
Markas Kepolisian Seoul
Ruang Divisi Detektif
22 April 2016
20.00 KST
“Darimana saja Kau?” Mark bertanya tiba-tiba dengan suara baritonnya ketika pintu ruang kerjanya terbuka, dan wajah kelinci milik Dean muncul. Mark sedang menyeduh sebuah cup mie instan—iya, bahkan seorang Mark Tuan yang selalu hidup sehat dengan meminum teh herbal alias tisane pun tergoda dengan mie instan.
“Ya kkamjagyaa!” Respon Dean berpura-pura kaget dengan nada datar yang dibuat-buat. “Kau mengkhawatirkanku Kak? Jangan terlalu posesif seperti itu, Aku takut.” lanjutnya yang kemudian dibalas tatapan horor oleh seniornya itu.
“Berhenti bicara omong kosong, apa yang Kau lakukan dan temukan?” lanjut Mark sembari menyeruput mie yang masih mengepulkan asap ke wajahnya.
“Sabar. Kepalaku dipenuhi kepingan puzzle dan perutku lapar. Apa Kau punya makanan lagi?” kali ini Ia mendaratkan diri di kursi kerja, lalu membanting kasar bundel kertas A4 yang sedari tadi dipegangnya.
Mark melemparkan beberapa bungkus sugar stick dari lacinya sebagai respon. Dean hanya memutar bola matanya jengah. Memang benar Dean saat ini kekurangan gula darah, tapi bisa-bisa Ia diabetes mendadak jika memakan gula seberat 15 gram itu sekaligus.
“Aha hang ka lhakhukhan dan hemwukhan?” Mark bertanya dengan mulutnya yang berusaha mengunyah puluhan untai mie instan dengan kuahnya yang panas mengepul.
“Heh! Telan dulu mie instanmu!” sergah Dean. Mark tidak peduli.
“Tidak banyak, tapi ini fakta baru. Jujur Aku khawatir.” Dean mulai membuka bundel kertas A4 yang tadi
dibantingnya. Pandangannya serius menatap sesuatu diatas kertas itu, membuat Mark turut mengernyitkan dahi.
“Kenapa?”
__ADS_1
“NISA. Aku yakin mereka terlibat dalam kasus ini, dan berusaha menyembunyikan sesuatu” Jawab Dean. Kali ini Ia menatap Mark serius.
“Bagaimana Kau bisa menyimpulkan NISA terlibat?” tanya Mark. Matanya terlihat berbinar meskipun tertutup oleh asap kuah mie instan dihadapannya. “Here we go NISA, Bahkan Kim Dean si anak bawang berasumsi sama sepertiku.”—batin Mark.
“Hhhhh, Aku—” Dean menghela nafas dalam hendak menjelaskan alasan dari asumsinya kepada Mark, namun tiba-tiba suara pintu ruangan yang terbuka menghentikan niatnya.
“Permisi!” Wendy muncul dari balik pintu dengan wajah yang terlihat lebih segar dari tadi siang saat Mark
melihatnya.
“Oh, Wendy. Ada apa?” Mark terkesiap, Ia tampak menggeser cup mie instannya ke tempat yang tidak terlihat. Oh, jelas Wendy dan Dean menangkap tindakan memalukannya itu.
“Aku ingin memberikan laporan.” Wendy menyerahkan satu bundel kertas A4 dari dalam tas selempang kulitnya itu kepada Mark.
“Baik, terimakasih. Lain kali Kau bisa memberikan laporan di hari berikutnya.” Mark menerima laporan itu, lalu membaca halaman pertamanya. Sementara itu, Dean di tempat duduk hanya memasang judging face nya. Bagaimana tidak, Mark selalu memberikan deadline laporan paling lama 12 jam padanya.
“Tidak apa-apa. Aku sudah bertemu dr. Lee tadi sore, tapi Dia memanggilku kembali.” Ujar Wendy. Ia mendudukan diri di kursi dekat meja Dean.
“Kenapa?” Tanya Mark, pandangannya teralihkan dari laporan yang tengah dibacanya itu.
Dean bergantian. “Untuk detailnya, Dia akan menyampaikannya dalam rapat besok malam. Tapi satu hal, seseorang mungkin telah melakukan sesuatu terhadap jenazahnya sebelum kita datang.”
“Mengapa demikian?” kali ini Dean membuka suaranya.
“Matanya. Matanya dibuat tertutup rapat, dan itu hanya terjadi dengan bantuan manusia. Kedua, ada goresan halus di pelipisnya. Goresan itu belum lama, dan mengeluarkan sedikit darah.” jawab Wendy.
“Dugaanku semakin mengarah kesana.” ucap Dean cukup pelan namun masih terdengar oleh kedua orang dihadapannya.
“Kita akan memastikannya besok setelah rapat. Aku yakin, dugaanmu benar.” ujar Mark dengan nada tenang, mencegah ledakan emosional juniornya yang seringkali menggebu-gebu itu. “Pastikan untuk mengingatkan orang-orang untuk datang. Rapat akan kita majukan menjadi jam 9 pagi.”
“Terimakasih Wendy, Kau bisa datang besok pagi, dan melanjutkan rapat tertutup bersama kami.” intonasi bicara Mark lebih seperti perintah dibanding -ungkapan terimakasih di telinga Wendy. Wendy hanya membalasnya dengan anggukan.
__ADS_1
“Kau akan pulang? Sudah makan?” tanya Mark dengan pandangan yang kembali pada laporan didepannya.
“Ekhem!” Kim Dean sudah siap dengan agenda roasting nya.
Alih-alih menjawab pertanyaan sudah makan dari Mark, Wendy malah berdiri dan menyerahkan dua paper bag berisi bento yang ditaruhnya diatas meja Dean kepada dua orang itu. “Aku membawa ini, makanlah.”
Mata Kim Dean berbinar mendapat asupan makanan gratis.
“Kurangi makan mie instan. Kalau begitu Aku pulang dulu.” ujar Wendy sembari tersenyum dan menyindir Mark begitu Ia menghampiri meja pria itu.
“Tunggu, Aku antar sekalian.” Mark segera berdiri dan meraih kunci mobilnya begitu Wendy meraih tas selempangnya.
“Apa Kau tidak lelah?”
“Tidak. Ayo!”
“Ayo!” bukan Wendy yang menjawab, melainkan Kim Dean. Ia sudah siap untuk pulang semenjak Mark meraih kunci mobilnya. Mark menatap heran Dean.
“Apa? Bukankah biasanya Kau mengantarku pulang juga?”
Ketiga orang itu kemudian berjalan menuju area parkir tempat mobil Mark berada. Raut wajah kelelahan tidak dapat disembunyikan dari ketiganya. Bagaimana tidak? Hari ini sangat panjang, terutama bagi Wendy yang awalnya hanya akan membantu proses interogasi Kelvin Seo, hingga berakhir di TKP dan laboratorium forensik.
Ditengah perjalanan menuju area parkir, Mark menghentikan langkah kedua orang disampingnya begitu melihat sosok Kim Taehyung, anggota CSI yang tadi pagi Ia tugaskan untuk mencari keberadaan wanita bernama Reina Hwang. Ia melangkah menghampiri Taehyung yang tengah berbicara melalui telepon di depan pintu lift itu. Namun langkahnya kembali terhenti begitu mendengar Taehyung yang berbicara dalam bahasa asing. Mark awalnya tidak bermaksud menyadap pembicaraan rekannya itu, namun suara Taehyung cukup jelas terdengar, dan Mark dengan ketajaman memorinya dapat memastikan bahwa pria itu sedang berbicara dalam bahasa Slovakia.
Tidak banyak yang Mark mengerti dari pembicaraan Taehyung, karena pria itu sudah mengakhiri pembicaraanya, dan menyadari kehadiran Mark beberapa saat kemudian.
“Oh, Kak, Kau disini. Sedang apa?”
“Aku sedang menuju area parkir. Apa yang Kau lakukan?” Jawab Mark dengan nada ramah, menutupi rasa bersalahnya karena telah menyadap pembicaraan Taehyung di telepon barusan.
“Aku harus mengambil sesuatu di lantai 3.”
__ADS_1
“Bagaimana Reina Hwang? Apa ada perkembangan terkait posisinya?”
“Aku sedang memastikannya. Aku rasa dia ada di Slovakia.”