
Yoga menyender di dinding kostannya sambil menatap uang yang hari ini dia dapatkan. Tidak pernah ada melintas dalam benak Yoga bisa mendapatkan uang sebanyak ini dalam beberapa jam saja. Jangankan melintas, untuk memikirnya pun tidak pernah.
Tok! Tok! Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Yoga. Terlebih dahulu ia membereskan uangnya yang berserakan di lantai lalu bergegas membuka pintu kostannya.
“Eh Pak Kentung!” pemilik kostan seperti biasa datang untuk menagih hutang kostan yang sudah menunggak selama tiga bulan.
“Sepertinya kamu sudah ada uang. Cepat bayar kostannya, kalau tidak besok kamu keluar dari sini. Yang butuh kostan sangat banyak, saya bukan seorang relawan yang menapung orang dengan gratis!” suara jutek ciri khas pria paruh baya itu membuat Yoga sedikit ketakutan dan berggas mengambil uang yang dia dapatkan tadi.
“Ini Pak, totalnya satu juta dua ratus untuk tiga bulan.” seketika pria itu tersenyum sambil memainkan kumisnya yang menjuntai.
“Nak gini dong! Bayar sewanya jangan nungak mulu!” ucapnya dan bergegas pergi meninggalkan Yoga.
Yoga membuang napas kasar dan merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamarnya. Ia masih bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa yang sudah dia lakukan apakah benar atau salah. Tapi, kehidupan Jakarta yang keras membuat ia terpaksa menerima pekerjaan ini.
Keesokan harinya seperti biasa Yoga berangkat lebih awal ke kampusnya. Tahun ini adalah tahun di mana Yoga terakhirnya di kampus. Kini dia sedang sibuk menyusun skripsinya. Sebelum ia pergi ke kampus, terlebih dahulu ia menyetorkan uang ke rekening untuk mengirimkan kepada orangtuanya di kampung.
__ADS_1
Seketika ponsel Yoga berbunyi mendapat panggilan dari sang ibu. Melihat itu Yoga tersenyum dan segera mengangkat teleponnya.
“Halo Bu, apa kabar ibu dan adik?” sapa Yoga ketika mengangkat telepon dari ibunya.
“Nak, kamu dapat uang dari mana bisa mengirim uang sebanyak ini?” tanya langsung sang ibu ketika Yoga mengangkat telepon darinya.
“Aku punya pekerjaan baru, Bu. Mulai sekarang Ibu tidak perlu lagi bekerja sebagai buruh cuci, biar aku yang akan mencari uang untuk Ibu dan Yuni—adik perempuan Yoga.” mendengar ibunya yang nampak bahagia dengan pekerjaan barunya membuat Yoga seketika bersyukur dengan Tasya.
“Asalkan jangan menganggu pendidikan kamu ya, Bang. Pokoknya kamu harus lulus jangan sampai putus kuliah! Kamu tahu 'kan perjuangan kamu untuk bisa kuliaj di Jakarta bagaimana? Jangan biarkan perjuangan kamu akan berakhir sia-sia!” sang Ibu takut anaknya terlalu sibuk bekerja sehingga sekolahnya terbengkalai.
Saat mematikan ponsel, mata Yoga tertuju pada pemberitahuan pesan masuk dari Tasya, dengan cepat ia membuka pesan dan seketika ia tersenyum membaca pesan dari Tasya yang memberitakan kalau ada job baru nanti malam. Dengan cepat iya menjawab pesan Tasya dan menyetujuinya.
Ketika berada di dalam kelas, lagi-lagi Yoga bersebelahan dengan murid baru itu. Ia tersenyum, entah kenapa setiap kali bersebelahan dengannya, jantung Yoga selalu berdebar. Kali ini berbeda dengan kemarin-kemarin, ia ingin berkenalan langsung dengan wanita yang ada di sebelahnya. Ini kesempatan Yoga untuk bisa mengenal dia mumpung dosen belum juga datang.
“Hai!” sapa Yoga membuat ia menoleh ke arah Yoga sambil tersenyum.
__ADS_1
“Hai!” sapanya balik.
“Sepertinya sudah lama kita sekelas, tapi kita belum juga berkenalan. Kenalin nama aku Yoga.” Yoga mengulurkan tangannya dan dengan cepat dia membalasanya.
“Nama aku, Wulan. Senang berkenalan dengan kamu.” melihat senyuman Wulan membuat jantungnya berdebar.
”Senang juga bisa berkenalan dengan kamu.” bahasa Indonesia yang masih terbata membuat Yoga semakin gemas dengan wanita yang ada di sebelahnya.
“Boleh minta nomor kamu?” tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk meminta nomor gadis yang selama ini mencuri perhatiannya.
“Boleh, berikan ponselmu!” dengan cepat Yoga mangambil ponselnya yang berada di dalam tas dan memberikannya pada Wulan.
“Sudah ya! Kalau begitu saya duluan. Mau ke perpustakaan dulu.” Yoga mengangguk tersenyum sambil ragu-ragu melambaikan tangannya. Wulan tertawa kecil lalu membalas lambaian tangan Yoga. Ia merasa lucu melihat tingkah laku Yoga.
Mendapat nomor telepon Wulan membuat Yoga terus tersenyum sambil berjalan menuju ruang dosen. Rencananya Yoga akan mengajukan judul skripsinya. Semua persyaratan untuk mengajukan skripsi telah terpenuhi, dengan begitu Yoga akan segara sibuk untuk menyelesaikan pendidikannya. Ia memang segera ingin menyusun skripsi.
__ADS_1