
Hiruk pikuk kota Jakarta menandakan kota itu dijuliki kota yang tidak pernah tidur. Kemacetan lalu lintas dan polusi udara dari kendaraan bermotor sudah menjadi santapan masyarakat kota Jakarta. Kerasnya hidup di kota membuat Yoga Pratama— mahasiswa tingkat akhir yang menimba pendidikan di salah satu universitas negeri di sana kesulitan untuk mencari pekerjaan hanya buat sekedar membayar tempat tinggal dan makan sehari-hari.
Sudah tiga tahun Yoga tinggal di Jakarta dan selama itu dia hanya bekerja sebagai penjaga toko di salah satu mini market milik perorangan yang ada di sekitaran rumah kontrakannya. Lahir dari keluarga yang sederhana dan hanya dibesarkan hanya dari seorang ibu membuat ia harus banting tulang untuk biaya hidup selama menimba ilmu di Jakarta. Beruntungnya Yoga memiliki otak yang cerdas sehingga ia bisa sekolah dengan jalur beasiswa.
“Pokoknya saya tidak mau tahu, kamu harus melunasi tunggakan selama dua bulan terakhir, kalau tidak kamu harus pergi dari tempat ini!” ucap seorang pria paruh baya, pemilik kamar kostan yang berukuran 3x3 yang berada di pinggiran kota.
Yoga hanya mengangguk lalu menundukkan kepalanya. Gajinya sebagai penjaga minimarket nyatanya tidak cukup untuk menutupi semua kebutuhan dia, terlebih ia juga harus mengirim uang pada ibunya untuk biaya pendidikan adik semata wayang yang kini duduk di bangku sekolah menengah pertama.
Sang ibu yang bekerja sebagai buruh cuci membuat Yoga tidak bisa tinggal diam. Walaupun ibunya suka menolak kiriman uang darinya, tetap saja Yoga mengirimkannya karena ia tidak mau ibunya terus- menerus menjadi seorang buruh.
“Ditagih lagi lo sama pak kentung?” ucap seorang pria yang menyewa kamar tepat di sebelah kamarnya. Yoga hanya tersenyum kecil dan masuk ke dalam kamarnya. Ia duduk menyender sambil meremas rambutnya.
‘Kamu harus kuat Yoga! Kamu harus kuat! Satu tahun lagi kamu kuliah, kamu harus kuat!’ Yoga mencoba untuk menguatkan dirinya sendiri agar ia tidak menyerah dengan keadaan.
Drrrt! Drrrt! Ponsel Yoga bergetar dan dengan cepat ia mengangkat telepon dari sahabatnya Reski.
“Bro, lo di mana?” terdengar suara bising musik yang membuat Yoga tidak jelas mendengar suara sahabatnya itu.
“Hah ... apa yang kamu bilang?” Yoga keluar dari kamarnya, ia takut karena sinyalnya yang kurang, membuat suara yang tidak jelas terdengar.
“Lo di mana? Gue ada pekerjaan nih buat lo!” seketika dua sudut bibir Yoga melengkung.
__ADS_1
“Ada di kostan. Pekerjaan apa itu?” tanya Yoga penasaran.
”Pokoknya lo ke sini aja dulu. Nanti gue kirimkan alamatnya. Jangan sampai enggak datang ya!” Reski langsung mematikan ponselnya.
Yoga menatap jam kecil di meja belajarnya. Ia mengerutkan kening, pasalnya sekarang waktu sudah menunjukan pukul delapan malam. Yoga penasaran pekerjaan apa yang ada di malam hari seperti ini. Yoga menggelengkan kepalanya membuang banyak pertanyaan dalam otaknya, lalu bergegas untuk menyusul Reski di tempat yang dimaksud oleh sahabatnya.
Seperti biasa, Yoga pergi bersama motor bebek kesayangannya. Ia melintasi pinggiran kota hingga sampai di tempat yang dimaksud oleh sahabatnya.
“Ini 'kan tempat —” tatapan Yoga langsung tertuju pada seorang pria di depannya yang sedang melambai-lambaikan tangannya.
Yoga mengangguk, ia terlebih dahulu menyimpan helm bogo kesayangannya dan berlari kecil menghampiri Reski.
”Lo lama banget sih!” kesal Reski langsung menarik tangannya masuk ke dalam sebuah diskotik ternama di Jakarta.
“Hey ... Lo kenapa?” Reski menyusul Yoga, menepuk bahunya.
”Maaf Reski, bukannya gue menolak rezeki, tapi kalau pekerjaan yang kamu maksud itu di sini, maaf gue mundur!” kembali Yoga membalikkan badannya, tapi dengan cepat Reski merangkul pundaknya.
”Bro, jangan naif jadi orang. Gue tahu lo butuh uang buat bayar kostan dan kirim ke nyokap 'kan? Lo tenang aja, bukan di sini kok kerjanya. Pekerjaan ini gampang dan pastinya halal. Lebih baik lo masuk dulu dan ketemu sama temen gue. Dia butuh banget bantuan lo.” Reski berusaha meyakinkan Yoga agar mau masuk ke dalam diskotik itu.
Mendengar kalau pekerjaan ini halal, Yoga pun mengikuti Reski masuk ke dalam, walau sebenarnya hatinya ragu. Ini pertama kalinya Yoga menginjakkan kakinya di sebuah club malam. Ia mengerutkan kening merasa risih dengan suara musik yang keras. Yoga melotot kaget dan dengan cepat memalingkan wajahnya ketika melihat banyak perempuan yang memakai pakaian yang terbuka.
__ADS_1
”Bro, apa di sini cewek-ceweknya miskin semua seperti gue ya?” bisi Yoga membuat Reski tidak mengerti apa maksud perkataannya.
“Maksud lo, apa?” Reski balik bertanya.
“Baju-baju mereka sangat minim seperti kekurangan bahan. Apa mereka tidak mampu membeli bahan yang tertutup.” mendengar apa yang di katakan Yoga membuat Reski tertawa kencang.
“Ha ha ha, makanya lo tuh tinggal di jakarta jangan bisanya diem di kostan sama belajar aja. Ini tuh style namanya, sudah enggak usah dibahas lagi. Gue mau kenalin lo ke seseorang, dia sangat mrmbutuhkan bantuan elo.” Yoga semakin tidak mengerti.
‘Katanya kerjaan, tapi kok sekarang malah bantuan sih?’ Yoga bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Ia hanya pasrah mengikuti langkah Reski melewati kerumunan orang yang sedang asik berjoged mengiri musik yang sedang di putar.
Langkah Reski berhenti tepat di sebuah meja berukuran panjang dan nampak sedang ada pesta di sana. Pria dan wanita saling berbaur tanpa jarak membuat Yoga yang melihatnya cukup risih.
“Lo tunggu dulu di sini ya!” bisik Reski dan dia menghampiri seorang wanita cantik dengan menggunakan baju dress ketat merah sepaha.
Entah apa yang Reski bisikkan kepada wanita itu sehingga tatapannya langsung menatap Yogya dari atas hingga ke bawah. Melihat itu, semua tatapan orang menatap padanya, sehingga membuat Yoga salah tingkah dan hanya tersenyum mengangguk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Wanita cantik itu melambaikan tangan, sehingga membuat Yoga menghampiri dirinya. Wanita itu lalu berdiri dan memutari Yoga membuat Yoga semakin penasaran sebenarnya pekerjaan apa yang ia harus lakukan sehingga ia harus datang ke tempat seperti ini.
“Not bad! Sedikit di poles, maka dia akan menjadi idola para wanita,” ucap wanita itu membuat Yoga melotot. Pikirannya melayang-layang, ia takut kalau dirinya akan dijadikan pemuas seorang wanita. Dengan cepat Yoga mundur dan melepaskan rangkulan wanita yang bernama Tasya itu.
“Maaf, sepertinya aku tidak bisa bekerja di sini. Reski maafkan gue!” Yoga menundukkan kepalanya dan berniat untuk keluar, tapi dengan cepat Tasya menarik tangan Yoga hingga langkahnya terhenti.
__ADS_1
“Hei ganteng, mau ke mana? Aku akan menawarkan uang yang cukup besar untukmu, asal kamu mau membantuku,” bisik Tasya yang membuat bulu kuduk Yoga berdiri karena embusan napasnya.