
Pembaca sekalian pasti masih asing dengan cerita horor Panguluh, cerita ini berdasarkan kisah nyata dari pedalaman Kalimantan Tengah tepatnya di Desa Sabuh, desa terpencil yang terletak di daerah aliran sungai Barito, kejadian itu terjadi pada tahun 1993 desa itu masih asri bahkan listrik belum ada kala itu penerangan hanya menggunakan lampu teplok minim lilin waktu itu bahkan alat transportasi pun masih didominasi kan oleh kalotok atau perahu mesin.
Sebut saja dia Pina usianya masih 17 tahun, ia baru saja menikah dengan seorang lelaki berasal dari Kota kecil Muara Teweh. Meskipun desa itu terpencil namun banyak pendatang disana karena desa itu tempat berlalu lalang proyek perusahaan kayu PT A*stral B*na. Sejak menikah Pina ikut suaminya tinggal di Basecamp yang jaraknya dari desa tersebut kira-kira 18 kilometer, bolak balik lah jika suaminya sedang berada di hutan dalam jangka waktu yang lama Pina akan pulang ke desa dan saat suaminya pulang melewati desa maka ia akan ikut lagi ke Basecamp bersama suaminya. Desa ini hanya memiliki satu jalur keluar masuk Kota yaitu sungai Barito tadi, jadi dengan masuknya perusahaan kayu tadi telah membuka jalur lain bagi warga sana yaitu jalur darat untuk menuju ke Kota. Mereka memang tidak punya kendaraan waktu itu tapi truk-truk atau bahkan logging yang lewat itulah yang memberi tumpangan para warga sana menuju Kota. Dan hari itu Pina sedang berada di Basecamp seperti biasa karena suaminya sedang berada di rumah, Basecamp tempat tinggal mereka sangat sederhana karena memang suaminya kerja dibagian survei hutan jadi berbeda jabatannya tentu berbeda fasilitas yang diberikan perusahaan. Tapi Pina tetap bersyukur gimanapun dia anak dari desa bisa mendapat rumah yang bagus dengan adanya penerangan lampu seadanya pun dia sudah merasa senang.
"Bang!" Begitulah panggilan Pina pada suaminya Ilham
"Aku rindu pengen pulang kampung." rengeknya dengan manja pada suaminya itu
"Besok, kalo ada tumpangan kita kesana ya." Di jawab demikian pun sudah cukup membuat Pina tenang dan tak merengek lagi minta pulang ya bagaimanapun Basecamp itu masih terasa asing bagi Pina karena dia baru beberapa bulan yang lalu menikah dengan suaminya Ilham.
Dan besoknya Pina sudah siap dengan tasnya didekat pintu saking begitu semangatnya dia akan pulang ke kampung suaminya bahkan belum menyiapkan diri.
"Udah siap-siap?" tanya Ilham saat melihat tas jinjing didekat pintu, Ilham baru saja bangun rambutnya pun masih belum turun.
"Siap siap, biar supirnya nggak kelamaan nunggu." tukasnya seraya berlalu ke dapur untuk membereskan segala urusan dapurnya. Ilham berjalan gontai mengikuti Pinake dapur, hari sudah menjelang siang Pina sudah duduk didepan rumah menanti mobil bak terbuka melewati depan rumahnya, disaat sedang menunggu itu Pina melihat seorang lelaki tua berjalan menuju rumahnya dengan membawa tas jinjing yang disematkan pada bahunya, Pina pun berdiri dari duduknya menelaah siapa gerangan pria itu, ia seperti tak asing dengan gaya jalannya.
__ADS_1
"Pina!" Panggil pria itu dengan jarak beberapa meter dari rumah
"Ada saudaramu yang meninggal dikampung!" Teriaknya
"Siapa Pak?"
"Saniah!"
"Saniah!" Ulang Pina seraya berlari menghampiri ingin menanyakan detail kabar yang dibawa pria tua yang berasal dari kampungnya tersebut.
"Meninggal kenapa Pak?" tanya Pina dengan begitu syok, Saniah adalah sepupunya anak dari kakak bapaknya Pina yang dimana Saniah ini memiliki riwayat penyakit ayan.
"Astaghfirullah!" Pekik Pina makin syok
"Ya sudah, Bapak lanjut lagi."
__ADS_1
"Iya Pak, hati-hati!"
Pina segera berlari kedalam rumah untuk memberitahukan Ilham.
"Bang, Kak Saniah meninggal karena tenggelam!" Ucapnya dengan nada cemas
Ilham yang tengah tiduran menunggu tumpangan itu pun segera terlonjak kaget
"Ya udah kita nunggu di pos aja, biar cepat dapat tumpangan!" saran Ilham yang langsung diiyakan oleh Pina, ia tergesa gesa mengambil tas dan mengunci pintu rumah, untunglah jarak dari pos ke rumah tak terlalu jauh hanya dengan berjalan kaki saja mereka sudah sampai, dan memang kebetulan ada logging kosong yang akan berangkat melewati kampungnya Pina. Dengan segera Ilham meminta izin untuk menumpang bersama istrinya kepada supir, dan karena logging sedang kosong tanpa muatan jadi mereka diperbolehkan ikut. Setengah jam kemudian mereka tiba di kampung rumah Kakaknya sudah dikerumuni warga yang datang melayat. Pina segera masuk ke dalam rumah duka yang sudah tampak penuh anak-anaknya menangis disamping jenazah sang ibu yang sudah terbujur kaku diselimuti kain kafan. Pina yang baru datang pun ikut menenangkan Lili dan Ledi anak Saniah dan satu lagi anaknya baru berusia tiga tahun anak itu tak mengerti apa yang terjadi pada Ibunya, seketika air mata Pina tumpah saat melihat si kecil Eka yang dengan polosnya duduk didekat kakak-kakaknya. pemakaman akhirnya dilaksanakan siang itu Isak tangis keluarga membanjiri kuburan terutama anak anak dan adik adik Saniah tak terkecuali Pina yang sedari kecil selalu bermain bersama dan Saniah dikenal sebagai anak yang pendiam dan ceria tak ada cela di wanita itu. Ia selalu baik kepada siapapun, hingga acara pemakaman selesai semua keluarga berkumpul di rumah panggung besar, Pina yang rumahnya tak jauh dari sana pun memutuskan untuk menginap dirumah itu untuk menemani Melati adik Saniah yang seumuran dengan Pina dan mereka cukup akrab.
"Andai saja aku nggak sibuk main, Ibu nggak akan tenggelam sendirian!" gumam Ledi anak kedua Saniah yang baru berusia 7 tahun, ia kembali menitikkan air mata, air mata itu bahkan menjatuhi piring nasi yang ada dihadapannya.
"Kamu benar, andai aja aku nemenin Ibu turun ke sungai." tambah Lili ikut sedih
"Nggak boleh gitu, semua itu udah jadi ketentuan Allah, nggak usah disesali! Kirim saja doa yang banyak buat Ibu biar dia senang di alam sana." cerita Pina berusaha menghibur mereka
__ADS_1
"Makan yang banyak, jangan sedih nanti Ibu kalian ikut sedih ngeliat kalian sedih." tambahnya lagi berusaha menyuapi sikecil Eka yang tak banyak bertanya ada apa dengan kedua kakaknya, Lili dan Ledi mulai mengambil nasi dan memakannya. Sore beranjak gelap, suasana desa sudah sangat sunyi padahal baru memasuki jam 6 sore rumah-rumah sudah terkunci rapat hanya ada obor yang menyala didepan rumah beberapa warga, karena tak ada penerangan lain selain obor jadi desa itu tampak sangat mencekam belum lagi ada yang baru meninggal tanah kuburannya masih basah, orang-orang sana seperti sudah hafal apa yang akan terjadi jika malam menyapa setelah adanya orang meninggal. Tak sedikit anak-anak yang selalu bercelutuk jika sudah sore hari,
"Ayo pulang udah sore, nanti ada hantu!" kata kata itu bukanlah celutukan biasa anak-anak tapi itu memang benar adanya jika hari sudah menjelang Maghrib anak-anak akan berlarian masuk ke rumah, apalagi jika ada yang baru meninggal.