The C Toxin

The C Toxin
Claire


__ADS_3

Daegu International School


21 April 2016


15.30 KST


            “Jae, Aku menemukannya!” seru Kim Taehyung, rekan Jeffrey yang ikut dalam investigasi


lanjutan sore itu. Ia tampak menunjukkan file excel berisikan daftar transaksi bahan pangan selama satu tahun terakhir. Disampingnya terbuka sebuah buku berisikan catatan tangan data yang sama. Jeffrey yang sedang mencari data yang sama di kubikel sisi bersebrangan ruang bagian logistik sekolah itu segera menghampirinya.


            “Bagaimana Tae?”


            “Claire Food and Agro Company. Nama perusahaannya, supplier sekolah ini selama satu tahun penuh, tidak ada perusahaan lain.”


            “Bisakah Kau carikan alamat perusahaan itu sekarang?”


            “Sudah, area produksi dan riset perusahaan itu ada di Mokpo, Jeju, dan Busan, tapi kantor pusatnya ada di


Daegu.”


            “Segera bersiap! Kita akan kesana sekarang juga”


            Keduanya segera kembali ke lantai satu tempat semua tim berkumpul tadi. Jeffrey memberi komando melalui HT, bahwa dirinya dan Taehyung akan datang ke perusahaan itu, sementara tim lainnya tetap


mencari data pendukung. Mereka akan langsung bertemu di kepolisian Seoul malam ini.


            Setelah mengatur GPS ke koordinat tujuan, Taehyung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh—mendekati gila. Jalanan sore itu tidaklah sepi, namun ternyata skill mengemudi Taehyung memang diatas rata-rata, membuat Jeffrey disebelahnya mencengkeram pegangan kuat-kuat sembari berdoa dan sesekali memejamkan mata. Bukan tanpa alasan, meskipun dekat dengan lokasi sekolah itu, hari semakin sore melampaui jam kerja, tentu saja mereka tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menginterogasi perusahaan itu sore ini.


            “Selamat sore, bisakah kami bertemu dengan direktur R&D atau pihak yang bertanggungjawab atas riset dan produksi perusahaan?” tanya Jeffrey pada resepsionis kantor tersebut.


            “Mohon maaf, apakah Anda sudah membuat janji sebelumnya?” resepsionis itu balik bertanya dengan ramah.


            “Kam—” ucapan Jeffrey terpotong setelah Taehyung menunjukan sebuah plakat identitas keanggotaan kepolisian dari dalam jaket kulit hitamnya.


            “KAMI DARI KEPOLISIAN SEOUL, sedang melakukan investigasi atas tragedi kematian masal DIS. Kami harapkan kerjasamanya!” ucap Taehyung tegas—seperti orang marah, dengan tatapan dingin, membuat resepsionis itu terkejut. Pria itu memang memiliki tempramen yang tidak baik.


            “Ah, baik, mohon tunggu sebentar.” cicit resepsionis itu grogi. Kemudian ia tampak menghubungi seseorang melalui telepon dihadapannya.


            Sementara resepsionis itu menelpon, Jeffrey menendang tulang kering Taehyung. Pria itu tampak meringis kesakitan. Bukan apa-apa, Jeffrey sudah pernah mengatakan pada Taehyung untuk tidak terlalu ‘galak’ saat bekerja. Apalagi resepsionis itu wanita.


            “Silakan Anda menuju lantai 3, setelah keluar dari lift, belok kanan, orang yang Anda tuju ada di ruangan paling ujung, di ruang CEO.” jelas resepsionis itu setelah menutup telepon.


            “CEO?” tanya Jeffrey bingung. Apakah bisa CEO merangkap jabatan seperti itu, pikirnya.


            “Ya, beliau adalah CEO sekaligus direktur R&D perusahaan”


            Jeffrey dan Taehyung kemudian pergi ke ruangan yang telah dijelaskan oleh resepsionis tersebut. Setibanya di ruangan tersebut, mereka mengetuk pintu, lalu seorang pria dari dalam ruangan itu mempersilakan mereka masuk.


            “Selamat sore, Saya Kelvin Seo, ada keperluan apa Anda sesore ini?” tanya seseorang yang mereka yakini sebagai CEO dan Direktur R&D itu dengan ramah.


            “Selamat Sore, Saya Jeffrey, dan rekan saya Taehyung, kami dari kepolisian Seoul, tim investigasi kematian


massal DIS, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan.”


            “Saya akan menjelaskannya dihadapan hukum, di kepolisian, tidak disini”


Kepolisian Seoul


21 April 2016


21.30 KST


            “Siapa dia?” tanya Mark to the point begitu melihat seorang pria yang digiring bersamaan dengan datangnya tim Jeffrey dan Taehyung. Mereka baru saja kembali dari Daegu untuk investigasi lanjutan. Mark kembali terlebih

__ADS_1


dahulu, karena harus menemui Profesor Eric yang hilang kontak seharian ini. Namun nihil, Mark tidak menemukan keberadaan Profesor itu.


            “Kelvin Seo. Dia adalah CEO sekaligus direktur R&D Claire Food and Agro Company, supplier bahan


pangan Daegu International School” jelas Taehyung.


            “Bawa dia ke ruang interogasi!” titah Mark cepat.


            “Berikan dia makan malam dahulu.” lanjutnya.


            “Baik, Kak”


            “Bagaimana dengan Profesor Eric?” tanya Jeffrey tepat setelah Taehyung berlalu dihadapan mereka.


            “Kita tidak akan rapat malam ini. Tolong kabari dokter Lee. Setelah itu silakan Kau dan Taehyung istirahat,


sampaikan hasil investigasi esok pagi. Terimakasih atas kerja kerasmu.” tutur Mark sembari menepuk pelan bahu Jeffrey. Jeffrey hanya tersenyum dan mengangguk paham.


            Mark kemudian berjalan menuju ruang interogasi. Lagi-lagi hari ini dirinya dan Dean akan melanggar peraturan dengan melakukan tugas diluar jam kerja. Ia akan menginterogasi pria itu terlebih dahulu. Memang dia lelah, tapi percuma saja, dia tidak akan bisa beristirahat dengan pekerjaan yang masih menggantung.


            “Apa sudah siap?” tanya Mark begitu melihat Dean sedang mengatur lie detector. Membuat Dean terkejut bukan main mendengar suaranya ditengah kesunyian.


            “Astaga, bisakah Kau memberi aba-aba ketika akan muncul?” omel Dean.


            “Clear!” lanjutnya.


            “Jelaskan siapa dia, bagaimana mereka bisa menemukannya? Jujur saja, ini relatif sangat cepat. Bagaimana mereka mengkonfirmasi identitasnya sebagai CEO dan direktur R&D perusahaan itu?” tanya Mark panjang lebar. Akhirnya, itulah pertanyaan inti yang ingin ia tanyakan pada juniornya itu.


            “Taehyung, berdasarkan penuturannya, dia dan Jeffrey menemukan data transaksi sekolah degan perusahaan itu. Kantor perusahaan itu tidak jauh dari sana. Mereka segera menggeledah kantor itu, dan


menemukan bahwa dialah CEO sekaligus direktur R&D”


            Mark kemudian melihat pria itu dibalik kaca besar yang memisahkan ruang kontrol dan ruang tempat pria itu akan diintrogasi. Mark memperhatikan penampilan sekaligus gestur pria itu, kemudian mengkerutkan keningnya. “Polos, no spirit, no charisma, identitas waspada, insecure. Unbelievable”—batin Mark.


            “Tidak, hanya saja penampilan dan gesturnya tidak menunjukan citra sebagai seorang pemimpin perusahaan. Aku akan mulai introgasinya.” jawab Mark. Ia mengusap wajahnya kasar.


            “Tunggu!” Dean menahan tangan Mark tepat sebelum Ia melangkah menuju ruang interogasi. Mark bingung.


            “Ini! Jangan sampai mengantuk.” Dean menyodorkan satu cup hot coffee yang Ia seduh sendiri di pantry tadi. Kebiasaan dua detektif itu, love-hate relationship. Semua orang di kantor bahkan memberikan gelar the best bromance pada mereka berdua.


            “Hhhhh.” Mark menoyor kepala Dean keras hingga tersungkur diatas keyboard.


Mark benci adegan drama.


            “@%^!((#(#^$!”


            Dua menit kemudian, Mark sudah duduk dihadapan pria bernama Kelvin Seo itu. Mark menaruh kopinya dan beberapa kertas diatas meja, sembari sesekali menganalisis tampilan dan gestur pria itu lagi.


            “Saudara Kelvin Seo, saya Mark Tuan, ketua tim investigasi, dan detektif kasus kematian masal Daegu international School. Anda tentu mengetahui betul kasus tersebut, dan oleh karena itu Anda dipanggil kesini.” Tutur Mark dengan tatapan dinginnya. Ia tidak bisa berbasa-basi untuk sekedar mengurangi tensi pada kondisi seperti ini.


            “Ya” jawab Kelvin singkat dan pelan nyaris tidak terdengar.


            “Perusahaan Anda adalah supplier pangan tetap DIS bukan?” tanya Mark dengan tatapan penuh selidik.


            “Ya, sejak 2002.” lagi-lagi Kelvin menjawab dengan singkat. Nadanya pun terdengar malas, membuat Mark mulai jengkel.


            “Jelaskan tentang perusahaan Anda!” perintah Mark. Ia menghela nafas panjang, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, kemudian menyesap kopinya. Ia berupaya menenangkan emosinya menghadapi


pria yang dimatanya tidak memiliki semangat hidup itu.


            “Kami bergerak dibidang pangan dan pertanian.” jawab Kelvin. Kali ini ia berhasil mendonggakkan kepala setelah sebelumnya selalu menunduk dan memandangi ujung kakinya


            “Rekayasa genetik?” tanya Mark. Matanya yang mendelik tajam, sementara tangannya terlipat didepan dada, kaki kanannya bertumpu pada kaki kirinya.

__ADS_1


            “Ya.”


            Mark menegakkan duduknya. Tatapannya semakin tajam dan menusuk, membuat Kelvin kembali pada posisi awalnya.


            “Untuk komoditi apa?”


            “Gandum, jagung, kentang, padi, lobak, bayam, wortel, kacang-kacangan”


            “Apakah Anda tahu kesalahan dalam rekayasa genetik yang Anda lakukan?” tanya Mark. Ia sadar pertanyaannya seperti tuduhan, Ia mulai mengantisipasi gejolak emosi dari orang didepannya.


            Dua menit berlalu, Kelvin hanya diam tertunduk.


            “Senyawa mirip AMV, TuMV, WSMV, PsBXMC, dan Bt. Toxin termodifikasi, mereka menyerang CNS.” jawabnya.


            Mark yang sedari tadi khawatir akan perasaan orang dihadapannya ini terkejut. Bagaimana bisa Ia mendapatkan jawaban semulus ini dalam waktu kurang dari setengah jam. Mark memajukan badannya, kedua


tangannya ditumpukan pada meja. Tangan kanannya mengepal, kemudian ditumpukan diatas bibirnya. Mark menjeda pertanyaan selanjutnya. Ia tampak berpikir, lebih baik bertanya pada poinnya saja, atau menggali informasi sampingan dari orang dihadapannya ini.


            “Anda tidak memiliki pembelaan? Sanggahan? Penyesalan?”


            “Tidak, saya bersalah sebagai seorang ilmuan. Saya akan patuh terhadap hukum negara dan hukum Tuhan.” tegas Kelvin. Sorot matanya sesaat mencerminkan rasa percaya diri, namun sesaat


kemudian, itu lebih terliha seperti spontanitas pembelaan.


            “Siapa investor perusahaan Anda?”


            Kelvin terdiam


            “Apakah ada pihak yang mendorong Anda untuk melakukan kesalahan—atau kesengajaan penelitian menyesatkan itu?”


            Satu menit berlalu, Kelvin masih terdiam. Mark mendengus kesal. Ia kembali pada posisi menenangkan emosinya.


            “Apakah Anda pihak yang terancam?” tanya Mark final. Kali ini Ia tidak bisa menyembunyikan smirk nya. Ia menangkap sedikit ketegangan dari wajah Kelvin.


            “Sudah saya katakan, tidak ada yang mendorong Saya, mensponsori Saya, atau apapun itu. Sebagai seorang scientist, keingintahuan dan kehausan akan ilmu pengetahuan dan penemuan menjadi motif, dengan dampak yang bisa merugikan atau menguntungkan.” jawab Kelvin akhirnya. Lagi-lagi sorot matanya sama


seperti sebelumnya, membuat Mark semakin curiga bahwa dirinya menutupi sesuatu.


            Akhirnya Mark menghentikan interogasinya. Percuma, menurutnya emosi dan kejiwaan Kelvin sedang tidak


stabil, terlihat dari ritme sorot mata dan intonasi bicaranya. Jelas, terdapat kebenaran yang tidak tersampaikan. Selain itu, Ia juga lelah dan konsentrasinya menurun.


            “Bagaimana analisis lie detector?” tanya Mark pada Dean setelah keluar dari ruangan interogasi. Ia menaruh kasar tumpukan kertas berisikan hasil interogasi itu dihadapan Dean.


            “Sepertinya Kau terlalu menekannya, Kak.”


            “Dia tenang, namun ada sedikit kenaikan tensi dan frekuensi gelombang otak dan saraf ketika Kau mulai berkata ‘investor’. Orang ini sangat tenang, tidak mudah terbaca.”


            “Aku rasa kita memerlukan seorang psikiater.”


            “Bukankah psikolog? Ia tidak memiliki gejala mental disorder atau masalah kesehatan sejenis”


            “Who knows?” jawab Mark sembari meneguk kopinya yang hampir habis dengan hati-hati.


            “Hmm. Oke, Aku akan menghubungi Wendy Son, dia—”


UHUKK..


            Tiba-tiba Mark tersedak kopinya ketika mendengar nama seseorang yang tidak asing di


telinganya.


            “……bukan psikiater biasa, sekaligus mantan calon istrimu” lanjut Dean. Ia tersenyum

__ADS_1


menyeringai ke arah Mark yang saat ini sedang salah tingkah dihadapannya.


__ADS_2