TEROR PANGULUH

TEROR PANGULUH
Dikejar Kuntilanak


__ADS_3

Kisah ini terjadi di tahun 1990 an, sebut saja namanya Lifah seorang perempuan asli suku Dayak yang berparas cantik kulitnya putih kekuningan matanya sipit dan rambut yang panjang bergelombang kala itu Lifah adalah primadona desa yang mana banyak sekali pria pria yang mengincarnya hingga tak heran sebelum usianya genap 20 tahun Lifah sudah menikah dengan seorang pria desa yang usianya lebih tua darinya, dan karena faktor usia muda itu juga yang membuat Lifah dan suaminya sering cekcok hingga akhirnya mereka bercerai tanpa sempat memiliki anak, jadi Lifah ini berstatus janda kembang saat itu. Berkat kegagalan rumah tangga itu Lifah menjadi trauma untuk menjalin hubungan pernikahan lagi meskipun banyak pria desa yang ingin mempersunting dirinya, ia lebih memilih menolak dan hidup dengan Ibunya yang hampir berusia 60 tahun dan kebetulan Ibunya juga janda karena ayahnya sudah lama meninggal dunia, untungnya Lifah memiliki banyak saudara sepupu lelaki jadi ia dan Ibunya tak merasa kesulitan saat akan membangun ladang ditengah hutan karena saudara saudaranya itu dengan sigap membantu mereka berdua membuka lahan untuk menanam padi, dan untuk kita ketahui orang sana itu berladang tidak disatu tempat saja tapi berpindah pindah tahun ini di lokasi ini tahun depan di lokasi lain yang jaraknya pun bisa jauh bisa dekat dari desa. Dan di tahun itu Lifah dan Ibunya meskipun mereka berdua ini perempuan tapi mereka tetap membuka lahan baru dibantu saudara saudaranya tadi dan orang di Kalimantan itu berladang nya setahun sekali ya guys nggak tiap tiga bulan seperti disawah.


"Kayaknya aku harus balik ke desa deh Bu, persediaan kita udah menipis." ucap Lifah yang tengah memasak malam itu dibaliku atau jika di Jawakan itu Pawon.


"Kapan?"


"Besok lah, besok kan Jum'at, Lagipula keluarga Pak Basir besok pulang ke Desa bisa bareng mereka."


"Lalu balik kesininya sendiri?"


"Iyalah."


"Emang kamu berani?"


"Siang siang masa takut, sih Bu! Lagian udah biasa kan aku bolak balik kesini."


"Kamu perempuan jalan sendirian lagi, bukan hantu aja yang seram di dunia ini." Ucap Ibunya memberi petuah


"Aku berani kok, Bu. Aku bawa Mandau* kemana mana." Ucapnya cukup tenang


Keesokan harinya tepatnya sebelum sholat Jum'at Lifah dan keluarga Pak Basir yang kebetulan ladangnya berdekatan dengan Lifah pulang untuk menunaikan sholat Jum'at dan memang mereka sudah selesai menanam padi jadi waktunya mereka untuk pulang ke desa dan akan kembali lagi beberapa Minggu ke depan sekedar menjenguk tanaman. Mereka menyusuri jalan setapak yang mana kiri kanan mereka hanyalah semak semak dan pohon pohon besar menjulang tinggi menghalangi cahaya matahari yang bersinar cerah pagi itu.

__ADS_1


"Nanti balik kesininya sendiri Fah?" tanya Bu Basir


"Iya Wa." Panggilan Lifah kepada Pak Basir dan Bu Basir


"Berani sendirian?" tanya Pak Basir yang paling belakang sambil membawa beberapa kayu bakar dan sayur di tas Bisan tas rotan khas orang Dayak


"Ngapain takut siang siang gini, lagian kan kamu udah sering bolak balik sini kan?" jawab Bu Basir tanpa sempat Lifah menjawabnya, Lifah hanya mengangguk


"Tapi biasanya kan kamu bareng Ibumu, atau nggak sama Dayat." timpal Pak Basir karena memang Lifah jarang berjalan sendiri ke ladang paling tidak dia berjalan bersama dengan Ibunya, ini memang kali pertama dia jalan sendiri ke ladang nanti. Ia sudah memantapkan hati kali ini, ia tak tega harus mengajak Ibunya yang mulai tua itu untuk keluar masuk hutan jadi dengan segenap keberaniannya dia membulatkan tekad. Setelah satu jam lebih berjalan kaki merek tiba di desa tanpa berlama-lama Lifah segera pergi ke warung membeli keperluan dapur dan setelah sholat Jum'at selesai Lifah mulai berjalan kembali ke ladang seorang diri, ia sudah membekali dirinya dengan Mandau yang diikat di pinggangnya. Lifah mulai memasuki jalan setapak menuju ke ladang jadi dari desa menuju ke jalan setapak itu sekitar satu jam dan menelusuri jalan setapak memasuki hutan sekitar setengah jam dan saat memasuki jalan setapak yang basah itu Lifah mempercepat langkahnya dan berusaha tak mendengarkan suara suara dari semak semak yang berada di kiri kanan jalan. Sayup sayup Lifah mendengar suara berisik seperti ada beberapa orang yang tengah mengobrol di tengah semak sepanjang dia berjalan, Lifah menghentikan langkahnya dan mulai menengok ke kiri dan ke kanan dimana sumber suara berisik itu mengikutinya hanya senyap tak ada suara apapun selain suara jangkrik dan binatang serangga lainnya Lifah kembali melanjutkan perjalanannya dan suara obrolan itu kembali terdengar dan Lifah lagi lagi berhenti dan memutar kepala melihat situasi disekitarnya lagi lagi sunyi Lifah mulai berpikir macam macam tapi masih berusaha tenang melangkah dan suara itu kembali terdengar suara obrolan yang bahkan tak jelas biji katanya itu seperti mengikutinya sedari tadi Lifah berhenti dengan mendadak kali ini dan suara itu menghilang lagi, kali ini kesabarannya sudah habis


"Siapa disana? Jangan coba coba nakutin ya! Aku nggak takut!" Serunya dengan nada menantang, Lifah berpikir jika ada salah satu saudaranya yang sengaja menakuti dirinya dari balik semak semak. Suara berisik itu hilang dan berganti dengan suara perempuan tertawa cekikikan semakin lama tawa itu semakin keras dan melengking menggetarkan gendang telinga yang mendengarnya Lifah hanya celingak-celinguk mencari sosok yang tertawa melengking itu dan suara itu tepat berada di atas kepalanya Lifah pun mencoba memberanikan diri menengok ke atas namun ia tak melihat wujud yang menertawai dirinya itu, dan dari situ Lifah sadar bahwa dirinya sedang berhadapan dengan makhluk usil berambut panjang dan berkuku tajam siapa lagi kalau bukan Mba Kunti. Dan ada mitos yang beredar disana jika kita tak boleh kalah atau pingsan saat mendengar suara tawanya yang melengking keras itu, jika kita pingsan maka mereka akan menjilat kita dan efek dari jilatan itu bisa mengakibatkan kelumpuhan hingga berujung pada kematian, karena ini benar-benar pernah terjadi dimana waktu itu Author masih SD dan ada anak kecil yang sedang sakit keras malam-malam ditinggal sama Ibunya sendirian dirumah Ibunya ini kemana? Nonton tv di rumah tetangga anaknya ditinggal lagi sakit sendirian dirumah dan ketika dia balik dari rumah tetangganya itu dia mendapatkan anaknya tengah berbaring diteras belakang rumah dalam keadaan terbaring lemas dengan baju yang basah berlumuran lendir tapi kejadian itu tidak terlalu dipercayai masyarakat karena tak ada bukti bahwa anak itu benar-benar dijilat Mba Kunti oke kembali ke Lifah. Di tengah rasa takut dan penasaran menjadi satu Lifah langsung berlari sekencang dan sekuat tenaganya suara tawa cekikikan itu masih mengikuti Lifah yang lari terbirit bincit ketakutan itu sampai akhirnya dia tiba dipinggir ladang ia langsung berlari menuju Ibunya yang tengah menanam jagung ditengah ladang seluas lapangan sepak bola itu, Lifah langsung terduduk di dekat Ibunya dengan nafas tersengal


"Kenapa kamu?" tanya Ibunya heran melihat kedatangan Lifah yang tergepoh dari dalam hutan


"Dikejar cewek yang kukunya panjang!" Serunya dalam sekali tarikan nafas, Lifah akhirnya menyadari bahwa suara tawa cekikikan itu sudah hilang saat dia memasuki area ladang mereka setelah sebelumnya dikejar oleh tawa nyaring yang membuat gendang telinganya bergetar.


Ibunya lantas mengarahkan pandangannya ke arah hutan lebat dimana Lifah keluar tadi tampak kosong tak ada apapun yang mengikutinya, suara itu bagai hilang terhembus angin.


"Kamu liat?" tanya Ibunya lagi


"Nggak ada, cuma suaranya ketawa aja Bu mekik banget sampe sakit telinga Lifah."

__ADS_1


"Ya udah ayo kita balik ke gubuk dulu." Ibunya segera memapah tubuh Lifah menuju gubuk tempat mereka bermalam.


"Kamu nggak baca doa?"


"Ya Allah, Bu boro boro ingat doa, ingat lari aja udah syukur ... suara ketawanya naudzubillah."


Sayup sayup Lifah mendengar suara tawa itu lagi namun tak sekeras sewaktu didalam hutan. Ia langsung memegang tangan Ibunya dengan ekspresi ketakutan.


"Itu suaranya Bu!" bisik Lifah gemetaran, baru kali ini dia merasa begitu ketakutan sampai tangannya bergetar ia mulai meringkuk sambil berusaha menutup telinganya seperti orang stres. Ibunya yang melihat anaknya demikian pun mulai merasa jengkel dengan makhluk tersebut ia pun terdiam sambil hatinya melafalkan ayat ayat suci dan beberapa menit kemudian suara itu lenyap bagai ditelan bumi. Lifah melepas kedua tangannya yang menempel di telinganya


"Hilang Bu!"


"Udah hilang!" ulang Ibunya begitu enteng


Lifah memalingkan kepalanya mengecek lagi apakah suara itu benar benar hilang


"Ibu nggak takut?"


"Ibu udah biasa dari kecil diganggu mereka, makanya Ibu selalu bawa daun jeruk nipis kalo ke hutan ... lagian kamu kan hafal ayat kursi kenapa diam saja nggak dibaca."


"Takut banget Bu, nggak sempet mikir ayat ayat."

__ADS_1


Jadi di Suku Dayak itu jika Anda lelaki bujang ataupun beristri kalo masuk hutan mereka minimal bawa daun jeruk sebagai penangkal si Kunti karena menurut mitosnya Kunti nggak suka nyium aroma daun jeruk dan satu lagi yakni upih, atau pelapah kering dari daun pinang yang layu biasanya pelepah ini disematkan pada sarung Mandau sebagai penangkal juga karena Kunti tak suka dengan pelepah daun pinang dan sejauh ini dua barang itu memang manjur mengurangi gangguan kunti. oke sekian dulu cerita kita sampai jumpa next episode!


__ADS_2