
"Ternyata om Juna sudah memiliki calon istri mas, namanya Diandra. " Archana mengatakan pertemuannya dengan Arjuna dan Diandra pada sang suami. Dia tak ingin Alkan berfikir macam macam tentang dirinya dan Arjuna. Alkan sendiri hanya diam tak berkomentar apapun, pria itu cukup lega mendengar penjelasan istrinya.
"Percayalah mas, antara aku dan om Juna sudah tak ada hubungan apapun. " pungkas Archana dengan sungguh sungguh. Alkan mengecup keningnya sekilas dan tersenyum, melajukan mobilnya meninggalkan area restauran.
Archana bernafas lega, dia kira suaminya marah padanya namun ternyata tidak. Kini mereka berhenti sebentar untuk membeli susu ibu hamil milik Archana dan cemilan lainnya.
Di sana mereka bertemu dengan Angel, Archana menghela nafas melihat wanita di depannya saat ini. Wanita hamil itu memilih abai, mengajak suaminya pergi ke kasir namun Angel menghalangi keduanya.
"Kau yakin mencintai suamimu Archa, bukankah cintamu begitu besar pada Arjuna. Atau kamu hanya mengunakan suamimu ini sebagai pelarian kamu atas cintamu yang kandas itu? " ucap Angel sambil tersenyum. Entah apa maksud Angel berbicara seperti barusan, sepertinya dia memang sengaja mengatakan hal itu di depan Alkan.
Archana mengabaikannya, mengajak suaminya pergi dari sana setelah selesai membayar belanjaannya. Selama perjalanan keduanya tak saling berbicara, mereka larut dalam pikiran masing masing.
Tiba di kediaman mereka, keduanya langsung turun. Archana hendak menyentuh lengan sang suami namun Alkan menghindar dan memilih masuk ke dalam lebih dulu. Wanita hamil itu tercengang melihat sikap suaminya barusan. Diapun segera menyusul Alkan ke dalam, mencekal lengan sang suami.
"Mas, kamu termakan omongan Angel tadi? " tanya Archana tanpa basa basi. Alkan hanya diam, pria itu melepas tangan sang istri yang mencekalnya.
"Bicara dong mas, jangan diam saja kayak gini. " Archana kesal akan sikap diam suaminya. Pria itu menoleh, raut wajahnya tampak datar.
"Menurutmu!
"Jadi kau meragukan aku dan memilih percaya perkataan wanita itu mas. Terserah kamu mas Al, apa apa aku harus menjelaskan semuanya pada kamu. Jika kamu menganggap ucapan Angel benar, aku lelah dan aku tak peduli. " tegas Archana jengah.
Wanita hamil itu memilih pergi ke ruang tengah, pria itu hanya diam melihat kepergian istrinya. Alkan berjalan gontai menuju ke kamarnya di lantai atas.
Archana POV
__ADS_1
percuma mas jika aku menjelaskan semua sama kamu, ternyata kamu masih meragukan aku seperti ini. Rasa cemburu butamu itu benar benar membuatku muak sekaligus kesal. Lama lama aku capek menghadapi kamu yang sering marah tak jelas hanya karena perkataan orang tanpa mau bertanya dulu sama aku. Sakit rasanya, suaminya sendiri tak mempercayainya.
Archana tersenyum getir sambil mengusap perut buncitnya dengan lembut, dia mengungkapkan keluh kesahnya pada calon bayi dalam kandungannya. Di sana wanita itu menangis terisak sendirian, Archana berusaha menahan rasa sesak dalam dadanya.
Setelah beberapa saat Archana menghapus air matanya, dia tak boleh terlalu stres saat ini dan berakibat pada kandungannya. Archana bangkit, beranjak dari ruang tamu menuju ke dapur.
"Nyonya maaf, biarkan saya yang membuat susu untuk anda. " ujar salah satu maid yang ada di sana.
"Enggak papa, aku bisa kok membuat susu sendiri. " Archana tersenyum tipis, segera membuat susu ibu hamil setelah itu membawanya ke ruang tengah. Diapun hendak meneguk susunya namun tiba tiba gelasnya terjatuh.
Prang
Salah satu pelayan datang dengan wajah paniknya, Archana menyuruh sang pelayan membersihkan pecahan kaca itu. Wanita itu lantas mengusap perut bulatnya dengan lembut, pertengkaran dengan sang suami membuatnya tak fokus hingga gelas yang dia pegang terjatuh.
"Enggak usah, aku baik baik saja. " jawab Archana sambil memaksakan senyumnya. Pelayan pergi membereskan pecahan kaca itu, meninggalkan majikannya sendiri.
Dan malam harinya, wanita hamil itu tampak kecewa karena ketidak hadiran sang suami. Diapun kini makan malam sendirian di meja makan, Archana lantas memilih abai dan fokus pada makanannya meski tak berselera.
Selesai makan malam Archana segera naik ke atas, wanita itu memilih kamar yang ada di sebelahnya. Dia tak ingin mendapat amukan dari sang suami jika dirinya berada satu ruangan dengan Alkan. Wanita itu berbaring di ranjang dengan hati hati setelah menaruh ponselnya di atas laci.
"Sepertinya besok aku menemui mommy Zia, mungkin bertemu mommy bisa membuatku tenang. " gumamnya lirih. Dering ponselnya membuat fokusnya teralihkan, wanita itu berbicara dengan putri sambungnya Valentina.
"Ini sudah malam sayang, besok saja pulangnya, lebih baik kamu istirahat. " ucap Archana dengan lembut.
"Tapi aku rindu bunda, ingin tidur bareng bunda. " rengek Valen di sana. Wanita hamil itu menepiskan senyumnya melihat sikap manja putri tercintanya itu. Diapun memberi pengertian pada Valen dan mengobrol dengannya. Setelah selesai Archana memutus sambungannya dan menyimpan kembali ponselnya.
__ADS_1
Setidaknya berbicara dengan Valen membuat kekesalannya berkurang terhadap suaminya. Archana mengusap perutnya lagi, membujuk calon anaknya agar bisa di ajak kompromi malam ini. Dengan susah payah memejamkan kedua matanya, dia perlu tidur sekarang dan berharap suasana hatinya besok berubah lebih baik.
##
Esok harinya Archana tampak bangun kesiangan, setelah bersiap diapun ke luar dari kamarnya. Wanita itu langsung berjalan menuju ke meja makan, ternyata suaminya telah menunggunya di sana. Alkan tengah memperhatikan apa yang di lakukan sang istri tanpa mengatakan apapun. Keduanya sama sama bungkam, tak ada yang saling bertegur sapa atau membahas masalah mereka kemarin.
"Aku berangkat! Alkan menunggu istrinya bicara, namun Archana hanya diam melihatnya. Pria itu menghela nafas kasar, beranjak dari sana dan pergi. Wanita hamil itu turut menatap kepergian suaminya dengan raut sendu.
Selesai sarapan Archana kembali ke kamar mengambil tasnya, lalu ke luar dari mansion megah sang suami. Wanita itu lantas masuk ke dalam taksi yang dia pesan. Sepanjang perjalanan dia lebih banyak melamun memikirkan rumah tangganya bersama Alkan.
"Maaf nyonya sudah sampai! Archana tersentak dari lamunannya, wanita itu memberikan uang pada sopir lalu segera turun. Diapun mengulas senyumnya melihat sang mommy berada di teras, perempuan itu segera mendekat. Mommy Zia langsung memeluk putrinya, lalu mengajaknya masuk ke dalam.
"Kamu sendirian ke sininya sayang, di mana suami kamu? "
"Dia sibuk dengan perusahaan mommy. " jawab Archana sambil tersenyum. Wanita hamil itu mengatakan keinginannya untuk menginap selama beberapa hari, mommy Zia tentu saja merasa senang sekaligus janggal dengan keinginan anaknya.
"Apa kamu ada masalah nak? " cecar Mommy Zia penasaran.
"Enggak ada mom, aku hanya ingin di dekat mommy saja. " jawabnya. Mommy Zia tahu jika putrinya itu berbohong, sakit paruh baya itu tak ingin memaksanya untuk bicara. Archana memilih mengalihkan pembicaraan, entah kenapa dia enggan membahas hal yang berurusan tentang suaminya.
Mommy Zia memilih mendekat, memeluk putrinya namun tak terlalu erat. Archana menikmati pelukan sang ibu yang selalu membuatnya nyaman.
"Mommy tak tahu apa masalah kamu dan Alkan, tapi sebesar apapun masalahnya kalian harus bicarakan berdua nak. Jika kalian saling menghindar seperti ini, ke salah pahaman di antara kalian tak akan selesai!
Archana bungkam, dia mencerna nasehat dari sang mommy tercintanya. Untuk saat ini dia hanya perlu menenangkan diri dan biarlah dia menghindari suaminya sebentar. Mommy mengusap kepala putrinya dengan lembut, lalu melepas pelukannya. Wanita itu juga menanyakan kabar calon cucu dalam perut Archana. Archana menjawabnya dengan senyuman, mengatakan calon bayinya begitu sehat.
__ADS_1