The Contract

The Contract
Dia, Gaby


__ADS_3

D’Flo Café


Begitulah tulisan berukuran jumbo yang terpampang di dekat pintu masuk. Bangunan satu lantai yang didominasi warna coklat kayu itu sudah beroperasi sejak pukul sembilan pagi. Pengunjung kafe yang datang silih berganti tanpa henti, tak jarang membuat para pekerja kewalahan.


Salah satunya adalah Galencia Gaby Dionzha. Panggil saja Gaby. Gadis bertubuh mungil dalam balutan kemeja putih lengan pendek dengan bawahan rok biru laut selutut itu, bergerak lincah ke penjuru kafe. Rambut lurus sepunggung yang dikucir tinggi, meliuk-liuk mengikuti pergerakan kakinya yang dibungkus sneakers lusuh berwarna biru tua.


“Latte dan cheesecake untuk menemani hari ini. Selamat menikmati, Kak.” Gaby tersenyum ramah pada dua gadis yang duduk di pojok dekat jendela. Tidak ada yang dibutuhkan lagi, Gaby segera kembali ke dapur untuk mengantar pesanan lainnya.


“Semangat banget, Kak.” Sea mengintrupsi ketika Gaby melewati kasir, di mana saat ini, ia yang tengah berjaga.


Gaby tertawa kecil. Sea adalah teman pertamanya ketika Gaby bekerja di kafe ini dua tahun lalu. Perbedaan usia yang hanya terpaut satu tahun membuat mereka cepat akrab tanpa rasa canggung. Gaby juga lebih dekat dengan Sea daripada rekannya yang lain.


“Harus semangat, dong, biar rezekinya nggak dipatok ayam.” Gaby tersenyum lebar, menunjukkan nampan yang ia bawa. “Antar ini dulu, Se.”


Setelah hari yang sibuk, akhirnya pekerjaan Gaby selesai. Kafe sudah tutup sejak setengah jam lalu. Ia juga sudah selesai merapikan kafe sebelum pulang.


“Gue duluan, Kak.” Sea melambaikan tangan sebelum naik ke motor yang menjemputnya.


“Hati-hati.” Gaby tersenyum kecil, menatap kepergian Sea sampai hilang di belokan. “Huft, perasaan gue aja atau emang hari ini capek banget, ya?”


Tersisa Gaby yang masih berdiri di depan kafe. Jam sudah menunjuk pukul sembilan malam, tetapi ia belum ada niatan kembali ke kontrakan. “Males jalan, bisa terbang aja nggak, sih?”


Mengambil napas panjang, seolah hendak bertandang ke medan perang, Gaby beranjak dari tempatnya dengan langkah lesu. Bisa saja ia memesan ojol, tetapi kontrakannya yang tidak terlalu jauh dari kafe, membuatnya berpikir ulang. Lebih baik ongkosnya digunakan untuk kebutuhan yang lebih penting.


Berjalan hampir sepuluh menit, Gaby sampai di depan bangunan berlantai tiga yang tampak sepi dengan pencahayaan tidak terlalu terang. Ia masih harus naik tangga untuk sampai di rumah kontrakannya. Langkah pelannya terdengar nyaring, memecah kesunyian.


Sampai di dalam, Gaby melempar tasnya asal. Lalu, merebahkan dirinya di kasur kecil. “Hah, punggung gue. Lega banget rasanya.”


Gaby menggerakkan kedua tangannya di sisi kasur seraya menatap langit-langit kamar. Untuk beberapa saat, ia hanya diam. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh otak kecilnya.


“Laper.”

__ADS_1


Gaby segera bangkit, mengelus perut ratanya yang meronta meminta asupan. Ia berjalan gontai menuju kulkas kecil. Berharap ada bahan yang bisa dimasak.


“Ya ampun, miskin banget gue!”


Gaby tersenyum miris kala melihat isi kulkasnya. Tersisa sebutir telur dan berbotol-botol air. Bisa dipastikan, besok, Gaby hanya makan dengan taburan garam.


Menghela napas pelan, Gaby tersenyum lebar. Mengambil telur itu dan membawanya ke dapur mini. “Meskipun cuma telur, nggak boleh sombong, Gab. Harus tetap bersyukur.”


[+]


Gaby menggeliat pelan. Mulai terusik dengan cahaya yang masuk melalui celah gorden. Bulu mata lentik itu bergerak sebelum kelopaknya terbuka sempurna. Tatapan sayunya menyorot jam beker di nakas. Pukul 6:17.


“Perasaan, gue baru tidur, udah pagi aja,” gumam Gaby dengan suara serak. Ia menarik tangannya ke atas sebelum bangkit dari kasur. Berjalan pelan menuju jendela dan membukanya sedikit. “Selamat pagi, dunia tipu-tipu! Hari ini, kejutan apa yang akan lo tunjukin ke gue?”


Gaby terkekeh pelan. “Apa pun itu, gue harap lo nggak ninggalin gue sendiri setelah kekacauan yang lo buat.”


Membutuhkan waktu 45 menit untuk bersiap dan sarapan. Gaby harus segera berangkat dan sampai di kafe sebelum jam delapan. Bersiul senang, Gaby mengunci pintu. Setelah dipastikan aman, ia pun siap untuk memulai aktivitasnya.


Wanita yang berada pada usia akhir empat puluhan itu adalah Bu Diana, pemilik kontrakan. Terhitung hampir dua minggu, wanita itu pergi ke luar kota. Katanya, sih, menjenguk sang suami sekaligus berlibur, guna menetralisir amarah dalam menghadapi manusia spesies Gaby alias si sering ngeles saat penagihan uang kontrakan.


Bu Diana mendongak, refleks Gaby menunduk. Bersembunyi di balik tembok pembatas. “Mati gue.”


“Awas aja, anak itu. Kali ini, nggak akan aku biarkan.”


Gaby sedikit berdiri, mengintip wanita itu yang melangkah masuk rumah. Ia bernapas lega, pagi cerahnya terbebas dari amukan singa betina. “Bunda, anakmu masih selamat. Nggak tahu kalau nanti.”


[+]


Gaby mempercepat langkahnya, berlari kecil ketika melihat pintu masuk D’Flo. Gara-gara aksi menghindarnya tadi, ia hampir terlambat masuk kerja. Tersisa lima menit sebelum jam delapan.


Gaby menyapa Sea yang sedang menyapu. Juga rekan lainnya yang sudah sibuk mengerjakan tugas masing-masing. Segera ia masuk ke ruang pegawai untuk mengganti seragam. Ia merapikan kuciran rambutnya sekali lagi, sedikit berantakan akibat berlari demi mengejar waktu.

__ADS_1


Kafe dibuka tepat pukul sembilan pagi. Satu per satu pengunjung mulai berdatangan. Seperti biasa, Gaby berusaha memberikan pelayanan terbaiknya. Tersenyum ramah sambil mencatat pesanan.


“Gab, bisa tolong buangin sampah nggak? Gue masih ada pesanan yang harus dibuat,” pinta Reyhan, salah satu koki D’Flo.


“Bisa, Kak. Sebentar, ya, gue anter ini dulu.”


Gaby berlalu dari jendela yang terhubung dengan dapur. Tak berselang lama, ia kembali. Meletakkan nampan di meja pantry. Lalu, melaksanakan perintah Reyhan.


Lewat pintu belakang, langkah kecil Gaby membawanya ke bak pembuangan sampah yang berjarak lima meter di samping kafe.


Bugh


Gaby tersenyum puas setelah melempar dua trash bag berukuran jumbo ke bak penampungan sampah, seolah seluruh kesialan dalam hidupnya ikut terbuang bersama sampah-sampah itu. Menepuk tangannya beberapa kali, ia harus kembali ke kafe. Gaby berjengit ketika mendapati seorang wanita berdiri tepat di belakangnya. Alih-alih merasa senang karena bertemu teman SMA-nya, Gaby malah muak melihat senyum wanita itu yang tampak menyebalkan di matanya.


“Aish, apes banget siang-siang gini ketemu nenek lampir,” gumam Gaby.


“Hello, Gaby! Long time no see,” sapa wanita itu dengan gaya centilnya yang tidak pernah berubah. Panggil saja dia, Rachel.


Rachel melepas kacamata hitam yang bertengger manis di hidung mancungnya. Ia bersedekap, menatap Gaby dengan pandangan meneliti. “Iuwh, dari dulu, lo nggak berubah, ya. Tetep jadi kacung.”


Gaby mendengkus pelan, enggan menanggapi. Ia akui, dirinya seperti kentang jika disandingkan dengan wanita itu. Rachel adalah sosok yang cantik, wajahnya mulus tanpa pori-pori. Tubuhnya pun berubah drastis, tampak proporsional bak seorang model terkenal. Kabar yang ia dengar, Rachel memiliki salon dan butik yang terkenal di kalangan para konglomerat. Tidak heran jika penampilan wanita itu sangat berkelas.


Namun, kelebihan itu tidak ada artinya mengingat sifatnya yang menjengkelkan.


“Ck, lama nggak ketemu, lo jadi sombong, ya.” Rachel kesal, merasa diabaikan.


Gaby tersenyum kecil. “Bukannya sombong, tapi gue lagi sibuk, nih. Kalau kedatangan lo cuma mau ngerendahin gue, mending lo pergi aja, deh. Tanpa lo kasih tahu, gue sadar di mana posisi gue selama ini.”


Menghela napas pelan, Gaby melangkah pergi, meninggalkan Rachel yang tengah menatapnya tajam.


Kehidupan Gaby memang tidak jauh berbeda, entah itu dulu ataupun sekarang. Namun, Gaby pastikan tidak akan diam lagi ketika orang lain merendahkan dirinya. I know that I’m nothing, so I don’t want to lose myself either.

__ADS_1


[+]


__ADS_2