Terpaksa Menikah (Namira)

Terpaksa Menikah (Namira)
Bab 5


__ADS_3

"Apa yang ingin kau lakukan?."


Namira menutup Rapat matanya saat wajah Raja semakin mendekat. Jantung gadis itu memacu dengan kencang, menanti sesuatu akan terjadi. Namun setelah beberapa detik memejamkan mata, tidak terjadi apapun juga, justru pria itu terasa semakin menjauh. Namira membuka matanya dengan perlahan. Kekehan geli dari Raja terdengar jelas di telinga gadis itu.


Raja berdiri di hadapannya, dengan kedua tangan yang di lipat di dada. Jangan lupakan senyum tengil dari pria itu. Tampak puas setelah mempermainkan Namira.


"Apa yang sedang kau fikirkan Namira?" tanya Raja dengan senyum mengejek, "Nanti dulu setelah halal, kau baru mendepatkannya." Raja berbisik dengan sensual, membuat sekujur tubuh Namira merinding.


"Dasar berengsek" Namira segera pergi dari ruangan pria itu, meresa malu karena hal yang baru saja terjadi. Masih terdengar kekehan geli dari Raja, setelah Namira sampai di pangkal pintu.


******


"Dasar pria brengsek, beraninya mempermainkanku."


Namira segera meneguk segelas orange jus yang berada di atas meja, hingga tandas. Dengan raut yang kesal luar biasa, dia duduk di salah satu bangku yang mengelilingi meja itu.


"Lihat saja nanti, aku akan membalas perlakuannya. Kenapa juga aku bisa terbawa suasana tadi. Berharap dicium pria itu, hih." Lagi-lagi Namira meminum orenge jus yang masih tersisa di gelas satunya.


kedua sahabatnya hanya bisa melongo menyaksikan Namira yang terus mengomel sejak kedatangannya. Gadis itu bahkan meminum jus mereka sampai tandas, tanpa basa-basi.


"aakhhhh ... Menyebalkan sekali. Selalu mempermalukan diri sendiri setiap bertemu pria itu."


Namira kembali mengangkat gelas hendak meminum isinya, namun gelas itu ternyata sudah kosong.


"Ini juga orange jus kenapa pakai habis segala, sih." Namira menghempaskan gelas ke atas meja, sehingga Atensi seluruh pengujung kafe beralih padanya.


"hei ... Namira, ada apa?" Mira bertanya dengan kening yang mengerut, keheranan.


"Minggu depan gue mau nikah."


"Nikah?" Mira melototkam matanya, benar-benar kaget dengan ucapan tidak masuk akal, yang keluar dari mulut Namira. Shasya bahkan sampai menyemburkan makanan yang berada di mulutnya, karena kaget luar biasa.


"Shasya" ucap Namira dan Mira secara bersamaan, karena terkena semburan gadis itu.

__ADS_1


"Aissh ... Jadi kotor kan." Namira mengambil tissue, lalu membersihkan lengannya yang terkena semburan Shasya. Sementara Mira ijin ke Toilet, karena terkena cukup banyak, semburan cake coklat yang sudah di ***** sahabatnya itu.


"Gue ke toilet dulu. Jorok banget sih Lo, Sya."


"Maaf, gak sengaja. Salahin Ira kenapa ngagetin gitu."


"Aissh ... Kebiasaan." Mira segera berlalu pergi, dengan raut muka masam karena merasa kesal.


"Ira ... Kamu beneran mau nikah? Minggu depan?"


Namira mengangguk mengiayakan pertanyaan sahabatnya itu.


"Kamu gak lagi ngeprank kita, kan?"


"Buat apa aku ngeprank kalian, kurang kerjaan." Namira membuka tas kecil yang dibawanya, lalu mengambil sebuah undangan dari dalam handbag hitam dari brand ternama itu.


"Kamu beneran mau nikah." Shasya mengusap undangan mewah yang bertulis nama Namira dan Raja di sampulnya. "Raja Rahardian utama dan Namira Ayunda Jhonshon" ucap Shasya dengan Lirih.


"Beneran, masak gue sekurang kerjaan itu, sampai bikin undangan palsu."


"I-ini kak Raja, yang jadi GM di kantor papamu?"


Namira mengangguk mengiyakan perkataan gadis itu. "Kamu kenal? O ia aku lupa, Raja pernah jadi dosen tamu di fakultas kalian, jadi pasti kamu kenal."


"Iya" ucap Shsya lirih, dengan raut wajah yang tidak terbaca.


"Ck ... Minggu depan kami bakalan menikah, dadakan karena papa yang ngatur semuanya. Nyebelin banget gak sih, mana cowoknya juga si Raja yang ngeselin itu."


Shasa tampak melamun, dia bahkan tidak mendengar omelan Namira sejak tadi. Entah apa yang difikirkan gadis itu, sehingga tampak tidak fokus sejak tadi.


"Hei ... Shasya. Kamu dengerin aku ngomong gak, sih. Mulutku sampai pegal kamu malah melamun." Namira menggoyang lengan Shasaya agar sadar dari lamunannya.


"Namira, aku agak kurang enak badan. Aku pulang dulu ya, kapan-kapan kita nongkrong lagi." Shasya segera berdiri hendak pergi setelah mengatakan kalimat itu.

__ADS_1


"Kamu mau kemana Sya? Kalau sakit aku anter ke kosan." Namira masih mencoba menahan sahabatnya itu. Menawarkan untuk mengantarkannya sampai ke kosan sahabatnya tersebut.


"Gak perlu, Ra. Ini, tolong bayarin makananku." Shasya meletakkan satu lembaar uang berwarna merah di atas meja.


"Sya ... Tunggu." Shasya segera pergi, tidak mendengarkan panggilan Namira lagi.


"Shasya kemana, Ra?" tanya Mira. Mira yang baru saja datang dari toilet, tampak kaget karena tidak menemukan Shasya berada di tempatnya.


Namira mengedikkan kedua bahunya "gak tau, tiba-tiba pergi, katanya gak enak badan."


"Tumben, gak biasanya dia begitu."


"Entahlah, dia tiba-tiba jadi aneh."


"Eh ... Ini undangan apa?" Atensi Mira beralih kepada kartu undangan mewah yang berada di atas meja.


"Itu undangan pernikahanku minggu depan."


"Jadi, Lo serius mau nikah? Bukannya Lo bilang mau nikah di usia 30 tahun. Jangan becanda, deh."


"Papa yang minta, jadi aku gak bisa berbuat apa-apa. Tapi tenang aja, status aku doang yang berubah, yang lainnya masih sama kok. Aku uda buat perjanjian sama calon suamiku."


Mira merasa penasaran, segera mengambil kartu undangan tersebut, lalu membaca nama yang tertulis di halaman depannya.


"Reja Rahadian Utama." ucapnya dengan lirih. "Pantes saja Shasya langsung pergi." ucap Mira lagi teramat lirih, sampai Namira tidak mendengar jelas apa yang Mira katakan.


"kamu ngomong apa, Mir."


"Gak ngomong apa-apa. Shasaya uda lihat undangannya."


"Uda, habis itu baru dia pergi."


Mira mengela nafas dengan berat, sesuatu yang sedikit rumit telah terjadi di sini. Sayangnya dia bingung harus bagaimana, karena ini menyangkut kedua sahabat dekatnya.

__ADS_1


__ADS_2