
Masih diselimuti amarah, Gaby menutup kasar lokernya. Ia mencangklong ransel seraya keluar dari ruang pegawai. Berdiri di depan pintu, Gaby memperhatikan keadaan kafe yang dipenuhi oleh pengunjung.
Rachel masih di sana. Duduk dengan tenang, seolah tidak pernah terjadi apa pun. Well, mari menunjukkan balasan yang menyenangkan.
Gaby melangkah menuju dapur, meminta tolong Reyhan untuk membuatkan* bueberry smoothie*. Tak lupa, Gaby juga membayar pesanan Rachel. Sial, ia harus merelakan seperempat gajinya.
Dugh
Gaby meletakkan nampan sedikit kasar, menatap Rachel penuh senyuman. “Blueberry smoothie khusus untuk Anda.”
Alis Rachel menukik, menatap tak minat pada minuman berwarna ungu itu. Ia menopang dagu, berkedip sekali sebelum berkata, “Lo nggak mau minta maaf?”
“Buat apa? Gue nggak ngerasa punya salah, tuh. Bukannya lo yang harus minta maaf sama gue?”
Rachel duduk tegak dengan wajah masam. “Ngapain juga gue minta maaf sama lo?”
“Nah, itu, ngapain gue minta maaf sama lo,” balas Gaby santai, membalik perkataan Rachel. “Tapi, nggak apa-apa. Gue maafin tanpa lo harus minta maaf.”
Gaby tersenyum manis, membuat Rachel mengernyit. Apa yang akan dilakukan wanita gila itu sebenarnya?
“Seharusnya kalau lo nggak punya uang buat bayar, bilang sama gue. Gue pasti traktir lo, kok. Jangan gunain cara kotor kayak tadi,” kata Gaby prihatin.
Rachel berdecih. “Bahkan gue bisa beli harga diri lo.”
“Oh, ya?” Gaby pura-pura terkejut, membuat Rachel muak.
“Sebenarnya, apa mau lo?”
“Gue cuma mau mengingatkan, setelah minum ini.” Gaby menunjuk b**lueberry smoothie yang baru ia bawa. “Jangan lupa minum ini, ya,” lanjutnya seraya meletakkan sebungkus obat.
Rachel melotot, terkejut. Bagaimana bisa ia melupakan fakta itu?
Gaby tersenyum miring. “Tenang aja, tagihan lo udah gue bayar. Itu, kan, rencana lo … Tapi, Ra, gimana bisa lo pesen blueberry saat lo alergi sama buah kecil itu? Ketebak banget kalau lo cuma mau cari gara-gara sama gue, dan selamat … lo berhasil buat gue dipecat.”
Tak pelak hal tersebut menarik perhatian pengunjung kafe. Bisik-bisik tentang Rachel mulai terdengar, menertawakan sikap bodoh gadis itu. Juga menyayangkan pemecatan yang dialami Gaby.
Mengabaikan tatapan tajam Rachel, Gaby beringsut pergi. Langkahnya sempat terhenti saat menangkap sepasang netra gelap tengah memperhatikannya. Gaby menunduk singkat, tersenyum kecil sebelum melangkah keluar. Huft, hari yang sangat melelahkan.
[+]
Sampai di kontrakan, Gaby tidak langsung naik ke atas. Ia duduk di tangga, menyelonjorkan kakinya seraya menatap lurus ke depan. Helaan napas berat terdengar. Gaby telah kehilangan satu-satunya pekerjaan yang menopang hidupnya selama dua tahun. Ia merogoh saku celana jeans-nya, menatap sebuah amplop putih berisi beberapa lembar uang berwarna merah.
__ADS_1
“Nasib gue gini amat, dah,” gumam Gaby nelangsa.
Suara derit pintu terbuka membuat Gaby berjengit. Monolidnya membola kala melihat seorang wanita paruh baya melotot padanya. Gaby bisa merasakan aura gelap terpancar dari radius lima meter. Ingin melarikan diri pun sudah tidak sempat. Wanita itu berkacak pinggang, berjalan cepat menghampiri Gaby.
Gaby cengengesan, berdiri kaku di tempatnya. “Eh, Mimi, makin cantik aja. Kapan pulangnya, Mi? Kok nggak kabar-kabar dulu, sih.” Bergaya centil, Gaby mencolek lengan wanita yang akrab disapa Mimi oleh penghuni kontrakan itu.
Bu Diana memukul punggung Gaby menggunakan kipas tangannya, melampiaskan emosi terpendam beberapa minggu ini.
“Aduduh, Mi, kok mukul Gaby, sih.” Gaby menggeliat, berusaha lepas dari jeratan maleficent di dunia nyata.
“Sakit, Mi,” rengek Gaby dengan bibir mencuat. Ia mengusap punggungnya yang terasa panas. Duh, Mimi sungguh kejam bagai ibu tiri.
Bu Diana mengipasi wajahnya seraya menengadahkan tangan. Gaby yang tidak mengerti pun menjabat tangan mulus itu. Lagi-lagi, ia mendapat geplakan sayang di punggungnya.
“Adoh! Mi, punya masalah hidup apa, sih, sama Gaby,” pekik Gaby. Lama-lama ia bisa gepeng kena pukul terus.
“Kamu udah nunggak tiga bulan, Gaby! Nggak usah pura-pura lupa, kamu bukan Mahen. Cepet, sini bayar!” sentak Bu Diana.
Gaby memainkan jari telunjuknya. “Mi, Gaby baru dipecat. Minta keringanan, ya, Mi. Bulan depan, janji, Gaby pasti lunasin semuanya.”
Gaby bergelayut manja di lengan Bu Diana. Tidak lupa menunjukkan wajah melasnya. “Ya, Mi, ya? Gaby punya SKTM, kok.”
“Ya, gimana, Mi, Gaby baru dipecat lho.” Gaby mencebik, meminta belas kasihan.
Menghela napas berat, Mimi memang tidak berbakat menjadi tokoh antagonis. “Maaf-maaf aja, nih, Mimi nggak bisa mertahanin kamu lagi. Mimi juga harus adil sama semua penyewa. Jadi, dengan segala hormat, silakan kamu angkat kaki dari sini.”
Spontan Gaby mengangkat kaki kanannya, berkedip polos menatap Bu Diana.
“Angkat kaki, pergi dari sini, Gaby!” teriak Bu Diana, frustrasi dengan tingkah Gaby. “Hah, kamu selalu aja buat saya osteoporosis.”
“Lah? Bukannya darah low, Mi?” koreksi Gaby.
Bu Diana menyibak kipasnya anggun. “Dih, saya berkelas, ya. Levelnya yang high-lah. Tsk, udah, pokoknya kamu harus pindah dari kontrakan saya. Bye!”
Gaby menggaruk rambutnya bingung, “Terus gue tinggal dimana, dong?”
[+]
Langkah kaki dibalik sneakers putih itu tampak lesu. Gaby menarik dua koper besar di kedua tangannya. Setelah memberikan gaji plus pesangonnya pada Bu Diana, Gaby benar-benar meninggalkan kontrakan. Ia cukup tahu diri untuk tidak semakin merepotkan wanita paruh baya itu. Masih untung ia tidak dilaporkan kepada polisi. Gaby berjanji kalau hidupnya sudah stabil, ia akan membayar kekurangan uangnya pada Bu Diana.
Lelah berjalan, Gaby duduk di kursi taman jalan. Sore ini, lalu lintas sangat padat bersamaan dengan pulangnya para pekerja. Untuk kesekian kalinya, Gaby menghela napas berat. Meratapi nasibnya yang tak pernah mudah.
__ADS_1
“Huh, gue nggak bisa diem aja, nih. Balik ke rumah juga nggak mungkin.” Gaby menengok sekitarnya. “Nggak ada yang mau mungut gue apa, ya?”
Merasakan ponsel di saku celananya bergetar, Gaby segera mengambil benda pipih itu. Belum sempat berbicara, suara cempreng di seberang sana membuat Gaby menjauhkan ponselnya dari telinga.
“Kaaak, kenapa lo pergi nggak pamit gue dulu? Gue kaget banget pas tahu kalau lo dipecat Pak Bos. Emang, ya, itu ikan berta seenaknya aja.”
Gaby terkekeh. “Wo-wo, sabar, Sis. Sorry, ya, keburu kesel gue, jadi nggak kepikiran nyari lo dulu.”
“Sekarang lo gimana, Kak?”
“Ya, nggak gimana-mana.”
Obrolan terus berlanjut. Kedua gadis berisik itu tidak pernah kehabisan topik pembahasan. Tak terasa setengah jam berlalu, Sea mengakhiri teleponnya. Gadis itu harus kembali bekerja.
Senyum yang menghiasi wajah cantik itu perlahan pudar, digantikan oleh raut datar tanpa minat. Gaby sangat ahli dalam memainkan perasaan. Tidak ingin membuat orang lain ikut menanggung kesedihannya.
Gaby menatap lurus ke jalan raya yang semakin ramai. Monolid itu tampak kosong dengan bulir air mata yang perlahan luruh. Seolah mengerti suasana hatinya, langit turut menjatuhkan kristal di bumi yang gersang. Mendongak, Gaby sangat bersyukur, hujan hadir untuk menyamarkan air mata yang sangat dibencinya.
“Nggak apa-apa, Gaby. Everything is gonna be alright,” gumamnya, sarat keputusasaan.
Untuk beberapa saat, Gaby masih di sana. Menikmati tetes demi tetes air membasahi pakaiannya. Udara semakin dingin, pun tubuhnya ikut menggigil. Namun, Gaby tidak peduli.
Gaby menarik napas panjang, menyandarkan punggungnya pada kursi. Suasana hatinya mulai membaik. “Ck, laper banget, gila! Seriusan nggak ada orang yang mau nampung gue?”
Oke, si manusia absurd sudah kembali. Gaby tidak malu berteriak di tengah hujan, mengabaikan orang-orang yang secara terang-terangan menatapnya. “Nggak pernah lihat orang cantik apa, ya.”
“Aneh lo.”
Suara berat dari samping membuat Gaby menoleh. Ia mengernyit, sejak kapan pria itu berdiri di sana. “Lo ngapain di sini?”
Pria itu semakin mendekat, berdiri di depan Gaby. Sekarang, mereka berada di bawah payung yang sama. Tubuhnya yang menjulang tinggi membuat Gaby mendongak.
“Kenapa?” tanya Gaby, bingung karena pria itu tak kunjung bicara. Ia masih ingat si pemilik netra gelap dengan tatapan tajam nan meneduhkan. Dia adalah pria yang ia temui di restoran tadi siang. Sosok yang membuat Gaby tidak tahan berlama-lama di dekatnya.
Auranya itu, lho, kayak mau nerkam mangsanya.
Pria itu mulai bicara. “Gue nggak suka basa-basi. Lo mau jadi pacar gue?”
“HAH?!”
[+]
__ADS_1