
Kutenteng kantong plastik putih bertuliskan logo mini market terkenal yang di dalamnya sudah berisi barang sesuai permintaan Umik Nyai. Segera kulangkahkan kakiku menuju halaman Pesantren. Derap kaki kupercepat sehingga membuat Siti kuwalahan mengikuti.
"Mbak Ojah alon alon to, cepet banget mlakune sampe arep kesrimpet aku ngetutne" protes Siti yang memang sedang memakai rok span hitam, hingga langkah kakinya tak bisa melaju beriringan
Berbeda denganku yang lebih suka dengan rok lebar, bentuk klok A atau klok setengah lingkaran, rasanya lebih leluasa saja jika dibuat berjalan, tidak sempit juga tidak mempersulit langkah yang bisa menyerimpit.
"Hehe,iyo iyo.Awakdewe kudu cepet maringno pesenane Umik iki, sopo ngerti Umik wis suwi ngenteni, ra penak aku" cercahku sambil melirik Siti yang hanya mangut-mangutkan kepala.
"Pean paringno nang Umik Mbak ,aku ngenteni nang njobo" kata Siti saat kami mulai menapaki teras.
Sambil membenahi jilbab warna hitam polos yang pinggirannya berlaser cut, jilbab trend santriwati masa kini.
Memasuki rumah ndalem kutemui Umik lalu memberikan roti tawar dengan selai sesuai permintaannya.tak lupa kuberikan pula recehan kembalian sisa belanjaan tadi.
"Matur suwun nggih Mbak Ojah, pean pun sarapan?" Ucapnya sambil membawa sepiring nasi yang mau Beliau makan.
"Dereng Mik, mangke mawon sareng kale lare lare"jawabku pelan
Setelah berpamitan keluar aku langsung menuju teras depan
Siti masih menunggu di sana, kulihat dia sedang mengaca di jendela sambil sesekali menarik ujung jilbabnya yang terlihat masih belum sejajar
'Dasar Siti, masih saja sempat dandan di situasi yang tidak memungkinkan' batinku
Hobi dandannya tak pernah dilewatkan,ia tak mau jika terlihat ada yang kurang dari penampilannya.Hingga kemanapun ia pergi selalu membawa kaca kecil yang diselipkan di dalamnya,ia tak pernah absen untuk berkaca, seolah tak ingin ada celah yang nampak di wajah tirusnya
Pernah suatu ketika mobil Abah Yai terparkir di halaman, waktu itu aku sedang jalan berdua dengannya menuju asrama, tiba tiba langkahnya terhenti tepat di sebelah mobil, dengan santai dia berkaca sambil membenahi jilbab dan mengelus wajah yang sedikit ditumbuhi jerawat.
Sontak kaget, karena mendadak kaca mobil terbuka,di dalamnya ada Abah Yai yang sedang duduk di kursi tengah.
"Astaga" ucapnya kaget dan langsung buru buru lari karena malu
Aku yang masih diam mematung di sampingnya tadi,hanya mampu mengulum senyum terpaksa menahan rasa malu yang ada. Kulihat Abah Yai juga tersenyum menanggapi ulah Siti.
Aku menunduk sambil melangkah mundur dan langsung berlari mengejar Siti. Sungguh pengalaman yang amat sangat memalukan dan menurutku juga kurang sopan.
Malah kudapati ia cengingisan di pojokan seolah merasa tak berdosa dengan ulahnya yang sudah keterlaluan.Kuharap itu hal terakhir yang ingin segera kuhapus dari ingatan.
__ADS_1
Untung saja Abah Yai adalah seorang yang begitu ramah, sangat memaklumi setiap kelakuan semua anak muridnya.Bersahaja dalam berbagai langkah, berwibawa dalam bertutur kata.
__________🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️____________
Kuraih tangan Siti dan kutarik sambil berlari kecil menuju sebuah ruangan.
"Aduh mbak, aku isih mbenakne kudung ikiloh" cerosos Siti saat berusaha menusukkan jarum pentul di bawah dagunya
"Wis engko maneh " jawabku singkat
Sesampainya di depan pintu kuhentikan langkahku,kulihat disana sedang terbaring lemah seorang pemuda yang sudah kukenal sejak awal masuk di pesantren ini.Tepat di kursi kayu jati dengan ukiran Jepara aku melihat Ia tergeletak tidak berdaya
Siku tangannya mengalir cairan merah, mengotori baju koko lengan pendek berwarna putih yang dipakainya.Kakinya pun terluka, lututnya membiru, betisnya tergores sehingga darahnya juga ikut menembus celah serat kain sarung batik Pekalongan yang dikenakan.
"Astaghfirullah,Kang. Pean gak apa-apa to, kenapa gak dibawa ke rumah sakit mawon" tanyaku yang baru saja masuk dan melangkah sedikit ke arah kursi
Kulihat sekitar, rupanya semua orang yang menolongnya sudah berlalu
"Ndak usah, saya ndak kenapa-kenapa, saya baik baik saja"jawabnya lirih agak terbata
Ada Aji yang membantu membersihkan lukanya dan mengobatinya dengan membalut perban serta meneteskan sedikit obat merah.Juga ada Arman yang memberinya air mineral di botol bertutup biru muda.
Seperti yang baru saja dialami oleh pemuda yang ada di hadapanku saat ini. Terjatuh dan terluka.Meskipun la sudah berhati-hati tapi yang namanya celaka tak bisa dihindari.
Untung saja waktu itu Aku dan Siti segera teriak meminta pertolongan, sontak para santri dan orang di sekitar yang melihat pun berdatangan memberi bantuan.
Sepeda yang ditumpangi menabrak gapura kecil di samping jalan, sedangkan tubuhnya terpental melesat menyapu aspal terjal.
Beruntung jalanan sedang sepi, tidak ada kendaraan lain yang melewati
Merasa kasihan dan tidak tega melihatnya kesakitan. Seolah ikut merasakan luka yang mengeluarkan darah berceceran.Aku memilih melangkah mundur, memberi sela agar pertolongan dari orang lain dapat segera terulur.
Banyak orang berkerumun, dan segera membopong tubuhnya menuju pelataran pesantren lalu membawanya menuju sebuah ruangan.
Saat aku ingin beranjak mengikuti mereka, Siti mencegah dan mengingatkanku akan sesuatu.
"Ayo ke minimarket disek mbak, wes akeh sing nulungi.Engko nek wes mari awak dewe gantian marani" ujar Siti yang kupikir juga ada benarnya
__ADS_1
Cepat cepat kami melangkah menuju mini market yang ada di ujung gang tepat di depan jalan raya
🌺🌺🌺🌺🌺----------🌺🌺🌺🌺🌺------------🌺🌺🌺🌺🌺
Luka menganga begitu dia bilang tidak apa-apa, sekuat itukah seorang laki-laki menahan sakitnya.
Sedangkan aku yang tergores pisau di ujung jari telunjuk beberapa hari yang lalu saja masih terasa ngilu sampai sekarang.
'Ah, lemah sekali aku ini' batinku merutuki diri sendiri
"Tapi lukanya lebar ngoten Kang, takut infeksi.Mungkin ada yang kesleo, itu lututnya juga sampai gosong. Dipijatkan mawon biar cepat ketolong" cerocosku panjang yang tanpa aku sadari membuat semua menoleh padaku
"Ciyee,ciyee khawatir ni yee.. ehemm ehemm,uhukk" spontan Siti berucap sambil terkekeh senang menggodaku
"Opo ae lo Sit," bissikku
Langsung kucubit pinggangnya, dan melotot ke arahnya.
"Aduh duh mbak sakit tau.." erangnya
Apa yang dikatakan barusan berhasil membuatku merasa sungkan, lebih tepatnya aku malu.
Aku yakin wajahku sekarang sudah memerah. Dasar Siti ingin rasanya aku membungkam mulutnya
Kulirik sekilas, Dia tersenyum melihat tingkahku dengan Siti
"Waduh Mbak Ojah, koyok e merasakan sakite pean pisan Kang" tiba tiba Aji ikut berceletuk seraya melihatku lalu bergantian melihat kearahnya
"Iyo Kang, koyok wes onok ikatan batin" sambung Arman, hingga mereka semua terkekeh bersama
Dia hanya menyunggingkan senyum menanggapi ucapan mereka, menarik kedua sudut bibirnya keatas,hingga menampakkan gigi gingsul yang selalu menghiasi wajah rupawannya.
"Aku kan cuma menyarankan, khawatir sithik wajar kan? wong sesama teman sendiri" jawabku nervous sambil menata debar aneh di dada
"Iyo to Kang" tanyaku padanya,agar dapat menutupi getaran yang kurasa
Terlihat dia mengganguk tanda setuju, sesekali menampakkan senyuman manis yang bisa kuartikan ada sesuatu.
__ADS_1
Atau hanya perasaanku saja yang salah mengartikan itu semua. Ah rasanya mungkin aku yang terlalu berlebihan..
BERSAMBUNG........