
"Brianna sayang....pulanglah nak, kami sangat merindukanmu, sudah 4 tahun kau tidak pulang, ibu harap kau tidak menolak ini, ada yg ingin kami sampaikan padamu, dan usahakan datang sebelum jam 7 malam" ucap ibu Brianna melalui telepon.
ia diam, bukan karena apa, tapi ia malah bergidik ngeri karna ibunya tak pernah berkata manis pada Brianna seperti itu
"akhirnya sekian lama kau ingat juga padaku Bu, aku tidak tau apa yg kau rencanakan, besok aku akan kesana" ucapnya langsung mematikan telepon.
sebenarnya dia sangat merindukan keluarganya, tapi kesakitan yg ia rasakan selama belasan tahun mengalahkan rasa rindunya.
tepat keesokan harinya pada pukul 6 sore, ia sudah sampai dirumah besar yg penuh dengan suka duka, walaupun lebih banyak dukanya, ia tetap merindukan rumah ini, ia harus belajar dewasa dari umurnya yg masih muda, menjadikan Brianna sebagai wanita yg tangguh tapi rapuh.
"ibu, ayah" panggilnya pada mereka.
"akhirnya kau sampai, bukankah kau lelah, atau lapar, kami sudah menyiapkan makanan kesukaanmu"ucap ibu Brianna sambil menggiringnya duduk.
"tidak, aku ingin minum saja bu, emm..apakah ayah sehat?"ucapnya dengan ragu pada ayahnya.
"ya....tidak buruk" ucapnya sambil memandang ibu Brianna yg membawa nampan berisi air.
"aku yakin kalian bahagia tanpa aku disini, langsung saja, apa alasan kalian membawa ku kemari".
"kami akan menjodohkanmu" ucap ibunya tanpa ragu, Brianna yg mendengarnya kaget dan tidak menyangka.
sebelum ia menjawab ibunya berkata "kau harus membantu kami, perusahaan ayahmu terkena masalah, dan terancam bangkrut, apa kau tidak kasihan melihatnya yg sudah semakin tua, kau adalah anak yg baik bukan".
"jadi kalian menjadikanku sebagai jaminan? dan kalian menjualku kepada mereka? kenapa Bu, yah... kenapa kalian selalu seperti ini padaku, kenapa kalian terus mengorbankan aku, kenapa kalian tidak pernah menyayangiku seperti kalian menyayangi kakak, bukankah aku juga anakmu hah..aku sangat tertekan, aku sangat merindukan kalian aku ingin berkumpul bersama kalian setelah sekian lama, dan aku harap kalian bisa berubah, tapi kenyataannya..? sambil tersedu-sedu ia terus meluapkan isi hati yg selama ini ia pendam.
__ADS_1
"tidak cukupkah pengorbanan yg selama ini aku lakukan, ingatkah kalian, disaat kakak yg melakukan kesalahan, kalian memintaku agar bisa menggantikannya, kenapa kalian seperti ini padaku hahh..?
dirumah ini banyak pembantu kenapa selalu aku yg kalian suruh terus menerus, bukan aku tidak mau tapi kenapa hanya akuu .. kenapa hanya akuu...
aku sangat iri kepada Kakak, diumurku yg masih 15 tahun, saat itu aku juga mendapatkan juara 1 tapi kenapa hanya kakak yg kalian belikan hadiah..kenapa aku yg disalahkan saat dia terjatuh padahal dia sendiri sengaja melakukannya..kenapa hanya kakak yg kalian kuliahkan diluar negeri, dan setelah aku mengetahuinya itulah alasan aku pergi, kenapa dulu kalian bersikap seolah-olah aku tidak penting, seolah-olah aku tidak ada dihadapan kalian..aku lelah Bu..aku lelah yah..., walaupun begitu aku tidak bisa membenci kalian, tapi kenapa kalian membenciku, aku berjuang sendirian, aku bekerja, aku kuliah, apa menurut kalian itu tidak berat bagiku hah"ucapnya sambil menangis.
"kau ingin tahu alasannya?" ucap ibunya.
"bukankah kemarin aku bilang aku ingin mengatakan sesuatu padamu, baiklah dengan satu syarat, yaitu kau harus menerima perjodohan ini"
ia sangat lelah dan pasrah, ia ingin menolak tapi sebagai anak ia sangat ingin mengetahui alasan orang tuanya.
"apa kau pikir kami membutuhkanmu setelah ini? asalkan kau tau, kau bukanlah anak kandungku".
ia menatap ayahnya yg hanya diam seperti tidak ada yg perlu dijelaskan, entah tampak atau tidak Dimata Brianna yg sudah sangat kecewa jikalau ayahnya terlihat berlinang air mata tapi menahannya.
sudah jatuh tertimpa tangga, sangat cocok untuk dirinya saat ini, ia sudah seperti raga tak bernyawa, dan segera ia mengambil tasnya lalu pergi, saat ia hendak keluar ia bertatapan dengan seorang wanita paruh baya dan seorang laki-laki berwajah masam yg ternyata sudah berdiri disana menyaksikan semuanya.
Tamara memegang tangan Brianna dan memeluknya.
Bella dan Edo gelagapan karena mereka tidak tahu jika Tamara sudah datang ditambah lagi ternyata anaknya adalah Diego.
"e..ee selamat datang nyonya Tamara, silahkan duduk". ucap bella.
__ADS_1
"hahaha aku tidak tahu jika anakmu adalah nak Diego" ucap ayahnya.
"terimakasih, kami disini ingin bertemu dengan Brianna, tapi sepertinya ada sedikit masalah",
"ehehee maafkan kami, bukankah itu hal biasa jika didalam keluarga". elak Bella.
"sepertinya aku setuju dengan perjodohan ini, dan begitu pula perusahaanmu akan selamat, bukankah begitu Diego?"
"ehm..iya". ucapnya sambil menatap tidak suka pada Bella.
"nyonya...aku punya satu putri lagi, bahkan dia lebih cantik dan pintar dari pada Brianna, aku hanya ingin memberikan yg terbaik untukmu".
"tidak usah, aku sudah memilih Brianna, lagi pula dia sepertinya anak yg baik, bukankah kau sendiri yg bilang?"
"oh iya aku lupa hehe".ucapnya tidak ada malu.
Brianna yg merasa tertekan berpamitan kepada mereka walaupun tidak disetujui oleh Bella, ia pergi berlari meninggalkan rumah itu.
Tamara memberi aba-aba pada Diego agar mengejarnya.
"baiklah"ucap Diego yg paham maksud ibunya dan langsung pergi meninggalkan mereka.
*disini aku sebenernya ngetik sambil nahan nangis wkwkwkw dan btw rambutnya abaikan saja ya karena sebenernya rambut Brianna itu panjang
*disini karakter Bella itu emng njengkelin akwkwkwkw
__ADS_1