
"Melepasmu karna perbedaan itu yang tak kuharapkan, tapi mempertahan kanmu karna perbedaan tak juga kuinginkan".
~Ara Sintia
Malam yang hening dan langit cerah dengan dipenuhi bintang yang begitu indah, gambaran hidup yang sangat sempurna bagi semua orang yang memandangnya.
namun tidak dengan seorang wanita yang sedang berdiri di balkon kamarnya dengan menatap langit karna rasa hampa, rasa yang tak pernah ia inginkan.
Entah apa yang saat ini wanita itu fikirkan hingga airmata jatuh tak terbendung lagi, tatapannya kosong kearah langit, tangannya mengepal ingin marah, bibirnya gemetar seperti ingin berkata, namun satupun kata tak terucap dari mulutnya.
Malam semakin larut keheningan pun semakin mencekam dan angin kencang berhembus dikulitnya, namun wanita itu tak peduli ia terus menatap langit dengan tersenyum miris seolah berkata takdir telah mempermainkannya.
Tak terasa cahaya mentari pagi menampakkan wujudnya namun wanita itu tetap setia dengan dunia mimpinya, suara ketukan pintu kamarpun tak mampu membangunkan tidur lelapnya mungkin karena semalam ia tidak tidur karena menatap langit dengan kesedihannya.
Karena tidak ada sautan dari dalam, mina pun langsung masuk kamar karena kebetulan kamar tersebut tidak terkunci.
"non, bangun sudah pagi ayo sarapan"
kata bi mina membangunkankan nonanya yang masih terlelap sambil mengelus kepala yang ditumbuhi rambut panjang hitam agar segera bangun.
Mina sudah lama bekerja dikeluarga ara sebagai asisten rumah tangga namun keluarga ara menganggapnya sebagai keluarga bukan sebagai pembantu, karna sikap baik dan kejujurannya mampu membuat ara selalu mencurahkan isi hatinya tanpa Canggung kepada mina dan menganggap nya sebagai ibu sendiri. Namun terkadang mina tak enak hati kepada keluarga tersebut karena merasa bukan seperti pembantu tapi seperti keluarga sendiri, kalau makan dimeja yang sama dengan keluargaa tersebut mereka tidak membedakan atara pembantu dan Majikan namun tidak dengan ibu sambung ara.
Ara sangat menyayangi mina dibandingkan nensi ibu sambung ara, menurutnya nensi hanya pura-pura baik didepan ayahnya hanya karna mengiginkan harta.
Merasa ada yang mengelus kepalanya, ara pun membuka matanya perlahan dan terlihat ada mina yang sedang berusaha membangunkannya.
"selamat pagi bi"
ucap ara sembari memperlihatkan senyum manisnya kepada mina tanpa terlihat kesedihan sedikitpun, awalnya mina pun tersenyum membalas sapaan ara namun setelah mina memperhatikan wajah ara lebih dekat senyum itu hilang dan dipenuhi dengan banyak pertanyaan yang melintas dibenak mina karna melihat mata sembab ara yang sangat terlihat walau berusaha ditutupinya.
"non ara dari nangis? Cerita sama bibi non" ujar mina lembut dan terlihat sangat tulus, namun ara tidak ingin membuat bik mina merasa sedih karena dirinya akhirnya ara pun memendam isi hatinya.
"ara tidak apa-apa bi, semalam ara kelilipan dan langsung tidur makanya mata ara kelihatan seperti ini" kata ara berbohong menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
"kalau non ara mau cerita ayo silahkan bibi siap kok dengerinya" ujar mina spontan karena mina yakin ada yang ditutupi ara darinya dan keluarganya.
"ya bibi sayang itu pasti" ujar ara sambil menampakkan senyum seperti biasanya.
"ya udah bi, ara mandi dulu sesudah itu ara turun kita sarapan bareng" ucap ara sembari beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Kini ara tengah berdiri didepan cermin kamar mandi sambil memandangi dirinya dengan tatapan sedih dan kini air mata yang sangat dibencinya pun turun lagi.
Ara sibuk menghapus air mata itu, tiba-tiba ia teringat seseorang yang pernah berkata padanya kalau air mata satu tetes yang jatuh dari mata ara adalah luka terdalam bagi hidup seseorang tersebut.
"ara kamu harus ingat, jangan pernah kamu teteskan airmata mu karna itu adalah lukaku"
Kata-kata itu selalu teringat dikepalanya hingga ia pun berhenti menangis.
"cristan aku mencintaimu" ucapnya gemetar
"kenapa cris kita terlahir dengan keyakinan yang berbeda, kenapa harus ada agama cris! kenapa? " ucapnya dengan airmata menetes kembali.
Cris adalah panggilan dari nama Cristiano erfando lelaki yang sangat ara cintai, lelaki yang seharusnya berada disampingnya mengucapkan janji suci bersama dihadapan tuhan yang sama. Namun ini sangat berbeda kini lelaki itu tidak bersamanya lagi karena terhalang oleh keyakinan.
Tak lama ara pun tersadar dari tangisannya dan segera membersihakan tubuhnya.
Dua puluh menit kemudian keluarlah ara dari kamar mandi dengan handuk yang menutupi sebagian tubuh indahnya itu, ia menuju lemari untuk mengambil pakaian dan memakainya kemudian mengeringkan rambutnya lalu turun kebawah untuk sarapan bersama.
Sesampainya dibawah, ara tidak menemukan lagi ayahnya dimeja makan yang ada hanya ibu sambungnya.
"akhirnya turun juga nyonya muda"
ujarnya sembari menatap ara sinis, ingin sekali rasanya ara memaki namun ia masih menghormati nensi sebagai ibunya dan karna umur juga jauh diatasnya.
Ara pun menarik salah satu kursi dan duduk tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya, ia melihat bi mina dan beberapa pelayan lainnya berdiri menunggu mereka makan sambil menundukkan kepala tanda hormat mereka.
Biasanya jika ayah ara ikut sarapan dengan mereka maka mina pun disuruh sarapan juga bersama, namun jika ayahnya tidak ada maka nensi akan menyuruh mina berdiri bersama pelayan di pinggir meja makan untuk menunggu majikannya menyelesaikan sarapan. Ara pun diam tidak membantah karena ia merasa percuma berdebat mengabiskan tenaga sia-sia menurutnya.
__ADS_1
"kamu akhir-akhir ini tidak terlihat menemui cristan"
ucap nensi memecah keheningan diantara mereka.
"tidak harus setiap hari"
Ujar ara tanpa melihat lawan bicaranya.
"kamu kalau diajak bicara lihat orangnya ara" ujar nensi meninggikan suaranya.
"sepertinya selera makanku hilang"
Ucap ara meletakkan kembali sendok dipiring dan bergegas meninggalkan ruang makan tanpa bicara kembali.
Nensi pun menatap punggung ara yang pergi meninggalkan ruang makan dengan tajam sambil berkata dalam hati
"apa yang disembunyikan anak itu, kenapa tidak seperti biasanya apa ini ada hubungan dengan keluarga cristan" ucap nensi dalam hati dan membanting sendok dengan keras, sehingga membuat mina dan pelayan lainnya terkejut serta menoleh kepadanya.
"apa yang kalian lihat? Cepat bersihkan!" bentaknya lalu melangkah meninggalkan meja makan.
Buru-buru merekapun membersihkan meja tersebut tampa berani membantah ucapan majikannya.
"pantas saja non ara lebih memilih cerita kepada kita dibandingkan dengan ibunya tak tau diri itu" ujar iyem salah satu pelayan dirumah ara.
"hus jaga bicaramu iyem tidak boleh seperti itu dengan majikan kita" ucap siti memperingatkan iyem, minapun geleng-geleng mendengar ucapan mereka berdua tanpa mau ikut membicara kan majikannya itu.
"ya sudah ayo kita bawa kebelakang dan cuci setelah itu kita bisa istirahat" ujar mina menengahi pembicaraan mereka berdua.
"iya ayo" jawab siti
Lalu mereka melangkah dan membawa bekas piring kotor untuk di cuci.
Didalam kamar ara menyandarkan tubuhnya disisi ranjang sambil melamun, entah apa yang sekarang menjadi beban pikiran gadis itu hingga membuatnya tak Keluar kamar.
__ADS_1
*jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya biar saya tetap semangat nulisnya😊