Terpaksa Menikah (Namira)

Terpaksa Menikah (Namira)
Bab 3


__ADS_3

Bandung, pukul 19.00.


"Pa, kenapa kita kesini? Haruskah Ira berdandan begini? Siapa yang mau datang?"


"Hem" Ardi hanya berdehem dan tetap berfokus pada majalah bisnis yang dia baca. Tidak ada niat untuk menjawab peryanyaan putrinya.


Tidak melihat respon berarti dari sang papa, Namira mencebik kesal dan terus menggerutu di tempat duduknya.


"Papa, sekali lagi papa cuekin Ira, majalah papa, Ira sobek-sobek." Ancam Ira yang sudah gemas dengan tingkah papanya itu. Bagaimana tidak gemas, beberapa jam yang lalu, Ira di suruh buru-buru berangkat ke villa mereka yang berada di Bandung, padahal dia sedang asyik nongkrong di kafe dengan kedua sahabatnya. Bukan cuma itu, setelah sampai dia langsung disuruh dandan yang rapi dengan dres feminim, tanpa penjelasan apa-apa. Apa mungkin, dia akan dikenalkan dengan calon mama barunya?


Ardi menghela nafas pelan, lalu meletakkan majalah yang dia baca kedalam laci meja yang ada di depannya. "Ira mau tanya apa?" Kali ini dia terlihat fokus, mendengarkan keluhan putrinya.


"Apa Papa mau kenalin Ira sama calon mama baru?"


"Ira ... pertanyaan macam apa itu?"


"Terus, kenapa papa suruh Ira dandan begini?"


"Papa mau kenalin kamu sama calon suami dan calon mertua kamu" Ardi menjawab santai pertanyaan Ira.


Sementara Ira yang mendengar terlihat syok dan berteriak sambil bangkit dari duduknya.


"APA?"


"Pelankan suaramu Ira, telinga papa sakit mendengarnya."


"Papa becanda kan?" Tanya Ira dengan lemas sambil duduk kembali. Dia sangat berharap sang papa menjawab iya, meski papa nya ini sangat jarang sekali bercanda dengan perkataannya.


"Papa serius sayang, papa memang akan menikahkanmu segera."


"Papa, kenapa secepat ini, usia Ira baru saja 19 tahun, apa kekurangan Ira hingga harus di jodohkan".


"Kamu tidak kurang apa-apa sayang, papa cuma ingin ada yang menjaga dan mengontrol kenakalanmu, setelah papa tiada nanti."


"Papa ngomong apa, sih, papa kan masih muda, papa masih bakalan hidup, puluhan tahun lagi. Buat apa Ira buru-buru menikah."


"Sayang ..." Ardi membelai lembut kepala putrinya itu. "Tidak ada yang tahu umur manusia, papa cuma pengen kamu berada di tangan yang tepat."


"Apa sakit papa kambuh lagi? Apa kali ini benar-benar parah? Ayolah pa, jangan sembunyikan apapun dari Namira."


Ardi terkekeh sejenak, sebelum menjawab pertanyaan Namira. " Ira sayang, jantung papa sehat, Insya Allah."


"Jadi gak ada alasan buat papa jodohin Ira, kan?"


"Ada sayang, buat kebahagiaan kamu. Malam ini kamu akan bertemu dengan mereka, bersikaplah yang manis, nak. Dan satu lagi ... ." Ardi menjeda ucapannya sebentar dan menghela nafasnya pelan. "Papa tidak terima bantahan." Ucap Ardi dengan tegas tanda ia benar-benar tidak mau di bantah.


"Papa, apa papa tidak tanya dulu pendapat Ira, kenapa Papa setega ini sama Ira."

__ADS_1


"Papa tidak terima bantahan, Sayang, dia laki-laki yang baik, kamu pasti menyukainya. Kalau masih ingin creditcardmu kembali di aktifkan, ikuti kemauan papa. Setelah itu kau bebas melakukan apa saja, hem."


Ingin rasanya Namira menangis, kenapa papanya setega ini, usia Namira bahkan baru saja 19 tahun, dia masih ingin menikmati masa-masa mudanya. Dia juga ingin menikah dengan laki-laki yang dicintainya, bukan dengan perjodohan. Tapi baru kali ini sang papa bersikap keras tak mendengar bantahan. Biasanya Namira yang suka bersikap begitu. Baiklah, dia akan menerimanya, mungkin ini yang terbaik. Papanya pasti menginginkan kebaikan untuknya.


"Baiklah Pa, Ira akan bersikap manis kali ini. Tapi Ira tidak berjanji, akan menyetujui perjodohan itu. Hanya agar papa tidak malu saja."


"Good girl ... Ira pasti nanti akan setuju, ayo kita sambut mereka dulu, mereka sudah di depan pintu." Ajak Ardi setelah mendengar bell berbunyi.


***


Namira, Ardi, Raja dan kedua orang tuanya sudah berada di meja makan sambil menyantap hidangan yang tersedia. Tadi, setelah bercengkrama sebentar di ruang tamu, Ardi langsung menuntun mereka ke meja makan. Terlihat jelas wajah Namira yang cemberut, merasa tidak suka dengan suasana ini. Raja dan kedua Orang tuanya juga terlihat canggung. Hanya Ardi yang terlihat santai menyantap makanannya.


Ardi berdehem setelah menyelesaikan makannya, berusaha mencairkan suasana yang canggung.


"Maaf, saya agak lama makannya, kalian sudah selesai dari tadi?"


"Lanjutkan saja pak,  kami bisa menunggu." Ucap Raja sedikit sungkan.


"Tidak usah sungkan begitu Raja, sebentar lagi saya akan jadi ayah mertuamu."


"Eh ... ia pak"


"Panggil saya papa seperti Ira."


"Baiklah pa"


"Namira dari tadi kamu diam saja, ajaklah Raja berkeliling villa. Suasana di gazebo cukup santai untuk kalaian mengobrol."


"Heh ..." Namira terlihat kaget sesaat.


"Agar kalian lebih akrab. Papa juga mau bicara banyak dengan calon mertuamu. Terkait pernikahan kalian. Waktunya gak sampai dua minggu lagi."


"DUA MINGGU LAGI." Namira hampir saja menyemburkan minuman yang baru dia teguk


Apa-apaan ini, bagaimana mungkin secepat itu, batin Namira.


"Pelankan suaramu Namira, telinga kami bisa tuli."


"Kami sudah membicarakan ini minggu lalu, ini pertemuan kedua. Waktu itu kamu sibuk dengan ujianmu, kau ingat waktu papa mengajakmu kesini minggu lalu."


"Dan papa baru kasih tau Namira sekarang, papa memang hebat." Namira terlihat marah dan buru-buru berjalan meninggalkan mereka.


"Biar kan saja Raja, dia hanya sedikit merajuk." Cegat Ardi melihat Raja bendiri hendak mengejar Namira.


"Tapi pa ..."


"Ya sudah, kejar saja. Biasanya disaat seperti ini, dia ada di tepi kolam renang. Kami mau bahas rencana pernikahan kalian dulu."

__ADS_1


"Baik pa."


****


Benar saja, setelah Raja keluar menuju kolam renang, ia sudah melihat namira duduk membelakanginya di dekat kolam. Dia menekuk sebelah kaki, dan memeluknya dengan kedua tangannya. Pandangannya terlihat kosong dan sedih.


Raja mendekat dan mencoba berdehem agar Namira melihat kearahnya.


"Papa gak usah bujuk Namira, lakukan saja semau papa."


"Ini aku Ira, Raja"


"Eh ...." Namira berdiri langsung berbalik kearah Raja.


"Are you ok?"


"Yes I'm okey" ucap Namira mencoba berbohong, atau berusaha terlihat tegar.


"Kau keberatan dengan perjodohan ini?"


"Jika aku keberatan, apakah ada pilihan lain?"


"Apakah aku seburuk itu" gumam pria itu nyaris tidak terdengar.


"Baiklah aku pergi, kuharap kita tidak bertemu sampai hari pernikahan." Ucap Namira setelah itu dia melenggang pergi, tanpa menoleh lagi kepada pria yang akan menjadi suaminya, kurang dari dua minggu lagi.


Raja hanya mematung melihat calon istrinya berjalan masuk kedalam rumah, hingga siluetnya tidak terlihat lagi.


Satu menit


Dua menit


Hingga menit kelima dia masih berdiri, dengan raut wajah kebingungan dan penuh tanda tanya.


Namira yang sudah sampai kedalam kamar, mengintip dari balik jendela. Namira manatap gemas kepada calon suaminya itu.


"Pria bodoh, untuk apa dia masih diam disitu" ucapnya pada diri sendiri.


"Ya tuhan, ada apa denganku" ucapnya lagi, sambil berlari kencang ke arah Raja berdiri. Butuh waktu beberapa menit, untuk sampai ke hadapan pria itu, untung saja dia masih berdiri disana, seperti patung.


Cup


Tiba-tiba Namira mencium bibir Raja, hanya sebentar, karena tidak mendapat respon dari pria itu, ia langsung melepaskannya.


"Ciuman yang buruk, kau pasti tidak pernah berciuman dengan perempuan sebelumnya, heh ...? Dasar kuno, Aku harus bekerja keras mengajarimu nanti setelah menikah." Setelah mengatakan itu, Namira berbalik badan berniat ingin pergi. "Bahkan dia tidak mengingatku" gumam Namira, sangat pelan sehingga Raja tidak dapat mendengarnya.


Baru saja Namira hendak melangkahkan kaki, tiba-tiba Raja menarik tangannya, hingga tubuh Namira terhempas ke dada bidang pria itu.

__ADS_1


"Kau melukai harga diriku, Namira, lihatlah nanti setelah menikah, aku tidak akan melepaskanmu." Raja tersenyum licik, lalu melepaskan Namira dan melenggang pergi begitu saja.


__ADS_2