Terpaksa Menjadi Pacar Sewaan

Terpaksa Menjadi Pacar Sewaan
Bab 3 Beasiswa


__ADS_3

“Gila ya lo, kirain pekerjaan apa. Gue berpikiran negatif tahu enggak!” ucap Yoga saat ia pulang bersama dengan sahabatnya menuju ke kostan.


“Ha ha ha, kata gue juga apa, ini pekerjaan gampang. Kita hanya perlu menemani dan menuruti kemauan orang yang menyewa kita doang, enggak melakukan apa-apa. Sudah lo coba dulu aja, nanti juga lo ketagihan karena uangnya yang mengiurkan. Soalnya, orang-orang yang pakai jasa pacar sewaan itu orang tajir melipir.” Yoga hanya terdiam dan berkonsentrasi mengemudi motor bebeknya. Sebenarnya dia tidak tahu apa yang dia lakukan ini benar atau salah, tapi kebutuhan membuat ia terpaksa harus menerima semua ini.


Keesokan harinya Yoga sudah bersiap berangkat ke kampus. Ia menggelengkan kepalanya saat melihat sahabatnya Reski yang masih terlelap. Ia pun memutuskan berangkat ke kampus dan tidak membangunkan sahabatnya itu.


Jarak antara kosan dan kampus tidak begitu jauh sehingga Yoga selalu berjalan kaki untuk pergi ke kampusnya. Sambil memainkan ponselnya, Yoga menyusuri jalan setapak yang tembus langsung ke pintu utara kampus. Seketika langkahnya terhenti saat ponselnya berbunyi. Ia menatap layar ponselnya yang terlihat nomor yang tidak diketahuinya.


‘Siapa ini?’ monolog Yoga. Ia pun memutuskan untuk mengangkat telepon itu.


“Halo, maaf ini dengan siapa?” Yoga langsung menanyakan siapa yang menelepon dirinya.


“Hai sayang! Nanti siang, gue jemput di kampus ya!” suara seorang wanita yang tidak asing di telinga Yoga.


“Tasya?” Yoga berusaha menebak wanita yang menghubungi dia.


“Benar sayang. Ingat yang kita obrolin kemarin 'kan? Nanti siang tunggu gue di depan gerbang kampus ya!” Tasya langsung mematikan ponselnya membuat Yoga tidak bisa menolak, karena siang ini dia masih ada kelas.


Yoga mengembuskan napas kasar dan kembali berjalan menuju kelasnya. Seperti biasa, Yoga akan mengambil bangku paling depan, tidak seperti mahasiswa lainnya yang akan berlomba-lomba untuk mencari bangku paling belakang.


Tatapan mata Yoga langsung terfokus pada mahasiswa baru yang akhir-akhir ini mengemparkan fakultas ekonomi. Wanita cantik blasteran itu duduk tepat di samping Yoga hingga membuatnya salah tingkah. Sejak awal bertemu dengan wanita yang ada di sampingnya, memang Yoga sudah menyukainya. Maka dari itu, ia merasa gugup berada di dekat wanita itu.


Dua jam materi membuat Yoga tidak bisa konsentrasi. Ia terus mencuri-curi pandang memanda wanita pujaan hatinya. Selesai kelas, ponsel Yoga berdering, hingga ia yang berniat untuk mendekati wanita itu menurungkan niat dan mengangkat telepon dari Tasya.

__ADS_1


“Gue udah di depan. Cepat ya! Kita enggak ada waktu, soalnya aku mau belanja dulu.” lagi-lagi Tasya mematikan ponselnya duluan sebelum Yoga sempat mengeluarkan suaranya.


Yoga pun bergegas membereskan buku-bukunya dan lari menuju gerbang kampusnya. Benar saja, mobil sport kuning sudah terparkir tepat di depan pintu masuk kampus. Banyak pasang mata yang melihat ke arah Tasya, karena mobil Tasya yang mahal dan memiliki warna yang mencolok.


Tasya membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangan pada Yoga sambil tersenyum. Yoga berlari kecil dan dengan cepat masuk ke dalam mobil agar ia tidak menjadi pusat pembicaraan orang-orang di kampusnya.


“Tasya, cepat pergi sekarang!” titah Yoga sambil melihat sekitar.


“Lo kenapa sih?” tanya Tasya merasa heran sambil melajukam mobil sport kesayangannya.


“Enggak kenapa-kenapa. Oh iya, sebenarnya hari ini gue masih ada kelas. Lo enggak ngasih kesempatan gue buat bicara, jadi terpaksa deh gue bolos untuk pertama kalinya.” Yoga merasa menyesal karena telah meninggalkan kelas hari ini.


Mendengar apa yang dikatakan Yoga, malah membuat Tasya tertawa membuat Yoga melirik aneh ke arahnya.


“Gue harus sadar diri, Sya. Kuliah gue 'kan jalur beasiswa, jadi gue harus giat belajar.” Tasya merasa tidak enak setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Yoga.


“Sorry ya, gue enggak bermaksud. Sekarang lo tenang aja, gue bakal merubah hidup lo menjadi lebih baik lagi.” Tasya menggenggam tangan Yoga sambil tersenyum.


Entah apa maksud Tasya bicara seperti itu, yang jelas Yoga tidak pernah berpikir lebih selain mencari uang untuk bisa membayar kostan dan mengirimkan uangnya untuk orangtua satu-satunya. Sejak kecil Yoga selalu bekerja keras, terlebih ketika ayahnya meninggal karena kecelakaan lalu lintas diusia dia yang masih meninjak lima belas tahun. Mulai dari saat itu, Yoga belajar lebih giat lagi agar setiap sekolahnya mendapat beasiswa dan semua itu terwujud sampai dia bisa kuliah di Jakarta.


Mobil sport kuning itu pun memasuki basement sebuah mall yang cukup besar di kota Jakarta. Dengan lihainya Tasya memakirkan mobilnya sehingga membuat Yoga kagum.


“Yoga, lo kenapa diam sih? Ayo turun!” ucap Tasya yang membuyarkan lamunan Yoga.

__ADS_1


“Ah ... I-iiya.” Yoga pun turun dari mobil dan mengikuti langkah Tasya memasuki pintu mall.


Tujuan pertama Tasya masuk ke sebuah toko pakaian pria yang bermerk. Ia sibuk memilih-milih banyak baju dan di arahkan ke Yoga sehingga Yoga merasa canggung. Tasya tertawa kecil melihat wajah polos Yoga dan kembali memilih baju, jaket dan celana.


Entah berapa banyak uang yang dikeluarkan Tasya untuk membeli semua keperluan dari Yoga. Setelah membayar keperluan, ia menyerahkan semua bingkisan belanjaan pada Yoga sehingga membuat pria yang memiliki tinggi tubuh seratus tujuh puluh lima itu merasa heran.


“Ini buat Lo semua!” Yoga melotot kaget.


“What? Lo enggak salah? Ini pasti mahal banget.” Yoga mengambil paper bag yang ada ditangan Tasya.


“Sudah lo cukup terima saja pemberian dari gue. Sekarang kita ke lantai atas ya!” Yoga pun mengangguk pasrah dan mengikuti langkah Tasya masuk ke dalam lift.


Setelah sampai di lantai paling atas, Tasya memasuki sebuah salon yang cukup besar. Seorang pria berjalan gemulai menghampiri Tasya dan mencium kedua pipi Tasya membuat Yoga yang melihatnya seketika merinding.


“Helo beb! Lama banget enggak ke sini,” sapa pria setengah jadi.


“Gue bawa barang baru. Urus dia ya!” Pria itu langsung menatap Yoga dari atas hingga ke bawah membuat Yoga merasa takut.


“Beb, lo tahu aja barang bagus. Minceee, urus dia!” pria lainnya mengambil barang belanjaan yang ada di tangan Yoga dan menariknya masuk ke dalam.


“Hei, kalian mau apa? Tasya ini apa maksudnya!” teriak Yoga tapi ia tetap terseret masuk ke dalam walaupun Yoga berusaha sekuat tenaga untuk tidak ikut tertarik masuk. Tasya yang melihatnya tertawa puas.


“Gue serahkan dia sama lo ya Beb!” pria setengah jadi itu menaikkan kedua jempolnya dan ikut masuk ke dalam.

__ADS_1


__ADS_2