Terpaksa Menikah (Namira)

Terpaksa Menikah (Namira)
4. Perjanjian pranikah


__ADS_3

Namira memasuki ruangan kerja Raja dengan tergesa-gera. Dia bahkan tidak sempat mengetuk pintu. Pintu yang terbuat dari kayu jati yang kokoh itu, seketika berdegum keras saat Namira membukanya dengan kencang.


Raja tampak tenang di atas kursi kerjanya, hanya sedikit kaget akibat kedatangan Namira yang tiba-tiba.


"Aku ingin berbicara padamu."


"hem ... Masuklah! Setelah itu tutup pintunya."


Namira segera masuk kedalam ruangan yang cukup luas itu. Meski tak semegah ruangan milik papanya, namun ruangan Raja tampak elegan dan maskulin, persis seperti pemiliknya.


Namira segera mendudukkan diri di atas sofa kecil yang berada di tengah ruangan, meski belum mendapat ijin dari Raja. Toh kantor ini juga milik papanya, kan. Gadis itu memang terkadang suka semena-mena.


Setelah mendudukkan diri, Namira langsung meneguk air mineral yang berapa di atas meja, gadis itu bahkan tidak ingin repot-repot bertanya, minuman itu milik siapa. Sepertinya dia sangat haus, karena cuaca yang cukup panas hari ini.


"Maaf minummu sudah aku habiskan."


"Sayangnya itu bukan milikku, tapi bekas tamu yang berkunjung tadi pagi."


"APA? Kau sedang tidak membohongiku, kan.?"


"Nope"


"Oooekkk ..."


Namira segera berlari ke dalam kamar mandi, lalu mengeluarkan isi perutnya di dalam kloset.


"Gila ... Kenapa kau tidak bilang dari tadi."


"Kau tidak bertanya. Lagipula apa bedanya, toh mereka juga manusia, kan?"


"Bedalah, mereka tidak aku kenal, bagaimana kalau punya penyakit menular. Sedangkan kau kan calon suamiku."


"Tenang saja, aku jamin dia bersih dan sehat." Raja terkekeh pelan, melihat tampang Namira yang kesal dengan wajah memerah.


"Kau benar-benar kejam."


"Lalu, apa tujuanmu tiba-tiba datang ke sini."


"Emangnya tidak boleh. Inikan kantor papaku dan ruangan kerja calon suamiku. Tidak akan ada yang berani melarangku berkunjung kesini."


"Ck ... Kau memang perlu sedikit sentilah, biar bisa lebih bersikap sopan."


"Tidak perlu, dari dulu sikapku begini, tidak ada orang yang protes, tuh."

__ADS_1


"tapi ..."


"Lebih baik masuk ke intinya, aku malas berdebat. Ini ..." Namira melempar sebuah aplop besar berwarna coklat ke hadapan Raja. Untung saja pria itu menangkapnya dengan tepat, kalau tidak bisa-bisa muka tampannya, tergores ujung map yang lumayan tajam.


"Namira ... Berlaku sopan sedikit. Aku calon suamimu."


"Masih calon suami. Cepat baca isinya, lalu segera tanda tangani. Aku masih ada acara dengan teman-temanku. Membosankan, disini bahkan tidak ada hiburan dan makanan sama sekali."


"Disini kantor untuk bekerja, bukan kafe tempatmu biasa nongkrong." Raja segera membuka amplop coklat di hadapannya. Terdapat beberapa lembar kertas yang berisi tulisan yang di ketik rapi.


"Ya ... Memang membosankan. Cepat tanda tangani suratnya, aku sudah di tunggu teman-teman."


"Perjanjian konyol macam apa ini?" Ada sepuluh poin perjanjian yang di berikan Namira di dalam surat yang dia bawa. Semua perjanjian tersebut berdasarkan keuntungan Namira semata.


"Konyol gimana maksudmu? Aku hanya meminta hakku sebagai gadis yang belum dewasa dengan sempurna."


"Poin satu, Tidak ada hubungan suami istri sebelum usia Namira 25 tahun." Raja membaca poin yang terdapat di surat perjanjian pra nikah yang di berikan Namira.


"Ya itu wajib, aku belum ingin hamil. Lagi pula kita belum begitu mengenal, bagaimana kalau tiba-tiba kita merasa tidak cocok satu sama lain."


"Berarti aku boleh berhubungan dengan wanita lain, selama itu."


"Kau sudah gila?" Namira tampak emosi lalu berdiri dari sofa yang tengah di dudukinya."


"Berarti selama ini kau sering melakukannya."


"Tidak juga, tapi hidup dengan seorang istri yang cantik tetapi tidak melakukan apa-apa, aku yakin tidak akan bisa bertahan."


"Dasar pria mesum. Ya sudah kalau gitu ganti sampai usiaku 22 tahu, 19 tahun masih terlalu muda untukku." Namira sedikit merengek, berharap Raja mengabulkan permintaannya.


"Baiklah ... Poin satu aku ralat."


"Poin Kedua, Namira boleh pergi kemana saja dengan teman-temannya, Raja tidak boleh sama sekali membatasi kegiatan Namira."


"Asal positif tidak masalah, aku tidak keberatan."


"Positif yang bagaimna?"


"Misal untuk ke kampus, belajar kelompok, keperpustakaan, atau kegiatan positif lain. No club dan hiburan malam lainnya."


Namira tampak berfikir sejenak, menimbang-nimbang apakah akan menyetujui permintaan pria itu atau tidak.


"Oke ... Asal, shoping, nongkrong di kafe dan jalan-jalan keluar negeri masih bisa."

__ADS_1


"Bisa, dengan syarat, harus memakai fasilitas dariku. Semua kebutuhan kegiatanmu itu menggunakan penghasilanku. Tidak boleh meminta sedikitpun dari papa Ardi."


"Akhh ... Begitu banyak syarat. Baiklah, aku setuju, lihat saja seluruh hartamu akan aku habiskan sebelum satu bulan pernikahan kita." Namira tersenyum sinis, membayangkan bagaimana berutalnya dia nanti, saat menghabiskan seluruh harta pria itu.


"Silahkan saja, kita lihat nanti."


"Poin ke tiga, Bila Namira jatuh cinta pada pria lain, maka Raja harus mengijinkan Namira menjalin hubungan dengan pria itu."


"Kau kehilangan akal sehat, poin ini aku coret. Tidak ada pria lain ataupun wanita lain di dalam pernikahan kita. Aku ingin menikah sekali seumur hidup dan tidak akan mempermainkan hubungan sakral tersebut."


"Tapi aku belum pernah perpacaran, aku juga ingin merasakan seperti orang-orang." Namira berucap kesal dan terus menggerutu.


"Tidak ... Kalau ingin, berpacaran saja denganku, kan beres. Lagipula, bukankah kau sudah berpengalaman, waktu itu kau bahkan mengejekku." Raja tersenyum tengil, melihat tampang Namira yang sedikit memerah, karena sudah ketahuan membual.


"Ck ..."


"Apa kau hanya membual?"


"Lupakan itu! baiklah, poin tiga coret saja."


"Oke ... Selain itu aku setuju. Kau tidak perlu memasak, kecuali ingin. Melakukan pekerjaan rumah juga bukan tugasmu, masih ada ART. Tetap melanjutkan kuliah, sampai S3 juga aku setuju. Menunda memiliki momongan sampai kau siap juga tidak masalah. Tidak membatasi waktu bertemu dengan papa Ardi, itu juga bagus. Tetap tinggal di rumah papa Ardi juga tidak apa-apa, asal papa mengijinkan. Terakhir tidak berusaha merubahmu dan menerima Namira apa adanya. Semuanya aku setuju.


Sebentar aku rapikan berkasnya dulu, setelah itu akan aku tanda tangani. Bila perlu kita panggil pengacara, karena perjanjian pranikah yang sah juga penting."


"Tidak perlu, aku percaya padamu."


"Ya sudah, berikan soft copynya biar aku edit."


"Sebentar aku kirim melalu email dulu, berikan alamatnya."


"Ya sudah tanda tangan elektronik saja, tidak perlu di print."


"Oke, baiklah."


Raja segera mengedit dokumen perjanjian tersebut, lalu menandatanganinya setelah semua beres.


"Sudah beres, sekarang giliranmu. Tandatanganilah! Sudah aku kirim ke emailmu."


Raja berjalan ke arah Namira yang sedang duduk di sofa. Pria itu membuka jas hitam miliknya, lalu menggulung kemeja putihnya ke atas siku. Jarak di antara mereka semakin terkikis, bahkan sekarang tidak lebih dari satu meter. Namira tengah fokus dengan dokumen yang berada di handphonenya, sehingga tidak begitu memperhatikan Raja.


Kepala namira yang menunduk, langsung mendangak saat merasakan Raja yang semakin dekat padanya. Hingga lutut pria itu bahkan sudah bersentuhan dengan lututnya.


"Apa yang ingin kau lakukan?"

__ADS_1


__ADS_2