
...Happy Reading...
.......
.......
.......
Desa
Siapa bilang gadis desa itu cupu dan norak. Mereka juga bisa hidup selayaknya anak kota. Tapi kembali ke pernyataan awal. Ini di desa bukan kota
07.38 AM / Rabu 13 Januari 2021
"Udah gue bilang gue dulu yang ke sini, jadi ini tempat duduk gue!" Ngotot seorang gadis
"No, big no. Gue duluan yang duduk di sini" kata gadis yang satunya lagi dengan santai
"Tapi gue duluan yang datang!"
"Itu karena lo lamban kayak siput, makanya gue duluan yang duduk di sini"
Seorang gadis baru keluar dari rumah itu geleng kepala melihat interaksi kedua gadis di hadapannya 'sepeti anak kecil saja' batinnya tak habis pikir
"Maaf, ladies ladies. Ini rumah saya, jadi kursi kebesaran ini milik saya" kata gadis yang baru datang itu sambil menyingkirkan kedua tangan dua gadis di hadapannya dari kursi tersebut
"Silahkan cari tempat lain" kata gadis itu lagi yang sudah duduk anteng di kursi
Kedua gadis itu mendengus "ini semua karena lo Athi!" Tuduh salah satu gadis itu pada gadis di sampingnya
"Enak saja, jelas jelas ini semua gara gara lo Athaya Thavisa!" Kata gadis bernama Athi itu tak terima dengan tuduhan Atha
"Athiyyah Thavasa, jangan sekali kali menyebut nama kakakmu dengan nama lengkapnya" kata Atha marah
"Nyenyenyenye, bacot!" Kata Athi menyenye sambil duduk di kursi lainnya
Amaya Tazkira atau sering di sapa Maya memutar bola matanya malas. Kedua gadis di hadapannya selalu saja berdepat tidak kenal lelah. Setiap hari, jam, menit, bahkan detik ada saja hal yang dipermasalahkan
"kalian diam ngak. gue ngak bisa dengar apa apa kecuali suara cek cok kalian itu. Gue lagi video Call dengan my boyfriend, tolong mengertilah!"
Kedua gadis itu bungkam, takut bersuara 'jangan sampai Maya marah' batin keduanya
Atha dan Athi adalah saudara. Usia mereka terpaut tiga tahun. Beberapa bulan lagi Atha akan keluar dari masa putih biru dan masuk ke masa putih abu abu. Begitupun dengan Athi yang keluar dari masa putih merah dan masuk ke masa putih biru
Sedangkan Maya sendiri sebentar lagi akan melepas masa putih abu abu, gadis itu adalah adik bungsu dari bundanya Atha dan Athi. Dengan kata lain Maya adalah bibi kedua gadis itu
Dan ngomong ngomong tentang kursi tadi, bukan kursi antik atau kursi mahal lainnya. Hanya sebuah kursi tua yang diletakkan di teras rumah orang tua Maya, begitupun rumahnya jangankan rumah bertingkat, rumahnya saja adalah rumah kayu yang biasa orang sebut rumah panggung. Bukannya tak punya biaya untuk membangun rumah yang lebih bagus, hanya saja nenek Atha bilang rumah panggung itu adalah peninggalan ibunya
Tentang alasan mereka memperebutkan kursi itu ya cuma satu. Karena cuma di sanalah jaringan internet bagus. Begitulah kehidupan desa. Yang menjadi permasalahan adalah jaringan internet
*****
"Athaya, Athiyyah, bangun kalian! Ini udah jam delapan, sudah bunda bilang jangan tidur sehabis sholat subuh" teriak bunda Rani. Ibu dari Atha dan Athi
__ADS_1
Atha dan Athi terlonjak kaget dan segera bangun dari tidurnya, dengan secepat kilat membersihkan tempat tidur. Entah rapi atau tidak, dalam pikiran mereka cuman satu. 'jangan sampai kena amuk bunda'
Dengan pelan dan sedikit gemetaran Atha memutar kunci kamarnya. Belum juga gadis itu memegang kenop pintu. Pintu itu sudah lebih dulu terbuka, menyebabkan kening mulus gadis itu tertabrak dengan kayu pintu atau dengan kata lain dia kejedot pintu
"Ups maaf, siapa suruh kalian telat bangun" kata bunda Rani tanpa rasa bersalah
"Tapi kan Athi juga telat bangun!" Kata Atha tak terima
"Athi bersihin rumah, sekarang gak pake lama!" Kata Rani tak terbantahkan
"Yahh, bunda. Masa Athi bersihin rumah sedangkan Atha gak ngapa ngapain, cuman kejedot pintu itu" protes Athi
"Atha masak sama cuci piring. Udah gak usah protes, kerjain tugas masing masing!" Kata Rani lagi lalu melenggang pergi
Sejenak kedua gadis itu melirik satu sama lain lalu keduanya menghembuskan nafas pasrah
*****
Ayah dan bunda Atha sudah pergi dari rumah. kedua orang tua gadis itu pergi untuk mengecek para pekerja di perkebunan kelapa sawit milik keluarganya. sebenarnya Rani sudah beberapa kali mengajak Atha untuk ikut, sebab selanjutnya gadis itulah yang akan mengurus perkebunan itu di kemudian hari. Tapi entah alasan apa, setiap pergi ke kebun Atha selalu gatal gatal setelah pulang ke rumah, sedangkan untuk Athi sendiri alasannya ya cuman malas
Dan disinilah kedua gadis itu sekarang, di rumah neneknya. Dengan alasan gerah Atha mengajak Athi ke teras rumah neneknya. Sebenarnya rumah Atha dilengkapi dengan AC, hanya saja Atha selalu berdalih bahwa udara langsung lebih segar daripada udara buatan
"Apaan RP?" Gumam Atha sambil menatap layar ponselnya yang sedang menampilkan aplikasi viral. Tik Tok
Gadis itu saat ini sedang duduk di kursi tempatnya duduk biasa. Begitupun dengan Maya dan Athi. Seperti biasa Maya yang sibuk dengan pacar dan para simpanannya. Sedangkan Athi sibuk dengan gamenya. Free fire
"Rupiah kali ya" pikirnya
"Coba tanya Mbak google deh" kata gadis itu lalu membuka google
Drtt...
"Menurut suara.com, RP sendiri adalah sebuah permainan role playing, dimana pengguna dapat mengisi karakter artis, idola, atau tokoh terkenal favorit mereka lewat aplikasi Telegram"
"Pengguna biasanya membuat karakter kesukaan mereka, entah itu dari dalam negri maupun luar negeri"
Suara dari benda pipih itu mampu mengalihkan perhatian Maya dan juga Athi yang sedari tadi sibuk dengan urusan masing masing. Kedua gadis itu menatap Atha jengkel, sedangkan yang ditatap hanya menyengir memperlihatkan deretan gigi putihnya
"Kecilin volumenya!" kata Maya singkat tak terbantahkan
Gadis itu mengangguk lalu mengecilkan volume handphonenya. Jari lentiknya sibuk mengotak atik benda pipih itu
'dapat'
'eh ini benar kan telegram? Kayaknya iya deh'
Gadis itu membatin sambil senyam senyum membuat Athi yang sedari tadi memperhatikannya bergidik ngeri
'kerasukan kah?' batin Athi ngawur
"Apaan gak ada seru serunya kok" kata Atha yang sedari tadi mengotak atik ponselnya
"Malahan kok gue geli yah, harus imagine gini. Geli geli gimana gitu"
"Au ah, bodo amat"
__ADS_1
"Huaaaa, apa apaan ni cowok" pekik Athi tiba tiba
Sontak Maya dan Atha menatap gadis itu, lalu keduanya saling melempar pandangan. Atha mengangkat bahunya tanda tidak tau
"Lo kenapa?" Tanya Maya pada akhirnya
"Alzam nolak gue" kata Athi lirih
Bukannya prihatin akan kondisi saudarinya, Atha malah tertawa terbahak bahak
"Lagian lo juga bego, cowok dekil gitu dikejar kejar" kata Maya heran
"Gue cinta sama dia"
Atha menghentikan tawanya "apa tadi? Cinta? Hey bocil, harusnya lo belajar baik baik daripada ngomongin hal gak penting kayak gitu"
"Dasar cinta monyet" gumam Atha
"Masih mending gue, daripada lo. Gak normal, udah 15 tahun gitu tapi masih jomblo. Gak laku ya?" Ejek Athi
Maya memutar bola matanya malas. Dia lebih memilih diam. Perdebatan seperti ini sudah makanan sehari hari untuknya
"Ya bagus gue jomblo atau lebih tepatnya singgel. Daripada lo udah digantung, dihempasin ke jurang pula. Malang amat nasibnya neng" balas Atha santai
Memang sampai sekarang gadis itu lebih memilih sendiri alias singgel. Menurut cerita dari teman temannya gadis itu menyimpulkan bahwa pacaran itu ribet
"Ck, gue sumpahin nasib percintaan lo nanti lebih mengenaskan" kata Athi kesal lalu kembali menatap layar ponselnya
"Kita lihat saja nanti" jawab Atha santai
"Cinta aja lo ngak tau. Apalagi mau jatuh cinta" kata Maya menatap Atha
"Masih belum waktunya" kata gadis itu
"Coba deh sekali aja Lo pacaran. Pasti lo bakal ketagihan. Lo baru putus seminggu tangan lo udah gatal buat cari yang lain. Gitu aja terus sampai dapat yang cocok" saran sesat dari Athi
"Oh, jadi dengan kata lain pacaran itu kayak konsumsi narkoba. Gitu kan? Dengan kata lain lo, lo, pada sama aja kayak pecandu narkoba" kata Atha menunjuk Maya dan Athi
"Bege, ngak gitu juga" kesal Maya
"Canda doang mbak" kata Atha terkekeh
"Jadi kapan?" Tanya Athi
"Apanya?" Tanya balik Atha
"Lo cari pacar. Atau kalau ngak gue yang cariin" kata Athi dengan sindiran di akhir kalimatnya
"In your dreams"
.......
.......
.......
__ADS_1