
Yoga dibawa ke sebuah ruangan yang kedap udara. Jantungnya berdebar, ia tidak tahu wanita yang bernama Tasya sebenarnya ingin menawarkan pekerjaan apa padanya. Ruangan itu nampak kosong dan kini hanya ada mereka berdua.
“Duduklah!” titah Tasya yang sudah terlebih dahulu duduk.
Yoga hanya mengangguk tersenyum, ia pun duduk dengan gugup karena tatapan Tasya sejak tadi terus saja menatapnya sambil tersenyum.
“Kamu tidak perlu takut sama gue. Kenalin nama gue Tasya!” dia mengulurkan tangannya dan dengan cepat Yoga langsung menerima uluran tangannya.
”Gue, Yoga!” ucap Yoga sambil menarik tangannya yang lama digenggam oleh Tasya. Ada sedikit ketakutan dalam hati Yoga, karena ini pertama kalinya ia berduaan dengan seorang wanita di sebuah ruangan. Selama ini Yoga sibuk dengan kuliah juga pekerjaannya, sehingga ia tidak punya waktu untuk mencari seorang kekasih.
“Gue udah denger cerita dari Reski tentang masalah hidup lo. Lo tenang saja, pekerjaan yang gue tawarkan bukan pekerjaan yang macam-macam kok. Gue besok butuh pasangan buat pergi ke party. Lo cukup jadi pacar bohongan gue aja. Untuk masalah bayaran, gue bisa bayar lo cukup besar dan sebagai bonusnya gue bisa promosiin lo biar banyak yang menggunakan jasa lo,” jelas Tasya.
Yoga mengerutkan keningnya. Ia masih tidak mengerti apa maksud dari apa yang dikatakan Tasya, “Maksudnya?” tanya Yoga penasaran.
“Ha ha ha, benar kata Reski, lo terlalu polos. Maksud gue, kerjaan lo hanya sebatas pacar sewaan tidak lebih. Lo tidak perlu melakukan apapun, cukup menjadi pacar saja dan tidak lebih, tapi bayarannya fantastis. Bagaimana?” Tasya meyakinkan Yoga agar mau menerima tawaran darinya.
“Maaf, gue masih belum mengerti apa maksudnya. Jadi, tugas menjadi pacar sewaan itu seperti apa? Soalnya selama ini gue enggak pernah mendengar pekerjaan semacam itu.” Tasya senang kalau Yoga banyak pertanyaan, itu artinya Yoga penasaran dengan penawaran yang ia tawarkan.
__ADS_1
“Cukup menemani dan melakukan apa yang diperintahkan saja.” mendengar itu pikiran Yoga semakin traveling, ia langsung beranjak dari tempat duduknya. Dalam benak Yoga, ia harus menemani para wanita yang haus akan sentuhan, seperti yang selama ini sahabatnya lakukan. Jelas hati Yoga langsung menolaknya.
”Maaf Tasya, gue enggak bisa bekerja seperti itu! Lebih baik, kamu cari pria yang lain saja.” saat Yoga hendak keluar dari ruangan itu, Tasya berdiri dan menghalangi pintu keluar sehingga langkah Yoga terhenti.
“Lo benar-benar polos, bikin aku ingin sekali memangsa lo. Duduk dulu yuk! Biar gue jelasin secara terperinci, pekerjaan apa yang harus lo lakukan.” mau tidak mau Yoga pun menuruti apa yang diperintahkan oleh Tasya. Yoga kembali duduk hanya untuk menghargai Tasya, tapi ia tidak sama tertarik dengan pekerjaan yang ditawarkan olehnya. Yoga ingin mencari rezeki yang halal, walaupun itu hanya sedikit.
“Maksud gue, pekerjaan ini kebanyakan hanya butuh pasangan di acara-acara tertentu saja. Bukan melakukan hal-hal yang aneh. Seperti menemani makan, atau pergi jalan ke Mall. Ada juga yang ingin lepas dari pacar dan menyewa pacar sewaan. Seperti itulah pekerjaannya, bukan macam-macam kok.” mendengar penjelasan dari Tasya sedikitnya Yoga tertarik, karena tidak ada satupun ucapan Tasya yang sesuai dengan apa yang dia pikirkan sejak tadi.
“Hanya sebatas itu 'kan?” tanya Yoga yang keyakinkan kalau pekerjaan ini tidak lebih dari eekedar menjadi pasangan dan Tasya pun mengangguk.
“Iya hanya sebatas itu, jadi lo enggak usah mengkhawatirkan sesuatu yang aneh-aneh. Lumayan 'kan penghasilannya bisa bayar uang sewa kostan lo. Jadi, sebagai latihan, lo besok temenin gue ke party temen gue di club ini. Walaupun ini latihan, tetap gue akan bayar lo sesuai tarif pasaran. Bagaimana?” Yoga terdiam sejenak, ia tidak tahu pekerjaan ini salah atau tidak, tapi untuk saat ini ia benar-benar sangat membutuhkan pekerjaan untuk membayar kostannya, terlebih minggu lalu dia diberhentikan sementara oleh pemilik minimarket, karena tokonya yang sedang direnovasi.
“Gitu dong dari tadi.” Yoga hanya tersenyum kecil sambil berusaha melepaskan rangkulan Tasya, karena ia masih belum terbiasa dan tidak nyaman untuk bersentuhan dengan wanita.
Malam itu Yoga tidak langsung pulang dan bergabung dengan Reski yang sedang menikmati pesta malam itu. Suara dentuman musik yang keras membuat semua orang bergoyang asik. Wanita maupun pria saling berjoget dengan jarak yang snagat dekat dan jujur melihat itu Yoga merasa risih.
“Lo mau nemenin gue joget enggak? Ini salah satu pekerjaan lo nanti, hanya joget aja menikmati musik,” bisik Tasya dengan nada yang cukup tinggi, karena musik yang keras membuat mereka kurang mendengar apabila melakukan percakapan.
__ADS_1
Tanpa mendengar jawaban Yoga, Tasya langsung menarik tangan Yoga sambil berjoget di bawah kerlap kerlip lampu diskotik. Yoga awalnya hanya diam, ia tidak tahu harus melakukan apa, tapi Tasya menarik kedua tangannya dan memaksa Yoga agar ikut berjoget.
“Ikutin irama aja, Ga. Nikmati alunan musiknya, hilangkan semua penat dalam pikiran lo. Nanti juga lo ketagihan,” lagi-lagi Tasya berbisik keras dan terus mengoyangkan badannya.
Yoga hanya mengangguk dan mengikuti apa yang Tasya katakan menikmati alunan musik. Melihat Yoga yang sudah mulai menikmati alunan musik, Tasya tersenyum dan semalin dekat berjoget dengan Yoga. Di sisi lain Reski berjalan masuk ke dalam sebuah ruangan yang memang di sediakan pihak diskotik untuk menyalurkan napsu duniawi.
Jam sudah menunjukan dini hari. Yoga yang menyadari akan hal itu langsung mengajak Reski ketika pria itu sudah melepaskan kenikmatannya bersama wanita yang baru ia jumpai di sana. Melihat kelakuan Reski, Yoga hanya menggelengkan kepalanya. Ia memang sudah mengetahui kalau sahabatnya itu sering melakukan hal itu.
“Ki, balik sekarang yuk!” ajak Yoga dan diiyakan oleh sahabatnya.
“Yoga, jangan lupa besok aku tunggu ya!” ucap Tasya sambil berbisik dengan badan yang menempal seperti memeluk Yoga.
Yoga yang merasa tidak nyaman hanya mengangguk tersenyum kecil lalu menarik tangan Reski yang memang sedikit mabok malam itu. “Merepotkan sekali!” ucap Reski saat sahabatnya berjalan dengan tubuh yang lemas.
Bohong Yoga tidak tergoda dengan wanita-wanita yang kata dia memakai baju kurang bahan. Cuma sejak tadi Yoga berusaha menahan napsunya dan mengendalikan agar tidak tergoda dengan wanita-wanita yang sejak tadi berusaha untuk menggoda dirinya.
Terlebih dahulu Yoga membawa Reski ke toilet dan membasuk wajah sahabatnya agar sedikitnya sadar. “Gila, lo kira gue baju pake dibasuh segala!” geram Reski yang kesadarannya mulai pulih.
__ADS_1
“Gue mau pulang sekarang!” Reski mengagguk dan mengikuti sahabatnya keluar dari clun malam itu.