
Nowon-gu, Seoul
23 April 2016
10.00 KST
Sebuah kerumunan yang terdiri dari jurnalis tampak di sebuah gedung dua lantai bernuansa minimalis futuristik di kawasan Nowon-gu, Seoul pagi itu. Didalam gedung tampak puluhan lukisan dari berbagai aliran terpajang rapi. Lukisan-lukisan itu mengelilingi para undangan yang duduk pada kursi berwarna silver dengan ukiran elemen alam nan artistik. Sementara itu, diluar gedung berbaris puluhan mobil mewah dan karangan bunga bertuliskan ucapan selamat atas pembukaan sebuah galeri seni. Ten Lee Art Galery, nama galeri seni itu. Merupakan galeri seni lukis ternama di Asia yang baru saja melebarkan sayapnya di Korea Selatan. Karya seni yang ditampilkan di galeri itu memiliki kualitas dan gaya yang mengikuti perkembangan waktu, dan kebutuhan pasar tanpa mengesampingkan esensi dan fungsionalitas primernya.
Suara tepuk tangan begitu meriah terdengar begitu seorang pria berusia sekitar 30 tahun yang mengenakan celana
jeans, kaos putih, blazer hitam, dan baret coklat dikepalanya naik keatas podium. Ia mengambil sebuah gunting besar, lalu memotong pita emas dihadapannya, tanda galeri seni itu resmi dibuka.
“Dengan ini, Saya menyatakan bahwa Ten Lee Art Galery Korea resmi dibuka. Semoga kedepannya galeri ini dapat menjadi media apresiasi seni bagi publik Korea Selatan.”
Senyumnya mengembang ke arah audience, diirngi dengan suara tepuk tangan yang lebih meriah. Kilatan cahaya kamera yang mengiringi para jurnalis untuk memotret sosok pria tampan berkebangsaan Korea-Prancis itupun semakin intens. Dia adalah Ten Lee, sang pemilik galeri. Ten merupakan pemilik galeri sekaligus pelukis beraliran gotik yang aktif menciptakan karya seni selama satu dekade terakhir.
“Terimakasih kepada rekan-rekan seniman,kurator, universitas, dan pemerintah yang telah menyempatkan hadir pada hari ini. Selain itu—” Ten memotong ucapannya, Ia tampak menundukan kepala dan menghela nafas dalam. Air wajahnya berubah menjadi sedikit sendu.
“Saya secara pribadi turut berduka cita atas insiden kematian massal Daegu International School yang sangat menyita atensi publik belakangan ini. Semoga kasus ini segera menemukan titik temu, dan keluarga korban diberi ketabahan. Saya pamit undur diri, selamat menikmati rangkaian acara selanjutnya. Terimakasih!” lanjutnya menutup pidato itu.
Ten turun dari podium dengan senyumnya yang selalu mengarah pada kamera. Ia tampak berjalan menuju sebuah Audi Q7 berwarna biru cerah di depan lobby. Ten membuka pintu penumpang depan mobil itu. Tak lama kemudian, mobil itu melaju meninggalkan area galeri sekaligus tempat peresmian tadi.
“Katakan, apa maumu?” tanya Ten dengan nada sinis pada wanita disebelahnya yang sedang menyetir itu, beberapa menit setelah mereka hanya diam tak bersuara.
“Apa maksudmu Kak?”
“Tumben sekali Kau repot-repot datang ke Korea, menjemputku pula.”
“Aku hanya ingin melihat kegiatan sampinganmu ini. Ternyata Kau keren juga.” jawabnya sembari mengangkar salah satu ujung bibirnya.
“Tentu saja, Aku harus membangun image yang bagus di tempat penelitianku ‘kan?” Ten mengangkat kedua bahunya tanda menyombongkan diri.
“Haha. Acting mu tadi, Aku harap Kau mendapatkan Oscar tahun ini.”
“Hey Lalisa, apa Kau lupa Aku pernah membatalkan debutku sebagai aktor di Prancis?” ujar Ten masih dengan nada membanggakan diri akan pertanyaan adiknya itu.
“Lupakan omong kosongmu Kak. Kita harus kembali secepatnya, dan lain kali bisakah Kau mengurangi kebiasaan menghilang tiba-tibamu itu? Terjadi kekacauan di laboratorium molekuler, dan Kau tidak ada disana. Ck, merepotkan.”
“Kau kira Aku tidak memiliki urusan lain selain kegiatan sampinganku disini?” ujarnya. Ten kemudian menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi.
“Eric Sohn, pria itu berulah.” lanjut Ten. Tampak keterkejutan di ekspresi Lalisa.
“Apa yang Kau lakukan padanya? Dia rekan dekatmu”
“Menurutmu?”
__ADS_1
Mayagüez, Puerto Rico
24 April 2016
08.30 AST
Seseorang dengan hoverboard melaju diatas lantai marmer sebuah mansion berkonsep mediterania pagi itu. Ia melaju dengan senyum lebar sembari mendengarkan alunan musik klasik dari wireless headset di
telinganya. Sudah tiga hari Ia tidak menginjakan kaki di tempat kerjanya itu. Sedikit berlebihan, tetapi pria workaholic itu merindukan pekerjaannya sebagai seorang peneliti. Ten Lee, pria jenius itu merupakan seorang seniman sekaligus ilmuwan. Seperti stereotip yang berkembang tentang seorang jenius, Ten tidak memiliki ambisi bisnis, atau apapun berkaitan dengan uang. Ia hanya mengikuti passion dan obsesinya akan seni dan sains. Baginya, dua hal itu adalah yin dan yang dalam hidup manusia.
Ten memiliki pemikiran sebagai seorang yang liberal dan logis, namun pemikirannya itu secara tidak sadar telah menyesatkan dirinya sendiri. Ten, atas nama obsesinya dibidang sains dan teknologi, terlibat dalam proyek rahasia Amerika Serikat yang digelutinya semenjak lulus dari Departemen Biologi Molekular MIT. Proyek itu merupakan buntut perang dingin antara Amerika Serikat dan Rusia. Amerika Serikat, dengan ambisinya berencana melakukan sabotase di negara-negara poros Rusia. Ten mengetahui tujuan akhir dari proyek yang dipimpinnya. Namun Ten dengan idealismenya, akan selalu mengatasnamakan sains diatas segalanya. Bisa dikatakan, Ia kehilangan separuh empatinya, hingga harus membuat Korea Selatan terguncang akibat sebuah kematian massal misterius. Ia tidak peduli, baginya harus ada yang berkorban demi kemajuan sains dan teknologi. Entah kemajuan
bagaimana yang dimaksudnya.
Locust 127, nama laboratorium rahasia dengan konsep mediteranian mansion itu berdiri dengan megah di Puerto Rico. Ten merupakan pemilik, atau lebih tepatnya seseorang yang diberikan tanggungjawab penuh atas mansion itu. Masyarakat mengenalnya sebagai pendatang, pengusaha, sekaligus seniman kaya raya yang begitu ramah dan membaur dengan masyarakat di wilayah itu. Jangan lupa, Ten memiliki dua wajah, hingga tidak ada yang mengetahui, bahwa mansion berpagar besi menjulang itu bukanlah sebuah mansion, melainkan pabrik pencipta alat kematian umat untuk kepentingan bisnis dan politik sebuah negara adidaya.
“Selamat pagi, Dr. Yoon Gi!” sapa Ten begitu Ia selesai memindai retinanya pada biometric scanner dan pintu kaca laboratorium divisi humanoid terbuka. Profesor bernama Min Yoon Gi itu hanya menatapnya dengan tatapan datar khasnya.
“Aku ingin bertemu dengan Reina Hwang yang sudah mensukseskan trial pertamaku setelah bekerja selama tiga tahun.” ujar Ten sembari mendudukan dirinya asal pada meja tempat Yoon Gi menaruh berbagai peralatan berbahan metal itu.
Yoon Gi kemudian melangkah malas menuju sebuah ruangan dimana hanya dirinya yang dapat membuka dan masuk ke ruangan itu.
Tak lama kemudian, sebuah robot humanoid berjalan menuju arah Ten berada. Ten kemudian berdiri, dan tersenyum bangga pada robot itu. Robot itu kemudian menunduk beberapa derajat layaknya manusia sungguhan. Tangan Ten bergerak menyentuh rambut dan telapak tangan robot humanoid itu. Itu adalah Reina Hwang L127 CBDG E1.
“Sebelum itu, hampir saja terjadi kesalahan padanya. Darah artifisial itu tidak mengalir ketika seseorang di
kafetaria sekolah tidak sengaja menggores tangannya.”
“Apa yang salah?”
“Terdapat sebuah clogging pada ventrikel kiri jantung buatan, dan itu berasal dari nanobiopolimer penyusun dindingnya. Aku akan meningkatkan tensile strength dan kekompakan dinding jantung buatan untuk semua humanoid yang akan kita gunakan selanjutnya. Akan sedikit lama memperbaikinya, karena nanopartikel penyusunnya disintesis secara biologis dari manusia modelnya.”
“Lakukanlah. Aku memberi waktu maksimal 1 bulan untuk penyempurnaan humanoid selanjutnya.”
“Bagaimana kondisi Reina manusia?”
“Stabil dalam kriopreservasi.” jawab Yoon Gi. Tangannya menunjuk sebuah ruangan di sisi kanan laboratorium. Tampak termostat ruangan bersekat kaca itu menunjukan suhu -30 derajat celcius, membekukan sesosok manusia dalam kapsul di ruangan itu.
“Reina Hwang L127 CBOSK E2. Buat dia invisible. Uji coba kedua sedikit lebih ketat dan sengit dari kemarin.”
Mayagüez, Puerto Rico
Laboratorium Divisi Biologi Molekuler, Locust 127
24 April 2016
__ADS_1
10.30 AST
“Bagaimana evaluasimu?”
“Onsetnya masih terlalu lama, namun paparannya cukup bagus, dan residunya pada tubuh tidak dapat teridentifikasi.”
“Bukankah rekanmu sendiri yang mengidentifikasi 78% kemiripan toksin itu?”
“Kau pikir para detektif dan saintis tidak kompeten itu akan mengetahui apa yang Aku buat?”
“Lagipula dia sudah mati.”
“Kak Ten, jangan terlalu sombong. Seorang Analis Pangan SNU menemukan peak dari flavor sintetik ceri, benzyl alcohol, dan para detektifnya yakin ‘ceri’ adalah kode eksekusi.”
“Toksin ini baru, dan Kau tentu tidak lupa sponsor proyek ini adalah ketua-ketua asosiasi profesi pembuat database senyawa kimia dan biologis di hampir seluruh bidang. Lagipula, mereka baru mengidentifikasi membran sekunder substansi ini.”
“Wow, apakah Aku tidak salah dengar? Sejak kapan Kau peduli dengan kekuatan sponsor? Ini bukan gayamu.”
“Mereka adalah sumberdaya riset, dan saat ini faktor politik, bisnis, dan pertahanan berpengaruh pada outcome proyek ini. Apa ada yang perlu kuperjelas lagi, Lalisa?”
“Bagaimana kultur Roexbotulinum? Apakah rendemen dan toksisitasnya meningkat setelah substratnya diganti?”
“Substrat itu tidak terlalu berpengaruh, justru kondisi superanaerob yang meningkatkan rendemen dan
toksisitasnya. Aku meningkatkan konsentrasi CO2 pada media kultur, dan rendemennya naik 45%.” Lalisa menunjukan sebuah hologram, tampak sebuah animasi perbedaan metode kultur yang Ia lakukan bergerak disana.
“Mudah sekali melakukan itu.” ujar Ten puas.
“Nilai LD50 menurun sebelas kali lebih rendah daripada Botulinum toxin biasa.”
“Baiklah, siapkan koloni untuk modifikasi. Aku juga akan kembali memodifikasi DNA penghasil toksin dari S. aureus, dan Novovirus. Kita perlu meningkatkan resistensi panas, tekanan, dan pH toksin selanjutnya.”
“Oke. Apakah Kau akan tetap menggunakan DNA Thermotoga maritima dan ARMAN?”
“Tentu saja, dimana Daniel?”
“Dia sedang dalam perjalanan dari California. Mungkin akan tiba malam ini.”
“Aku sangat penasaran, seberapa fatal mutasi dan respon kombinasi kelima mikroorganisme ini. Aku akan
membuatnya melakukan mekanisme toksikoinfeksi. Kau perlu menyiapkan satu lagi membran heat resistant.”
“Baiklah. Oh ya, Apa media induksi trial selanjutnya?”
“Ransum. Hilangkan bau ceri sialan itu.”
__ADS_1