Terminal Jodoh

Terminal Jodoh
Lamunan


__ADS_3

TERMINAL JODOH


BAB 1


#Lamunan


"Qola Muhammadun huwabnu maliki# Ahmadu Robbillaha khoiro maliki


Musholliyan 'alan Nabiyyil mustofa # Wa alihil mustakmilinnassyarofa "


Syair Alfiyah terdengar nyaring di telinggaku,saat para santri diniyah 'ulya menyuarakannya dengan lantang penuh semangat. Nadhoman ini menjadi suatu kewajiban yang harus dibaca tatkala pelajaran nahwu akan dimulai


Kali ini aku tidak bergabung bersama mereka, karena hari ini jadwalku bersih bersih rumah ndalem sekaligus momong putri Abah Yai.Menjadi pengurus Ndalem bukan hal yang ringan juga bukan hal yang berat,demi mencari ridho dan berkahnya seorang Guru, apapun yang diperintahkan harus siap sedia dilakukan.


Enam tahun mengais ilmu di Pesantren, membuatku merasa nyaman tentram berada di sini. Bagaimana tidak, semua penduduknya sudah selayaknya saudara sendiri.Kami akrab seperti kerabat dalam satu tempat, beratapkan iman bertembokkan ilmu.Ditambah dengan sosok Umik Nyai yang sangat baik dan mulia akhlaq serta kepribadiannya.


Pondok Pesantren yang diasuh langsung oleh Abah Yai Arif Hidayatullah serta Istrinya Umik Nyai Maryatul Qibtiyah berkembang pesat,meski jumlah santrinya hanya ratusan ,tapi Pesantren ini tak kalah tersohor dengan pesantren besar lainya dan sudah terkenal dimana mana.


Pondok Pesantren Darul Hikmah yang letaknya lumayan strategis.Dekat dengan jalan raya, tapi keindahan pemandangan sekitar masih dapat dinikmati. Asri dan alami. Persawahan hijau di hadapan halaman Pesantren membuat kesan tersendiri bagi para santri.Semua nampak berseri. Sedang di kanan kirinya terdapat kebun bunga warna warni.sungguh indah alam bahari ciptaan Mu ini ya Rabb


Gemericik air mancur mini yang berada di tengah-tengah halaman Pesantren, membuat ikan kecil di bawahnya menari nari riang, berenang kesana kemari.Sesekali aku menceburkan tangan hanya sekedar bermain main dengan ikan di dalamnya.berbagai macam ikan kecil mungil nan lucu dipelihara sekedar dibuat hiasan untuk memperelok kolam.


"Doll doll doll"


Aku tersentak saat Ning Faza menyodorkan pistol mainan di pundakku.


"Hayo, tak tembak lo Mbak Ojah, siap-siap menyelah"imbuhnya lagi


Gadis kecil cantik dengan bulu mata lentik, yang usianya baru menginjak 4 tahun. Badannya gemuk pipinya chubby dengan hidung mancung ini lebih suka mainan tembak-tembakan dan mobil-mobilan layaknya bocah laki-laki. Tidak seperti kebiasaan yang disukai anak perempuan pada umumnya,boneka atau masak-memasak.Entah kenapa Ia lebih suka mainan seperti itu.Bahkan hampir semua koleksi mainan yg dipunya adalah mainan anak laki-laki.Mungkin karena Kakaknya juga seorang laki-laki hingga Ia lebih dominan menyukai hal yang juga disukai oleh Kakaknya.


Ning Hilya Mafaza atau yang sering dipanggil Ning Faza adalah putri kedua Abah Yai, meski baru genap berusia 4 tahun tapi kepintaran dan kecerdasannya sudah dapat dilihat dari sekarang.Mungkin kepandaiannya itu mewarisi Abah Yai serta Umik Nyainya.Putra sulung Abah Yai yang merupakan Kakak dari Ning Faza katanya sudah beranjak dewasa,meski aku sendiri belum pernah melihat dan bertemu secara langsung.Aku yakin pasti Putra Abah Yai juga seorang yg pandai dan 'alim diberbagai bidang ilmu agama.


Iya, aku belum pernah mengenal Putra sulung Abah Yai itu karena Beliau sedang kuliah sekaligus mondok di luar kota dan jarang sekali pulang. Sekalipun pulang pas liburan hari raya idul fitri dimana aku dan santri yang lain pulang ke rumah masing-masing.


"Ayo Ning mandi dulu,setelah itu berangkat sekolah" pintaku sambil memunguti mainannya yg berceceran di taman sekitar kolam


"Ndak auu acu ndak mau cekulah mbak, acu mau ikut Abah cama Umik" celotehnya lucu, sambil menggeleng kan kepalanya, meski cedal bicaranya tapi masih bisa ku mengerti apa maksudnya


"Lo kok gak mau sekolah Ning, memangnya Abah sama Umik mau kemana?"tanyaku sambil ku pegang pundaknya dan kucubit pipinya gemas


"Ya Jemput Mas laahh'' Imbuhnya lagi


Aku hanya tersenyum menanggapi perkataan Ning Faza. Dalam hati menggerutu 'Mas siapa '??


"Iya, tapi mandi dulu ya biar cantik, kalau gak mau mandi nanti Umik sama Abah tidak mau ngajak, gimana?" Rayuku lagi


Tapi ia langsung berlari ke taman sambil membawa mainannya,tanpa merespon ajakanku tadi.


Kubiarkan ia bermain sejenak, setelah ia puas bermain nanti pasti akan lebih mudah diajak mandi. Kupandangi dari jarak beberapa meter ia berlari lari kecil sambil bernyanyi riang, sesekali kudengar ia berbicara sendiri layaknya ada teman bermain di dekatnya.


Kutunggu Ning Faza sambil menuju gazebo yg berada di kanan taman ini, beranjak duduk kubiarkan kakiku menjulur ke bawah bergelantungan


"Ning, mbak ojah tunggu disini ya" teriakku


"Oce" sahutnya riang sambil menunjukkan jempolnya ke arahku


Riuh gemericik air mancur membawa pikiranku melesat pada perkataan Bapak beberapa waktu lalu.


"Wis manuto Nduk, InsyaAllah uripmu bakal berkah mergo oleh ridhoe Gurumu"

__ADS_1


Aku yang masih diam mematung mencerna setiap kalimat yang dilontarkan Bapak. Tak bisa berkata apa-apa takut salah bicara, dan membuat Bapak kecewa. Menahan bulir bening yang hampir saja lolos dari mataku,segera kuusap dengan ujung jilbab segiempat maroon bertuliskan aksara jawa.


Selama ini aku cukup penurut, mematuhi segala yang diperintahkan oleh laki laki yang berstatus sebagai Ayah kandungku itu.seperti keinginannya untuk menimba ilmu di pondok ini.Tapi kali ini seakan hatiku menolak untuk menuruti keinginan Bapak yang satu itu


Iya, Bapak menerima lamaran Abah yai yang beberapa hari lalu Beliau mengutarakan maksudnya dengan datang berkunjung ke rumah sekalian silaturahim hari raya idul Fitri. Beliau tidak sendiri,melainkan datang dengan Umik Nyai serta Putri kecilnya Ning Faza.


Suatu penghormatan yang luar biasa karena seorang Kyai besar yang datang ke rumah waktu itu, aku masih ingat ketika aku di dalam membuatkan jamuan untuk disuguhkan kepada Beliau. Pembicaraan itu seolah menjadi memory yang tersimpan di kepalaku sampai saat ini.


"Kedatangan kami kesini betujuan untuk menyambung lagi perjodohan yang sudah kita sepakati beberapa tahun lalu,putri Bapak dengan putra kami" ucap Abah Yai lirih tapi masih bisa kudengar di ruang tengah


Sontak aku kaget dan tak sengaja menjatuhkan toples plastik yang di dalamnya berisi kue kering lebaran yang tadinya mau kusuguhkan di depan


Brrukkkk


"Astaghfirullah" teriaku lirih


Membuat semua menoleh ke ruang tengah, untung saja masih ada tirai yang menutupi antara ruang tamu dan ruang keluarga ini. Ibuku terhenyak dan langsung menghampiriku


"Nyapo to Nduk,kok iso numplek toplese iki piye?"ucapnya seraya membantuku memasukkan potongan nastar yang sedikit remuk ke dalam toples


"Mboten sengaja lo Buk"timpalku


"Yo wes bene,sing wis kadung remuk iku sapuen ae, selak dikerubungi semut" titahnya


"Iku nang lemari isih ono sak toples, jupuk en iku ae Nduk sing digawe suguhane"perintahnya lagi


"Nggih" ucapku sambil menuju dapur mengambil sapu juga temannya itu,cikrak.


Suguhan sudah kuletakkan di meja lengkap dengan dua gelas kopi juga dua cangkir teh di meja depan Guru besarku itu, di temani beberapa toples keripik dan kue lebaran lainnya.sambil merunduk ta'dzim langsung kuraih jemari Umik Nyai untuk Salim dengannya.kulihat Ning Faza tertidur pulas di pangkuannya.sepertinya Ia kelelahan karena seharian berkeliling silaturahmi ke sanak saudara hingga akhirnya di rumah ini tujuan akhir mereka.


"Monggo ditidurkan mawon Ning Fazanya di kasur Mik"pintaku sambil menunjuk kasur rasfur warna biru dengan gambar karakter doraemon di depan tv itu


"Nggih mbak ojah, matursuwun" jawabnya sambil tersenyum kepadaku


Manis sekali senyuman Umik Nyaiku ini, di usianya yang sudah tidak mudah lagi,tapi kecantikan parasnya masih sangat terlihat jelas di wajahnya, gurat halus tanda penuaan hampir tidak ada ditambah lagi lesung Pipit yang menghiasi pipi sebelah kanannya ,semakin menambah kesempurnaan auranya.


Dengan sangat pelan Umik menidurkan Ning faza di atas bantal bergambar doraemon senada dengan kasur yang sudah kugelar di lantai tadi.Benar, Ning faza lebih suka ditidurkan di bawah daripada di atas dipan kayu ataupun spring bed, bahkan di rumah ndalem sering kudapati Ning Faza terlelap di bawah yang hanya beralaskan tikar plastik bergambar alfabet.


Hari menjelang sore Abah Yai dan Umik pun berpamitan, Ibu menyodorkan kantong plastik hitam sebagai buah tangan kepada Umik Nyai yang isinya ketupat lengkap dengan sayur dan lepetnya.


Kulihat mobil Avanza warna hitam berplat S yang dikendarai sudah semakin jauh meninggalkan halaman rumah, bergegas aku masuk dan memunguti gelas jamuan di meja dan membersihkannya.


Saat ingin masuk kamar Ibu memanggilku, langsung aku menghampirinya dan duduk di kursi sebelahnya


"Wonten nopo Buk" tanyaku


"Saiki awakmu wis ngerti to masalah iki Nduk?" Pertanyaanku yang dijawab dengan pertanyaan pula


"Ngerti masalah nopo Buk?"jawabku masih belum mengerti


"Lek Awakmu wis dijodohkan"kata Ibuk sambil menyeruput kopi luwak kesukaannya


"Haahhh" ucapku setengah tidak percaya


"Sama siapa Buk? Kenapa harus dijodohkan, kulo lo masih ingin kuliah,ingin mencari ilmu,mencari pengalaman sebanyak banyaknya "sungutku seolah tak setuju dengan perjodohan ini


"Seroja, Ibuk faham tapi Bapak sama Ibuk tidak enak Nduk,sungkan kalau harus nolak permintaan Abah Yai, Beliau lebih ngerti mana yang terbaik"


Aku tahu hubungan keluarga ku dengan keluarga Abah Yai begitu dekat semenjak tiga tahun lalu, kami sudah seperti saudara bahkan keluarga sendiri.

__ADS_1


Berawal dari Bapakku yang membantu sebuah program di Pesantren dan berhasil beberapa tahun silam, membuat hubungan keduanya semakin erat.Dulu sewaktu Mbak Arum mondok masih belum begitu akrab


Ya,Mbak Arum Kakak Perempuanku satu satunya, dulu juga mondok di pesantrennya Abah Yai, hingga akhirnya menikah dengan Kang Santri dari Jombang yang dipilihkan oleh Abah Yai sendiri.Kang Rozaq,Ia dari keluarga sederhana tapi yang kutahu orang tuanya mendirikan TPQ di musholla depan rumahnya, kini Mbak Arum juga ikut ngajar ngaji anak anak TPQ di rumah mertuanya itu.


Perjodohan kerap sekali terjadi di dalam kehidupan Pesantren, maka dari itu sudah tak asing lagi jika Pesantren selalu mendapat julukan "Terminal Jodoh".Dilihat dari banyaknya Santri-santri yg akhirnya membina bahtera rumah tangga dengan teman seperjuangan mencari ilmu. Mengharap ridho serta doa dari sang Mahaguru.


Pikiranku runyam,dilema dengan suatu keputusan yang aku sendiri pun berat untuk mengiyakan.Bagaimana mungkin aku hidup dengan orang yang sama sekali belum pernah kukenal,apakah orang itu tahu?apakah orang itu juga setuju?banyak pertanyaan yang hinggap di benak,semakin ingin menguak semakin terasa sesak.


Seolah aku tak diberi kesempatan untuk memilih dan mengatur sendiri keinginanku juga masa depanku. Kewajiban berbakti kepada orang tua dan guru selalu kujunjung tinggi,tapi jika mengenai perjodohan, apa mungkin aku sanggup menjalani.lalu bagaimana dengan mimpiku??


Hingga masa liburan lebaran selesai dan aku harus kembali ke pesantren ini lagi.Hatiku masih bergemuruh, bagaimana aku menghadapi kenyataan yang sejatinya tak ingin ku buru.


Kuhirup dalam dalam udara di taman, lumayan memberi hawa sejuk di rongga pernapasan,karena cuaca hari ini mendung tapi tak kunjung mendatangkan hujan, langit tertutup kabut hitam disertai angin sepoi menambah semilir di dalam hati,seolah semesta tahu bagaimana keadaanku saat ini. Kusentuh embun pagi yang masih menempel di sela daun pohon delima. Buah kesukaan Umik Nyai ini terlihat sangat subur. Karena Umik sendirilah yang merawat tanaman yang ada di taman ini.



"Mbak Ojah" teriak Ning Faza membuyarkan lamunanku


"Eh iya Ning,sudah ta mainnya.mandi nggih" ajakku yang dibalas dengan anggukan


Segera aku beranjak turun dari gazebo dan menuntunnya berjalan menuju rumah ndalem lewat pintu belakang


Terlihat Umik Nyai sudah menyiapkan seragam sekolah dan sarapan buat Ning Faza, dibantu beberapa mbak mbak pengurus ndalem yang piket hari ini .


"Mbak Seroja, minta tolong nggih pean belikan roti tawar sama selai coklat di mini market seberang " titah Umik Nyai sambil menyodorkan selembar kertas warna merah bergambar Pak Karno Hatta


"Nggih Mik" jawabku sambil kuraih uang di tangan Umik


"Tapi sekedap nggih ,kulo badhe mandikan Ning Faza riyen"imbuhku


"Biar saya yang mandikan Ning Faza mbak ,pean ke mini market saja dulu" ucap mbak Riana, mbak senior yang satu kamar denganku juga pengurus ndalem


"Lo, sampean pon mantun nopo masak e mbak" balasku


"Sampon mbak,tinggal buat sambale mawon"timpalnya


"Ngge pon mbak"sahutku seraya bergegas keluar dari pintu dapur menuju halaman depan


Mini market tidak terlalu jauh dari pesantren, untuk menuju kesana cukup dengan berjalan kaki,karena jaraknya hanya sekitar beberapa meter.Aku mengajak Siti biar ada yang menemani dan tidak canggung berjalan sendirian apalagi melewati asrama putra, yang entah kenapa malu saja jika berjalan sendiri. Pastinya mereka akan bersorak ramai jika bertemu atau berpapasan dengan santri putri.


Sudah kuduga mereka akan berjajar jajar di sebelah tangga besi ,sampai di lantai dua pun banyak yang memperhatikan kami berdua,bersorak seolah yang lewat itu artis saja.salah satu dari mereka ada yang celetuk "hey mbak ojah rek" disertai gelak tawa


"Siti, digolek i karo faruq. Salam sayang jare" teriak salah satunya lagi sambil terkekeh


Aku mendengarnya ikut tertawa, 'ono-ono ae arek arek iki' batinku


"Ojo direken mbak,arek arek ngawur iku"sahut Siti disertai wajah cemberut


Aku hanya menanggapinya dengan ketawa


"Braakkkk"


Tiba tiba di belakangku ada orang jatuh dengan mengendarai sepeda motor Scoopy warna abu-abu


"Ya Alloh Kang, hati hati " teriakku sedikit kaget,karena merasa mengenalinya dan langsung menghampirinya


"Ga apa apa to Kang?" Tanyaku khawatir


BERSAMBUNG_____________

__ADS_1


Masih pemula,mohon kritik dan sarannya ☺️


__ADS_2