Terpaksa Menjadi Pacar Sewaan

Terpaksa Menjadi Pacar Sewaan
Bab 4 Mulai Bekerja


__ADS_3

Setelah cukup lama Tasya menunggu, akhirnya


Yoga pun keluar dari ruangan. Tasya yang tadinya sedang memainkan ponselnya seketika berdiri dan tanpa ia sadari kalau ponselnya jatuh ke lantai. Beruntungnya lantai dilapisi karpet bulu tebal, sehingga tidak membuat ponselnya retak.


“Bagaimana? Bening bukan?” ucap pria yang mempunyai salon itu.


Tasya tersenyum mengangguk, ia berjalan mendekati Yoga. “Kamu luar biasa!” bisi Tasya sedangkan Yoga hanya tersenyum ragu.


Penampilan Yoga benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Mulai dari rambut dan cara perpakaian Yoga yang benar-benar berubah. Ia sudah memakai baju yang dibelikan oleh Tasya. Wanita mana yang tidak langsung terpesona melihat Yoga untuk pertama kalinya.


“Cinta, terimakasih ya! Ini bayaran buat kamu plus bonusnya.” Tasya memberikan beberapa uang lembaran seratus dan merangkul tanga Yoga keluar dari salon.


Yoga dengan cepat mengambil barang belanjaan dan mengikuti langkah Tasya.


“Sekarang kita mau ke mana lagi?” tanya Yoga yang penasaran. Tasya hanya tersenyum dan keduanya terus berjalan hingga berada di dalam mobil.


“Kerjaan lo sekarang dimulai. Hari ini gue mau ketemu sama teman-teman lama gue. Mereka itukadang menyebalkan. Sekarang tugas lo, harus bisa meyakinkan mereka kalau lo benar pacar gue. Oh iya ... satu lagi, lo harus bilang sama mereka kalau lo adalah anak pengusaha. Ini adalah kartu kredit unlimited. Lo nanti bisa gunain ini pas bayar semua pesanan mereka.” Tasya memberikan black card pada Yoga, tapi Yoga hanya diam dan tidak mengerti dengan apa yang harus ia kerjakan.


“Jadi, gue harus berbohong?” tanya Yoga polos sehingga membuat Tasya tertawa puas.


“Ha ha ha, pekerjaan lo memang harus berbohong, sayang. Sudah jangan terlalu alim dan polos. Pekerjaan kalau harus jujur terus kapan berhasilnya?” Yoga pun mengambil black card itu dan Tasya langsung menjalankan mobilnya.


Selama perjalanan Yoga berpikir keras dengan pekerjaan yang ia lakukan sekarang. Memang ini tida begitu sulit, tapi kalau dia harus pura-pura menjadi orang lain itu membuat hatinya berat. Terlebih dia orang yang tidak punya, apa pantas berbaur dengan orang kelas atas seperti Tasya.


”Sya, maaf sebelumnya. Sepertinya gue agak enggak nyaman dengan pekerjaan ini. Bagaimana bisa gue harus berakting menjadi orang kaya, sedangkan gue tidak pernah hidup mewah. Pasti orang akan langsung menyadarinya. Dari pada lo malu, lebih baik lo cari orang lain saja.” mendengar apa yang dikatakan Yoga, Tasya hanya diam dan tidak menggubrisnya.

__ADS_1


Mobil Tasya pun masuk ke sebuah hotel bintang lima. Ia memakirkan mobilnya terlebih dahulu. Setelah selesai, Tasya membuka sabuk pengaman dan duduk menghadap Yoga, sehingaa membuat di salah tingkah. Tasya pun mengambil beberapa lembar uang merah dan diberikannya pada Yoga.


“Ini uang muka bayaran lo. Ayo ambil!” Yoga hanya diam, Tasya menarik tangan Yoga dan meletakan uang senilai dua juta rupiah untuknya.


“Ini baru uang muka. Kalau lo berhasil meyakinkan mereka semua, gue akan kasih bonus dua kali lipat dari ini.” Tasya memasang wajah yang menggoda agar Yoga mau menerima tawarannya.


“I-ini terlalu banyak untuk sekedar berbohong,” ucap Yoga terbata.


“Maka dari itu, gue bilang pekerjaan ini mudah tapi bayarannya sungguh luar biasa. Kalau lo berhasil sekarang, gue pastiin sama lo bakal banyak yang akan menggunakan jasa lo. Ya ... itung-itung ini sebagai latihan biar nanti lo terbiasa. Bagaimana?” Yoga nampak diam sejenak sambil melihat uang dan kartu yang ada di tangannya.


Siapa sih yang bakal menolak pekerjaan yang upahnya sudah ada di tangan. Terlebih uang yang ada di tangan Yoga adalah upah dia bekerja selama satu bulan di minimarket dan yang lebih menggiurkan lagi, ini hanyalah uang muka. Yoga menutup matanya dan menarik napas dalam ia mengangguk membuat Tasya tersenyum.


“Gitu dong dari tadi. 'Kan lumayan lo bisa ngasih buat bayar pendidikan adik lo.” Yoga nampak kaget karena Tasya mengetahui semua tertantang dirinya.


Sambil berjalan masuk ke dalam hotel, Tasya merangkul tangan Yoga. “Ingat ya, lo harus bersikap senatural mungkin,” bisik Tasya dan Yoga hanya mengangguk.


“Hai beb, gimana kanar lo!” sapa Tasya kepada salah satu temannya sambil mencium pipi kiri dan kanan.


“Baru lagi nih?” ucap wanita itu sambil memberi tanda melirik ke arah Yoga.


“Ah iya lupa, kenalin ini Yoga, pacar baru gue.” Wanita itu langsung mengulurkan tangannya dengan memberikan mata genit pada Yoga. Yoga tersenyum dan membalas uluran tangannya.


Tasya menyapa teman-teman yang lainnya sedangkan Yoga dikerumuni wanita-wanita cantik yang ingin berkenalan dengannya. Penampilan Yoga bisa membuat smeua orang tertipu. Tidak ada yang mengira kalau dia hanya orang biasa yang tinggal di pinggiran kota dengan kamar ukuran 3x3 yang dibilang tidak layak untuk ditempati.


Benar saja apa yang dikatakan Tasya. Teman-temannya menanyakan apa pekerjaan Yoga dan berasal dari keluarga mana. Dengan lancarnya Yoga menceritakan dirinya, walau semua itu hanya kebohongan. Tasya yang sedang asik bicara dengan teman-teman sesekali melirik ke arah Yoga dan tersenyum bangga.

__ADS_1


‘Tidak salah Reski merekomendasikan kamu padaku. Good job, Yoga!’ Tasya merasa bangga. Yoga memerankan perannya hari ini dengan sangat natural tanpa dibuat-buat sehingga semua orang bisa percaya kalau dia benar-benar seperti yang ia katakan.


Di balik para wanita yang mengagumi Yoga, banyak pasang mata yang melihat sinis ke arahnya. Ya ... Mereka adalah para pasangan dari wanita-wanita itu. Mereka menatap sini ke arah Yoga merasa iri karena dia menjadi pusat perhatian dari wanita-wanita cantik yang ada di ruangan itu.


“Biasa aja!” ucap salah satu lelaki sambil tersenyum meledek.


“Sudah tidak perlu diperhatikan. Pasangan Tasya 'kan memang selalu jadi pusat perhatian setiap kali ada pertemuan. Nanti juga bulan depan ganti lagi,” timpal pria lainnya yang sudah tahu betul kalau Tasya tidak pernah membawa pasangan yang sama.


“Wah ... Enggak nyangka putus dari Rico lo dapet tambang emas. Sekarang kamu harus serius dan langgeng sama dia,” ucap salah satu wanita saat mereka berjalan bersama menuju parkiran.


Tasya tersenyum sambil merangkul Yoga, “Iya dong. Pasti kok hubungan kita bakal langgeng, iya enggak sayang?” Tasya melirik ke arah Yoga sambil tersenyum memainkan kedua matanya.


Yoga membalas senyuman Tasya sambil mengusap kepalanya, “Pasti sayang!” semua temannya Tasya merasa ikut tersenyum melihat kemesraan keduanya.


Sampai di parkiran Tasya dan teman-temannya kembali mencium pipi kiri dan kanan dan naik ke dalam mobil masing-masing. Tasya langsung memeluk Yoga ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


“Aaaa ... Gue enggak salah pilih. Semua orang terpana sama gue. Yoga, terimakasih ya! Sesuai janji gue, nih dua empat juta sebagai bonus karena lo sudah bekerja dengan baik.” Yoga mendorong tangan Tasya yang memberikan dia uang sebanyak itu membuat Tasya mengerutkan keningnya.


“Maaf, gue tidak bisa menerimanya. Dua juta juga sudah cukup, malah lebih dari cukup.” kembali Tasya dibuat tertawa.


“Sudah terima saja. Ini bayaran yang pas buat pekerjaan lo yang memuaskan.” kembali Tasya menarik tangan Yoga dan menyimpan uang di atas telepak tangannya.


Sampai di depan gang kostan Yoga, ia pamit. Terlebih dahulu ia menyerahkan kartu milik Tasya dan mengambil barang belanjaan di bagasi mobilnya.


“Nanti gue hubungi lo lagi kalau ada job ya!” ucap Tasya membuka jendela mobilnya. Yoga mengangguk tersenyum dan melambaikan tangannya ketika mobil sport itu melaju pergi.

__ADS_1


‘Tuhan, apakah yang saya lakukan ini benar?’ gumam Yoga yang merasa kalau apa yang dihasilkannya hari ini adalah perbuatan yang salah.


__ADS_2