
Kurang lebih satu jam telah berlalu dan sekarang hari telah gelap namun kami masih belum sampai ke desa.
“Sepertinya hari sudah malam, kita harus cepat keluar dari hutan sebelum semakin berbahaya” ucap kepala desa.
SREKK SREKK
Terdengar suara dari arah semak-semak di kiri dan kanan kami, suara itu seperti terus mendekat kerarah kami. Kami berhenti dan langsung siaga, keempat pria itu langsung menarik senjata yang mereka bawa.
Kepala desa dan Bennet membawa tombak kira-kira sepanjang 1,5 meter dan perisai kayu berbentuk bulat yang sepertinya dibuat sendiri, terlihat dari tingkat kerapihannya yang cukup buruk. Sedangkan dua pria lain membawa busur dan anak panah biasa.
SREKK SREKK
Suara tersebut semakin mendekat terlihat juga semak-semak yang bergerak walaupun tidak jelas karena hari sudah malam dan kami hanya menggunakan obor sebagai alat penerangan. Sepertinya jumlah mereka lebih dari 10 pasti akan sangat menyulitkan.
“ANGKAT SENJATA KALIAN, BERSIAPLAH !!!!!!” teriak kepala desa.
Walaupun aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tapi insting yang telah aku tempa selama berperang memberitahuku bahwa kami dalam bahaya. Akupun bersiap dalam keadaan tempur walau dengan tangan yang terikat di depan.
Beberapa saat kemudian aku melihat sesosok mahluk kecil setinggi kira – kira 120 cm, kulitnya berwarna hijau dengan telingan runcing dan wajahnya sangat jelek terlihat gigi runcing yang keluar dan tidak rapih, jujur saja aku tidak tau jenis mahluk apakah itu, tapi yang pasti mereka berbahaya karena membawa pisau berkarat , gada dan perisai kecil sebagai senjata mereka.
“SIALAN, KITA AKAN BERHADAPAN DENGAN GOBLIN”, teriak kepala desa.
“BENNET URUS GOBLIN DI SEBELAH KIRI !!!” lanjut kepala desa.
“BAIK AYAH” balas Bennet.
__ADS_1
“MILO, REINER TEMBAK GOBLIN YANG MENDEKAT KEMARI !!!”, perintah kepala desa.
“BAIK KEPALA DESA”, jawab kedua pemuda tersebut.
Terlihat 11 goblin yang mulai mendekat kemari, 5 goblin di kanan dan 6 goblin di kiri, goblin tersebut kira kira berjarak 10 meter dari tempat kami berdiri. Semua goblin tersebut mulai berlari untuk menyerang kami.
Milo dan Reiner mulai melepaskan anak panah mereka dan mengenai 5 goblin, namun hanya 3 yang berhenti bergerak sedangkan 2 lainnya masih terus mendekat karena anak panah mereka tidak mengenai bagian vital para goblin.
Sekarang tersisa 4 goblin dikanan dan 5 goblin dikiri, 3 goblin menyerang Bennet membuat ia terlihat cukup kerepotan. Sedangkan 2 goblin lainya mendekatiku dan Milo.
Saat goblin tersebut mendekat aku langsung menendang bagian kaki monster hijau itu, goblin tersebut terjatuh ke tanah dan aku langsung menginjak kepala goblin tersebut berkali kali sampai hancur tak berbentuk.
Aku langsung mengambil pisau yang dibawa oleh goblin itu dan memotong tali yang mengikat kedua tanganku. Setelah tanganku bebas aku melihat Bennet yang masih melawan ketiga goblin tersebut, ia terlihat sangat kewalahan melawan tiga goblin sekaligus.
Aku menerjang salah satu goblin yang menyerang Bennet dengan pisau dan berhasil menusuk bagian lehernya, goblin tersebut langsung mati.
Aku melihat kesempatan dan langsung menerrjang goblin yang masih berusama berdiri tersebut . Aku melemparkan pisau dan mengenai bagian kaki dari si goblin, aku langsung menarik gada yang goblin itu bawa, dan langsung memukulkan ke kepala bagian atas goblin yang masih dalam keadaan duduk sambil memegani kedua kakinya yang terluka karena terkena panah Milo dan pisau yang aku lempar.
Goblin tersebut mati dalam keadaan masih duduk dan kepala yang hancur tak berbentuk. Setelah selesai membunuh 2 goblin keparat itu, aku melihat kearah Milo yang sepertinya baru saja berhasil membunuh goblin yang menyerangnya.
Aku awalnya berencana membantu Kepala Desa dan Reiner, tapi sepertinya seluruh goblin di sebelah kanan telah dikalahkan oleh merka berdua. Kami berhasil membunuh 11 goblin kurang dari 5 menit.
……………….
“Terimakasih telah menyelamatkanku” ucap Bennet, yang masih terduduk lemas karena dia karena dia hampir saja mati jika aku tidak menyelamatkannya.
__ADS_1
“Tenang saja, tidak usah dipikirkan”, balas aku yang memasang senyum ramah di wajah.
Hal tersebut membuat Bennet mulai percaya dengan , kemampuan itu aku dapat dari didikan militer, mengajarkanku bagaimana membuat orang lain percaya, aku sering menggunakan kemampuan kepada warga di Polandia supaya mereka percaya padaku dan agar mudah mengorek informasi dari mereka tanpa harus mengintrogasi.
“Sepertinya kita tidak bisa berlama lama di hutan ini”, ucap Kepala Desa.
Kamupun mempercat langkah dan aku mengikuti mereka dari belakang, setelah 10 menit kami akhirnya berhasil keluar hutan tersebut. Terlihat sebuah desa di hadapan kami, jaraknya sekitar 1-2 km.
“Namu Carl bukan ?”, tanya kepala desa.
“Iya, namaku Carl Normand”, balasku.
“Terimakasih telah membantu kami dan menyelematkan anakku, tetapi tetap saja kau orang asing bagi kami”, ucap kepala desa.
“Jatuhkan sejatamu dan jangan memberontak jika kamu masih ingin hidup”, ucap Kepala Desa dengan nada dingin dan mengintimidasi, ia juga sekarang dalam posisi siap menyerangku kapan saja.
“Cih sepertinya dia lebih menyusahkan dari yang aku kira”, ucapku dalam hati.
Aku dapat menilai bahwa ia bukan orang biasa, pasti ia adalah mantan prajurit yang cukup hebat di masa lalu, terlihat dari kemampuan tempur dan sikap waspada yang ia perlihatkan.
“Baik, aku akan menuruti perkataanmu”, ucapku sambil menjatuhkan senjata yang aku pegang.
“Bennet, cepat ikat tangannya dan awasi dia. Jika dia memberontak langsung saja bunuh dia”, perintah kepala desa kepada anaknya Bennet. Bennet pun mengikat kembali tangan Carl.
“Maaf bung, sepertinya tangan mu harus di ikat lagi”, ucap Bennet merasa bersalah.
__ADS_1
“Tidak apa-apa, sangat wajar ayahmu bersikap seperti itu karena memang aku adalah orang asing bagi kalian”, balas aku.
Tangan aku diikat kembali namun tidak sekencang ikatan awal, akupun mengikuti kepala desa yang berjalan di depan dan di belakang terdapat Reiner, Milo dan Bennet yang mengawasiku. Setelah 30 menit berjalan kamipun berhasil sampai di desa.