The C Toxin

The C Toxin
The Memoir


__ADS_3

NISA (National Intelligent System Agency)


22 April 2016


04.30 KST


            Udara pagi itu sangat dingin, membuat kepulan asap berlomba-lomba menyeruak dari beberapa cangkir berisi minuman hangat dan deru nafas peminumnya. Di ruangan itu tampak beberapa orang fokus pada layar monitor di hadapannya masing-masing. Monitor itu menampilkan pergerakan sebuah koordinat diatas peta wilayah Seoul dan sekitarnya. Seseorang diantara mereka tampak sibuk melakukan panggilan dengan beberapa orang, dengan bahasa berbeda. Mereka terlihat memposisikan diri dengan tidak nyaman di kubikelnya masing-masing. Tampak mata yang lelah, mulut yang kerap kali terbuka untuk menghirup oksigen lebih banyak, dan tangan yang


menopang dagu mereka. Mereka telah bekerja selama tiga hari tiga malam dengan jeda yang tidak manusiawi. Mereka adalah anggota National Intelligent System Agency (NISA), badan intelijen Korea Selatan. Tim itu diketuai oleh pria berusia 35 tahun bernama Lim Jae Beom, atau lebih akrab disapa JB. Dirinya yang sedari tadi mondar-mandir dan berbicara dengan keempat anggotanya untuk menanyakan perkembangan misi mereka dan


memastikan anggota-anggotanya nya itu masih ‘hidup’.


            Enam hari yang lalu, Do Kyung Soo yang bertugas menangani masalah cyber dan IT mendeteksi sebuah sinyal lemah yang mengindikasikan keberadaan seseorang yang mereka cari selama enam tahun terakhir ini. Sinyal lemah itu bagaikan oase ditengah padang pasir bagi kelima orang itu untuk menuntaskan misi mereka. Eric


Sohn, adalah orang yang mereka cari selama enam tahun dengan menggunakan berbagai pendekatan intelijen setelah pria itu menjual 25% data Research and Development (R&D) proyek rahasia pembuatan senjata biologis Korea Selatan-Amerika Serikat kepada Rusia. Tentu saja itu adalah buntut dari perang dingin yang sedang memanas kala itu. Namun, dampaknya masih dirasakan saat ini, terutama oleh dunia pertahanan Korea Selatan. Sebuah stereotip pengamat pertahanan bahwa negara-negara sekutu Amerika Serikat harus memenuhi tuntutan dari negara adidaya itu dalam suatu ikatan yang disebut ‘kerjasama ekonomi’. Maka ketika data R&D proyek senjata biologis itu hilang dan berpotensi bocor, militer dan ekonomi Korea Selatan melemah, meskipun proyek itu masih tetap berjalan setelah pergantian konsep hingga pimpinannya. Proyek itu tidak lain dan tidak bukan


adalah proyek senjata biologis yang dipimpin oleh Ten.


            Eric Sohn enam tahun lalu adalah seorang peneliti handal dan populer di bidang toksikologi dan biomolekuler. Ia merupakan peneliti sekaligus dosen di KAIST, institusi perguruan tinggi dan riset terbaik di Korea Selatan. Pencapaiannya di bidang toksikologi berhasil dilirik oleh Diplomat AS untuk Korea Selatan. Berawal


dari undangan makan malam di kedutaan, proyek riset skala kecil, menengah, hingga melibatkannya dalam taktik dinas rahasia luar negeri yang diatur oleh Direktur Bidang Riset dan Teknologi kedutaan AS. Eric Sohn akhirnya dinobatkan sebagai ketua tim dalam sebuah proyek di Puerto Rico pada tahun 2007. Ia bekerja bersama Ten, sahabat dekatnya ketika menempuh studi S2 dan S3 di MIT. Saat itu, Eric Sohn hanya mengetahui bahwa pekerjaannya adalah merekayasa strain mikroba untuk menciptakan mikroba baru penghasil toksin self-destructive yang tahan dalam kondisi lingkungan ekstrem dalam rangka pengembangan pangan GMO. Setelah tahap pilot proyek itu berhasil, Ia sangat diapresiasi, dan saat itu jugalah promotornya menjelaskan tahap selanjutnya dari proyek yang dipimpinnya, dimana Ia harus mengarahkan penemuannya sebagai senjata biologis mematikan. Eric Sohn sangat terkejut, tidak menyangka bahwa tujuan akhir proyek yang digelutinya dengan detail dan menyeluruh itu adalah untuk kepentingan para elit. Ia menyesal tidak memahami politik internasional, diplomasi, dan aspek geopolitik lain, sehingga Ia telah hampir saja mengorbankan ribuan bahkan bisa jadi jutaan nyawa tak berdosa


melalui agenda sabotase. Ia lantas berdiskusi dengan Ten untuk mengakhiri proyek itu bagaimanapun caranya. Namun diluar dugaan, Ten menolak untuk berhenti karena ambisi dan idealismenya terhadap sains. Dua ilmuwan itu bertengkar hebat, hingga akhirnya Eric Sohn menghilang, dan Ten menggantikannya sebagai ketua proyek dan mengubah metode penelitian proyek itu. Selama enam tahun, tidak ada yang mengetahui keberadaannya yang hidup dalam persembunyian, termasuk Ten.


            “Apa ini? Sebuah sinyal terdeteksi, kali ini cukup kuat.” ucapan Kyung Soo memecah keheningan ruangan itu. Ia cepat-cepat memperbesar layar peta untuk menemukan koordinat sinyal yang baru saja Ia deteksi.


            “Koordinat!” teriak JB dari sudut kanan ruangan. Ia nyaris saja membanting cangkir berisi teh panas di tangannya yang baru saja Ia minum.


            “Beverly Hills Seoul Appartment. Blok E.” jawab Kyung Soo.


            “Koordinasikan dengan SWAT. Aku dan Seok Jin akan menuju TKP. BamBam, Jimin, dan Kyung Soo, lakukan di tempat kalian masing-masing!” titah JB cepat. Ia kemudian meraih jaketnya.


            “Dimana Seok Jin?”


            “Dia sudah di sekitar lokasi selama enam hari. Ia dalam penyamaran.” jawab Kyung Soo dengan matanya yang tetap fokus pada monitor.


            “Siapa Kepala Divisi Detektif Kepolisian Seoul?” tanya JB sesaat sebelum membuka pintu ruangan.


            “Mark Tuan.” jawab Jimin. Ia kemudian berlalu menuju ruangannya, diikuti BamBam.


            “Aku tidak mengerti bagaimana bahaya dan pentingnya target kita kali ini. Siapa dia sampai kita harus menggunakan prosedur seperti akan menggagalkan pembunuhan petinggi negara?” cerca BamBam dengan gaya khasnya sembari menggunakan rompi antipeluru.


            “Apa Kau tidak tahu? Dia pemegang data proyek rahasia itu. Jika data itu bocor 100% ke tangan Rusia, kita tamat.” jawab Jimin yang sedang mengecek Cheytac M200 Intervention, senjatanya sebagai seorang sniper.


            “Aku harap kali ini kita berhasil.” jawab BamBam. Tangannya kini sibuk mengutak-atik pistol dan peluru.


            “Tentu saja, atasan kita sudah menginstruksikan protokol khusus, memerintahkan untuk menembaknya jika Ia berani kabur dan berulah.”


Beverly Hills Seoul Appartment. Blok E


22 April 2016


06.30 KST


            SUV hitam yang dikendarai JB berhenti di lobi apartemen yang diduga merupakan tempat Eric Sohn berada itu. Sebelum melangkah keluar dari mobilnya, JB melihat kondisi sekitar. Sepi, mungkin karena masih pagi.


            “JB to JK, JB to JK!” JB berbicara melalui HT kepada Kapten SWAT Police yang stand by di area parkir, di sisi gedung yang sama dengan arah hadap jendela unit apartemen Eric Sohn.


            “JK to JB, semua SWAT police sudah di lokasi. Unit apartemen target tidak menunjukan pergerakan, namun lampu unit apartemen menyala!” respon Jeon Jung Kook, Kapten SWAT Police yang

__ADS_1


bertugas hari itu.


            “SWAT Police dipersilakan bergerak.” perintah JB setelah melihat kondisi sekitar yang dirasa aman untuk penyergapan.


            “Siap!”


            “Kita akan menuju lokasi target. Johny, Kau akan masuk dari sayap kanan, Nam Joon dari sayap kiri, dan Aku akan masuk melalui jalur tengah melewati lobby. Pastikan kedatangan kalian tidak menarik perhatian.” Perintah Jung Kook pada anggotanya. Ketiga pria dengan senjata di sakunya itu kemudian berjalan sesuai perintah.


            Setelah beberapa menit berjalan menuju lantai 18, mereka akhirnya tiba di depan unit yang diduga milik Eric


Sohn. Ketiganya kemudian mengamati lingkungan sekitar lantai apartemen itu yang hanya diisi oleh dua unit. Tidak ada yang mencurigakan, sebelum Nam Joon menunjuk kepada pintu yang terbuka sekian sentimeter, dan smart door lock yang tampaknya tidak berfungsi. Johny yang berdiri paling dekat dengan pintu memberi kode gestur untuk bersiap masuk ke dalam apartemen yang kemudian disetujui oleh Jung Kook.


            Johny mendorong pintu apartemen itu perlahan tapi pasti hingga pintu itu terbuka sempurna. Seperti yang Jung Kook laporkan pada JB, lampu unit apartemen itu menyala, bahkan hingga di depan pintunya. Ketiganya kemudian melangkah masuk, dengan memegang senjatanya masing-masing. Tidak ada pergerakan apapun dari dalam unit apartemen bernuansa minimalist-tropical itu, yang terdengar hanyalah suara TV yang menyala. Namun beberapa detik kemudian, ketiga pria itu sontak mengangkat pistolnya ketika mendapati seorang pria yang sedang duduk di depan meja makan, lengkap dengan makanan yang masih terhidang. Tampak dua buah makanan kaleng, sepiring spageti, dan dua gelas wine. Kedua tangan pria itu membentang diatas sandaran kursi. Jung Kook kemudian mendekat, dan beberapa saat kemudian terkejut ketika mendapati kedua mata pria itu terbuka lebar, menampakkan bagian putihnya saja. Pria itu adalah Eric Sohn.


            “Tampaknya Ia sudah meninggal.” ujarnya setelah mengecek denyut jantung dan gerak refleks tubuh pria itu. Nam Joon dan Johny kemudian mendekat, dan memastikan kebenaran pernyataan kapten mereka.


            “Apa kalian sudah memastikannya dengan benar?” ujar sorang pria paruh baya dengan kumis putih tiba-tiba muncul dari arah pintu masuk, membuat ketiga polisi itu terkejut. Johny refleks mengarahkan pistol ke arah kepala pria itu.


            “Siapa Kau?” tanya Jung Kook sembari menelisik pria yang menggunakan seragam cleaning service apartemen berwarna biru muda itu. Tangannya masih berpegang pada pegangan kereta berisi alat-alat kebersihan lengkap.


            “Tentu saja Aku yang mengikutinya selama enam hari tanpa jeda.” jawab pria itu santai. Pria itu adalah Kim Seok Jin, agen intelijen yang bertugas dalam penyamaran untuk mengikuti Eric Sohn semenjak sinyal lemah terdeteksi di NISA. Selama enam hari itu Ia menyamar mulai dari menjadi pelayan restoran, kakek-kakek buta di zebra cross, relawan day care, penjual minuman di stasiun pengisian bahan bakar, hingga sekarang menjadi cleaning service apartemen. Penyamarannya sangat rapi, terutama bagaimana Ia mengganti kostum dan tampilannya kurang dari satu menit di tengah keramaian tanpa dicurigai sedikitpun.


            Jung Kook mengerti, dan memerintah Johny untuk menurunkan senjatanya.


            “Dimana JB? Apakah kita akan bekerja sama dengan kepolisian Seoul?”


            “Mereka bersiaga dibawah.” jawab Seok Jin.


            “Apa yang terjadi?” JB dan BamBam muncul dari arah pintu depan. JB langsung mendekat ke arah Eric Sohn, dan menyelidik ke sekitar tubuh pria itu ditemukan. Netranya menatap lekat makanan kaleng di hadapan tubuh pria itu.


            “Geledah apartemen ini, dan amankan berkas-berkas confidential terkait proyek itu.” Perintahnya kepada BamBam dan Seok Jin dengan suara pelan setengah berbisik. Tak butuh waktu lama, kedua orang itu segera berpencar, membuat Jung Kook dan kedua anggotanya diam dan bingung.


            JB kemudian meraih ponselnya, dan menghubungi rekannya, Park Jimin yang sudah stand by dengan senapannya di rooftop sebuah hotel yang berseberangan dengan apartemen tempat mereka berada saat ini.


            “Apa-apaan. Aku bahkan belum membidik kepalanya.” gerutu Jimin di seberang sana. Tak lama dari itu, Ia segera membereskan peralatannya, dan bergegas pergi meninggalkan rooftop dengan perasaan sia-sia.


            “Kita harus mengamankan makanan ini.” ujar Seok Jin setengah berbisik kepada JB.


            “Dia menggunakannya, untuk menghabisi pria itu.” lanjutnya. JB tampak berpikir, namun sekian detik


kemudian, Ia mengangguk mengerti—akan identitas ‘Dia’ yang dimaksud Seok Jin.


            “Amankan.” titahnya cepat. Seok Jin segera mengambil sekaleng ransum dengan tutup setengah terbuka, dan kurang dari seperempat isinya yang sudah dikonsumsi itu. Posisi ransum itu berada tepat didepan tubuh Eric Sohn yang sudah terbujur kaku.


            “Tunggu, apa yang Kau lakukan? Ini


barang bukti di TKP dan tidak boleh disentuh sebelum ME dan CSI datang. Apa Kau


tidak paham itu?” interupsi Jung Kook akhirnya setelah diam dalam kebingungan. Ia


menyadari kesalahan prosedur yang dilakukan JB ketika melihat tangan Seok Jin


yang hampir menyentuh ransum itu.


            “Ini perintah atasan, laksanakan saja.” Sergah JB cepat.


            “Apa maksudmu untuk menggeledah TKP dan mengamankan barang bukti terlebih dahulu? Aku rasa ini bukan kewenanganmu!” tutur Jung Kook dengan nada setengah membentak atas perintah JB itu.


            “Lakukan atau posisimu sebagai ketua terancam.” timpal JB sinis.

__ADS_1


            “Apa yang Kau lihat, hanya untuk dirimu. Kau paham itu?” lanjutnya dengan nada sinis, membuat Jung Kook, Nam Joon, dan Johny terdiam.


Kepolisian Seoul


22 April 2016


10.00 KST


            Kesibukan tampak di sebuah ruang kerja luas yang hanya diisi oleh dua orang itu. Mark dan Dean tengah bekerja membuat laporan investigasi beberapa hari terakhir yang menguras waktu, tenaga, dan pikiran mereka. Mark sedari tadi tampak gelisah, atau lebih tepatnya tidak sabar menunggu hasil analisis Wendy terhadap kondisi


psikis Kelvin Seo yang menurutnya mempengaruhi pengakuannya sebagai tersangka kasus ini. Logikanya mengatakan, Kelvin bukanlah tersangka sebenarnya. Ada pihak lain yang berusaha menekannya dan membuat pernyataan palsu. Semalaman pikirannnya berputar hingga sampai pada teori-teori politik internasional dan


taktik intelijen sebagai kemungkinan penyebab kasus ini. Menurutnya, kemungkinan bahwa kasus ini adalah motif personal cukup kecil, mengingat banyaknya korban, dan metode pembunuhan yang tidak mudah dan murah—katakanlah demikian. Jika hari ini mereka berhasil mengkonfirmasi bahwa kasus ini disebabkan oleh toksin mematikan dalam bahan pangan, dan Kelvin Seo dikendalikan oleh pihak lain, Mark akan mengumumkan hipotesis bahwa ini adalah sabotase, baik oleh pihak internal seperti sekolah, pemerintah otonom, atau pemerintah dalam negeri. Juga, bisa jadi ini adalah sabotase berskala internasional. Ia kemudian teringat akan kasus keracunan pangan masal lima tahun silam. Tragedi itu turut menewaskan ratusan warga sipil di sebuah kawasan padat industri di Busan. Pelaku kejadian itu masih misterius hingga saat ini, bahkan kasus itu sudah ditutup semenjak Mark dipindahtugas dan penyelidikan kasus itu dilimpahkan kepada orang lain.


            Baru saja Ia hendak mencari laporan investigasi kasus itu, telepon di mejanya berbunyi cukup nyaring hingga membuatnya dan Dean terkejut ditengah keheningan mereka bekerja.


            “Selamat Pagi. Dengan divisi detektif kepolisian Seoul, Mark Tuan.” sapa Mark ramah. Beberapa detik


kemudian, ekspresinya berubah drastis menunjukan keterkejutan.


            “Baik, kami akan ke lokasi sekarang bersama Medical Examiner dan CSI.” Respon Mark cepat, Ia kemudian


menutup sambungan telepon kantor itu, kemudian berdiri dan meraih mantel dan topinya.


            “Ada apa?” tanya Dean yang heran melihat Mark begitu terburu-buru.


            “Eric Sohn ditemukan tewas pagi ini di apartemennya. Seseorang dari NISA baru saja menelpon.”


            “Astaga, apa-apaan ini. Aku akan menghubungi Jeffrey.” Dean lantas berdiri dan meraih ponselnya.


            “Dean, hubungi juga DVD!” titah Mark. Dean kemudian mengangguk dan menghubungi Na Yuta, kepala Drugs and Vice Division (DVD).


            Mark berjalan cepat menaiki puluhan anak tangga menuju lantai 3 tempat Wendy menginterogasi Kelvin Seo. Pikirannya saat ini bagaikan puzzle, Ia mencoba mengkorelasikan berbagai temuan dalam investigasnya. Namun tepat di ujung tangga lantai 2, Ia sontak menelpon Wendy setelah menduga sebuah teori yang


nampaknya berkorelasi.


            “Wendy, Eric Sohn tewas pagi ini di apartemennya. Bisakah Kau tanyakan pada Kelvin Seo, apakah dia mengenal Eric Sohn?”


            “Aku yakin, mereka berkaitan.”


            Belum sempat Wendy berkomentar, namun Mark sudah memutuskan sambungannya, kemudian berdian sejenak dan memejamkan mata. Ia menarik nafas dalam, dan lanjut berjalan menuju lantai 3. Ia ingin melihat secara langsung dan menilai bagaimana sikap Kelvin Seo terkait berita ini.


            Baru saja Mark tiba di ujung tangga lantai 3, Ia melihat Wendy keluar dari ruang rapat itu dengan beberapa kertas di tangannya. Langkahnya tidak kalah cepat dengan langkah Mark yang tadi sedang menuju lantai 3.


            “Bagaimana?” tanya Mark dengan nafas yang terengah-engah.


            “Hipotesismu benar Mark. Dia menyembunyikan sesuatu. Bisa kupastikan Dia dan Eric Sohn berkaitan. Kita bisa menginterogasinya lebih lanjut menggunakan lie detector untuk bukti yang lebih akurat.” jawab Wendy sembari mengecek kertas berisi catatan tangan itu.


            “Baiklah.” jawab Mark singkat. Lalu ponselnya berdering menampilkan nama Kim Dean disana.


            “Medical examiner tidak merespon. Kemungkinan mereka sedang bertugas dalam kasus lain!” ujar Dean dengan nada khawatir di seberang sana. Mark mengusap kasar wajahnya, Ia tampak berpikir. Sesaat kemudian, Ia melirik Wendy yang tengah menatapnya intens dengan ekspresi bertanya-tanya.


            “Aku mengerti.” jawab Mark akhirnya, lalu memutuskan sambungan telepon itu. Tampaknya Ia sudah menemukan solusi untuk masalah Medical Examiner itu.


            “Ada apa?”


            “Aku akan ke TKP sekarang juga.”


            “Berhati-hatilah. Apakah Kau butuh bantuan?”

__ADS_1


            “Apakah Kau masih tersertifikasi sebagai Medical Examiner? Maaf tapi Aku rasa Kau akan terlibat lebih jauh dalam kasus ini.” ujar Mark. Belum sempat Wendy menjawab, Mark sudah terlebih dahulu menarik pergelangan tangannya.


            “Ayo”


__ADS_2