sekujur tubuhnya merinding.


Kedua tangan lembut Sherin yang melingkar di perut Bima kini mulai menyentuh simpul handuk yang menutupi bagian bawah tubuh suaminya itu. Bima memejamkan matanya kembali merasakan gejolak nafsu yang memburunya apalagi ia yakin bahwa Sherin memeluknya tanpa sehelai kainpun ditubuhnya.


Handuk yang Bima kenakan sudah terjatuh kelantai, Sherin tersenyum puas sembari menurunkan satu tangannya mencari yang sejak tadi ia cari.


"Tunggu Sher! Ada hal yang masih harus aku lakukan!" ujaf Bima tiba-tiba membuat Sherin terkejut, saking terkejutnya ia tak bisa berkata kata saat Bima kembali mengambil handuknya dan memakainya kembali, membawa ponsel dan berlalu dari hadapannya menuju kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2