
.......
.......
.......
Setelah menunaikan ibadah sholat Dzuhur dan tak lupa berdoa, Atha melangkah keluar dari mesjid. Setelah memakai sepatunya Atha bangkit. Langkahnya terhenti saat melihat sebuah tubuh tegap dengan bahu lebar tak jauh dari hadapannya
"Bang Athalla" gumam Atha
Memilih menghampiri Athalla yang sudah lama tidak ditemuinya karena Corona, gadis itu melangkah "woy bang" panggil gadis itu menepuk bahu Athalla yang sedang membelakanginya
Athalla berbalik. Athalla sama sekali tidak terkejut bertemu dengan sosok gadis kecil yang menghampirinya. Memang sedari tadi dirinya menunggu gadis itu keluar dari mesjid
"Udah selesai?" Tanya Athalla
Kening gadis itu mengkerut, sedetik kemudian dia kembali menampilkan ekspresi biasa "kenapa?"
"Gue mau ngomong"
"Ngomong apa?"
Athalla mengadakan pandangannya pada sekitar. Pria itu merasa tak nyaman dengan banyaknya orang yang baru saja selesai menunaikan ibadah shalat Dzuhur
"Di jembatan biasa aja bang" kata Atha seakan mengerti apa yang sedang dipikirkan Athalla
Athalla mengangguk. Setelahnya laki laki itu melangkah menuju parkiran untuk mengambil motornya, begitupun dengan Atha yang melakukan hal sama
Mereka mengendarai motor membelah jalan raya, dengan Athalla yang berada di depan sedangkan Atha ada di belakang untuk mengikuti. Meskipun dia jelas tau arah jalannya
Sesampainya di jembatan yang Atha maksudnya, keduanya langsung menepikan motor. Athalla turun dari motornya dan menghampiri Atha yang hanya duduk diam di motor miliknya
...Note : Anggap aja itu Atha lagi di jembatan...
"Kenapa?" Tanya Atha
"Gue yang harusnya tanya kenapa. Kenapa lo selama ini bohong sama gue?"
Gadis itu mengerutkan keningnya. Dia berpikir kebohongan apa yang dia katakan pada Athalla selama ini
"Tentang Maya yang selingkuh" lirih Athalla seakan tau apa yang dipikiran gadis di hadapannya
"Oh, itu cewek lo yang suruh gue bohong"
Athalla tersenyum miris "Kenapa lo mau mau aja dituduh sama dia?"
Mengingat itu Athalla rasanya ingin menghilang saja. Pria itu jelas masih ingat terakhir bertemu dengan Atha bukan di sekolah tapi di taman. Saat itu Athalla menampar Atha karena geram dengan kebiasaan Atha yang suka mempermainkan perasaan pria. Dan sekarang dia baru tau kalau yang sebenarnya terjadi adalah Maya lah yang sering bertemu dengan kadal kadal sialan itu
"Gue cuman gak mau hubungan kalian rusak cuman gara gara crocodile gak tau malu kayak mereka"
"Dengan cara nuduh lo yang selingkuh?" Tanya Athalla penuh emosi
"Memangnya kenapa?"
Gadis itu berucap santai. Sama sekali tidak ada ketakutan dimatanya. Atha adalah gadis yang jika dia merasa benar dengan apa yang dia lakukan, maka dia akan melakukannya tanpa ketakutan apapun. Siapapun lawannya
"Tapi kenapa lo ngaku kayak gitu?" Bukannya menjawab Athalla malah kembali bertanya
"Gue cuman buat lo tambah yakin kalau gue yang sering selingkuh. Bukan Maya"
"Ngak, bukan itu alasan lo" kata Athalla tak percaya
Athalla tau benar bahwa Atha bukan gadis yang mau mau saja jika reputasinya rusak seketika. Terkadang bahkan Atha melakukan hal diluar nalar hanya untuk membalas orang orang yang tak sengaja menyinggungnya apalagi menyinggung kedua sahabat gadis itu, Atha akan berubah menjadi sosok yang tak punya perasaan
"Setelah kita ketemu di taman, gue lihat berita. Katanya cowok yang hari itu lo temui kecelakaan. Jelasin Tha!"
Gadis itu mecebikkan bibirnya kesal. Athalla selalu tau tentang hal seperti ini "gue ngak ngapa ngapain, gak ada bukti kan kalau gue yang celakain dia"
"Tapi gue yakin itu perbuatan lo"
Okey, Atha mengalah "Dia duluan yang salah" ungkap gadis itu
"Tentang Maya?"
"Bukan. Tentang Salsa dan Chika"
"Apa kaitannya dengan kedua sahabat lo itu?"
__ADS_1
"Kadal sialan itu dan sama sama spesiesnya celakain Salsa dan Chika pas kedua gadis itu pulang sekolah. Mereka balas dendam karena gue abaikan dengan cara ngecelakain kedua sahabat gue"
"Jadi lo dalang dibalik kecelakaan Lukman dan teman temannya?" Tanya Athalla hati hati
"Hmm, selama ini gue diam bukan karena gue ngalah. Gue cuman ngasih kesempatan buat mereka senang senang sebelum neraka mereka datang"
"Tapi salah satu teman Lukman sampai di rawat sebulan di rumah sakit Tha" kata Athalla memberi peringatan
Pria itu takut jika suatu saat Atha ketahuan, bahwa gadis itulah dalang dibalik kecelakaan yang akhir akhir ini menghebohkan kota itu. Bagaimana tidak heboh jika kecelakaan itu terjadi setiap hari di tempat yang sama pada orang yang berbeda. Yang membuat aneh adalah sudah ada beberapa polisi yang setia berjaga di sana tapi sampai sekarang tidak ada yang tau siapa dalang di balik kecelakaan itu. Bahkan Atha sendiri juga tidak tau kenapa dia tidak bisa ketahuan, gadis itu merasa ada yang melindunginya dari belakang. Entahlah
"Luka yang mereka dapat bisa sembuh dengan obat kan? Luka mereka itu ngak sebanding dengan luka yang kedua sahabat gue tanggung" kata gadis itu lirih di akhir kalimatnya
"Emangnya apa yang mereka lakuin ke Salsa dan Chika?"
Atha melirik Athalla dengan ekor matanya. Jujur, sebenarnya Atha tak ingin membicarakan ini kepada orang lain
"Percaya sama gue. Lo anggap gue kakak sendiri kan? Begitupun dengan gue. Gue cuman mau yang terbaik buat lo" kata Athalla meyakinkan
Atha menghela nafasnya, gadis itu memalingkan wajahnya dari pandangan Athalla "bajingan bajingan itu merkosa kedua sahabat gue"
Lirih, sangat lirih kata kata yang keluar dari mulut gadis itu barusan. Demi apapun Atha merasa sangat bersalah. Andai dia tau akibat dari dirinya yang mengabaikan Lukman hari itu adalah kehancuran sahabat sahabatnya, gadis itu lebih memilih berpura pura ramah saja pada pria itu
Sedangkan Athalla, laki laki itu bungkam. Dia tak tau harus berbuat apa lagi. Athalla sangat tau kalau Atha akan melakukan apa saja untuk membalas seseorang yang berani menyakiti sahabat sahabatnya. Tapi dia sungguh sangat takut gadis itu suatu hari nanti ketahuan
"Lo bisa lapor polisi kan Tha? Selesaiin baik baik"
Gadis itu terkekeh "Selesaiin baik baik bang lo bilang" kata gadis itu lalu tersenyum miring
"Harusnya lo bilang ini ke para bajingan itu. Gue ngak salah apa apa sama mereka, tapi dengan ngak ada perasaan sedikitpun mereka hancurin hidup orang orang yang gue sayang. Orang orang yang ngasih tau gue apa itu arti persahabatan. Orang yang ngasih tau gue gimana rasanya menjadi orang yang berharga di hidup dia. Dan orang orang yang nyembuhin luka gue, yang nemanin gue pada saat gue ngak percaya sama siapapun"
Roboh sudah pertahanan Atha, gadis itu menangis dengan derasnya. Inilah kelemahan terbesar gadis itu, kedua sahabatnya
"Gue rasa lo tau kan alasan gue pindah sekolah, dan gue rasa lo juga tau alasan gue selalu ngak suka sama selingkuhan selingkuhan Maya" kata gadis itu menghapus kasar air matanya. Dia tak ingin berlama lama menangis, itu bukan dirinya
"Gue tau, sangat tau malahan" lirih Athalla pelan
...*****...
"Bunda ngak mau tau pokoknya minggu depan kamu pindah!" Kata Rani telak
Atha yang saat itu baru berusia 11 tahun hanya diam pasrah. Bukan tanpa alasan bundanya itu ingin dia pindah. Kata bundanya sekolah yang akan di tempatinya adalah sekolah besar dan terjamin. Atha sama sekali tidak punya alasan untuk menolak
Seminggu sudah berlalu. Hari ini adalah hari terakhir Atha masuk sekolah dengan teman teman lamanya
"Iya, pasti kita bakal dilupain, Atha kan suka banget ngelupain sahabat sendiri" kata Jihan sok sedih sekaligus menyindir Atha yang pastinya itu tak benar
Mereka bertiga adalah sahabat sedari kecil. Tapi entah itu alasan apa Jihan selalu merasa bahwa Atha adalah ancaman baginya. Maka dari itu dia selalu melakukan apapun agar Atha dibenci. Dan benar, kadang Atha dan Rasya bertengkar karena adu domba yang dibuat oleh Jihan
Atha sendiri tak mempedulikan perkataan Jihan. Gadis itu memang sadar bahwa Jihan membencinya, bodo amat lah. Dalam hati dia juga berdoa mudah mudahan teman teman barunya nanti tak seperti Jihan yang licik dan Rasya yang bodoh karena mudah di racuni oleh perkataan Jihan
Hari yang ditunggu tiba, hari ini adalah hari dimana Atha pindah sekolah. Perasaan berdebar dan gugup terlihat jelas pada raut wajahnya
"Perkenalkan nama aku Athaya Tavisha, bisa di panggil Atha. Pindahan dari MTs ....." kata Atha memperkenalkan dirinya. Gugup? Sangat, gadis itu sangat gugup
Setelah perkenalan itu Atha diminta untuk duduk agar pelajaran segera dimulai. Setelah pelajaran selesai Atha merapikan buku bukunya dan memasukkannya kedalam tas. Perlahan para siswa dan siswi mulai keluar menuju kantin, Atha sendiri hanya diam ditempatnya tak tau harus berbuat apa
"Hay kenalin nama aku meysha" kata seorang gadis berkacamata sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Atha
Atha menerima uluran tangan gadis itu "Atha" kata gadis itu sambil tersenyum ramah
"Ke kantin?"
"Boleh"
Dan dari sanalah pertemanan antara Atha dan Meysha dimulai. Awal awal bersama Meysha Atha merasa banyak pasang mata yang menatapnya tak suka, tapi lama lama gadis itu tak peduli
Hingga....
"Aku ngak tau! Mungkin Atha yang ambil" kata Meysha lantang menuduh Atha
"Sha aku ngak tau apa apa soal itu. Kok kamu nuduh aku" kata Atha tak percaya
Saat ini kedua gadis itu sedang diintrogasi oleh guru. Kemarin ada siswa yang melaporkan bahwa dia kehilangan uang dalam jumlah yang banyak. Setelah di periksa uang itu ditemukan di loker Atha dan Meysha
"Bisa aja kan kamu yang ambil, selama ini ngak ada kasus kayak gini, tapi setelah kamu datang, kasus kayak gini terjadi. Wah wah aku ngak nyangka ternyata kamu pencuri" kata Meysha dengan lancarnya menuduh Atha
Sakit, itulah yang Atha rasakan. Bisa bisanya gadis yang selama ini dia percayai sebagai sahabat menuduhnya yang tidak tidak. Padahal Atha sendiri tidak kekurangan uang, jadi untuk apa dia mencuri
"Jangan nuduh Atha sembarangan Meysha! Sekolah bukannya ngak punya CCTV, dan dengan jelas terekam kalau kamu yang mencuri uang itu" kata bu kepala sekolah
__ADS_1
Meysha tak berkutik lagi setelah itu. Bisa bisanya dia lupa tentang CCTV yang melihat aksi jahatnya. Sedangkan gadis di sampingnya tambah sakit lagi hatinya, Atha tak menyangka Meysha melakukan itu padanya
"Apa alasan kamu Meysha?" Tanya bu kepala sekolah
Meysha menatap Atha nyalang "aku ngak suka sama dia bu, bukan cuman aku tapi seluruh siswa dan siswi ngak suka sama dia. Dia itu anak desa, ngak pantas sekolah di sekolah elite kayak sekolah kita ini. Meskipun keluarganya kaya tetap aja dia ngak pantas"
Bu kepala sekolah menahan amarahnya, wanita itu tak ingin menyakiti gadis kurang ajar dihadapannya "ibu rasa kamu tau aturan sekolah Meysha. Mulai hari ini kamu dikeluarkan dari sekolah"
Setelah kejadian itu Atha menjadi gadis yang lebih pendiam dan selalu menyendiri. Bukan hanya karena dikhianati oleh Meysha tapi setelah kejadian itu Atha menjadi bahan bullyan seluruh siswa dan siswi. Setiap hari ada saja cacian dan makian yang dia dapatkan, bahkan gadis itu dituduh dalang dari pindahnya Meysha
Tiga bulan adalah waktu yang lama Atha menahan semuanya. Hingga gadis itu menyerah, sungguh dia hanya gadis polos yang tak tau apa apa. Diusianya yang baru menginjak 11 tahun mentalnya tidak kuat untuk menghadapi tindakan bully yang teman teman sekolahnya berikan
Otaknya sudah tak berfungsi dengan baik, gadis itu tidak bisa berfikir jernih. Entah keberanian dari mana gadis itu meminum obat yang selama ini dia kumpulkan, bukan jumlah yang sedikit. Atha memang tidak tau ada berapa. Tapi saat Atha meletakkan semuanya di telapak tangannya, satu saja telapak tangannya tak bisa menampung obat itu. Obat berjenis pil yang entah darimana saja dia dapatkan. Setelah meminumnya Atha tak tau apa yang terjadi padanya
Atha membuka pelan matanya. Samar samar dia mendengar orang sedang mengobrol. Setelah kesadarannya sepenuhnya kembali, gadis itu mengernyit. Ini bukan asramanya, ini seperti di rumah sakit
"Apa yang kamu rasakan?"
Atha menatap laki laki yang sedang duduk di tepian brangkar yang ditidurinya. Itu ayahnya, sedang apa ayahnya datang. Gadis itu tak menjawab dia memilih memejamkan matanya saat mengingat alasan dia ada di rumah sakit
Setelah kejadian itu Atha dibawa pulang ke rumahnya. Tak ada yang tau apa yang terjadi pada gadis itu, bahkan orang tuanya tak tau. Sengaja pihak sekolah menyembunyikan tentang bullying yang terjadi di sekolah itu. Mereka tak mau reputasi sekolah hancur. Egois memang
Karena tak ingin Atha berhenti sekolah orang tuanya memindahkan Atha ke sekolah Maya. Memang SMP dan SMA disana satu tempat alias digabung. Memang bukan sekolah elite seperti sekolah lamanya dulu, tapi disini Atha merasa dia bisa menghirup udara
Empat bulan dihabiskan Atha untuk menyendiri. Jika jam sedang kosong maka gadis itu akan memilih tidur saja. Tidak ada yang mengganggunya dan tidak ada yang terganggu dengan keberadaannya
Hari ini adalah hari pertamanya sekolah sebagai siswi kelas delapan, Atha tak peduli. Sungguh, gadis itu seperti mayat hidup. Raganya hidup tapi jiwanya entah ada dimana
Atha memasuki kelasnya. Nampak kelas itu sudah ramai siswa siswi. Melangkah menuju bangku belakang Atha mendaratkan tubuhnya di bangku panjang itu. Tak ada siapapun yang mengajaknya bicara ataupun dia duluan yang mengajak bicara
"Kita boleh ngak duduk di sini?"
Atha mendongak menatap datar dua gadis di hadapannya. Atha tak ingat nama gadis gadis itu. Dia tidak pernah berinteraksi dengan siapapun. Atha mengangguk mengiyakan
Kedua gadis itu duduk di samping kiri dan kanan Atha, agak risih memang tapi yasudah lah. Pelajaran dimulai semua siswa dan siswi nampak fokus begitupun dengan Atha
Tapi...
"Chika, sttt, woy, Chika"
Atha melirik sekilas gadis disamping kanannya. Gadis itu terlalu berisik menurutnya
Gadis yang dipanggil Chika menoleh "Apa?" Tanyanya pelan takut guru mendengar
"Gue gak bawa buku hehehe" kata gadis itu tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya
"Hmm, kebiasaan banget lo sal. Masalahnya gue juga lupa"
Atha menarik sudut bibirnya sedikit, sangking sedikitnya sampai tak terlihat. Menurut Atha kedua gadis di sebelahnya sangatlah ceroboh
"Pakai buku gue aja"
Suara dingin itu mampu menghentikan aksi bisik bisik Chika dan Salsa. Kedua gadis itu mendongak ke asal suara, dilihatnya Atha dengan wajah dinginnya
"L-lo bisa ngomong?" Tanya Salsa terkejut
Atha mengerutkan keningnya, ya iyalah. Oh jadi selama ini mereka mengira Atha itu bisu, ck ck ck. Gadis itu mengangguk dengan senyum tipis. Sangat tipis, sangking tipisnya Chika dan Salsa pun tidak tau
"Sumpah gue kira lo bisu" kata Chika heboh
Suara heboh Chika tadi mampu menghentikan kegiatan belajar mengajar di kelas delapan B saat itu. Semua atensi tertuju pada meja belakang. Atha yang merasa risih menatap mereka tajam hingga semuanya kembali menghadap pada papan tulis
"Chika dan Salsa, kalian selalu saja ribut dalam kelas. Keluar, dan bersihkan toilet wanita" kata pak Albert, guru Bahasa Inggris
Chika dan Salsa kompak mendesah kecewa. Selalu saja dihukum, memang benar kata Atha, kedua gadis itu sangatlah ceroboh. Kembali atensi semua orang tertuju pada kedua gadis itu. Tak ada yang berani menatap Atha yang berada di tengah tengahnya
Chika dan Salsa berdiri. Baru saja mereka berdua ingin melangkah, keduanya terkejut saat Atha juga ikut berdiri. Bukan hanya Chika dan Salsa saja, semua orang yang berada dalam ruangan itu terkejut. Termasuk pak Albert
"Atha kenapa kamu berdiri, ingin izin ke toilet?" Tanya pak Albert hati hati
"Tidak"
Seisi kelas tercegang dengan apa yang barusan mereka dengar. Ini tidak salah dengar kan? Apakah itu Atha? Tapi yang mereka tau Atha itu bisu dan tak bisa bicara. Jika ditanya guru sekalipun biasanya gadis itu hanya menggeleng atau mengangguk
"Saya ingin ikut Chika dan Salsa melaksanakan hukuman"
Belum hilang keterkejutan mereka karena mengetahui bahwa Atha bisa bicara. Mereka tambah terkejut saat Atha mengatakan ingin ikut Chika dan Salsa melaksanakan hukuman. Bahkan pak Albert rasanya dibuat sesak nafas sekarang
.......
__ADS_1
.......
.......