
TERMINAL JODOH
BAB 3
#Penasaran
🍂Aku tak ingin terlalu dalam, menyelami samudera angan. Jika nanti kenyataan tak sesuai harapan.Aku bisa menyelamatkan diri agar tak tenggelam🍂
Kulihat Dia berusaha bangkit,lalu duduk memposisikan punggungnya tetap bersandar
"Aarrggh" erangnya sambil menurunkan satu kakinya
Rupanya lututnya yang membiru itu membuatnya kesakitan.
"Berbaring mawon Kang, jika masih sakit. Jangan dipaksakan" ujar Aji
Tapi Ia masih bersikukuh ingin tetap bersandar tegap
"Wes tenang ae, Aku gak apa-apa. Besok juga pasti sembuh" ucapnya
'Apa?? luka serius begitu dibilang gak apa-apa. Ilmu kekebalan apa yang dia punya,luka berdarah kok sama sekali tak dirasa' batinku
"Jika luka di badan masih bisa kutahan" ucapnya sambil menyentuh perban yang sudah terbalut di tangan.
"Tapi luka di hati, sulit diobati" sambungnya lagi, lalu melirik kearahku sekilas dan menyunggingkan bibir ke atas
''Hah" Aku terperanjat, mencoba mencerna setiap kata yang baru saja Ia gagas
Benarkah itu yang dikatakan barusan? Aku tak percaya, Dia bisa berkata begitu, tapi mendengarnya kenapa Aku merasakan nyeri di ulu hatiku.
'Apa maksud dari ucapannya tadi, untuk apa Dia berkata seperti ini' batinku masih bertanya-tanya
Aji dan Arman malah tertawa menanggapi perkataannya. Siti menyenggol bahuku,seakan memberi kode bahwa ucapannya ditujukan padaku.
Kutelan saliva dalam-dalam, lalu membuang pandangan ke langit-langit ruangan.
'Kondisi seperti itu masih juga sempat melucu' rutukku
"Waduh,,sampean ini bisa saja Kang, jadi pinter berpuisi sekarang" Arman menanggapi sambil tertawa sampai bahunya ikut terguncang
"Widiiihhh,,, rupane ada yang patah hati iki" ujar Aji seraya merapatkan duduk disampingnya
"Patah hati,,,patah hati, wong aku cuma menirukan ucapan yang sering dikatakan banyak orang" protesnya
"Owalah, kirain sampean beneran patah hati Kang" kali ini Siti ikut menyahuti
Mendengarnya,aku makin kikuk. Bingung mau mengatakan apa. Aku hanya takut terbawa perasaan saja. Eh, tunggu! jangan Ge er dulu.Belum tentu ucapannya benar2 ditujukan padaku
"Loh,, pancen bener kan ucapanku tadi, lapo kok malah teko patah hati barang iki" jawabnya disertai bahasa medoknya
"Barangkali Kang,, patah hati mau ditinggal rabi" ungkap Siti lalu menutup mulutnya sendiri
Kusenggol bahu Siti, mengerlingkan mata agar bicaranya tak kebablasan.Kebiasaan lambe turahnya yang sulit dikendalikan, bisa2 terbongkar rahasia yang pernah aku ceritakan.'Dasar Siti' umpatku
"Loh, memange sopo sing kate rabi Ti" tanyanya pada Siti heran
"Anu Kang ituloh... Mbak Oo..Ooo"
"Ooalahh lali aku mau belum nyetrika baju Umik" langsung kupotong pembicaraan Siti
"Ayok mbalik ke rumah ndalem"ucapku menarik jemari Siti
__ADS_1
Saat mau mengajak beranjak, tiba-tiba Umik muncul dari belakang
"Ya Alloh,Tirta .Jare mari tibo, gak opo-opo to Le?" Tanya Umik terengah-engah lalu melangkah maju di dekatnya
"Nggih Mik, Alhamdulillah kulo Mboten nopo-nopo" jawabnya tegas supaya Umik tidak merasa cemas
Begitulah Umik, selalu merasa was was bila hal buruk menimpa anak muridnya, terlebih lagi yang mengalami adalah seorang abdi ndalem yang sudah Beliau anggap seperti putra kandungnya
Ahmad Tirta Nugraha. Santri putra kepercayaan Keluarga Abah Yai yang usianya 3 tahun lebih tua dariku.Hampir 10 tahun Ia mengabdi menjalani tugas yang dikerjakan sehari-hari.
"Mengaji,mengabdi, nderek Kyai sampai mati" Ungkapan itulah yang sering ku dengar darinya, seperti sudah menjadi prinsip yang ditanamkan di kehidupannya
Kepiawaiannya menjadi pengurus pesantren, sangat diandalkan.Disambi menyelesaikan kuliah yang tinggal beberapa tahap lagi gelar sarjana akan Ia dapatkan
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️____🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️____🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
"Kok iso to Le, tibo sampe babras bundas ngunu iku, lehmu numpak sepeda mau piye?" Kata Bunyai mengintrogasi
"Wau niku ngindari batu Mik, tapi malah merosot" jawabnya lalu menceritakan kejadian dengan sangat gamblang
Umik mengangguk mengerti, Beliau memperingatkan agar Ia lebih berhati-hati
"Tapi mau Seroja kok gak kondo nek kowe mari tibo Le" tiba-tiba Umik bertanya lagi
"Nggih Mik ,ngapunten.kulo supeh" jawabku singkat, aku tak ingin jika kekhawatiranku bisa terlihat oleh Umik
Aku berusaha bersikap biasa saja, sebisa mungkin menormalkan detak jantungku,agar kegugupanku tak ada yang bisa membaca
Mendengar namaku disebut, aku semakin merasa kusut. 'kenapa aku bisa lupa memberitahu Umik' batinku menyalahkan diri
Sebodoh inikah aku, rasa khawatir yang berlebihan malah membuatku sendiri tak nyaman.
"Umik wau disanjangi sinten?" tanyaku pada Umik dengan sedikit penasaran
Benar dugaanku,pasti Mbak Riana yang memberitahu
"Digowo ning klinik ae Ta, ben oleh obat" pinta Umik kepadanya
"Terus diurutno ben weruh nek onok sing cidera" sambung Umik lagi
"Mboten usah teng klinik Mik, mangke diurutkan mawon pon" Jawabnya terlihat sedikit nyengir, mungkin rasa sakitnya itu dirasa mulai hadir
"La nyapo ra gelem Le,ben ndang ketambanan kok"tutur Umik tak setuju Ia menolak diobatkan
"Saestu Mik, mboten usah teng klinik.Teng tukang urut mawon" pintanya menolak ajakan
"Diparingi betadine mawon pon garing piyambak mangke" terangnya lagi
"Iyowes, engko ben diterno Aji karo Arman"tukas Umik
"Nggih" balasnya menganggukkan kepala
Terlihat Umik mau melangkah pergi , tiba-tiba langkahnya terhenti
"Mbak Seroja, tolong pean ambil minyak gosok di rumah, digawe nambani sikile Tirta kui, ben ora aboh" Titah Umik melihat kearahku
"Ii.. inggih Mik" aku menjawab lalu berjalan mengikuti Umik dari belakang menuju ke rumah ndalem
Siti tak kuajak, kusuruh dia menunggu di ruangan itu.Biar lebih mempercepat waktu
Kuraih minyak gosok bertuliskan cap tawon di tangan Umik, aku pamit dan segera bergegas pergi
__ADS_1
Jarak rumah ndalem dengan ruangan tadi tak begitu jauh karena masih satu halaman dengan pesantren. Hanya butuh beberapa langkah untuk sampai di sana.Dulu menjadi Ruang kantor Guru Madrasah yang kini sudah disulap menjadi perpustakaan mini tempat para santri mutola'ah.
Saat hendak masuk ,aku mendengar mereka tergelak bersama.Sepertinya ketiga pemuda itu sedang bercanda dengan Siti
"Memange sopo Ti, sing mbok maksud mau, sopo sing arep rabi?" Tanya salah seorang dari mereka yang sangat ku kenali suaranya
Aku berhenti dan mendengar pembicaraan mereka di belakang pintu
"Emmm,,sopo yo kiro-kiro? Kepo ya Kang" ujar Siti sambil menunjukkan jari kearahnya
'Haduh Siti, jangan sampai dia keceplosan menceritakan perihal perjodohanku' batinku berkecamuk sedikit menahan amuk
Iya, kemarin aku sempat curhat ke Siti, mengenai hal itu. Ia adalah teman yang paling dekat denganku, selalu mengerti setiap keadaanku, meskipun kadang tingkahnya bikin meradang, dan mulutnya yang sulit di diamkan, tapi dia sangat baik juga lugu. Aku harap dia tetap bisa menjaga rahasiaku.
Belum ada yang tahu tentang perjodohanku ini, itu sebabnya di pondok masih adem ayem,tak ada gosip yang bertalu.Aku tidak bisa membayangkan jika hal ini sampai menguap ke permukaan, bisa bisa Aku menjadi sasaran bahan pergunjingan.
Kebanyakan para wanita ingin memiliki jodoh yang sempurna, baik itu secara dhohir maupun batinnya.Apalagi di gadang-gadang sebagai calon istri dari putra seorang Kyai, yang banyak dicita-citakan oleh para Santriwati. Karena sudah pasti garis keturunannya dari nashab yang tinggi
Tapi ada apa denganku, seolah Aku berat untuk berkata setuju.Entahlah, Aku sendiri pun tak tahu
__________________🌺🌺🌺🌺🌺🌺___________________
Aku segera masuk dan memberikan minyak gosok yang kubawa.Dia mengulurkan tangan mengambil botol minyak yang kusodorkan .Sedikit terkejut melihat kedatanganku secara tiba-tiba, terlihat dari raut mukanya dan membesarkan kelopak mata
"Ini Kang, minyaknya.Oleskan tipis -tipis mawon karena kalau terlalu banyak nanti kepanasan" Ucapku menjelaskan
"Suwon ya Nduk" balasnya disertai senyum manis dan aku yakin pasti berhasil membuat terkesan setiap orang yang melihatnya.
"Nduk" itulah kata panggilan yang disebutnya untukku. Suatu panggilan yang menurutku diistimewakan. Hingga Aku sendiri merasa sungkan.Aku sendiri pun tak tahu kenapa Dia memanggilku dengan sebutan itu.Karena yang kutahu Ia memanggil "Mbak" kepada teman-teman sebayaku atau diatasku dan hanya menyebut nama jika Ia memanggil teman yang usianya di bawahku, seperti Siti yang usianya 1 tahun lebih muda dariku.
Berawal dari saat pertama kali Aku masuk di pesantren ini.Dan masih jadi pelajar di bangku Madrasah Tsanawiyah.Belum terbiasa dengan suasana,Aku sering menangis jika ingat Bapak dan Ibu di rumah. Menyendiri di pekarangan belakang adalah caraku untuk mentralkan keadaan,karena merasa belum kerasan. Meski banyak Mbak mbak pengurus yang mencoba menghiburku.Tapi aku tetap ingin sendiri dulu
Dulu masih ada Mbak Arum, tapi karena kesibukannya melakukan tugas di rumah ndalem,hingga jarang menemaniku yang masih suka ngalem
🌸Aku masih ingat dengan jelas, bagaimana pertemuan pertamaku dengan Kang Tirta di samping teras.Sering terkikik sendiri jika aku mengingatnya kembali. Suatu hal yang menjadi memory dan masih membekas di ingatan ku sampai saat ini🌸
______________________________
"Ayo Sit ke asrama, luwe aku.Awakdewe kan durung sarapan.wis jam piro iki"ajakku pada Siti seraya melihat jam dinding yang terpajang di tembok tepat di atas lemari
"Oh iyo mbak.wis meh jam sepuluh, pantes wetengku koyo di tabuh" Sahut Siti sambil cengengesan dan memang dia tak bisa menahan rasa lapar
"Maem sing akeh,Nduk! Ben kuat menghadapi kenyataan" Ucapnya dengan kata andalannya
Begitulah Dia.hobi sekali merecoki
Namun nadanya kali ini sedikit berbeda, lagi-lagi aku tertegun dibuatnya.Sejenak aku melirik kearahnya. Kulihat netranya berkaca-kaca.
Kenyataan apa yang sudah diketahuinya. Ah,Semakin pusing kepalaku memikirkannya
Aku melangkah keluar, pura-pura tidak menghiraukan apa yang Dia ucapkan
"Nduk" Dia memanggilku lagi dan membuat langkahku terhenti
"Nopo Kang" Aku menyahuti, menoleh ke arahnya lagi
"Gak wes gak sido" ucapnya menunduk lalu tersenyum melihat ke arahku
"Hemmm,, mesti " balasku merasa sebal sendiri
Sikapnya sungguh aneh kali ini, yang biasanya ramah selalu ceria dan mengajakku bercanda.kenapa sekarang berbeda. Semakin membuatku penasaran tentang apa yang sedang Dia pikirkan.
__ADS_1
BERSAMBUNG___________