Terminal Jodoh

Terminal Jodoh
praduga


__ADS_3

Aku menuangkan nasi ke nampan plastik, lalu menaruh tempe goreng dengan bakwan jagung di atasnya.Tak lupa mengambil tumis kangkung di tambah dengan sambal terasi, lengkap menemani sarapan hari ini.


Menu sederhana tapi sangat menggugah selera. Apalagi ditambah dengan kerupuk yang menambah kriuk di lidah.


Aku menyantapnya bersama Siti dan Mbak Riana. Makan bersama dalam satu wadah membuat kenikmatan semakin bertambah.insyaAllah berkah. 


Kami diajarkan agar selalu Qona'ah, menerima semua nikmat walau hanya dalam bentuk sederhana.Tetap bersyukur agar tidak menjadi pribadi yang kufur. 


"Loh,Mbak Ulfa mana kok gak ikut sarapan? Tanyaku pada Mbak Riana


Karena memang biasanya kami makan berempat. 


"Masih jemput Ning Faza sekolah" balasnya 


"Oo, tadi bilang sama aku, katanya gak mau sekolah Mbak, mau diajak Abah sama Umik" jelasku sembari memasukkan sesuap nasi 


"Nggih, tadi pagi sempat drama dulu, biasalah Ning Faza kan sering gitu.nunggu dirayu sama Umik dulu baru mau berangkat sekolah" ucap Mbak Riana 


"Lah, emang Umik sama Abah mau tindak'an kemana?" Tanya Siti 


"Kurang tahu aku, tapi katanya Ning Faza tadi ,mau jemput mas, gak tau mas siapa yang dimaksud" terangku lagi 


"Oo..mungkin mau jemput masnya Ning Faza, Mbak" kata Mbak Riana 


"Dengar-dengar, Gus Syam sudah lulus sarjana, Abah Yai memintanya pulang, biar bisa ikut membantu mengurusi Pesantren disini" sambung Mbak Riana lagi


Aku mendelik, membuat leherku terasa tercekik.Nasi yang baru saja aku telan, rasanya nyangkut di tenggorokan. 


"Uhukkk,,,uhukkk,,,uhukkk" aku tersedak mendengar penuturan Mbak Riana yang menyebut nama Putra Abah Yai 


"Minum dulu Mbak Ojah" Siti memberiku segelas air putih,segera kuraih dan langsung meminumnya 


Syukurlah, tegukan air bisa membuat nafasku kembali bergulir.


"Kok bisa tersedak toh Mbak, hati-hati kalau lagi makan" ucap Mbak Riana memperingati 


"Hehe.....Nggih Mbak maaf" balasku sambil meneguk air di gelas lagi


🌸🌸🌸 


"Mbak Ojah, setelah makan tolong setrikakan baju yang di gantung itu ya" perintah Umik Nyai yang tiba-tiba keluar dari kamar mandi sembari menunjuk gamis syar'i warna lilac yang di hanger di samping lemari


"Inggih Mik" timpalku mengangguki perintahnya 


Beliau berlalu dan masuk ke kamar belakang hendak melaksanakan sholat dhuha.  


Aku segera menyudahi sarapanku, Mbak Riana juga beranjak memunguti wadah-wadah kotor yang hendak di cuci.Sedangkan Siti masih asyik menghabiskan sisa nasi di nampan tadi. 


Kuraih baju Umik Nyai dan segera menyetrikanya dengan hati-hati 


Ning Faza datang bersama Mbak Ulfa masuk lewat pintu depan rumah


"Mbak Ojah acu dapat nilai bintang empat" ucapnya lucu dengan memperlihatkan buku ke hadapanku 


"Oh ya,, sippp ,,pinter Ning" kataku menunjukkan dua jempolku


"Umik dimana Mbak" tanya Mbak ulfa 


"Itu di kamar Mbak, masih sholat dhuha" jawabku sambil tetap menggosokkan setrika di baju 


Mbak Ulfa menuntun Ning Faza ke ruang tengah untuk menggantikan bajunya.


Aku menatap ke jendela tepat di depan meja setrika, terlihat Kang Tirta yang berjalan sedikit pincang menuju asrama.Aji dan Arman memapahnya di samping kiri dan kanan 


Sadar aku perhatikan,Ia menoleh ke belakang.Dengan cepat aku membuang pandangan, fokus lagi kepada setrikaan. 


Entah kenapa ada debar aneh setiap kali aku melihatnya, apalagi setelah menyaksikan kejadian yang baru saja menimpanya.Ada rasa iba yang kurasa tidak seperti biasa 


Kulihat sekali lagi ke arahnya, sampai punggungnya terlihat semakin menjauh dari pandangan mata 


"Em...em..em.." 


Aku terhenyak ketika mendengar suara Abah Yai yang berdehem batuk dan melihat ke arahku


"Astaghfirullahaladzim" pekikku lirih kaget dengan kedatangan Abah Yai yang secara tiba-tiba

__ADS_1


Entah sudah berapa lama Beliau berdiri di ambang pintu, aku semakin gusar ketika Abah mulai melangkah mendekat di sampingku 


"Lihat apa toh Nak Ojah" tanya Beliau membuatku gugup 


"Eh, mboten wonten Bah" jawabku dengan jantung yang sedikit berdegub 


Abah melihat ke arah jendela, untung saja bayangan Kang Tirta sudah tak lagi ada 


"Loh Bah sudah pulang" ucap Umik Nyai yang keluar dari kamar membawa tasbih digital dan masih terbalut mukena di badannya 


Umik mendekat seraya meraih tangan Abah. Tertunduk salim dengan penuh takzdim


"Sudah Mik,baru saja masuk rumah" jawab Abah 


Umik Nyai seorang istri yang sholiha, selalu sopan dan ramah saat menyambut kedatangan Abah Yai setiap kali datang setelah mengisi pengajian di desa seberang 


"Bah,kadose Tirta mboten saget ngantar. Manton dawah wau kakinya cedera" ( Bah, sepertinya Tirta gak bisa antar.habis jatuh tadi kakinya cedera)ucap Umik Nyai sambil memberi segelas kopi hitam di atas meja 


"Loh kapan nek tibo Mik"(loh, kapan jatuhnya Mik)tanya Abah 


"Tadi Bah" jawab Umik 


"Oalah,pantesan nek mlaku kok rodok pincang" (Oalah, pantesan jalannya kok agak pincang) tutur Abah 


Aku terkesiap 'kok Abah Yai tahu Kang Tirta jalannya pincang, Apa Abah tadi benar-benar memperhatikan' benakku bertanya-tanya 


"Tapi mboten nopo-nopo Bah, Namung babras kale dengkule gosong,masio ngoten Tirta mboten puron dibeto teng klinik malah nyuwun di urutkan mawon" (Tapi gak apa-apa Bah, hanya luka dan lututnya yang gosong, meski begitu Tirta gak mau di bawah ke klinik malah minta dipijatkan saja) jelas Umik lagi 


"Yowes gak opo-opo, Tirta ben istirahat ae sek. Mariki tak nelfon Cak Bambang ae sing iso nyupiri"( Ya sudah tak apa-apa, Tirta biar istirahat saja dulu. Habis ini mau telfon Cak Bambang saja yang bisa nyopir) 


Benar, Kang Tirta juga menjadi sopir pribadi keluarga Abah Yai. Dia sering diminta ngantar kemanapun Abah Yai dan Umik Nyai pergi, termasuk mengantar Beliau berdua tatkala sambang ke pesantren putranya.


Setelah selesai melakukan pekerjaanku, Aku pamit mau  pergi ke asrama 


Umik tengah sibuk mempersiapkan barang-barang yang akan dibawanya nanti, terlihat sangat anggun setelah memakai gamis syari warna lilac senada dengan khimar yang sudah kusetrika tadi 


" Mbak ulfa, jangan lupa di kunci ya pintu belakang, biar tidak ada kucing yang masuk ke dalam" Ucap Umik kepada Mbak Ulfa yang membantu mempersiapkan Ning Faza


"Nggih Mik"sahut Mbak Ulfa yang masih bisa ku dengar di samping rumah 


Aku bergegas menuju asrama putri dengan Siti yang baru saja selesai membantu Mbak Riana mencuci piring di belakang tadi 


Aku menselonjorkan kaki di lantai kamar sembari mutolaah kitab fiqih. Aku ingat nanti malam jadwal syawir di aula depan.mencatat hal- hal penting di buku sebagai referensi yang sudah ku cari di dalam kitab fiqih yang lain. 


"Mbak Ojah, ini cincin siapa?" Tanya Siti mendekatiku seraya memberikan benda kecil berbentuk lingkaran di telapak tanganku 


" Gak tau aku Sit,punya siapa ini. Kamu dapat ini dari mana?" Tanyaku heran 


"Diatas lokermu Mbak"jelas Siti 


"Hah, aku gak punya cincin seperti ini" kuperhatikan baik-baik benda itu, cincin kokka hitam yang di bagian dalamnya tertulis huruf "S" 


"Dari Kang Tirta itu tadi Mbak" kata Rumana yang baru saja masuk ke kamar 


"Hah,, Kang Tirta" Aku terperangah mendengar ucapan Rumana 


"Iya, tadi menitipkan ke saya, katanya mau diberikan kepada Siti" sambungnya 


Duarrr 


'Apa? Kang Tirta memberi cincin kepada Siti, yang di dalamnya berinisial "S" apakah inisial yang di maksud itu nama "Siti". Masa iya Kang Tirta sukanya sama Siti' batinku berpikir yang bukan-bukan 


Aku tak percaya jika benar Siti yang di suka oleh Kang Tirta, meski terasa kecewa tapi aku harus siap merelakan mereka.Aku harus ikhlas toh selama ini aku dengan Kang Tirta tidak ada hubungan apa-apa. 


Siti masih terlihat berpikir.. seolah tak percaya jika Ia diberikan cincin 


"Masa sih Kang Tirta kasih cincin ini buat aku, memangnya tadi dia bilang apa sama sampean?" Tanya Siti pada Rumana


" Gak bilang apa-apa sih, cuma mau titip ini buat Siti. Eh iya, tadi ada kertasnya kecil juga Mbak karena Aku buru-buru mau ke kamar mandi,langsung aja aku taruh di atas loker"timpal Rumana  


"Terus mana kertas itu sekarang?" Tanyaku penasaran


"Ya disitu tadi mbak ,saya taruh dibawah cincinnya" jawab Rumana sambil menunjuk ke atas lokerku 


Kami langsung sibuk mencari kertas kecil yang dimaksud Rumana. Kemana perginya kertas itu. Ada tulisan apa di balik kertas itu. 

__ADS_1


Siti dan Rumana masih berusaha mencari kertasnya di balik buku dan kitab-kitab yang berbaris di atas nakas. 


"Mungkin jatuh mbak, tapi kalaupun jatuh ,pasti perginya gak jauh di sekitar loker" ucap Siti yang juga ada benarnya 


Setelah sekian lama mencari, tapi kertas itu belum juga didapati 


"Sudahlah, nanti dicari lagi.Atau tanyakan saja pada Mbak Riana dan Mbak ulfa mungkin mereka tahu" ucapku sembari melihat ke arah cincin itu lagi


"Mereka jelas gak tau mbak, sepertinya belum ada yang masuk di kamar ini selain sampean sama Siti 


Benar juga sih Mbak Riana sama Mbak Ulfa sibuk di rumah ndalem sejak pagi tadi 


"Oalah , aku makin penasaran mbak isi tulisan di kertasnya, sebenarnya Kang Tirta kasih cincin itu untuk siapa" tanya Siti pada diri sendiri 


Aku menghembuskan nafas kasar, merasa lelah akhirnya aku memutuskan untuk istirahat sebentar. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang


"Tinggal turu ae Sit, engko lak yo ketemu" (tinggal tidur saja Sit, nanti juga ketemu)sungutku pada Siti  


"Yowes mbak , aku yo kesel"(yaudah mbak,aku juga capek) ucap Siti menimpali 


Berbagai tanya berkecamuk di hati, pikiranku semakin melayang membayangkan sesuatu yang tak pasti. 


🍂Sepertinya aku harus benar-benar berhenti berharap, sebelum kekecewaan yang kurasa ini akan hinggap. Aku terlelap ,membawa kacaunya hati yang tak pernah di anggap🍂 


🌺🌺🌺🌺🌺


Allohumma sholii 'alaa Sayyidina# Muhammadin tibbil Qulubi wadawaihaa....  


Aku terbangun mendengar lantunan pujian sholawat  dari toah Masjid Jami' yang berada tepat di depan halaman pondok pesantren.Sangat merdu karena ada ciri khas dari alunan nada yang bertalu.Aku sangat mengenal pemilik suara indah itu.


Kunikmati dalam-dalam, meresapi setiap syair yang Dia nyanyikan.Sholawat Tibbil Qulub yang mempunyai makna pengobat hati. Sholawat yang begitu besar khasiatnya bagi siapapun yang mau membaca.  


Seperti dawuh Abah Yai, dalam keadaan apapun jangan sampai melupakan untuk beristighfar dan bersholawat. Beristighfar karena setiap hari seorang hamba pasti melakukan kesalahan. Bersholawat agar kelak di akui umat Kanjeng Nabi di hari Kiamat. 


" Mbak Ojah bangun, mandi dulu.mumpung kamar mandinya sepi" ucap Siti sambil menggoyangkan lenganku 


"Aku sholat jama'ah ashar dulu ya mbak, sampean masih udzur kan?" Imbuhnya lagi 


Aku mengangguk lalu beranjak bangun bersiap untuk membersihkan diri 


Selesai mandi aku menjemur tiga stel bajuku yang sudah kucuci tadi, di balkon teras lantai dua asrama putri.


Saat hendak kembali ke kamar, aku mengarahkan pandangan ke bawah, alangkah terkejutnya ketika melihat Siti yang sedang berbincang dengan seorang pemuda.Dari raut wajah mereka berdua kelihatan begitu gembira,hingga gelegar tawanya terdengar oleh gendang telinga.


Apa yang membuat mereka senang, Apa yang menjadikan mereka begitu girang.Benakku tak tenang, ingin segera beranjak mencari tahu kebenaran. 


Sadar kuawasi pemuda itu berlalu pergi, meninggalkan Siti yang tersenyum sendiri. 


Aku semakin gunda memikirkan setiap praduga yang ada


"Apakah Kang Tirta naksir kepada Siti, hingga Ia memberikan cincin sebagai tanda ikatan hati" ucapku pada diri sendiri


Kenapa hatiku begitu ngilu, bukankah Siti juga temanku bahkan seperti adikku. Dia berhak dicintai oleh siapapun.Aku tidak boleh egois, agar bisa menjaga hubungan persaudaraan ini tetap harmonis. 


Aku masuk ke dalam,menaruh ember cucian di depan kamar.Hatiku masih gusar,mencoba menata kembali perasaan yang di luar nalar. 


'Bismillah, Aku bisa.Aku akan bersiap, apapun kenyataannya pasti akan aku hadap' batinku menyemangati diri 


🌸🌸🌸🌸 🌸---------🌸🌸🌸🌸🌸---------🌸🌸🌸🌸🌸 


Malampun tiba,Aku menuju aula di sebelah kiri halaman asrama putra. Aku menggendong beberapa kitab dan buku yang sudah kusiapkan untuk syawir malam ini. Menuju aula aku harus melangkah melewati lorong kelas madrasah.


Syawir kitab kuning Bab Fiqih dilaksanakan seminggu sekali. Tujuannya agar para Santri lebih bisa menguasai setiap permasalahan dan pertanyaan yang ada di materi.Berbagai gagasan pendapat bermunculan dari para santri, hingga akhirnya diringkas setelah mencari jawaban yang dianggap paling tepat di beberapa kitab fiqih. 


Saat sedikit lagi aku sampai di aula, langkahku terhenti.karena seseorang memangilku 


"Nduk" 


Sebutan itu, yang selalu berhasil menggetarkan denyut jantungnku 


BERSAMBUNG_________ 


Mohon kritik dan sarannya ya teman. Di bab ini aku kasih terjemahan, karena ada yang tidak mengerti bahasa jawa☺️ 


Selamat membaca 🤗

__ADS_1


 


 


__ADS_2