Terpaksa Menikah (Namira)

Terpaksa Menikah (Namira)
Bab 2


__ADS_3

Namira Ayunda Jhonshon


Perkenalkan namaku Namira ayunda jhonson, orang terdekatku biasa memanggilku Ira, yaitu papa, kedua sahabatku, miranda dan sasha. Cuma mereka bertiga, benar, kalian tidak salah baca, aku cuma punya tiga orang terdekat. Aku anak tunggal, ibuku sudah meninggal setelah melahirkanku. Semetara dengan bibik, paman dan sepupu-sepupuku, aku tidak terlalu dekat, mereka sombong, angkuh dan ambisius aku tidak suka.


Aku akan menceritakan sedikit tentang papa dan kedua sahabatku.


Ardian jhonson adalah papaku. Papaku orang yang pekerja keras, dalam hidupnya hanya ada bekerja dan bekerja, sangat sedikit ruang untukku. Sebenarnya aku kasihan dengan papa, aku tau dia bekerja untuk mengalihkan perhatiannya dari luka mendalam akibat kehilangan mama. Sejujurnya ,kasih sayang dan perhatian  papa padaku tidaklah kurang, meskipun sibuk bekerja, papa tidak pernah lupa menelepon untuk menyakankan kabarku minimal tiga kali sehari, over protektif memang. Aku tahu papa sangat peduli padaku. Tapi aku tetap merasa kurang, aku butuh papa ada waktu yang banyak denganku, aku butuh papa menjadi teman berbagi cerita-ceritaku, aku butuh papa untuk bertanya ini dan itu. Jika mama ada, mungkin aku bisa melakukannya dengan mama. Ah ... aku sangat iri, melihat teman-temanku yang punya mama di sampingnya.


Miranda oktaviana, mira biasa aku memanggilnya, nama kami hampir mirip, ya. Kami bersahabat sudah lebih empat tahun, semenjak sekolah SMA dulu. Kami sekolah di sokolah elit, tapi kami sangat muak dengan tampang teman-teman sekolah kami yang sok kaya dan sok paling berkuasa, itulah yang membuat kami bisa dekat. Mira awalnya adalah gadis yang lugu, pendiam dan lumayan cerdas. Dia selalu dapat sepuluh besar saat di sekolah. Sekarang dia juga memang masih cerdas, terbukti dengan dia bisa kulliah di universitas elit dengan jurusan favorite. Tapi kalau lugu dan pendiamnya, jangan ditanya, sudah hilang entah kemana. Setiap weekend, club malam adalah tempat tujuan utamanya, katanya dence dan mabuk disana adalah cara dia melepas penat. Tidak perlu malu karena tidak bisa ngedence, sebab kalau mau tari jongkok atau tari kayang sekalipun, tidak akan ada yang peduli.


Aku tidak heran kenapa dia seperti ini, berawal sejak dua tahun lalu, ketika ayah dan ibunya memutuskan bercerai. Hatinya sangat terguncang, dia menjadi korban perceraian mereka. Apalagi setelah ayahnya menikah lagi, dan ibunya seolah tidak perduli dengan kehidupannya. Bahkan dia mendapatkan ibu tiri yang sedikit kejam.


Sahabatku satu lagi namanya Nurisha cendana, kami biasa memanggilnya shasa. Shasa berasal dari pelosok desa di Kalimantan, aku lupa nama desanya, nantilah aku tanyakan lagi. Shasa anak yang sangat pintar, dia kulliah di universitas elit ini dengan bantuan beasiswa, karena otaknya yang cerdas. Menurut cerita shasa, dia adalah satu-satunya perempuan dari desanya yang dapat kesempatan kulliah, umumnya perempuan di desa mereka hanya selesai SMA saja, bahkan masih banyak yang hanya lulusan SD.


Kami bersahabat sejak satu tahun yang lalu, aku pertama kali melihatnya di sebuah club malam. Kalau kamu tanya kenapa gadis seperti Shasa berada di club malam, sini mendekat biar aku ceritakan kisah teragisnya.


Malam ini seperti malam minggu biasanya, aku dan Mira berada di club malam langganan kami, euporia night club. Club ini tergolong club yang cukup aman, disini hanya tersedia alkohol dan dence dengan musik yang kencang. Tidak ada penari telanjang atau sejenisnya,  obat-obat terlarang pun hampir nihil, kalau semacam pelacuran, tetap ada, cuma sedikit lebih tertutup alias tidak terang-terangan. Penjagaan nya juga sangat ketat, kalau kedapatan membawa obat-obatan pasti langsung disuruh keluar.


"Mira bukannya itu Erga? Tanyaku sambil menunjukk orang yang aku maksud. Erga adalah senior kami di kampus yang terkenal player. Wajah tampan dan kekayaannya tidak dapat menutupi kelakuan minusnya itu.


"Ya, itu dia" ucap Mira,  sambil menyesap minuman bersoda ditangannya. Kali ini dia memilih tidak mabuk karena besok ada acara penting.


"Dia bersama perempuan mana lagi?." Tanyaku lagi sambil memperhatikan perempuan yang bersama Erga tadi. Bukannya kepo, tapi kali ini ada yang berbeda, pakaiannya lebih tertutup, dia juga nampak canggung dan sedikit risih.


Mira mendengus kesal, tapi tetap menjawabku. "Kenapa kau tiba-tiba jadi kepo Ira, aku tidak perduli dengannya dan wanita-wanitanya itu."


"Baiklah, aku juga tidak perduli".


"Good ... aku dance sebentar dulu, sebelum pulang, besok adalah hari pentingku."


"Really ... kalau besok adalah hari penting, kenapa kau masih kemari, Mira." Ejekku, sambil menjulurkan lidah kepadanya.


Mira hanya melongos pergi tidak membalas ejekanku.


Belum Sepuluh menit pergi, Mira datang lagi, menarik tanganku sambil mengumpat.


"****, ayo pergi Ira"

__ADS_1


"Pergi kemana?" Tanyaku heran sambil mengikuti langkahnya yang nyaris seperti berlari itu.


"Apa kau tidak lihat, Erga membawa pergi gadis itu."


"Bukankah kau tadi tidak perduli?" Tanyaku lagi sambil terus mengikuti langkahnya.


"Yang ini berbeda Ira, gadis itu .... gadis itu ... ah sudahlah nanti aku jelaskan."


Kami terus mengikuti Erga yang memapah gadis bersamanya tadi. Kelihatannya gadis itu pingsan atau tidur, entahlah, yang jelas matanya terpejam.


Erga dan gadis itu  masuk kedalam mobilnya, lalu pelahan meninggalkan area club. Aku dan Mira hanya melongo beberapa detik melihanya. Hingga aku tersadar dan menyadarkan Mira.


"Ayo kita kejar Mira, sebelum terlambat"


Aku langsung menepis tangan Mira dan berlari ke mobilku dan mengendarainya setelah Mira masuk.


"Kenapa kamu begitu panik Mira, apa kamu mengenal gadis itu?"


"Gadis itu satu jurusan denganku Namira, kami sering satu kelas, dia gadis yang lugu. Dia datang dari kampung untuk mengejar cita-citanya. Aku tidak mau masa depannya hancur gara-gara bajingan itu. Entah tipu daya apa yang dibuatnya untuk memperdaya gadis lugu itu."


"Ternyata curut satu ini juga bisa peduli." Semburku padanya dengan tawa yang kencang.


"Kan, kamu curut."


"Lo kutu air."


"Eh kalau kita begini terus yang ada bajingan itu hilang, kamu diam biar aku bisa konsentrasi ngejar bajingan itu."


"Oke ... okee ... konsentrasi .... konsentrasi."


HOTEL MAWAR SARI


Mobil yang dikendarai Erga akhirnya berhenti di parkiran sebuah hotel sederhana. Aku dan Mira segera berlari mengejarnya setelah keluar dari mobil.


"Hei bajingan, mau kemana lo bawa gadis itu" nah itu suara Mira yang cetarnya luar biasa, mengalahkan tetangga kalau dangdutan.


"Hai girl, kamu mau juga? tenang saja, setelah ini selesai, aku akan kembali menjemputmu. Aku masih kuat kok, tapi sekarang jangan ganggu kami dulu,oke."

__ADS_1


"Gila Lo, lepaskan dia, jangan rusak masa depannya, hanya karena nafsu biadab Lo. ****** diluar sana masih banyak." Ucap Mira lagi sambil mendekat kepada Erga.


"Tapi gue maunya dia." Ucap Erga sambil balik badan berniat meninggalkan kami.


"Ayo girl maju, sebelum tu bajingan pergi.


Nah sekarang giliran aku yang maju, untuk sesi teriak-teriak itu adalah urusan Mira, sementara hajar-menghajar adalah bagianku. Catik-catik begini aku menguasai ilmu bela diri yang cukup mempuni. Oke, waktunya aku maju menghajar bajingan itu.


Dengan kekuatan penuh aku berlari menuju Erga dan menarik paksa gadis itu dari tangannya, lalu menyerahkan pada Mira.


"Eh buset pelan-pelan dong, gue hampir jatuh, nih." Ucap Mira yang kaget dan sedikit oleng menerima gadis itu.


"Lama kalau harus pelan, seret dia ke mobil, biar aku yang urus pria bejat ini."


Setelahnya, aku beri tendangan maut tepat di perutnya, dia sedikit kaget dan mundur satu langkah ke belakang.


"Ayo boy ... laki-laki lawan perempuan,


cukup menarik."


"Gila, lu kira gue apaan, berantam sama cewek? Sudahlah, hari ini Lo ganggu kesenangan gue, suatu saat gue yang ganggu Lo. Tunggu aja."


"Dasar banci, bilang aja kamu takut sama aku, kan? ternyata pengecut juga, pantasan beraninya pakai obat tidur."


"Lebih tepatnya sama bapakmu" ucap Erga sambil terbahak, lalu kemudian berlalu pergi.


"Bajingan, Lo, sini gak, lawan gue ... heiiii."


Erga terus berjalan seraya melambaikan tangannya tanpa menoleh, tidak terpengaruh sama sekali dengan omonganku. Mungkin dia tau kalau aku master karate, makanya dia takut melawanku. Ya sudahlah, bodo amat, yang penting si gadis lugu itu selamat.


Mulai dari hari itu, kami berteman akrab dan kami mengajarinya sedikit nakal. Hanya sedikit, sangat sedikit dibanding kenakalan kami berdua.


Oke sekarang bicara tentang aku. Kata orang aku gadis yang cantik, ini kata orang, loh. Penampilanku sedikit tomboy dan suka berkelahi waktu SMA dulu. Sekarang uda tobat pengen jadi wanita seutuhnya, jadi sedikit peminim. Ya cuma sedikit, nyatanya aku masih lebih suka pakai baju kaos kedodoran, celana jins dan sepatu sport kalau kemana-mana. Tapi jangan ada yang macam-macam, bogeman mentah masih bisa aku beri.


Kata papa, aku boros bangett, tapi jangan salah, borosnya aku, bukan buat beli tas, sepatu atau baju-baju bermerek macam wanita-wanita sosialita itu, no. Aku suka melakukan hal-hal gila, itu saja. Misalnya tiba-tiba pengan makan siang di Singapura, lalu malamnya terbang ke China, hal-hal begitulah dan itu aku lakukan dengan dua sohib gilaku.


Sebenanya uang yang aku habiskan belum seberapa, loh, buat orang-orang kaya. Memang papa saja yang lebay, kelewatan pelitnya, eh ...  hematnya maksudku. "Kalau papa gak hemat, kita gak bakalan bisa hidup seperti ini, Sayang. Kamu belum lihat gimana susahnya papa dulu, buat makan saja harus kerja keras. Mending duitnya dikasih buat orang-orang yang membutuhkan atau usaha baru buat membuka lapangan kerja, papa setuju kalau kamu punya usaha sendiri." Ini nih, nasehat keramat papa yang aku hafal di luar kepala.

__ADS_1


Udah dulu sepenggal cerita tentang aku, ya, kalau mau tau lebih banyak, lebih baik ikuti kisah aku ini, oke.


__ADS_2