The C Toxin

The C Toxin
Pre-Attack


__ADS_3

               “Mark, Song Mino


memintaku untuk bergabung dengan tim khusus dalam misimu ke Rusia sebagai ME


sekalius psikiater untuk wanita yang menjadi targetmu itu. Aku sudah


mengkonfirmasinya. Kau dimana?”


              Mark terkejut dengan penuturan


Wendy. Bukan perihal Wendy yang memang ideal untuk bergabung dalam misi ini,


karena selain tersertifikasi sebagai ME, Wendy juga pernah menjalani pelatihan


militer khusus, psikologi forensik, dan kriminologi. Satu-satunya faktor yang


membuat Mark tidak siap adalah, dia adalah Wendy, that someone significant.


             “Aku


tidak mengizinkanmu, Kau bisa mengubah konfirmasimu kepada Mino saat ini juga.”


jawab Mark tegas.


             “Kenapa? Kau meragukan


kemampuanku?”


             Mark menghela nafas panjang. Bisa-bisanya wanita itu berkata demikian. Sejak kapan


Mark meragukan skill Wendy yang


berada diatas wanita pada umumnya? Bahkan Mark pernah mengatakan bahwa Wendy


adalah pria, bukan wanita dengan skill nya


itu. Pikirkan saja, wanita awam mana yang bisa menjadi sniper dan dokter sekaligus?


             “Berhenti berpura-pura tidak tahu dan menanyakan alasanku Wen! Aku tidak pernah


menempatkanmu sebagai rekan kerja, dan Kau tidak akan pernah terlibat dalam


pekerjaan berbahaya yang Aku pimpin. Pahami itu!”


            “Tapi Mark Kau—”


             Mark memutus sambungan teleponnya dengan Wendy.


            “Dean, hubungi dokter Lee untuk


menjadi ME sekaligus dokter dalam tim ini. Kita memerlukannya. Juga psikiater,


Aku khawatir wanita itu sulit memberikan kesaksian karena depresi akibat kondisinya


yang seolah terancam.” ujar Mark panjang lebar.


            “Psikiater itu harus paham bahasa


Rusia. Apakah dokter Lee itu dokter militer? Atau dokter independen?” tanya


Jackson. Mark dan ketiga rekannya yang lain diam sejenak, dan mengakui


ketelitian pria bedarah Korea-Hongkong itu.


            “Dokter Lee adalah dokter


independen. Aku yakin dia tidak memiliki kemampuan itu.” jawab Jeffrey.


            “Aku rasa Wendy lebih tepat mengisi


posisi itu.” ujar Dean. Mark menghela nafas.


            “Carikan dokter lain selain Wendy.


Aku rasa dokter Henry bisa, dia adalah dokter militer.”


            “Dia bukan psikiater. Mana yang


lebih kita butuhkan? Peran dokter atau psikiater? Libatkan pihak netral yang


bisa memegang multiperan.” titah Jackson membuat Mark frustasi.


 


Incheon International Airport


Shelter Bus Terminal A3


07.20 KST


            Dua orang berpakaian kemeja satin berwarna peach baru saja turun dari bus di


tengah hujan rintik-rintik di bandara saat itu. Penampilan keduanya begitu


mencolok dan menyita perhatian karena menggunakan couple item khas pasangan kasmaran yang akan berlibur berdua. Ya, mereka adalah Mark dan Wendy. Akhirnya setelah melalui perdebatan panjang, Mark


pasrah dengan Wendy yang terus memaksa untuk bergabung dalam tim khusus. Bukan


tanpa alasan, Mark tidak berhasil menemukan orang lain yang bisa bergabung


dalam waktu dekat dan multikompetensi seperti yang dibutuhkannya dalam tim.


           Namun tetap saja, Mark sejujurnya masih jengkel dengan sifat keras kepala wanita yang


tengah berdiri disampingnya itu. Ditambah lagi pakaiannya hari ini. Astaga,


Mark sangat membenci penampilannya. Jika bukan karena Wendy mengatakan fashion mereka itu untuk mencegah


kecurigaan dan mengelabui psikologis orang yang kemungkinan menjadi mata-mata,


Mark mana sudi memakai pakaian selain warna hitam, abu-abu, dan navy.


          Ponsel Mark berdering, tanda panggilan masuk. Rupanya dari Dean. Mark segera menekan handsfree nya.


          “Ada apa Dean?”


          “Kak, penerbanganmu pukul 08.00 di terminal A3. Apa Kau sudah sampai?”


           “Ya. Aku dan Wendy sudah sampai. Bagaimana dengan Jeffrey Yugie dan Jackson?”


           “Jeffrey dan Yugie akan


berangkat pukul 10.00 dari terminal F2, sedangkan Jackson sudah berangkat tadi


pukul 05.30 dari terminal G1.”jelas Dean.


         “Apa


ada yang mencurigakan?”


         “Sejauh ini belum.


Tetap waspada. Aku dan Felix terus memantau pergerakan kalian dan orang asing


di sekitar kalian. Jangan sampai kamera tersembunyi, smart glasses, dan sistem


penyadap suara kalian nonaktif. Itu akan menyulitkan kami.”


        “Baiklah. Terimakasih.”


        “Ayo.” ujar Mark sembari berjalan mendahului Wendy. Wendy memutar matanya, paham bahwa


Mark masih marah padanya.


On the Plane


Dua Jam Setelah Penerbangan


            Mark dan Wendy duduk di kelas


eksekutif pesawat yang mereka tumpangi. Selama dua jam penerbangan, Mark


tenggelam dengan buku bacaannya, sembari sesekali membuka iPadnya, menuangkan


isi pikirannya terkait opsi strategi yang akan mereka gunakan berdasarkan


kemungkinan kesaksian wanita yang mengaku sebagai istri Eric Sohn itu.


            Sementara itu, Wendy disampingnya


tengah asik dengan katalog produk dan majalah fashion yang ditawarkan maskapai sembari menguyah beberapa snack dan buah yang diberikan pramugari

__ADS_1


tadi. Mark terkekeh geli melihat sisi wanita Wendy yang ditunjukannya saat ini.


            “Aku akan ke toilet sebentar.” ujar


Mark kemudian. Wendy hanya mengangguk.


            Mark kemudian berjalan ke arah


belakang tempat mereka duduk. Tampak seorang pramugara berseragam maskapai


berjalan mengikuti Mark. Mungkin hendak menunjukan toilet.


            Sementara itu, Mark telah sampai di


depan pintu toilet khusus pria yang relatif lebih luas dibanding maskapai pada


umumnya. Baru saja Mark hendak membuka pintu toilet itu, Mark merasakan sesuatu


yang keras menyentuh kepalanya. Mark sadar benda apa itu, lalu mengangkat kedua


tangannya sembilan puluh derajat.


            “Who


*are you? What do you want from me?*” tanya Mark dengan nada dingin tanpa


menoleh kebelakang dan melihat penodong pistol itu.


            “Just


shut up your mouth if you want to stay alive!” jawab seseorang itu. Dari


suaranya, Mark yakin Ia adalah seorang pria rusia. Ditambah lagi, saat ini Ia


menumpang maskapai Rusia.


            “Watch your step and follow me!” Pria itu mendorong Mark masuk menuju toilet


dihadapannya. Mark terkesiap. Pertama, Ia menuruti kemauan pria itu untuk


berjalan satu langkah menuju toilet. Namun di langkah kedua, Mark berbalik. Ia


segera menarik lengan pria itu yang memegang pistol, lalu membantingnya. Mark


berniat mengambil pistol yang terjatuh beberapa sentimeter dihadapannya, namun


jarak pria itu dengan pistolnya lebih dekat.


DOR!


             Pria itu lebih dulu mengambil pistol dan menembakannya ke arah Mark hingga tepat menemui


lengan kiri atasnya.


            “Arrgh!


Shit! Who are you!” teriak Mark kesakitan.


            Suasana di kabin penumpang sudah


mulai riuh, bahkan terdengar suara teriakan. Beberapa kru pesawat sudah


memukul-mukul bahkan mencoba mendobrak pintu kaca yang menjadi penyekat antara


toilet pria, area jalan, dan toilet wanita di sebrangnya.


            Mark tidak menyerah, Ia meraih kerah


baju pria itu dan membantingnya ke dinding toilet.


BUGH!


            Sebuah


pukulan dari tangan kanan Mark mendarat mulus di wajah pria itu hingga


hidungnya mengeluarkan darah. Mark kemudian memeriksa saku celana dan kemeja


pria itu, berniat mencari tanda pengenal.


BUGH!


            Belum sempat Mark menemukan


menghempaskannya ke dinding. Mark tidak tinggal diam, dengan sisa tenaganya, Ia


menarik kepala pria itu dan menghempaskannya ke lantai toilet hingga pria itu


tidak bisa berdiri. Diraihnya pistol dari tangan kanan pria itu, lalu Mark


menodongkannya tepat dihadapan wajah pria itu yang sudah tersungkur pasrah.


            “Who


are you? Who’s sent you?”


            Pria itu tidak menjawab. Mark semakin


emosi sembari memegangi lengan kiri atasnya yang terluka parah dan terus


mengeluarkan darah.


BRAKK!


            Pintu


sekat kaca itu berhasil terbuka setelah seseorang mendobraknya. Itu Wendy,


dengan peluh di pelipisnya, dan pisau di tangannya. Ia menghampiri Mark dengan


nafas tersenggal-senggal.


            “Ada apa ini? Kenapa Kau membuat


keributan?”


            Mark tidak menjawab, Ia masih


mengatur nafasnya. Sedetik kemudian, Ia terjatuh.


            “Mark! Kau—” Wendy seketika berteriak melihat


Mark yang ambruk dengan luka tembak di lengan kiri atasnya.


            Wendy mencoba tenang, dan melihat


situasi di sekelilingnya. Dihadapannya terkapar pria berseragam pramugara yang


sempat Ia lihat berjalan mengikuti Mark tadi. Ia tidak sadarkan diri. Semenit


kemudian, Wendy menyimpulkan bahwa pria pramugara itu membuntuti mereka dan


mencoba mencelakakan Mark.


            “Where are we?” tanya Wendy pada seorang kru maskapai yang tengah membalut luka


Mark seadanya dengan perban.


            “Probably in Mongolia.”


            “Do you have surgery room?”


            “Unfortunately, no.”


            “THEN WHAT YOU WAITING FOR? CALL FOR EMERGENCY LANDING! RIGHT NOW!” teriak Wendy di hadapan para kru maskapai yang masih terlihat shock.


            “Okay Miss, we already—”


            “*Please wait, we will have emergency landing in 30 minute*s” ujar seorang pramugara dari balik


pintu.


            “HE IS DYING AND WHAT THE HELL IS 30 MINUTES?”


            “Please be patient. The traffic is too tight for us to take a landing in Mongol


airport.”


            Wendy menghela nafas panjang. Tangan


kanannya masih menangkup kepala Mark yang tidak sadarkan diri agar tidak

__ADS_1


menyentuh lantai. Sementara itu tangan kirinya menekan luka tembak di lengan


Mark agar berhenti mengeluarkan darah lebih banyak.


            “Make sure that guy is alive, don’t let him go after medication!” ujar Wendy menunjuk pria berseragam


pramugara itu.


            “Who is—”


            “Don’t


ask me why, who, and how. Just do what I said!”


            “Miss, what is his blood type?” tanya


seorang pramugari dari balik pintu, sepertinya mereka tengah berkomunikasi


dengan rumah sakit terdekat dari bandara tempat emergency landing.


            “AB+”


Ulan Bataar National Hospital


10.30 Mongolia Time


            Ambulance yang membawa Mark baru


saja tiba di depan UGD Ulan Bataar National Hospital. Wendy segera melompat


turun, kedua tangannya kemudian mendorong brangkar yang Mark tempati bersama


petugas medis lain.


            “Please stay alive! How dare you fell asleep in this kind of situatin, Mark Tuan!”


            Mereka akhirnya tiba di ruang


operasi. Seorang petugas medis kemudian meminta Wendy untuk menunggu di luar ruangan.


Wendy hanya duduk dan berdoa dengan pasrah.


            Wendy kemudian membuka tasnya. Ia


tidak gegabah dan panik selama pendaratan darurat tadi. Ia masih sempat membawa


bawaannya dan juga Mark yang tidak banyak. Mereka bahkan tidak membawa koper.


Ia kemudian memasang handsfree milik Mark, dan segera mengaktifkan ponselnya untuk menghubungi Dean.


            “Halo Kak, apakah kalian sudah sampai? Bukankah harusnya empat jam lagi?” tanya Dean


di seberang sana. Wendy menetralkan deru nafasnya yang masih terasa panas dan tidak


teratur setelah berlarian tadi.


            “Ada apa Kak? Tolong jawab!”


            “M-Mark, dia tertembak. Seseorang


mengikuti kami sebagai pramugara maskapai.”


            “What the hell! Lalu dimana kalian sekarang? Bagaimana kondisinya? Apa Kau baik-baik


saja?” tanya Dean bertubi-tubi.


            “Kami di Ulan Bator, Mongolia. Mark


sedang dioperasi.” jawab Wendy dengan nada frustasi.


            “Terus update perkembangan kalian. Kami akan menghubungi pihak-pihak yang dapat


membantu disana. Jackson sudah tiba di Rusia.”


            “Baiklah. Aku akan berjaga-jaga.”


            Tiga jam kemudian, lampu tanda


operasi berlangsung dipadamkan. Wendy terkesiap dan segera berdiri. Tak lama


kemudian, pintu operasi dibuka, menampakkan Mark diatas brangkar dengan kondisi


masih tak sadarkan diri.


            “The


surgery went well, and the patient will be moved to regular room. Please wait


untill next three hour.” ujar dokter yang memimpin operasi Mark. Wendy


tidak menjawab, Ia hanya mengangguk saking lelahnya.


Ulan Bataar National Hospital


Ruang Rawat Inap


14.30 Mongolia Time


            Sudah lebih dari tiga jam semenjak


operasi selesai, namun Mark belum juga sadar dari tidurnya. Wendy sedari tadi


tidak bisa diam. Entah sudah berapa kali Ia bulak-balik menuju tempat


administrasi karena harus mengkonfirmasi identitas mereka, belum lagi


interogasi pihak kepolisian hingga militer yang juga masih mengawasi mereka.


            Ponsel Wendy berdering, panggilan dari Dean


            “Ya, halo?”


            “Bagaimana kondisi Kak Mark? Apa dia sudah sadar?”


            “Belum.”


            “Astaga. Lama sekali pengaruh anestesinya.”


            “Entahlah.”


            “Seorang


polisi kenalan Jackson akan membantu kalian disana. Dia sedang dalam


perjalanan. Polisi itu bernama Lucas. Kalian bisa mengandalkannya.”


            “Kau


sangat lelah, cobalah istirahat sebentar. Atau—”


            “Aku tutup teleponnya. Mark sudah


sadar!”


            Wendy segera menutup panggilan


suaranya dengan Dean dan berhambur ke arah Mark yang baru saja membuka matanya.


Ia segera memeriksa denyut jantung hingga respon mata pria dihadapannya.


            “Apa yang Kau rasakan?”


            “Emm, Aku bingung. Apa yang terjadi?”


tanya Mark dengan suaranya yang tedengar parau.


            “Kau baru saja dioperasi. Luka


tembakmu cukup parah.” jawab Wendy.


            “Oh, benarkah. Dimana pria pramugara


itu?”


            Wendy memutar matanya malas, lalu


menghela nafas panjang.


            “Berhenti berpikir. Pria itu ada di


rumah sakit ini, dalam pengawasan kepolisian.”

__ADS_1


            “Excuse me, are you Mark and Wendy? Jackson Wang sent me here to help you. I’m Lucas.


Head of district.”


__ADS_2