Terminal Jodoh

Terminal Jodoh
Gelang Alit


__ADS_3

Terminal Jodoh


bab 5


#GelangAlit


"Nduk" sapanya sekali lagi , membuatku menoleh ke arahnya


"Wo..Wonten nopo Kang"(aa..da apa Kang) tanyaku gugup sambil membalikkan badan ke belakang


Dia duduk di bangku dengan kedua tangannya saling bersilang dan bersandar di meja kelas Madrasah, kuperhatikan ke sekeliling ruangan, tidak ada orang sama sekali.Kelas terlihat begitu sepi, aku ingat hari ini ngaji diniyah sedang libur


Aku berdiri di ambang pintu, sambil tetap menata debar jantung yang terus berpacu. Sesekali membenarkan kitab dan buku yang ada di gendonganku


"Emm..."


Kulihat sepertinya dia sedang berpikir, sambil merapatkan kedua bibir.


"Kang"


"Nduk"


Kami berucap bersamaan,sehingga kami saling menyimpulkan senyuman


Rasanya dada ini semakin deg degan,membuat hati bergemuruh tidak karuan


"Em.. Ss..sudah di terima gelang alitnya Nduk?" Tanyanya sedikit terbata


"Gelang alit nopo Kang?" Balasku yang memang tak mengerti apa maksud yang dikatakan


"Gelang alit yang kuberikan pada Siti ,tapi kutitipkan ke Rumana" jelasnya


Aku berpikir sejenak, mengingat sesuatu yang dari tadi menjadi pertanyaan di dalam benak


"Gelang alit?? Cincin maksudnya?" Tanyaku yang langsung dibalas dengan anggukan


"Loh, memange itu buat aku? bukane itu sampean kasihkan buat Siti Kang" sambungku dengan menatapnya sekilas, lalu melihat ke bawah dengan wajah sedikit melas


'Duh, knapa aku jadi bersikap begini, seharusnya aku bersikap biasa saja.terserah cincin itu mau dikasihkan kepada siapa' batinku


Dia mengernyitkan dahi, menautkan kedua alis tebalnya. Seolah heran dengan penuturanku barusan


" Hah, kok Siti to? Lah wong aku ngasih cincin itu buat kamu Nduk" ucapnya membuatku mendongakkan kepala


"Ttt...tapi kan di cincin itu ada..."


" Ada huruf 'S' nya?"Sahutnya memotong perkataanku, aku langsung mengangguk setuju


"Ya..itu kan nama kamu Nduk, Seroja" jelasnya yang entah mengapa membuat hati ini mendadak berbunga


"Ya....kan nama Siti juga diawali huruf S kang" tuturku bertanya


"Tapi itu buat kamu, Nduk Seroja" tegasnya seraya mengucap namaku dengan nada naik satu oktaf


"Dalam rangka apa Kang,sampean ngasih aku cincin?"tanyaku penasaran.

__ADS_1


Baru kali ini dia memberiku benda yang menurutku sarat akan makna, karena biasanya dia hanya memberiku makanan oleh-oleh dari orang tuanya yang datang menyambang.dan tentu saja tak akan ku makan sendirian, melainkan kubagi dengan teman-teman


Dia diam, lalu terkekeh pelan, lama tak ada jawaban. Malah Dia menggeleng-gelengkan kepalanya seakan ingin mengatakan sesuatu tapi berusaha dia tahan


"Ya buat kenang-kenangan ae Nduk, sopo ngerti mariki awak dewe ora ketemu" (ya buat kenang-kenangan saja Nduk,siapa tahu setelah ini kita tidak bertemu) ucapnya memperlihatkan matanya sedikit sayu


"Hah, memange sampean mau kemana Kang" tanyaku kembali


"Bukan aku yang pergi,,, tapi kamu" jawabnya membuat hatiku bertambah kaku


"Ishh..sampean ngomong apa sih Kang, wong aku ora ning ngendi-ngendi" (ishh.. kamu bilang apa sih Kang, wong saya tidak kemana-mana) sungutku


"Yoo...sopo ngerti mariki ono sing ngelamar terus diajak rabi Nduk"(yaa...siapa tahu nanti ada yang melamar terus diajak nikah Nduk) ucapnya dengan suara parau membuat aku semakin galau


Aku mengeryitkan dahi, mendengar penuturannya malah membuatku sedikit emosi


" Rabi...rabi...aku durung kepengen rabi Kang"(nikah..nikah.. aku belum ingin menikah Kang) sahutku dengan membentuk bibirku sedikit maju


Aku menyandarkan punggungku ke dinding, dan mengarahkan pandanganku ke samping.


'Bisa-bisanya dia berucap begitu, kenapa tidak sekalian saja dia yang melamarku.Haduhh ngomong apa sih aku' gerutuku sambil menepuk jidatku


'Tunggu, jangan-jangan Dia mengerti perihal perjodohanku' batinku dipenuhi tanda tanya seribu


"Ojo ngambul Nduk, aku kan cuma menebak tok"( jangan ngambek Nduk, aku kan cuma menebak saja)ucapnya sambil terus menatapku.


"Opo tak bantu cari kenalan,konco kuliahku akeh sing golek pasangan"(apa tak bantu carikan kenalan, teman kuliahku banyak yang cari pasangan)candanya disertai cekikikan


"Iih... Opo sih Kang, diomongi aku emoh, gak mikiri rabi, aku masih pengen nguber mimpi"(iih...apa sih Kang, sudah kubilang aku gak mau, gak memikirkan nikah dulu, aku masih ingin mengejar mimpi) cercahku semakin sebal.


Gurauanya ini tidak hanya sekali dua kali, Dia sering menjodoh-jodohkanku dengan Kang santri yang lain.Kadang dengan teman kuliahnya yang diajak ke pesantren untuk sekedar main.


Terlihat Dia mengulumkan senyum, mendengar ucapanku.Dia ingin berajak tapi kakinya sebelah tidak bisa berdiri tegak. Lalu memutuskan duduk di kursi lagi, sepertinya kakinya masih terasa nyeri.


"Opo oo Nduk, kan sok mben wis lulus Aliyah, diluk neh arep di wisuda.wis pas kan, terus nikah"( kenapa Nduk, kan besok lusa sudah lulus Aliyah, bentar lagi mau diwisuda. Sudah pas kan,terus nikah) katanya lagi yang membuat semakin resah di hati


"Yo sampean iku ae sing rabi Kang, kok malah ngongkon aku" ( Yo sampean saja yang nikah Kang, kok mlah nyuruh aku)ketusku bernada tinggi


"Kan bentar lagi sampean juga di wisuda, gelar sarjana malah"imbuhku lagi


Dia malah tertunduk.'Astaga apa ada yang salah dengan ucapanku.Duh sampean ini kenapa sih Kang, aneh sekali' gerutuku tak enak sendiri


"Engko gelang alite, dipake ning driji tengah ae yo Nduk, ojo driji manis"(nanti gelang kecilnya, dipakai di jari tengah saja ya Nduk, jangan di jari manis) titahnya sembari mengusap-usap mata


Aku memperhatikannya dengan seksama, sepertinya Dia sedang menahan bulir bening di pelupuk mata


"Memange kudu driji tengah ya Kang, lah nyapo lo" (memangnya harus di jari tengah ya Kang, lah kenapa lo) tanyaku tak mengerti


" Driji tengah iku tandane tanggungjawab, kasih sayange Kakang marang adik e. Driji manis iku kanggo nek wes oleh jodoh"(Jari tengah itu tandanya tanggungjawab, kasih sayangnya kakak kepada adiknya, jari manis itu dibuat kalau sudah dapat jodoh) ujarnya melihatku dengan memperlihatkan deretan gigi yang tersusun rapi disela gingsulnya


What


'Pengertian apa lagi yang kamu dapat Kang. Baru tahu aku sekarang.Jadi selama ini Dia menganggapku hanya sebagai adiknya, sebatas persaudaraan saja? Apa maksudmu Kang' benakku runyam,tapi aku segan mempertanyakan.


"Yoweslah .. matursuwun Kang" ketusku berterimakasih terus berlalu meninggalkan dia pergi

__ADS_1


"Hey Nduk... nduk" panggilnya yang tak kuhiraukan


Aku tak ingin berlama-lama bicara dengannya, apalagi di sekitar masih sepi,bisa di takzir aku nanti.


Aku berjalan menuju ke aula depan, kulihat masih sepi belum ada tanda-tanda santri kumpul disini


Aku duduk di pojokan, meraih bangku kecil yang biasanya di buat ngaji lesehan.sambil menunggu teman-temanku yang lain datang.


kubuka kitab fiqihku,betapa terkejut karena melihat di halaman pertama ada kertas kecil terselipkan.


'Kertas apa ini,kenapa ada disini. Perasaan siang tadi tidak ada apa-apa di kitabku fiqih' batinku


Kubaca pelan, kuperhatikan perlahan.Ini seperti sebuah lirik nyanyian


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


*Mandaneo yo senenge ati*Ketemu ring dino mburi*


*Gelang alit ring deriji*Ojo lali tumekane pati*


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Nyanyian lagu jawa, tapi sedikit berbeda bahasanya. Aku mencoba mencerna arti dari setiap lirik kata.


"Mungkin ini kertas yang diberi Kang Tirta bersamaan dengan cincin yang disebutnya Gelang Alit, tapi apa maksudnya" ucapku heran


Tiba-tiba Mbak Riana dan Mbak Ulfa datang, lalu duduk di samping kananku,dengan cepat aku memasukkan kertas itu ke saku bajuku.


"Mbak Ojah, rajin banget , wis teko ndisik i"( mbak ojah rajin sekali, sudah datang duluan) ucap Mbak Ulfa


"Nggih mbak, wau yang lain kan masih Isya'an, terus aku dewe disik an" ( iya mbak, tadi yang lain masih sholat isya,terus aku sendiri yang duluan) balasku


"Koyok e Ustad Yusuf mboten ndugi Mbak, nopo maleh Abah Yai tasek tindakan" (sepertinya Ustad Yusuf tidak hadir Mbak, apalagi kalau Abah Yai masih keluar) kata Mbak Riana


"Loh dereng kondur to Abah Yai Mbak"(loh belum datang ta Abah Yai mbak) tanyaku pada keduanya


"Nggih dereng lah mbak Ojah, kan tebih pondok e Gus Syam, butuh waktu pirang-pirang jam"(Ya belumlah mbak ojah,kan jauh pondoknya Gus Syam, butuh waktu beberapa jam) sahut Mbak Riana


Aku terdiam mendengar nama itu diucapkan.


Fiuh


Aku menyembulkan nafas di ujung jilbabku,membenahi agar pucuknya sejajar di wajah bulatku


"Nek Ustad Yusuf mboten ndugi, terus moderatore sinten Mbak" (kalau Ustadz Yusuf tidak datang , terus siapa moderatornya mbak) tanyaku lagi


"Aku Nduk" jawab seseorang yang baru saja datang dibantu dengan tongkat saat berjalan


BERSAMBUNG___________


Silahkan tinggalkan kritik dan sarannya ya kawan✌️


Tolong komentar nya dong😭biar makin semangat ngehalu, eh ngetiknya πŸ˜†


Selamat membacaπŸ€—

__ADS_1


__ADS_2