TERJERAT ASMARA

TERJERAT ASMARA
Usaha negoisasi


__ADS_3

tak seperti biasanya, pagi ini alana tak begitu bersemangat dalam menjalani rutinitasnya. meskipun begitu dia selalu menjalankannya sepenuh hati. namun membayangkan bagaimana hidupnya setelah ini, menumpang hidup pada orang membuat suasana hatinya kacau beberapa kali dirinya membuang napas kasar dan beberapa kali terlihat menghentakkan kakinya.


bukankah se enak enaknya tinggal dengan orang lain, akan lebih baik tinggal dengan orang tua sendiri. setidaknya itulah yang ada dipikiran Alana.


"kenapa Na? kayaknya suntuk banget. itu muka dari tadi ditekuk mulu?!" tanya Tasya, langsung duduk disamping Alana yang sedari tadi dilihatnya melamun dikantin.


"eh... enggak apa apa sya. cuma ada masalah sedikit."


"jangan jangan Nana lagi jatuh cinta sya!" seru Tania yang baru saja datang dan langsung bergabung


"hahaha... beneran Na? tapi siapa cowok beruntung itu?!" goda Tasya lagi.karena setau mereka memang Alana sampai sekarang belum mempunyai pacar.


"apaan sih?! bukan itu masalahnya!"


"terus?!" jawab kedua sahabatnya.


"ayah sama bunda mau pindah tugas di malang."


"terus?!" Tasya yang tidak sabaran kembali bertanya


"ya mereka bakalan pindah sana. sudah beli rumah juga disana." sejenak menghembus kan napas berat


"terus kamu gimana Na?! ikut pindah sana juga? terus kuliah kamu gimana?! yah.. kita ga bisa jalan bareng lagi dong!" Tania terus mencecar Alana pertanyaan sampai Alana kualahan untuk menjawab.


"satu satu dong Tan, aku binggung mau jawab yang mana dulu." memonyongkan bibirnya pertanda sedang kesal


"hehehe... iya maaf Na. ya sudah sekarang kamu boleh bicara." Tania menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


"oke... gini ya, aku masih tetap di sini. tapi ini yang jadi masalah. bunda sama ayah nitipin aku ke saudaranya. dikiranya aku anak kecil apa pakai dititipin segala.!"


"salahnya dimana?!"kali ini Tasya yang menimpali pertanyaan.


"aku enggak seberapa kenal sih soalnya saudara jauh gitu sama bunda."


"ya elaah Na... kirain apaan?! jadi masalahnya cuma itu?! kenapa kamu egak minta tinggal dirumah sendiri aja. atau ngekos sama Tania mungkin." jawab Tasya mencoba membantu mencari solusi untuk sahabatnya.


"iya bener Na, ngekos kayak aku aja."


'bener juga sih ucapan mereka. kalau tinggal dirumah sendiri enggak boleh. aku mau nego ngekos aja kalau gitu.'


"Na...!!! yah.. elaah ni bocah ngelamun lagi." seru Tania.


"eh.. enggak. aku enggak ngelamun kok. oke makasih kawan kawan ku. akan ku coba nego sama bunda masalah ngekos dulu aja. bye.." ucap Alana lalu meninggalkan kedua sahabatnya yang masih berada dikantin.


"sudahlah kita pulang aja nyok." ajak Tasya pada Tania


...


sesampai dirumah Alana merebahkan tubuhnya di atas ranjang menanti kedatangan ke dua orang tuanya. beberapa kali dirinya berucap doa. berharap negosiasinya dengan kedua orng tuanya lancar dan di ijinkan.


sesaat kemudian terdengar sayup sayup suara pintu terbuka. segera Alana melangkah keluar menyambut kedua orang tuanya.


Alana menunggu sampai ke dua orang tuanya bersantai di depan tv baru dirinya berani mengutarakan niatnya.


"sini sayang! ngapain pakai ngintip segala." panggil sang bunda yang melihat putrinya mengintip dari balik pintu kamarnya.

__ADS_1


"iya bun." segera Alana duduk disamping sang bunda.


"yah... bun... boleh Nana bicara?!"


"kenapa sayang?!" tanya bunda dengan suara lembutnya


"eemm... masalah kepindahan ayah sama bunda. boleh enggak kalau Nana ngekos aja sama Tania?!" tanya Alana ragu ragu, sesekali dirinya memejamkan mata dan merapalkan doa agar kedua orang tuanya mengijinkan.


"ENGGAK!" jawab ayah tegas, membuat Alana membuka kembali matanya.


"sayang, kalau kami biarkan kamu ngekos yang ada nanti kami disana enggak tenang. kepikiran kamu terus soalnya egak ada yang jagain kamu. kamu ngerti kan maksud bunda. kami khawatir, apalagi pergaulan jaman sekarang seperti itu." terang bunda


"Nana bisa jaga diri bun, buktinya Tania yang dari jauh pun enggak apa apa ngekos." bantah Alana masih terus berusaha menyakinkan orang tuanya


"cukup Alana. kamu jangan membantah lagi." seru ayah yang langsung membuat Alana terdiam.


"sayang mengerti lah. kami juga tidak ingin seperti ini tapi keadaan yang membuat kami memutuskan ini." ucap bunda masih dengan suara lembutnya membuat Alana luluh.


"iya bun.. maafkan Nana ya." segera memeluk sang bunda.


"ya sudah kamu istirahat gih sudah malam ini."


"iya bun." segera Alana melangkah ke dalam kamarnya. membanting tubuhnya diatas kasur.. beberapa kali kayal kayal tak jelas meratapi nasibnya.


"arghh... entahlah...." menutup wajahnya dengan bantal dan sesaat kemudian dirinya terlelap kealam mimpi.


jangan lupa saran dan kritiknya ya kakak2, agar bisa lebih baik lagi.🤗

__ADS_1


__ADS_2