
Kisah ini berasal dari kejadian nyata yang dialami oleh sebut saja namanya Isah di Desa Sabuh, masih pada waktu yang sama namun kali ini Author tak tahu detail tahunnya yang pasti sekitar tahun 70-an yang mana rumah-rumah orang masih sangat jarang dan untuk membeli keperluan sehari-hari warga desa harus mendayung perahu kecil atau biasa disebut Klotok menyusuri anak sungai Barito untuk menuju kota kabupaten yang jaraknya jangan ditanya jauh sekali, di jaman sekarang aja naik Speedboat kira-kira jarak tempuhnya satu jam kalo pake perahu motor sekitar dua jam dan kalo pake perahu dengan tenaga manusia kalian pikir aja tuh berapa kilo jauhnya. Nah jadi Isah adalah seorang janda punya tiga anak gadis yang pertama Siti masih lajang, yang kedua Imah masih lajang juga dan si bungsu Inayah yang kala itu masih berusia 15 tahun. Siang itu Inayah baru pulang sekolah dan seperti biasa pulang sekolah dalam keadaan perut keroncongan ia langsung menuju dapur untuk mencari makan, saat membuka tudung saji ia hanya mendapat nasi tanpa ada lauk disana seingatnya tadi pagi masih ada banyak ikan yang mereka dapatkan dari memancing.
"Ikannya mana?" Teriak Inayah dari dapur
"Habis!" sahut Imah dari samping rumah ia sedang memberi makan ayam disana
"Kok habis?" Seru Inayah dengan sedikit manyun dari jendela rumah panggung itu menengok ke Imah yang tengah berada disamping rumah
"Aku kan udah bilang minta ditinggalin buat pulang sekolah!" Ungkapnya dengan suara bergetar hampir menangis menahan lapar
"Disungai masih banyak ikan, gitu aja nangis!" ucap Imah setengah meledek
"Kamu emang gitu, nggak seneng sama aku makanya kamu habisin." Gerutu Inayah sambil menangis Imah hanya geleng-geleng kepala tak peduli
"Mulai lagi." gumam Imah tak peduli Imah dan Inayah memang yang paling sulit untuk akur karena memang Imah itu cuek orangnya dan Inayah yang anak bungsu begitu begitu dia meminta maka Ibunya akan segera mengabulkan keinginannya dan sifat manjanya itu pula yang membuat dia dan Imah tak pernah akur, karena Imah suka menggurui dirinya jika sedang merengek pada Ibunya. Inayah dengan perasaan kesal turun ke ****** jadi ****** dalam artian suku Dayak itu kayu yang rakit jadi satu lalu dibangun bilik kecil diatasnya untuk mandi dan berak jadi kayu yang dirakit itu dikasih alas papan untuk mencuci baju atau mandi dan biasanya juga menjadi tempat berlabuhnya sampan dan Klotok. Inayah duduk menghadap ke sungai melihat air sungai yang saat itu sedang surut sambil hatinya ngedumel menyumpah serapah. Entah seperti apa dongkolnya Inayah kepada Imah sehingga terlintas dikepalanya untuk pergi ke kota dengan mendayung sampan yang masih terikat disisi ******, ia berniat membuat kapok Imah karena telah menghabiskan makan siangnya ia ingin pergi ke rumah bibinya di kota yang jaraknya begitu jauh dan dengan nekadnya Inayah mulai melepas ikatan sampan dan mulai menaiki sampan sedikit demi sedikit sampan bergerak terbawa arus sungai Inayah mulai mendayung pelan sampan menuju kota. Menjelang sore Ibunya Isah pulang dari ladang bersama kakaknya Siti.
"Adikmu mana?" tanya Isah pada Imah yang sedang duduk didepan tungku api sedang memasak nasi
"Nggak tau." jawab Imah begitu enteng, ia memang tak tau kemana Inayah pergi sejak mereka ribut tadi
__ADS_1
"Udah sore ini, coba kamu cari dia." Perintah Isah yang segera dilaksanakan oleh Imah
Tak beberapa lama Imah sudah kembali ke rumah
"Nggak ada Bu."
"Kemana dia?"
"Ya mana tau aku." jawab Imah begitu judes dan bodo amat, Isah mulai curiga kalau ada cekcok antara dua anaknya itu hingga membuat Inayah tak ada dirumah, karena ini bukan kali pertama Inayah ngambek dan keluar dari rumah tapi tak ada yang menyangka pula dia akan nekad pergi ke kota hanya dengan sampan. Isah akhirnya beranjak dari duduknya untuk mencari Inayah sendiri
"Kamu bertengkar lagi sama Inayah?" tanya Siti pada Imah saat ibu mereka sudah pergi mencari Inayah
"Gimana Bu?"
"Ada yang melihat dia naik sampan ke arah kota."
Isah langsung bergegas masuk ke rumah sementara Imah mematung ditempatnya berdiri, ia tak menyangka kalau Inayah senekad itu.
"Ibu mau kemana?" tanya Siti saat melihat Ibunya mulai mengambil lampu teplok dan mengambil lagi tas kecil yang biasa dibawanya jika pergi ke ladang, disusul Imah yang masuk dengan wajah cemas
__ADS_1
"Ibu mau menyusul Inayah."
"Aku ikut!" Imah dengan cepat menyusul Ibunya turun ke sungai, perlahan-lahan sampan Isah dan Imah meninggalkan ****** untuk menyusul Inayah. Tak terbersit takut dan apa dikepala Isah saat pergi sore itu sama halnya dengan Imah yang diselimuti perasaan menyesal karena telah membuat cemas Ibunya, disisi lain ia juga merasa dongkol dengan Inayah yang pergi begitu saja membuat kegaduhan dirumah. Hari sudah mulai gelap lampu teplok sudah menyala tapi tak cukup kuat menerangi jalur sungai yang besar. Beberapa serangga dan binatang kecil mulai berbisik di semak semak pinggir sungai, pohon pohon tinggi membuat kesan hutan lebat yang penuh misteri didalamnya. Imah mulai diserang rasa takut, Isah masih mendayung di ujung belakang sampan sementara Imah mendayung di depan. Pikiran Imah mulai menghantui dirinya sendiri hawa yang terasa begitu dingin belum lagi suasana sunyi sepi sungai yang dikelilingi hutan lebat hanya suara serangga dan suara dayung yang membelah air yang nampak jelas terdengar di telinganya.
"Bu gimana nih? Udah mulai gelap!" tanya Imah yang merasa dirinya sudah tak sanggup melanjutkan perjalanan itu.
"Jalan aja terus, kasian Inayah sendirian ... Ibu takut dia kenapa napa!"
Berbekal cahaya remang-remang rembulan Isah dan Imah melanjutkan perjalanan mereka, hingga tiba ditengah malam sekitar jam 12 malam suasana hutan semakin mencekam udara pun semakin dingin Isah dan Imah masih mendayung dengan sisa tenaga mereka, dan kira-kira saat itu mereka sudah mendekati kota namun dengan jarak yang tidak pasti berapa mil lagi karena narasumber cerita asli ini sudah meninggal beberapa tahun silam. Dari kejauhan Isah melihat ada cahaya lampu obor didalam hutan dan samar-samar juga Isah mendengar ada suara tumbukan lesung padi yang biasa masyarakat jaman dulu gunakan untuk memproses padi menjadi beras
"Sepertinya ada ladang orang disana! Kita mampir kesana sebentar untuk istirahat." Ucap Isah pada Imah yang sedari tadi diam membisu menahan rasa takutnya.
"Iya Bu." Mendengar ucapan Ibunya itu Imah mulai sedikit tenang karena mereka akan melewati ladang orang dipinggir sungai yang artinya pasti ada gubuk kecil tempat mereka menunggu kebun diladang itu, dan dia juga sudah mulai mengantuk dan pegal karena sedari tadi mengayuh sampan. Semakin dekat ke arah cahaya obor tadi tiba-tiba cahaya itu menghilang dan suara tumbukan padi itu pun ikut menghilang padahal Isah yakin mereka sudah dekat menuju cahaya tadi, dan sampan mereka berhenti Imah dan Isah mencoba mengayuh dayung namun sampan masih belum bergerak, Isah mulai melihat keadaan sekitar dengan lampu teplok nya tak ada tanda-tanda sampan tersangkut Batang kayu dan kondisi debit air dalam keadaan stabil tidak surut jika dalam keadaan surut kan sampan biasanya suka nyangkut di batu atau diranting pohon yang nyembul dari dalam sungai. Ditengah kepanikan Isah dan Imah dari belakang sampan Isah melihat ada sesuatu berenang mendekati sampan mereka karena panik Isah pun menyuruh Imah untuk mendayung,
"Dayung Mah." Teriak Ibunya membuat Imah tak kalah paniknya bahkan saking paniknya dagingnya sempat nyebur ke sungai dan dengan cepat Imah menggapainya. Isah masih memperhatikan apa gerangan yang mendekati mereka, munculah sesosok tangan besar berbulu dari dalam air berusaha meraih sampan yang mereka naiki sontak wajah Isah langsung memucat dan sekuat tenaga mengayuh dayung namun nihil sampan masih belum bisa bergerak, Isah mencoba membaca ayat kursi namun sayangnya ia tak ingat yang keluar dari mulutnya hanyalah kata Kursyi
"Kursyi! Kursyi! Kursyi..." teriak Isah berusaha melafalkan ayat kursi ditengah kepanikannya itu, tangan besar hitam itu masih berusaha meraih sampan mereka. Isah makin lantang meneriaki kursi sekalipun tak ada ayat yang keluar dari mulutnya berkat kekuatan dan keyakinan hatinya mengingat Allah perlahan-lahan sampan mulai bergerak menjauh dari sana membawa Isah yang masih menyebut kursi itu. Kata kursi itu terus diucapkan Isah sampai mereka tiba di kota setelah satu jam mendayung dengan sekuat tenaga, Isah dan Imah tergopoh-gopoh mereka laku menyandarkan sampan pada tepian ****** yang entah siapa pemiliknya yang jelas kelap kelip lampu di kota sudah membuat mereka sedikit tenang, Imah terduduk di ****** sambil masih terengah begitu pula Isah. Sampai ketika benar-benar menjelang sholat subuh Isah dan Imah kembali melanjutkan perjalanan menuju kota yang sudah diujung mata.
Sesampainya dirumah adiknya benar saja Inayah ada disana masih tertidur karena dia pun baru saja sampai dikota, Isah langsung menceritakan kejadian yang mereka alami kepada adiknya, dan Inayah juga sempat ketakutan saat dijalan karena walaupun siang hari anak gadis menaiki sampan sendirian ditengah hutan bayangin aja sebelah sebelah hutan semua tapi bedanya dia hafal ayat kursi jadi dia membaca ayat kursi sepanjang jalan menuju kota sehingga dia tidak mengalami gangguan seperti Imah dan Ibunya, keluarga Isah pun begitu tegang mendengar cerita dari Isah namun diakhir cerita mereka semua tertawa karena Isah yang lupa akan ayat kursi dan hanya melafalkan Kursyi saja.
__ADS_1
Oke sampai sini dulu cerita kita bagi teman teman yang mau ceritanya kita up di serial ini kalian bisa kirim cerita yang pernah kalian alami ke email miramirel13@gmail.com terima kasih