TEROR PANGULUH

TEROR PANGULUH
Rintihan Bawah Rumah 2


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam anak-anak dirumah itu sudah tertidur pulas, tinggalah mereka yang tua-tua masih asik berbincang meski situasi diluar rumah mencekam tapi suasana rumah panggung besar itu masih ramai obrolan, Pina pun belum merasakan kantuk ia masih berbincang bersama Melati, hingga suasana mulai sunyi para saudara lelaki sudah mulai merebahkan diri di atas kasur yang sengaja digelar secara berjejer, dan lagi rumah itu tidak memiliki kamar jadi luas tanpa sekatan bilik apapun, Pina yang sekasur dengan Melati masih sibuk bercerita karena memang sejak Pina menikah mereka jadi jarang bertemu, dan setelah bertemu mereka dihanyutkan oleh cerita-cerita dari masing-masing keduanya. Sampai ketika Pina mendengar suara dari bawah rumah tepat dimana bekas jenazah tadi siang dimandikan sayup-sayup ia mendengar suara obrolan yang tak jelas biji katanya, Pina pun reflek terdiam ia dan Melati saling tatap. Melati pun mendengar jelas ada suara langkah kaki menyusuri samping rumah mereka suara rintihan dan gumaman yang terus terdengar dari bawah rumah bekas memandikan jenazah. Pina dan Melati mematung, dengan jantung yang berdebar-debar keringat dingin mulai mengucur dikedua pelipis wanita itu. Tak tahan dengan suara rintihan dan tangisan itu Melati pun nekad membangunkan orangtuanya yang berada di sebelah mereka


"Bah! Suara apa itu?" tanya Melati setengah berbisik dengan suara bergetar ketakutan karena rintihan itu terdengar begitu jelas. Si Abah pun terbangun


"Nggak pa-pa tidur saja, jangan lupa baca doa!" Perintah si Abah dengan suara seraknya yang sudah tua, Melati kembali merebahkan dirinya disamping Pina yang juga takut mendengar suara itu


"Itu Panguluh!" Terdengar suara Kakak laki-laki Melati, Udin yang juga berada disebelah mereka.


"Aku lupa menyiram air Yasiin dibawah tempat pemandian jenazah, besok aja disiramnya!" Ucapnya dengan suara lantang seakan menantang makhluk yang sedang menakuti mereka, Udin adalah Kakak kedua Melati ia terkenal dengan keberaniannya, ia pernah bersekolah di pesantren namun tak sempat lulus karena dia keburu pergi dari pesantren karena alasan tak betah, namun ilmu dari sana masih dia amalkan sehingga membuat dia tak ada takutnya dengan makhluk tak kasat mata.


Setelah mendengar ucapan Udin tadi tiba-tiba makhluk yang mengganggu mereka itu tak bersuara lagi hilang bagai mengerti bahwa dia akan diberi doa jika tak pergi dari kolong rumah itu akhirnya mereka bisa tidur dengan nyenyak hingga pagi menyapa mereka.


Pagi itu Pina langsung pulang ke rumah orangtuanya yang berseberangan dengan rumah Melati, ia langsung menceritakan pada Mak dan Abahnya tentang yang didengarnya tadi malam.


"Harusnya pas siang disiram air Yasiin supaya dia nggak datang!" komentar Abah Pina yang sudah beruban itu

__ADS_1


"Mungkin Udin lupa, kemaren orang pada sibuk. Nggak ada juga yang ngingetin." tambah Maknya.


"Yang penting kalo mau tidur jangan lupa baca doa, jangan asik cerita aja. Panguluh emang seneng kalo ada yang begadang malam-malam."


Pina bergidik merinding jika mengingat suara rintihan dan tangis tadi malam, malam ini pun dia tak mau lagi tidur di tempat Melati. Pukul 4 sore Pina ikut bermain kelereng bersama anak anak sana dan 3 adik laki-lakinya yang juga ikut bermain bersama, adiknya bermain mereka sampai lupa waktu sudah memasuki pukul 5 sore, jadi tradisi orang Dayak yang beragama Islam, jam 5 itu adalah jam yang sangat tabu untuk anak-anak berada diluar rumah karena itu waktu menjelang Maghrib anak anak tidak boleh lagi keluar rumah jika sudah sore, tradisi ini masih dipakai hingga zaman sekarang ya readers karena di Kalteng sendiri itu masuk wilayah WIB lebih cepat 15 menit dari waktu WIB Jawa, jika biasanya dipulau Jawa Maghribnya jam 6 pas kalo diKalimantan itu Maghribnya jam 5.45 menit. Bukan cuma anak kecil sih orang dewasa juga nggak disarankan keluar sebelum jam Maghrib karena memang banyak kejadian yang diluar nalar jika tidak mematuhinya, misalnya nih ya yang pernah Author alami sewaktu jalan-jalan naik motor trus pulangnya kesorean hampir Maghrib lah udah, trus malemnya sodara aku ini sakit perutnya terasa nyeri gitu kan diolesin minyak angin nggak sembuh dibawa makan masih nyeri pokoknya udah berobat kesana kemari masih sakit, akhirnya orangtuanya membawa dia sampe ke dukun terkenal dan apa yang ditemukan dukun diperutnya sejempol balok kayu, balok kayu seukuran jempol gitu loh nancep dilambungnya dan emang setelah dibuang ajaibnya langsung sembuh dan apa kata dukunnya kamu pasti pernah keluar Maghrib-maghrib kan? Dan setelah itu kami nggak berani lagi keluar rumah apalagi jalan-jalan kalo udah mau jam Maghrib. Lanjut!


Pina pun duduk didepan rumah setelah asik bermain bersama memantau adik-adiknya yang masih asik bermain, dan entah dari mana datangnya seekor kerbau berlari menembus kerumunan anak-anak yang sedang bermain tadi karena kaget Pina pun berteriak dari depan rumahnya


"Awas ada Kerbau! Minggir?" Teriaknya


"Iya!"


Ketika Pina menoleh lagi ia sudah tak melihat lagi Kerbau besar yang sedang berlari menembus kerumunan tadi, dan anak-anak yang lain pun tampak baik-baik saja tak ada tanda-tanda mereka diamuk Kerbau, dan anak-anak tadi pun langsung membubarkan diri setelah diusir oleh orang tua disana. Pina masuk kedalam rumah dengan masih bertanya-tanya siapa yang memelihara Kerbau didesa itu, ia bertanya pada Maknya


"Tadi aku liat ada Kerbau gede banget lewat, emang siapa yang melihara Kerbau disini Mak?"

__ADS_1


"Mana ada orang melihara Kerbau disini!"


"Tapi aku ngeliatnya jelas banget Mak, dia lari lari lewatin anak-anak yang lagi main tadi ... kamu liat kan Pin?" tanya Pina pada adik lelakinya yang bernama Ipin karena sewaktu Pina melihat Kerbau itu Ipin masih bermain disana


"Mana ada Kerbau lewat."


"Gede-gede kok kamu nggak liat?" tanya Pina mulai kesal


"Emang nggak ada apa-apa yang lewat kamu tanya sama Pirin!" tunjuk Ipin pada adik Pina yang nomer dua, Pirin hanya menggeleng tak melihat apapun. Pina tampak kebingungan ia tak mungkin salah liat Kerbau sebesar itu melewati kerumunan anak-anak tadi.


"Itu Panguluh Kerbau!" ungkap Abah


"Makanya kalo udah mau Maghrib jangan diluar rumah, untung dia cuma lewat kalo dia usil bahaya!" ucap Abah lagi mengingatkan anak-anaknya.


Fyi ya readers jadi Panguluh itu bentuknya adalah Kerbau hitam besar, jadi zaman dulu jika tiba tiba kamu melihat ada Kerbau ditempat yang tidak biasa fix itu adalah makhluk astral yang kebetulan lagi menampakan dirinya, dan satu lagi manusia juga bisa menjadi Panguluh jadi dia punya minyak Panguluh namanya, jika diolesin ke tubuhnya maka akan merubah wujudnya menjadi setengah hantu dan akan mengunjungi rumah-rumah yang baru saja berduka atau yang baru saja meninggal lalu menjilati bekas air pemandian jenazah lalu akan iseng menakut nakuti orang rumah dengan suara suara aneh seperti rintihan tangisan, bahkan gumaman. Sama seperti Kuyang ya, tapi minyak Kuyang yang berubah cuma kepalanya kalo Panguluh ini dia akan berubah wujud menjadi hantu.

__ADS_1


__ADS_2