
Buk
"PAPA"
Terdengar teriakan seorang gadis menggema di seluruh ruangan, diiringi suara pintu yang dibuka dengan kencang. Gadis itu adalah Namira ayunda jhonson, Ira begitu ia sering di panggil oleh orang-orang terdekatnya, gadis cantik berkulit putih, bertubuh tinggi dan langsing. Matanya berwarna coklat terang, hidung mancung dan pipi sedikit cabi.
Ardi menarik nafas dan mengeluarkannya kasar. Dia sudah memprediksi hal seperti ini pasti akan terjadi. Baru saja dia memblokir semua credit card milik gadis nakal itu. Belum sampai satu jam di blokir, ternyata gadis itu sudah ada di depan pintu ruangan kantornya. Entah apa yang sudah dia belanjakan di pagi hari seperti ini.
"Ada apa Namira ayunda jhonson, apakah kamu sudah lupa cara mengetuk pintu?"
"Papa ... ih, papa pasti tau kenapa Ira kemari." Jawab Namira dengan suara merajuk manja khas andalannya, sambil mendekat menuju kursi kebesaran Ardi, lalu memeluk manja leher pria paruh baya itu, dari belakang.
"Namira, rayuan kamu sudah tidak berpengaruh lagi, lebih baik kamu pergi. Papa banyak pekerjaan."
"Papa gak asyik, ah, kenapa credit cart Ira di blokir semua. Terus Ira belanja pakai apa, pa?" Namira tetap bergelayut manja di leher Ardi, tidak mengindahkan ucapannya papanya itu.
"Namira dengarkan papa, Sayang, tagihat Credit card kamu bulan lalu, hampir 500 juta, Sayang. Dan baru seminggu, bulan ini sudah hampir 100 juta. Kalau begitu terus, lama-lama papa bisa bangkrut, Sayang." Ardi mencoba menetralkan suaranya, meredam emosinya agar tidak meledak-ledak di depan putri semata wayang yang amat disayanginya ini. Kepalanya bertambah pusing sejak putrinya datang, padahal pekerjaan kantor saja, sudah membuat kepalanya hampir pecah.
"Kan papa yang bilang, papa sibuk kerja nyari uang buat Ira, makanya papa gak punya waktu buat Ira. Segitu aja uda banyak." Ira langsung melepaskan tangannya, memasang muka masam.
Karena kesal, tidak mendapatkan yang dia mau, gadis itu berlalu pergi dengan menghentakkan kakinya.
"Maafkan papa, Nak" Ardi bergumam lirih, hampir tidak terdengar.
*****
"Todi, tolong panggilkan Raja ke ruangan saya"
"Baik tuan"
Setelah mendengar jawaban dari seberang sana, Ardi langsung menutup panggilan teleponnya.
Berkali-kali dia menghela nafas, untuk menstabilkan emosi serta mewaraskan fikirannya. Apalagi yang harus dia lakukan untuk mengatasi kebiasaan buruk putri semata wayangnya itu. Bayangkan, baru berusia sembilan belas tahun, tapi keborosan belanjanya sudah melebihi wanita sosialita di luaran sana. Entah untuk apa saja uang sebanyak itu dia habiskan. Kalau seperti ini terus, bisa-bisa usaha yang sudah dia rintis sejak belasan tahun lamanya, bangkrut begitu saja.
Ardi memang orang yang berada, tapi bukanlah orang yang paling kaya di Asia, apalagi dunia. Kalau untuk mereka uang sebanyak itu tidak lah ada pengaruhnya, tapi buat Ardi, jumlah itu sangat banyak untuk sekedar di hambur-hamburkan.
Meski dia sudah masuk jajaran orang terkaya di Indonesia, Ardi masih sangat menjungjung tinggi pepatah lama "hemat pangkal kaya". Kalau masih bisa berhemat untuk apa hidup boros, kalau yang sederhana cukup, untuk apa bermewah-mewah.
Tok ... tok...
__ADS_1
Lima menit berlalu sejak dia menyuruh Todi sekretarisnya, memanggil Raja. Pria muda bernama lengkap Raja rahadian utama, dengan paras tegas dan menawan, merupakan Jenderal maneger di perusahaan miliknya. Pria itu baru beberapa bulan memegang jabatan tersebut. Setelah hampir lima tahun bekerja di perusahaan milik Ardi. Seja awal, Ardi sudah sangat tertarik dengan karakter pemuda jujur dan patuh itu.
"Masuklah"
Raja yang mendengarkan perintah dari sang atasan, langsung masuk dengan perlahan.
"Duduklah" perintah Ardi dengan tegas.
"Baik pak" jawabnya, sebelum dia duduk di kursi yang berhadapan dengan Ardi, sang atasannya sekaligus pemilik perusahaan tempat dia bekerja ini. Sejujurnya dia sangatlah gugup, jarang-jarang sang boss menyuruh bawahannya masuk ke ruangan ini. Apakah dia melakukan kesalahan? Batin Raja bertanya-tanya.
"Tidak perlu khawatir dan gugup begitu, kamu tidak melakukan kesalahan."
"Heh ..." Raja mengerutkan dahi, bertanya-tanya, apakah boss nya ini bisa membaca fikiran.
"Jelas terlihat dari caramu duduk didepan saya. Saya tidak habis fikir, kenapa saya bisa mengangkat orang seperti kamu menjadi jendral manager saya." Ucap Ardi disertai kekehannya.
"Dan anehnya lagi, saya ingin kamu menjadi nenantu saya." Raut wajah Ardi berubah menjadi serius sementara matanya menghunus tajam ke manik mata milik Raja. Seolah mengatakan, perkataannya adalah mutlak tidak ada bantahan.
"Maksudnya pak?" Raja semakin dibuat tidak mengerti dengan bosnya ini.
"Maksud saya sudah jelas, kamu harus menikah dengan putri semata wayang saya, Namira ayunda Jhonson."
"Bukan itu pak, maksud bapak apa, mengatakan kalau bapak tidak habis fikir mengangkat orang seperti saya,menjadi jedral meneger bapak. Selama ini Saya fikir, saya dapat posisi ini karena kerja keras dan juga prestasi saya." Rasa gugup yang tadi Raja rasakan lenyap seketika, digantikan rasa kesal yang luar biasa.
"Maaf pak" ucap Raja sambil menundukan kepalanya.
"Tidak masalah, asal kamu mau menjadi menantu saya."
"Menjadi menantu bapak? Tetapi kenapa saya pak?."
"Karena saya rasa, kamu sangat pantas untuk posisi itu."
"Maaf sebelumnya pak, bukannya saya tidak mau. Suatu kehormatan buat saya bisa menikahi putri orang hebat seperti bapak. Tapi pak, apakah putri bapak mau menikah dengan saya?"
"Saya anggap jawaban kamu adalah iya. Untuk itu persiapkan dirimu, satu bulan lagi adalah pernikahan kalian. Untuk masalah pesta biar saya yang akan mengurusnya, kamu tinggal siapkan mahar saja, dan besok malam bawa orang tua kamu melamar putri saya."
"Ta-tapi pak"
"Mengenai putri saya, kamu tidak usah khawatir, saya yang akan mengaturnya. Kamu silahkan kembali keruangan."
__ADS_1
"Tapi pak, saya belum berfikir menyetujui permintaan bapak. Beri saya waktu."
"Iya atau tidak, saya tunggu jawaban kamu setelah jam pulang kerja nanti. Tetapi, jika menjawab tidak, kamu pasti tahu, konsekuensi dari pilihan kamu." Ardi nampak berkata dengan santai, namun siapapun tahu, kalau perkataan pria paruh baya itu, terkesan sedang mengancam.
"Pergilah, kembali bekerja."
"Baiklah pak, saya permisi dulu."
Raja keluar dari ruangan Ardi dengan perasaan campur aduk, antara kaget, cemas dan bingung. Bagaimana dia tidak kaget, mendapat perintah seperti itu. Menikah dengan putri boss nya, entah apa yang bosnya itu fikirkan. Tentu saja dia juga cemas, bagaimana reaksi ayah bundanya nanti mendengar berita ini. Dia juga merasa bingung, apakah harus dengan senang hati menerimanya atau lebih baik menolaknya saja, sebelum semuanya terlambat.
Baiklah, dia akan rundingkan dengan ayah bundanya dulu, mungkin mereka bisa membantu mengatasi masalah ini. Semoga setelah berbicara dengan mereka, Raja bisa membuat keputusan yang tepat. Sebab menikah bukanlah perkara yang singkat, butuh waktu seumur hidup untuk menjalaninya. Raja harus berfikir dengan matang dan penuh pertimbangan, sebelum mengambil keputusan.
*****
"Bunda, Raja ingin menyampaikan sesuatu. Raja butuh masukan dari ayah bunda, untuk memutuskan suatu perkara."
Raja sedang berada di ruangannya sekarang. Pria itu segera menelphone orang tuanya, untuk meminta pendapat mereka.
'Katakanlah, nak, bunda sebisa mungkin, akan memcoba untuk membantu.'
Raja menceritakan semuanya, tentang tawaran bosnya dan ancaman pria itu jika dia menolak.
'Baikah bunda sudah faham sekarang. Apa Raja kenal dengan gadis itu?'
"Cukup kenal bunda, dia sering datang ke kantor menemui papanya."
'Apa pendapat Raja mengenainya.'
"Dia cantik, tidak sombong, tapi manja dan berpenampilan sedikit tomboy. Dia juga agak cerewet, kalau ke kantor selalu protes dengan banyak hal, terutama kalau papanya bekerja terlalu larut malam."
Namira memang sering datang ke kantor saat papanya dan bawahannya sedang lembur di ruang meeting, Raja adalah salah satu yang berada di sana. Gadis itu akan sangat cerewet bila sudah terlalu larut malam, mereka masih lembur. Segala cara akan dia lakukan, untuk membawa pria paruh baya itu pulang.
'Raja sepertinya sangat mengenal gadis itu, nak'
"Bu-bukan begitu, Bun."
'Bunda sudah tahu jawabannya.'
"A-apa, Bun"
__ADS_1
'Terimalah!'
******